
Puk…
"Tuan? Are you okay?"
AK melirik Icha yang membuyarkan lamunannya. "Hmm. Bisa aku tahu siapa dokter yang menangani operasi mu?"
"Seandainya aku ingat, pasti akan ku katakan. Ingatan ku seperti kegelapan. Semakin aku mencoba mengingat tragedi itu, banyak sekali burung berterbangan di atas kepala ku. Tapi, ada yang ku ingat. Sekilas kobaran api yang mengelilingi ku dan percakapan papa dengan seorang wanita. Sisanya seperti buram dan semakin membuat kepalaku rasanya hampir meledak." tutur Icha dengan tatapan kosong.
Tangan AK terulur mengusap kepala Icha, spontan Icha mengalihkan pandangan menatap wajah AK. Mata tajam itu menyimpan banyak kisah, seakan jantung Icha bisa memahami setiap penderitaan AK. Tangan Icha terulur menangkup wajah AK. "Segelap apapun malam pasti akan berlalu, bertahanlah. Cahaya mentari akan memberikan warna hidup yang baru. Aku tidak tahu kenapa detakan jantungku secepat ini, tapi hati ku percaya. Kamu orang baik."
Greeeb...
Ucapan Icha menggetarkan hati AK. Sudah sekian lama, langkahnya berjalan didalam kegelapan tanpa cahaya. Ntah apa yang ada didalam diri Icha, tapi wanita itu perlahan menyusup kedalam hatinya. Aroma tubuh dengan parfum yang manis, menenangkan perasaannya.
"Mari kita melangkah bersama dan menyelesaikan semua ini bersama. Apa anda menerima permintaan saya?" tanya Icha setelah AK melepaskan pelukan.
AK mengulurkan tangan yang disambut dengan senyuman manis Icha. "Rekan."
"No! Jadilah bayangan. Apa kamu sanggup?" sanggah AK.
Mata Icha mengerjap dan mengangguk. "Bayangan lebih baik, karena rekan bisa mengkhianati."
"Bayangan pun bisa menjadi pengkhianat, karena diri sendiri pun bisa berkhianat. Bukan pengkhianatan seperti rekan apalagi musuh. Tapi berkhianat didalam hati dan fikiran." jelas AK dan menatap papan skema perencanaan.
Icha berdecak kagum, pria di depannya memang memiliki sikap yang patut di contoh. Sejenak Icha mengingat, bagaimana sang papa hanya selalu memberikan materi tanpa mengajari sikap. Terlebih disaat dirinya memberikan pertanyaan tentang Asma, maka sudah pasti sang papa akan marah tanpa memberikan penjelasan apalagi jawaban.
"Apa kamu mengenal semua sosok di papan ini?" tanya AK menunjuk papan di depannya.
Icha menatap satu persatu foto, beruntungnya semua foto bukan foto setelah pembunuhan. "Yang pasti ku kenal adalah papa, tapi wajah-wajah lain aku tak pernah melihat. Kenapa tak mencari di goggle saja?"
__ADS_1
"Apa kamu lupa siapa dirimu?" sindir AK yang gemas dengan pertanyaan Icha.
Icha terkekeh pelan, ternyata pria yang menjadikan dirinya bayangan bukan orang polos. Itu artinya AK tahu jika dirinya seorang hacker. Icha mengangkat kedua tangan dan memegangi telinganya sendiri. "Sorry, aku akan mencari tahu siapa mereka. Apa ada laptop?"
"Hmmm. Periksa saja di laptop itu, aku harus pergi. Mau pesan sesuatu?" tukas AK sembari menunjuk ke atas meja, dimana ada laptop tertutup.
Icha menatap AK. Tiba-tiba hatinya merasa gelisah, tanpa sungkan Icha memegang lengan AK. "Pergi kemana? Aku ikut! Bukankah aku bayanganmu?"
"Hanya mencari makan. Apa harus ikut?" tanya balik AK.
Icha mengangguk, dan segera menyambar laptop di atas meja. Tanpa peduli reaksi AK yang tercengang, langkah kaki Icha berjalan menjauhi AK. Melihat tingkah lucu Icha, AK ingin tertawa. "Apa kamu mau jalan kaki?"
Pertanyaan AK sukses menghentikan langkah kaki Icha. Icha berbalik, ternyata AK masih berdiri di tempat yang sama. "Apa maksudnya berjalan?"
