
"Bukankah ini tujuan mu? Agar bisa menjadi kan Rico boneka mu?! " ucap perawat pria dengan meletakkan buket bunga di dada Rico dan menatap orang yang menjadi lawan bicara nya.
Seorang dokter wanita dengan kaca mata tebal yang selalu menjadi ciri khas dokter itu yang ada di hadapan nya, dokter yang biasa nya identik dengan ramah lembut dan juga penuh senyuman. Justru wajah di depan nya terlihat aneh, senyuman dengan lengkungan di satu sudut bibir kiri dan sudut bibir kanan tetap saja datar di tambah dengan rambut kepang dua yang seakan menunjukkan kesan gadis desa, sungguh penampilan nya tidak sesuai dengan jas putih yang menjadi penopang karir wanita di depan nya itu.
"Hahaha anda benar. Dan Fatih pantas mendapatkan karma ini." ucap dokter itu dengan suara tawa nya yang bisa membuat Rico semakin meringkuk di brangkar milik nya.
"Apa pun kisah mu, Aku berterimakasih pada mu yang telah membantu ku." ucap perawat pria dengan senyuman penuh arti.
"Tidak perlu berterimakasih pada ku, keluarga kita sama-sama menjadi korban keegoisan dan kekuasaan pria bangk@ itu! Kini sumpah ku sudah terwujud, ini bukti dari sumpah ku di makam ayah ku." ucap dokter wanita itu dengan penuh emosi namun sudut mata nya mengalirkan cairan bening yang menunjukkan kelemahan wanita itu di balik tindakan kriminal nya.
"Pergilah dari negara ini Lidya, tujuan mu sudah tercapai. Tiket dan semua sudah ku siapkan." perintah perawat pria dengan bangkit dari tempat nya.
"Tidak! Aku ingin melihat pria bangk@ itu menangis darah, baru aku bisa tenang dan pergi dari tempat ini." jawab Lidya melepaskan kacamata tebal nya.
"Terserah! Kesempatan tidak datang dua kali, Lidya lepaskan dendam mu sebelum dendam itu membakar mu." ucap perawat pria dan berjalan menuju pintu keluar.
"Lalu kenapa anda datang kemari? Bukankah karena dendam? " tanya Lidya yang merupakan sebuah sindiran dan membuat langkah perawat pria terhenti dan membalikkan tubuh nya menghadap Lidya yang sudah menatap nya dengan mata sembab.
"Yah dendam membuat ku berdiri disini! Keadilan yang ku tegakkan memang berjalan di jalan yang salah tapi luka mu tak sedalam luka nya." jawab perawat pria itu dengan tatapan tajam yang nyalang membuat Lidya meringsut karena bulu kuduk nya meremang.
"Maaf bukan... " ucap Lidya yang menyadari jika kisah nya masih sebagian kecil dari kisah pria di depan nya.
"Jaga dirimu, selamat tinggal Lidya. " ucap perawat pria memotong ucapan Lidya dan kembali menuju pintu ruangan dan meninggalkan dokter wanita itu sendiri an bersama pasien yang masih dalam ketakutan.
"Anda begitu tertutup meskipun bantuan dari anda lah yang membuat ku sampai di titik ini! Sedalam luka di mata anda, luka ku tak akan sembuh dengan mudah." gumam Lidya yang mencoba menyatukan serpihan-serpihan ingatan dua tahun lalu dimana kedatangan nya kembali ke kota kelahiran nya setelah menempuh pendidikan di luar kota justru menjadi tragedi yang merenggut ayah nya di depan mata nya sendiri.
Flashback
Seruan sang ayah yang meminta nya untuk terjun dari dalam mobil membuat ingatan nya terbuka kembali, wajah yang panik namun tetap mencoba melindungi Putri tercinta nya dari bahaya yang menghadang sungguh membuat hati Lidya hancur tak tersisa. Bukan kebahagiaan yang di dapat Lidya saat kembali ke rumah nya namun penjemputan sang ayah di malam itu membuat Lidya harus menjadi yatim piatu.
Ntah dari mana suara bising yang memborbardir mobil ayah nya dari beberapa arah hingga membuat mobil yang di tumpangi Lidya dan ayah nya mengalami oleng di jalanan curam , sang Ayah yang seperti sudah siap dengan penyerangan itu juga mengeluarkan senjata api yang bahkan sudah terisi peluru.
