Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Bakso-bakso


__ADS_3

Tanpa menunggu lama pesanan nya datang dan di antar oleh seorang pemuda yang mungkin anak pemilik warung bakso mercon MakNyus, tanpa berfikir lama di lahap nya bakso yang memang terkenal terenak di pasar tradisional Jaya. Sungguh bukan hanya hati nya saja yang akan kenyang tapi juga perut nya, pemilihan tempat yang dikirim kan sungguh membuat diri nya merasa bahagia luar dan dalam.


"Pilihan yang tepat, ambillah semua bukti. Jaga bukti ini dengan baik." ucap seseorang menyodorkan sebuah amplop coklat seperti amplop uang yang baru saja duduk di sebelah Dito yang masih dengan nikmat nya mengunyah bakso mercon dan menyeruput kuah bakso dengan warna begitu pekat nya.


Seperti tidak terjadi apa pun, Dito tetap makan layak nya tidak mendengar suara di sebelah nya dan hanya memakan bakso nya tanpa henti hingga mangkok bakso di depan nya tandas tak menyisakan setetes kuah bakso pun. Di teguk nya sisa es jeruk pereda pedas di mulut nya dan berdiri seperti pelanggan lain nya yang hendak membayar pesanan nya setelah puas menikmati bakso super enak plus pedas nya nampol.


Dengan santai nya tangan Dito menarik jacket yang menutupi seragam nya dan mengambil dompet yang sengaja di simpan di saku jacket bagian dalam hingga tanpa sengaja dompet itu terjatuh di samping meja yang tepat mengenai amplop, gerakan Dito luwes tanpa ada keraguan menyambar amplop beserta dompet secara bersamaan. Memasukkan kedua benda itu ke dalam jacket dan menutupi seragam nya kembali dengan jacket, sedangkan uang untuk membayar bakso mengambil dari saku celana nya yang sudah ada uang sisa membeli bensin.


Tidak ada salaman, sapaan ataupun kata pamitan, dengan kepergian Dito setelah membayar bakso dan meninggalkan warung bakso MakNyus, maka orang itu juga ikut bergegas pergi setelah mendapatkan pesanan bakso nya yang ternyata lumayan banyak, dua kresek hitam besar berisikan lima puluh bungkus bakso sudah di tenteng dengan kedua tangan orang itu.


Langkah nya menghampiri parkiran mobil pickups dan bergegas meninggalkan pasar tradisional Jaya, tidak akan ada yang menyadari siapa orang itu dengan penampilan lusuh dan juga brewook yang begitu lebat hampir menutupi wajah bagian bawah nya di tambah kumis hitam mengkilap yang pasti membuat semut saja merosot. Mobil pickups itu berjalan menyusuri jalanan desa yang bersebelahan dengan wilayah pasar tradisional Jaya, melewati pemukiman padat penduduk hingga mencapai ujung pemukiman yang berbatasan dengan pinggir hutan lahan pemerintah.


Ciiit... Brak...


"Bakso-bakso!" seru orang itu setelah turun dari mobil pickups nya sembari menenteng dua kresek hitam besar dan melambaikan tangan pada anak-anak yang tengah bermain di lapangan ujung perkampungan.


"Horeee bakso." seru anak-anak yang memang tengah bermain layangan dan juga permainan lain nya berlarian menghampiri seorang pria brewok berkumis yang melambaikan tangan kepada mereka.


"Satu anak satu okay! Baris yang rapi, ayo." ucap pria itu dengan senyuman yang tertutup kumis dan brewok.

__ADS_1


Tak seorang pun wajah anak-anak yang ketakutan melihat penampilan pria itu seakan sudah sering bertemu, begitu semua anak kebagian bakso masing-masing satu. Maka anak-anak berlarian kembali kerumah masing-masing seperti kebiasaan yang sudah-sudah membuat pria itu memastikan keadaan sekitar yang sudah sepi tanpa menunggu lama langkah nya berjalan memutari mobil pickups yang terparkir di tempat biasa.


Melompati sebuah semak yang tinggi nya satu meter dan berlarian memasuki hutan menuju ke sebuah tempat, perjalanan yang cukup jauh hingga membutuhkan waktu dua puluh menit dengan kecepatan lari maksimal dengan menenteng kresek hitam yang masih menyisakan tiga bungkus bakso. Setelah melihat sebuah rumah pohon ada di depan nya meskipun jarak masih sekitar tujuh meter tetap saja tidak mengurangi kecepatan lari nya, dan langkah nya terhenti begitu sampai di bawah tangga yang menghubungkan dengan rumah pohon di atas sana.


