
Setelah perjalanan hampir satu jam akhirnya mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah atau lebih tepat nya sebuah mansion dan di salah satu dinding depan jelas sebuah papan nama memperkenalkan siapa pemilik mansion itu. Mansion Hutomo itulah nama mansion nya dan setahu dirinya pemilik mansion itu adalah seorang pembisnis sekaligus seorang abdi dalem negara yang jabatan nya tertutup.
Terlihat wanita yang kini berpakaian jumpsuit panjang itu keluar dari mobil dan mendekati gerbang sedangkan mobil hitam mulai berjalan meninggalkan kawasan yang tergolong pribadi.
"Aku harus ikuti yang mana ini? Hadeuh pakai acara pisah segala." gumam sosok dengan helm fullface.
Setelah ber fikir sesaat, akhirnya sosok itu memutuskan untuk menunggu di seberang jalan dengan bersikap seperti orang yang sedang berteduh di bawah pohon dan menyelonjorkan kedua kaki nya dengan mengurut pelan sembari memperhatikan keadaan Sekitar. Sedangkan sasaran utama nya dibiarkan pergi begitu saja tapi penantiannya tidak memerlukan waktu lama, karena terlihat seorang pria berumur sekitar enam puluhan keluar tapi terlihat menyeret sesuatu.
"Ka hentikan! Sampai kapan kakak akan memperlakukan ku tidak adil?" seru seorang wanita yang berusaha melepaskan cengkraman tangan pria yang menyeret paksa dirinya.
"Tidak ada lagi nama mu di dalam keluarga Hutomo! Bukankah kamu sendiri yang memilih untuk meninggalkan rumah demi pria itu! Lalu untuk apa kembali? " ucap sengit Pak Hutomo yang menghempaskan tangan Sisi.
"Pah, biarkan tante menemui ku. Bukankah papah tidak mengingkari ikatan darah kami? Kita akan bicara di luar bukan di dalam mansion." bujuk seorang pemuda yang langsung menangkupkan kedua tangannya.
"Ok.Bawa dia pergi." ucap Pak Hutomo dan kembali masuk ke mansion.
"Ayo tante, kita ke taman saja. Soal papah, Aland minta maaf." ucap Aland dengan menggandeng tangan tante nya.
"It's ok, Ayo." jawab Sisi dan keluar dari mansion bersama satu-satunya keponakan nya itu.
Tanpa menunda sang pengintai mengikuti target kedua nya, dengan perlahan akhirnya sang pengintai duduk di kursi belakang tempat duduk sasaran nya meskipun terhalang dengan satu tanaman hijau seperti tata rambat. Terdengar kedua nya berbasa-basi dengan bercerita tentang keseharian yang membuat sang pengintai merasa bosan hingga setelah tiga puluh menit berlalu, terdengar sebuah pertanyaan dari wanita itu yang mulai menarik perhatian sang pengintai.
__ADS_1
"Aland apa akhir-akhir ini ada yang meneror mu? " tanya Sisi dengan hati-hati.
Terlihat wajah Aland berubah menjadi serius dan melihat kesana kemari seakan ada yang mengawasi, membuat Sisi menggenggam tangan pemuda itu dengan penuh kasih sayang. Dan pemuda itu sedikit menjadi lebih tenang dan dengan pelan terlihat anggukan kepala meskipun sangat lemah. Tiba-tiba Aland mengambil ponsel di saku celana nya dan menunjukkan sesuatu pada Sisi, terlihat perubahan ekspresi dari wanita itu dengan wajah yang memucat sedangkan sang pengintai hanya bisa menerka dari suara yang terdengar memilukan dan penuh keramaian dengan banyak jeritan dan umpatan.
"Apa kamu tahu jika Rico dan Esha masuk ke rumah sakit?" tanya Sisi dengan mengembalikan ponsel Aland.
"Apaaa? Bagaimana bisa.. aaapa mereka... " ucap Aland dengan gugup dan tangan gemetar.
"Tenang, tante ada untuk mu. Rahasiakan ini dulu, apa papah tahu? " tanya Sisi sembari memeluk keponakan nya itu.