Bukannya menjawab, AK membuka satu laci di bawah meja. Tangannya mengambil sesuatu, dan langkah kaki AK menuju ke tumpukan beberapa kardus yang terkesan tersusun rapi. "Bisa bantu aku?"
"Aku tidak mau kamu tinggalkan." jawab Icha dan enggan mendekati AK.
"Ternyata kamu terlalu cepat amnesia. Ayo masuk! Sekalian kita ke dokter." titah AK dan membuka pintu mobil dengan kunci.
Icha hanya menurut, keduanya memasuki mobil sport hitam. AK menyalakan mesin mobil, dan menekan satu tombol merah. Suara pintu bergeser, mengalihkan perhatian Icha. Sekali lagi Icha hanya bisa menjadi berdecak, ternyata gudang terbengkalai yang terkesan horror. Memiliki fasilitas yang memadai.
Mobil meninggalkan gudang melewati pintu samping yang ternyata memiliki jalan khusus, hingga pemandangan pun hanyalah pepohonan dan tanaman liar. "Apa semua kamu yang membangun? Kenapa semua seperti telah direncanakan?"
"Hmmm. Mau makan dimana?" tanya AK.
Icha menatap AK dengan kesal, seringkali pertanyaan terabaikan dan dialihkan pertanyaan lain. AK tahu sedang diperhatikan dengan wajah masam bayangannya. "Terkadang sedikit mengetahui rahasia, maka hidup akan aman."
Tidak ada lagi kata yang bisa di ucapkan. Bukankah percuma saja memiliki seribu pertanyaan. Tapi tidak ada satu jawaban yang didapatkan. Meskipun AK masih lebih baik, dibandingkan sang papa.
__ADS_1
"Apa kamu lupa kenapa membawa laptop?" sindir AK.
Icha mendengar tapi tidak menjawab, tangannya memilih membuka laptop. Tapi wallpaper di layar itu, mendadak menusuk hatinya. Dengan menggelengkan kepala, Icha mencoba membuka sebuah situs pribadinya. Tapi tangan AK menghentikan niat hatinya. "Buka dulu mode ghost. Jangan asal mengggunakan laptop satu ini, atau meledak kita berdua."
"Apa itu mode Ghost?" tanya Icha yang baru pertama kali mendengar, meskipun sudah lama memasuki dunia IT.
AK memilih menurunkan kecepatan, dan memasuki tempat parkir sebuah Cafe. Mobil terparkir dengan mulus, mesin di matikan dan AK memasang tudungnya. "Ayo turun! Aku jelaskan didalam."
"Baiklah. Boleh aku ke toilet dulu?" tanya Icha dengan cengiran kuda.
AK mengangguk dan mengulurkan tangan. Icha tidak paham, tapi jari telunjuk AK menunjuk ke arah laptop. "Mau bawa ini?"
"Hmmm." jawab AK.
Icha memberikan laptop milik AK dan keluar terlebih dahulu. AK membiarkan Icha masuk ke dalam Cafe sendirian, dan sejenak tangan AK sibuk berselancar menjelajahi huruf dan angka. "Sepertinya, aku harus kesana. Tapi mau aku apakan wanita yang bersama ku? Aku tidak menjamin, dia bisa berpuasa bicara."
Meninggalkan AK yang masih sibuk memikirkan rencananya, Icha merasa gemetar ketika langkah kakinya dicegat beberapa orang dengan pakaian hitam.
...______________________...
Hay readers, othoor sedikit berceloteh ya di bab ini.
Hari ini othoor buat cerpen dengan tema *Respect Penulis*. Dengan cerpen ini Othoor berharap bisa meng up suara hati para penulis.
Jika kalian memiliki sedikit waktu senggang, setidaknya 2 menit. Bolehlah, bantu dukung cerpen othoor yang khusus menyuarakan isi hati para penulis. Karena dukungan kalian, sangat membantu cerpen othoor bisa di baca orang banyak.
Tenang, ini bukan untuk sebuah popularitas. Karena othoor ingin mewakili para penulis lain pure. Sungguh othoor pun merasakan kesedihan yang sama.
Dan ini yang othoor harapkan, kalian mau membaca cerpen di bawah ini 👇
__ADS_1
Terimakasih atas pengertian kalian, salam dari othoor kacang mentah 🙏💕