
Puk…
"Tuan AK? Apa yang terjadi?" tanya Ashley setelah menepuk pundak AK yang hampir sepuluh menit mematung diam tanpa kata dengan tatapan serius ke pasien Sekkar.
"Bukan apa-apa. Apa yang terjadi pada Sekkar?" tanya AK mengalihkan perhatian Ashley.
Ashley tahu ada hal yang tak bisa dikatakan oleh AK, tapi itu tidak akan membuat dirinya curiga. "Seseorang menembak jantung komandan Sekkar, disaat terjadi keributan di rumah sakit. Dengan menahan tiga preman justru nyawanya menjadi taruhan, terlebih para polisi keracunan minuman saat berjaga. Beruntung dokter bergegas menyadari tindak kejahatan itu, dan sempat terjadi keadaan darurat. Untungnya komandan Sekkar masih tertolong dan bertahan hidup." jelas Ashley dengan rinci.
AK mendengarkan semua penjelasan Ashley tanpa menyela sedikit pun. "Bagaimana dengan surat dokter tentang donor jantung yang Asma lakukan?"
__ADS_1
"Sebaiknya kita duduk, karena ini tidak bisa dijelaskan dalam satu menit." tukas Ashley dan memilih keluar ruangan komandan Sekkar.
AK mengikuti Ashley. Dan kini keduanya duduk berhadapan dengan penghalang satu meja bundar kecil. Di atas meja itu sudah ada teko air putih dengan beberapa gelas mungil. "Baiklah, kita mulai dari awal sudut pandang dari pihak ku."
"Keluarga ku memiliki bisnis senjata dan juga teknologi. Seingatku, dulu anda salah satu pesaing bisnis keluarga kami. Pertemuan berawal dari pesta tahun baru di hotel Legion, aku bisa melihat senyuman anda disamping seorang wanita cantik dengan mata jernih. Yah itu pertemuan pertama kami, mungkin anda tidak menyadari jika tatapan mata iri terpatri dari saudara tiri ku. Ka Samuel, meskipun ka Sam seorang duda dan memiliki seorang putri. Tetap saja matanya seakan tak lepas menatap Asma. Sejak malam itulah, ka Sam mulai tergila-gila dan mencari tahu semua tentang kekasih anda. Sayangnya sesuatu dibiarkan terjadi dan semakin memburuk, bersamaan dengan waktu. Kejadian buruk juga menimpa putri tunggal Ka sam. Gadis malang itu mengalami kecelakaan parah dan membutuhkan pencangkokan jantung. Disaat bersamaan, tragedi pelecehan Asma tengah bergulir panas. Hingga hari naas itu tiba, dimana Asma melakukan percobaan bunuh diri dengan overdosis obat tidur. Tapi, satu kejadian sebelum hari naas itu mungkin tidak ada yang tahu."
Ashley berhenti sejenak untuk menghirup oksigen.
"Aku titip mereka padamu untuk satu bulan kedepan. Jangan ikut campur lagi, setelah hari ini! Kini hanya aku dan dia. Karena kami awal dan akhir dari kisah balas dendam ini." tukas AK mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Ashley mengalihkan tatapan matanya, wajah AK semakin dingin tanpa senyuman. Wajah yang lebih menakutkan, ketampanan pria itu justru menyimpan jiwa iblis. "Aku ingin membantumu! Papa kami harus menjadi korban keserakahan ka Sam, ibu di sandera agar kami tidak bertindak jauh. Tapi, kini tangan kami bebas. Ibu sudah bersama kami. Jadi, biarkan kami membantumu."
"No! Pergilah sejauh mungkin. Itu akan sangat membantu ku. Bersyukurlah dengan keluargamu, aku tidak ingin menjadi pemisah jika tidak ada tuntutan keadilan. Lepaskan amarahmu, aku akan memberikan perhitungan untuk lukamu." AK beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri saudara kembarnya yang terbaring koma.
Tangan AK menggenggam tangan Ferro. Dengan mendekati wajah kembarannya itu, AK membisikkan sesuatu. Ashley hanya bisa menatap tanpa mendengar apa yang AK bisikkan.
"Jagalah mereka. Dan Icha akan ku bawa." tukas AK setelah kembali berdiri di samping Ashley yang masih terduduk di tempat yang sama.
"Tidak bisakah Icha bersamaku?" tanya Ashley dengan gusar.
__ADS_1
AK hanya diam dan mengambil ponsel pintarnya dari saku celana. Nada sambungan terdengar, hingga suara seseorang terdengar dari seberang. "Tunggu share lock ku! Pastikan semua seperti rencanaku."