*Dengarkan ayah, Lidya harus tetap hidup! Datang lah ke tempat rahasia masa kecil mu dan temukan kotak hadiah bermotif Barbie kesukaan mu, sembunyilah di sana sampai semua aman. Sekarang tunggu sampai jalur dekat sungai dan lompat saat ayah bilang lompat.*
__ADS_1
*Tapi yah, kenapa ada yang menginginkan kita celaka dan semua peluru ini.. *
*Lompat Lidya, Lompaat! *
Rasa nya terkejut melebihi petir yang menyambar, tangan ayah ku bahkan harus melepaskan sabuk pengaman dengan cepat dan bergegas mendorong tubuh ku yang masih diam dengan semua kejadian kilat itu, hingga dingin nya air membuat ku sadar dan berenang menuju tepian sungai yang tak begitu deras. Ku edarkan padangan mata ku menyusuri sungai yang ada di bawah jalan raya, sungai yang sangat ku kenali dimana aku hanya perlu menyusuri aliran sungai untuk mencapai tempat rahasia ku bersama ayah ku semasa kecil ku.
Dengan hati yang terus berdoa akan keselamatan seorang ayah meskipun harapan itu sangat lah tipis, perjalanan mencapai sebuah rumah pohon yang cukup tersembunyi sungguh membuat tempat itu tidak banyak yang tahu. Ku panjat dengan pelan tangga kayu yang terlihat baru dan cat rumah kayu yang sudah berubah menjadi hijau tua seakan membiarkan rumah pohon itu menyatu dengan alam, gelap segelap langit malam.
Dengan bantuan benda pipih yang masih ada di saku jaket kulit ku, ku nyalakan senter dan bersyukur karena ponsel ku masih menyala dan berguna bagi ku hingga telinga ku mendengar suara ledakan yang membuat mata ku langsung menuju keluar rumah pohon. Rasa takut yang menyebar di dalam hati ku menemani kesendirian ku dalam rumah pohon yang terasa senyap dan juga dingin, angin yang menerpa mengusap wajah ku menemani badai di dalam hidup ku.
Dengan memeluk kedua lututku, gemetar tubuh ku tak bisa ku hentikan dengan lelehan air mata tak bersuara. Bibir yang ku gigit kuat menjadi saksi luka yang menembus jantung ku, darah yang keluar dari bibir ku menjadi bukti jiwa ku yang hampa. Mata yang tak mampu lagi terbuka seakan mengetahui jika di tempat lain satu jiwa paling berharga dalam hidup ku telah meninggalkan raga nya.
Hingga matahari menampakkan wujud nya menerobos masuk kedalam rumah pohon memberikan kehangatan yang membuat mata ku terbuka, sinar baru itu seakan mengejek kehidupan ku namun tubuh ku enggan untuk bergerak. Hingga sebuah pantulan yang menyilaukan membuat tubuh ku berpindah dari tempat ternyaman ku, sebuah kotak dengan ukuran 15x20x30cm dan bergambar Barbie terkena sinar matahari dan memantulkan cahaya itu kearah ku.
Ku ingat ucapan terakhir ayah ku yang meminta ku untuk menemukan kotak itu, dengan segera ku hampiri kotak yang di maksud ayah ku. Dengan sisa tenaga yang ku miliki ku buka kotak itu, yang ternyata berisi beberapa flash disk dan beberapa foto serta sepucuk surat.
Ketika putri ayah membaca surat ini maka sudah di pastikan jika ayah tak lagi bisa memeluk mu meskipun hanya sedetik.
Jangan kembali ke rumah apapun yang terjadi setelah kepergian ayah, dan ini perintah terakhir dari ayah mu.
Ingat lah ayah selalu bersama mu dan datanglah ke alamat di bawah ini karena ayah sudah menyiapkan segala nya untuk mu.
Ayah menyayangi mu Lidya Angkasa permata ayah yang baik hati.
Surat dengan tulisan tangan yang terkesan rapi seakan sudah di siapkan jauh-jauh hari, namun ada pertanyaan yang membuat hati nya tetap ingin mengunjungi rumah keluarga nya meskipun untuk terakhir kali nya. Dengan melepaskan jacket dan mengambil sebuah tirai yang menjadi penutup jendela salah satu sisi rumah pohon dan menjadikan nya penutup wajah, kini langkah kaki nya meninggalkan rumah pohon dengan sempoyongan.
Jalan yang di tempuh pun harus melewati jalan pintas dimana jalan itu hanya dirinya dan ayah nya yang tahu, setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya sebuah rumah yang cukup minimalis menyambutnya. Bukan dari arah depan tapi dari arah belakang rumah yang me miliki sebuah jalan rahasia, dengan perlahan Lidya membuka pintu yang selalu tampak seperti sebuah tanaman mie-miean.