"Sampai kapan kamu menetap disini? " tanya pria itu setelah sampai di atas rumah pohon dan menemukan sosok yang membuat nya harus menjadi seorang pelindung sekali lagi.


"Anda." ucap sosok yang meringkuk tiba-tiba saja mendongakkan wajah nya yang terlihat kacau dengan mata sembab.


"Hmmm.Makan lah dan setelah itu kita pergi dari sini! " perintah pria itu dengan sabar nya membukakan sebungkus bakso dan memberikan sendok plastik yang memang sudah di siapkan oleh nya.


"Aku... " ucap sosok itu dengan raut wajah penolakan.


Hening tanpa ada jawaban ataupun tindakan dari wanita itu hingga membuat pria di depan nya memberikan tatapan tajam.


"Lidya Angkasa!" panggil pria itu dengan suara bariton nya yang langsung membuat Lidya menyendok kuah bakso masuk ke dalam mulut nya dengan tangan yang gemetar.


Rasa takut ketika mendengar suara bariton masih menjadi trauma tersendiri bagi seorang Lidya, namun di dalam hati nya tahu jika pria dengan seribu wajah di depan nya itu bukan lah orang jahat karena selama ini selalu memperhatikan diri nya dan selalu memberikan perlindungan meskipun tanpa di minta. Membiarkan Lidya menikmati bakso yang pasti sudah tidak panas lagi, pria itu melepaskan kumis beserta brewok palsu nya bersamaan dengan baju lusuh nya dan menarik sebuah jacket bertudung yang memang di biar kan tertinggal di rumah pohon itu.


"Terimakasih." ucap Lidya tulus setelah hati dan tubuh nya merasa lebih baik.

__ADS_1


"Apa mereka sudah datang mencari mu? " tanya pria itu yang penampilan nya sudah berubah menjadi keren.


Lidya menganggukkan kepala dan menatap pria di depan nya yang tengah menatap nya dengan wajah serius, wajah yang tampan dengan kedataran ekspresi yang maksimal. Namun mata tajam pria itu lebih jujur dari seorang penjahat sekali pun, sungguh membingungkan ketika mengetahui pria di depan nya ber jiwa psicopat tapi memiliki mata tajam yang jujur.


"Turun lah dan tunggu aku di dalam mobil!" perintah pria itu dan bangkit dari posisi duduk nya.


"Apa yang akan anda lakukan? " tanya Lidya yang sedikit merasakan aura aneh menyergap tubuh nya.


"Sttttt.Pergilah Lidya Angkasa! " perintah pria itu dengan menaruh jari telunjuk nya agar Lidya diam dan melakukan perintah nya tanpa mengajukan pertanyaan.


Gleek...


Suara Lidya menelan saliva terdengar keras dan buru-buru wanita itu turun dari rumah pohon, kenangan terindah nya bersama sang ayah tercinta setelah mengambil sebuah boneka panda sebesar anak usia sepuluh tahun yang merupakan hadiah terakhir ayah nya. Kepergian Lidya membuat pria itu mengambil sesuatu di pojokan yang sudah lama di simpan nya untuk hari ini, di buka nya sebuah derijen ukuran sedang dan menyiramkan isi jerigen ke setiap sudut dan dinding rumah pohon.


Tentu nya setelah memastikan keadaan dan isi di dalam rumah pohon tidak ada yang penting, membiarkan jerigen yang sudah kosong tergeletak di tengah. Begitu pekerjaan nya selesai, langkah kaki nya menuruni tangga beberapa anak tangga dan berhenti untuk berbalik menatap rumah pohon yang ada di atas nya dengan jarak lima anak tangga. Sebuah korek api di ambil nya dari saku kiri jacket nya dan mengambil sebatang korek api kayu dengan sebuah senyuman tipis yang tertutup tudung.


Jrees... Fiiuuh... Wuuss...


Dengan nyala korek api yang terbang dan terjatuh di dalam rumah pohon langsung membuat percikan api menyala dan menyambar apa saja yang sudah di lapisi minyak tanah, sedangkan di depan mobil yang terparkir tidak jauh membuat Lidya bergegas keluar dari tempat duduk nya.

__ADS_1


"Ayaaaah... " seru Lidya yang merasa jiwa nya ikut terbakar dengan terbakar nya rumah pohon secara perlahan di depan mata nya.


__ADS_2