Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Penyesalan dan lorong rahasia


__ADS_3

"Kamar ini pasti sering dikunjungi tapi kenapa kosong? Apa yang membuat tuan enemy memasuki kamar ini?" gumam Desi menaruh telunjuk jarinya di dagu.


Semua terlihat tak ada yang mencurigakan, kecuali satu lukisan makam di depan. Desi membalikkan badan dan mengamati lukisan sebesar pintu dan posisinya sangat sejajar dengan pintu masuk kamar. Dengan langkah pasti Desi berjalan menuju lukisan makam, tangannya meraba setiap gambar yang terkesan mistis. Ada sesuatu diantara coretan cat air itu. Dengan menahan berat lukisan yang cukup mengejutkan, Desi berhasil menurunkan lukisannya.


Benar saja, dibalik lukisan ada papan virtual seperti di pintu apartemen. Hanya saja, password apa yang harus dimasukkan? Pasti password itu berhubungan dengan banyak peristiwa masa lalu, masa kini atau bahkan masa depan. Desi mencoba mengingat beberapa peristiwa dan menekan setiap angka, tanggal hari naas dimana Asma melakukan bunuh diri. "Gagal."


Tanggal dimana kebakaran sebuah rumah mewah terjadi. "Gagal."


Tanggal dimulainya kerjasama para pemain. "Gagal juga."


"Jika semua gagal, lalu apa password yang digunakan tuan enemy?" cicit Desi dengan frustasi.

__ADS_1


Suara mobil terdengar dari jauh, membuat Desi bergegas mengembalikan lukisan dengan susah payah. Setelah berusaha selama beberapa menit, akhirnya lukisan bisa terpasang di tempat semula dan Desi juga tak lupa menutup pintu kamar ketiga sebelah kiri. Langkah kakinya berjalan dan bergegas meninggalkan lantai atas, seperti mendapatkan keberuntungan. Saat Desi sudah memasuki kamarnya dan mobil baru berhenti di depan rumah.


"Huft selamat. Aku harus tahu dimana packet misi tuan Enemy, tapi bagaimana caranya? Ayolah berpikir!" gumam Desi dengan mondar-mandir di dalam kamar.


Ceklek


"Are you okay? Apa ada masalah?" tanya tuan enemy yang membuka pintu kamar tamu tanpa permisi.


Desi menetralkan ekspresi wajahnya dan menatap tuan enemy yang masih mengenakan topeng. "Aku hanya memikirkan anak-anak, apakah ini tidak terlalu berlebihan. Kamu tahu aku menyayangi anak-anak."


"Apa kamu serius? Siapa yang dulu memberikan saran dan kini siapa yang berlagak baik. Ayolah dokter Jelita. Kamu sama seperti Sam, apa ada keraguan untuk itu? Tidak. Lakukan pekerjaanmu dan jangan coba bermain denganku. Ingat, aku adalah hasil dari perbuatanmu dan Sam." ancam tuan enemy dan meninggalkan Desi dengan langkah kasar.

__ADS_1


Kepergian tuan enemy, membuat Desi menghela nafas. Seharusnya sejak awal, dirinya menolak menjadi bagian panggung sandiwara yang ternyata memiliki duka nestapa. Siapa sangka, akibat satu saran konyol darinya. Justru kehidupan seorang pria menjadi hancur dengan wajah yang rusak. Sekarang hidupnya pun tak tenang, masa lalu terus menghantui bersamaan rasa bersalah yang mengutuk setiap waktunya.


Sekarang tidak ada lagi jalan, kecuali niat. Semoga ada jalan dan dia mengerti setiap clue yang aku berikan. Atau semua yang kulakukan menjadi sia-sia. Semoga saja. Tuhan bantu aku kali ini saja, dan aku siap kembali padamu. Jika ini sisa waktu ku, biarkan aku menebus semua dosaku. Demi putraku Yun, aku ingin hidupnya lebih baik dan tanpa beban dosa dari ku.~ batin Desi menatap putranya yang terlelap disamping packet misi miliknya.


Meninggalkan do'a harapan Desi, dimana nama aslinya adalah dokter Jelita Desiana. Tuan enemy menggeser lukisan makam dan menekan beberapa angka, setelah selesai mengembalikan posisi lukisan ke tempat semula. Langkah kakinya berjalan mendekati pintu kamar ketiga dan memutar knop pintu. Tanpa melihat kanan dan kiri, tuan enemy masuk dan menutup pintunya kembali.


Sebuah lubang dengan tangga ke bawah telah tersedia. Dengan langkah kaki tegas, kakinya menuruni satu anak tangga demi anak tangga hingga berakhir di anak tangga ke dua puluh lima. Satu obor api tersedia menempati tempat obor di dinding. Dengan langkah pasti, kakinya semakin menyusuri lorong bawah tanah. Beberapa kamar tersedia dengan pintu kayu tertutup, langkahnya terhenti di pintu terakhir paling ujung.


Ceklek


Pintu terbuka dan seseorang terlihat masih dalam keadaan sama, tuan Enemy menutup pintu kembali dan meninggalkan lorong rahasianya. Semua masih aman dan terkendali, maka rencananya tidak akan gagal. Setelah kembali ke atas dan menutup pintu ruangan bawah. Tuan Enemy berjalan menuju kamarnya. Kamar pertama disisi kiri tangga.

__ADS_1


Melihat jejak kaki, dengan pelan dan hati-hati. Langkah kakinya menghindari setiap jejak kaki yang terlihat. Kini jejak kaki yang terekam hanya jejak kaki seorang penyusup dan bukan jejak kakinya. Dengan memasuki kamar mandi, tuan Enemy mengunci pintu dan kini tatapannya terarah pada cermin di depannya. "Sungguh permainan kalian semua sangatlah bagus, sayangnya kalian lupa jika aku menjadi dalang utama. Bahkan kalian tidak tahu siapa aku sebenarnya. Ck ck ck. Malangnya kalian."


Tangannya melepaskan topeng, dan perlahan mengelupas satu persatu kulit dengan luka bakar di wajahnya. Selama lima menit membersihkan wajah dan kini sebuah wajah tampan dengan senyuman smirk terlihat dengan jelas, terpantul di depan cermin. "Lihatlah siapa aku. Wajah asli ku."


__ADS_2