Suara yang banyak memasuki gendang telinga Lidya, membuat langkah Lidya semakin hati-hati untuk mencapai kamar nya. Belum juga langkah kaki Lidya melewati pintu kedua, perbincangan orang-orang asing seakan menusuk jantung nya hingga membuat tubuh nya bergetar di balik sebuah lemari yang mampu menutupi tubuh nya.
Hingga satu jam berlalu rumah nya kembali sepi sunyi dan senyap, Lidya bergegas menuju ke kamar nya dan mengganti pakaian nya dengan pakaian yang lebih bersih meskipun tanpa memberiskan diri terlebih dulu. Tak lupa memakai masker dan juga kacamata hitam nya dan bergegas meninggalkan tempat yang sudah menjadi sebuah kenangan terakhir nya, namun belum pintu rahasia tertutup rapat terdengar suara gaduh dari dalam rumah yang membuat lidya bergegas menutupi pintu itu dan menyandarkan tubuh nya agar pintu itu segera tertutup rapat.
****Boss pasti putri nya Angkasa sudah tenggelam, tidak ada tanda-tanda kemunculan nya di acara berkabung. Bahkan di deretan para pelayat hanya tetangga sekitar saja." ucap seorang pria dengan melaporkan keadaan rumah Angkasa.
__ADS_1
"Heh ayo cepat! Kita harus bakar rumah ini! " seru satu pria lain nya yang terdengar lebih jauh.
"Okay, atau Boss Fatih yang menjadikan kita korban selanjutnya." jawab pria yang segera menjauh dari halaman belakang rumah.
Percakapan*** itu sangat jelas memasuki gendang telinga Lidya, dan membuat tangan wanita yang baru lulus kuliah kedokteran itu mengepal dengan kuat hingga kuku nya memutih. Langkah nya ber jalan ke arah lain dari kedatangan nya, menyusuri pohon-pohon besar yang ada di perbatasan pemukiman hingga terlihat sebuah lapangan yang tampak di depan mata nya.
Itulah pemakaman umum yang menjadi tempat peristirahatan terakhir ayah nya, bahkan melihat suasana yang sudah sepi dengan kepergian para pelayat tak membuat Lidya meninggalkan tempat nya bersembunyi di balik pohon rindang dan besar. Hingga berjam-jam mengabaikan rasa lapar dan haus nya menunggu waktu yang aman, malam datang baru lah langkah kaki nya keluar dari balik pohon rindang bersamaan dengan turun nya rintik hujan.
Papan nisan yang bertuliskan Angkasa dengan tanggal kematian nya menyambutnya, air mata bahkan tak lagi hadir dari kedua sudut mata Lidya namun tatapan kebencian mulai menjalar bak virus mematikan. Dengan penuh kesadaran dan juga ucapan tegas nya, tangan kanan Lidya menyentuh papan nisan ayah nya dan mengucapkan sebuah sumpah bersama petir yang menyambar.
*Aku Lidya Angkasa putri Angkasa bersumpah akan merenggut kebahagiaan mereka yang mengambil paksa kebahagiaan ku, tanpa tetesan air mata darah bajing@n itu maka sumpah ku tidak akan tercapai.* ucap Lidya dengan mata memerah nya yang menatap hampa papan nisan di depan mata nya.
" Andai hati papa mu bukanlah iblis, mungkin tidak akan ada iblis baru yang tercipta seperti diri ku. Jadi nikmati saja karma mu dan karma papa mu itu secara bersamaan." ucap Lidya setelah menetralkan hati nya yang bergemuruh karena mengingat masa lalu nya yang membuat hati dan jiwa nya berubah total, di ambil nya sebuah suntikan yang sudah ada di saku jas putih nya dan dengan santai nya menyuntikkan ke leher Rico.
Tubuh yang gemetar ketakutan mendadak menjadi kejang-kejang dengan mata melotot dengan tubuh seperti bedongan bayi membuat Rico seperti ulat kepanasan dan sudah pasti ketakutan dan rasa sakit menjadi satu, sedangkan Lidya dengan tenangnya membuat video Rico dalam keadaan paling menyakitkan berdurasi lima belas menit dan mengirimkan nya pada sebuah nomer yang sudah setahun ini di simpan nya.
...~~~~...
.
.
. *Hari ini othoor up lumayan banyak meskipun satu bab ya, bcz nanggung kalau mau di jadi in dua bab and pasti malah bingung nanti baca nya, so othoor buat satu bab biar sekali part selesai.
.
.
. Happy reading reader's, selamat berpuasa.
.
. jangan lupa like, comment, vote, favorite plus intip yuk karya othoor lain nya 😀😃😄😁😍*
__ADS_1