"Belum.Papah sibuk dengan kerjaan." jawab Aland lirih menatap udara dengan kosong.
Sebuah anggukan kepala membuat Sisi sedikit lega meskipun di dalam hati nya juga ikut merasakan takut setelah melihat video di dalam ponsel keponakan nya, mungkin tidak ada yang tahu jika sebuah rahasia masih tersimpan rapat dan itu hanya dirinya beserta Tuhan yang tahu. Setelah mengantarkan Aland dan memastikan pemuda itu masuk ke mansion, terlihat Sisi mengambil ponsel di dalam slim bag nya.
Percakapan yang singkat namun terlihat wajah wanita itu begitu khawatir dan cemas dan setelah mematikan panggilan, terlihat ada sebuah taksi yang lewat dan berhenti di depan wanita itu. Dan kepergian taksi ternyata membawa wanita yang sesaat tertutup badan mobil, sang pengintai bertindak dengan buru-buru dan mengejar taksi.
Bruuuk... ciiit...
Di persimpangan terjadi sebuah kecelakaan dan membuat sebuah mobil menabrak pohon di pinggir jalan sedangkan sebuah motor berhasil menghindari kecelakaan itu meskipun akhirnya harus menghentikan aksinya menjadi seorang detective. Dengan cekatan menelfon ambulance untuk membawa korban kecelakaan dan mengamankan jalan nya lalu lintas, yah itu juga tugasnya sebagai abdi negara.
"Salam komandan Leo, kami sudah membereskan semua nya. Terimakasih atas laporannya." ucap seorang petugas polisi yang memang bertugas sebagai petugas lapangan.
__ADS_1
"Ok, lanjutkan." jawab agen Leo dan menghampiri motor nya yang terparkir di depan sebuah ruko.
Setelah kehilangan target dan merasakan perutnya perih maka agen Leo memutuskan untuk kembali ke kantornya untuk sejenak ber istirahat dan memikirkan kembali rencana selanjutnya. Sedangkan di sebuah cafe dengan nomer meja tiga belas, dua lawan jenis tengah saling memandang seakan memberikan kode dalam bahasa isyarat.
"Ayolah, katakan saja." ucap seorang pria dengan pakaian preman sembari mengaduk kopi arabika miliknya.
"Apa orang yang sudah mati bisa bangkit lagi? " tanya seorang wanita dengan menggigiti kuku nya.
"Hahahaha kamu ini kenapa Sisi? Mana ada orang mati hidup lagi! Yah ada sih kalau cuma mati suri." jawab pria itu dengan santai nya.
"Stop Sam! Aku tidak bercanda, aku melihat nya. Dia hidup, yah gadis itu masih hidup." ucap Sisi dengan menutup wajah nya menggunakan kedua tangannya.
Kali ini pria yang di panggil Sam terdiam dan mendorong kopi nya ke tengah meja, dan di raihnya kedua tangan wanita di depannya. Terlihat wajah itu bukan hanya pucat tapi juga mengalirkan larutan garam, jika wanita di depannya sudah menangis dalam diam berarti sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Katakan apa yang terjadi? " tanya Sam dengan suara berat.
Wanita itu memandang pria di depannya dengan penuh lelehan air mata dan memohon perlindungan baikan anak kecil bernaung di ketiak orang tua nya. Dengan suara lirih wanita itu mencerikan apa yang di alaminya, meskipun lirih tetaplah terdengar jelas karena suasana cafe yang terbilang sepi.
Tapi tanpa di sadari oleh kedua lawan jenis itu, di meja seberang dengan jarak satu kursi belakang mereka ada satu sosok yang tengah mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Sosok itu masih diam dan mendengarkan tanpa satu pergerakan sekali pun, membiarkan sebuah rahasia menghampiri kehidupan nya yang ternyata masih belum lengkap.
"Kalian juga bersalah, tidak seorang pun akan ku biarkan lolos. Karma berlaku untuk kalian." batin sosok itu dan meninggalkan cafe dengan sebuah rencana yang sudah menghampiri fikiran nya.
__ADS_1