Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Cerita Elsa


__ADS_3

Sedangkan Desi yang baru saja tangan nya ingin menyentuh handle pintu kamar Mia harus kembali menarik tangan nya karena mendengar perintah untuk diam di tempat.


"Ikut dengan ku!" ucap seorang wanita yang sudah mencengkram tangan Desi dengan erat, kedua wanita itu kembali menuruni tangga dan memasuki kamar yang menjadi kamar sang dokter.


Setelah memasuki kamar, pintu di tutup dan di kunci begitu saja, tatapan tajam tertuju pada Desi, membuat Desi menelan saliva nya dengan susah karena wanita yang kini di depan nya seakan siap menerkam nya.


"Apa mau mu? " tanya wanita itu dengan suara yang di tekan.


"Bekerja." jawab Desi dengan nada yang sudah semaksimal mungkin tenang.


"Tugasmu merawat Mia bukan menggoda tuan! Apa yang kamu lakukan di kamar tuan?!" tanya balik wanita itu dengan suara yang mencecar.


"Ituuu... " jawab Desi yang langsung teringat kembali dengan video pelecehan yang di tonton nya.


Keringat mulai keluar membasahi wajah Desi, ruangan yang ber AC tapi ber keringat sungguh hal yang aneh. Wanita itu menatap wajah Desi yang seketika menjadi pucat dengan bibir yang di gigit seakan menahan sesuatu.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya wanita itu dengan sedikit lebih merendahkan suara nya dan menunjuk keringat yang menetes dari wajah Desi.


"Aku terbayang video yang Dewa tunjukkan." jawab Desi dengan lirih namun masih terdengar di telinga wanita di depan nya itu.


Triiing...


Sebuah dering notifications terdengar, dan tangan wanita itu mengambil ponsel yang ada di saku celana nya. Sebuah pesan yang membuat nya paham maksud dari dokter baru itu, kini tatapan nya beralih ke Desi yang tubuh nya bergetar karena tetap menahan sesuatu dari dalam.


Hening..


"Ayo duduk." ajak wanita itu menuntun Desi untuk duduk di tepi ranjang.


Gluuk.. gluuk..


Hanya dalam dua tegukan air yang masih setengah gelas itu tandas, dan Desi masih terlihat pucat membuat wanita di samping nya memberikan usapan lembut di pundak Desi. Seakan memberikan sugesti untuk tenang , membutuhkan beberapa waktu agar Desi bisa bernafas dengan lebih baik.

__ADS_1


"Akan ku ceritakan apa yang seharusnya kamu tahu, tapi apakah kamu orang yang setia? " ucap wanita itu menarik kursi meja rias untuk menjadi tempat duduk nya dan menghadap ke arah Desi.


Desi yang mendengar itu langsung menatap wanita yang ada di depan nya dengan satu kali anggukan pasti yang membuat wanita di depannya memejamkan mata dan perlahan membuang nafas nya. Terlihat ada beban dan juga kesedihan dari wanita itu, kesedihan yang tidak jauh berbeda dari sorot mata Dewa.


"Tuan adalah orang yang sederhana dengan pemikiran sederhana tapi ke sederhana an nya menjadi malapetaka, yah itu anggapan dari nya selama ini. Tapi tidak bagi ku, sebagai tangan kanan nya tentu aku tahu jika perubahan nya hanyalah demi keadilan yang menjadikan hidup nya seperti permainan. Siapa pun tuan jangan lah kamu men coba masuk ke dalam lingkaran itu, tugas mu hanyalah merawat Mia putri tuanku." ucap wanita itu dan terdiam sejenak seakan mengumpulkan keberanian dari dalam hati nya.


"Mia hanyalah gadis biasa dari lingkungan biasa, namun keterikatan nya pada satu kasus pelecehan yang membuat anak itu harus di lindungi oleh tuan, ingatan anak itu rusak tentang masa lalu nya. Baik itu tentang keluarga nya ataupun nama nya sendiri, tapi satu kenyataan pahit nya adalah Mia masih mengingat dengan jelas peristiwa pelecehan yang terjadi di depan mata nya. Sebagai seorang tuan, tentu semua usaha sudah di lakukan, hanya saja harus melakukan operasi pencucian otak dan tuan masih ragu akan hal itu. Bukan karena masalah biaya tapi karena kejiwaan Mia yang terlihat tenang dan baik-baik saja dari luar tapi di dalam nya hanya ada ribuan kaset usang yang masih terus berputar. Di saat orang lain tidur dan bermimpi indah tapi hal sebaliknya justru di alami Mia, mimpi buruk yang membuat tubuh dan jiwa gadis itu semakin tersiksa, tapi sungguh sikap nya berbanding terbalik dengan kondisi kejiwaan nya. Hanya coretan di kertas ber warna dengan spidol berbagai warna yang menjadi pelampian Mia, aku rasa emosi mu sendiri langsung pudar di saat melihat bagaimana iblis itu melecehkan seorang wanita yang berteriak dengan penuh sayatan dalam batin nya." ucap wanita itu dengan menggepalkan tangan nya.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah Mia masih mau aku rawat? Katakan pada ku Elsa." ucap Desi dengan nada lemah karena ucap an Elsa seakan membangkitkan rasa bersalah nya pada Mia semakin besar.


"Persiapkan saja kepergian kita, berikan passport mu pada ku. Tuan sudah mengatakan pada mu bukan? " tanya Elsa dengan nada yang sudah normal.


"Tunggu." ucap Desi bangun dan membuka lemari dan mengambil tas jinjing nya.


"Ini, apakah sekarang aku bisa bertemu Mia? " tanya Desi dengan tatapan memohon sembari menyerahkan passport milik nya dan Hyun.

__ADS_1


"Buat lah sesuatu yang akan membuat Mia mau mendekati mu, itulah yang harus kamu lakukan." ucap Elsa dan menerima passport dan pergi meninggalkan kamar Desi tanpa menoleh ke belakang.


"Sesuatu? Apa yang harus ku lakukan." gumam Desi yang masih berdiri dengan raut wajah serius.


__ADS_2