Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Meninggalkan rumah


__ADS_3

"Gudang Kuno pelabuhan barat. Pukul duabelas malam. Sandera orang-orang terkasih mu."


Bersamaan dengan beberapa foto yang jelas tanpa halangan, AK mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Foto-foto itu sungguh biadab dan tidak berperasaan.


Sudah cukup! Kalian bukan lagi manusia, tetapi iblis. Tidak akan ku maafkan semua perbuatan dosa kalian. Tunggu aku sebagai malaikat pencabut nyawa kalian.~batin AK dan meremukkan ponsel pribadinya dengan penuh emosi.


Tidak ada lagi aura ketenangan, AK segera membereskan semua peralatan dan memeriksa rencana terakhir. Wilayah dermaga yang sudah terbengkalai dengan belakang laut curam, gudang itu sangat tua dan tidak lagi beroperasi. Sementara didepan gudang adalah jalan setapak dan hutan yang cukup lebat. Jika diamati, wilayah itu strategis untuk melakukan aksi kejahatan. Terlebih tidak ada patroli dan juga penduduk yang berseliweran.


"Jika tidak salah, aku akan masuk tanpa halangan dan dikejutkan dengan para pelaku. Mereka akan membuat banyak pilihan, tetapi hasil akhir tidak akan berubah. Di dalam permainan ini, sudah pasti kematianku dan para sandera tidak bisa ditawar lagi. Bagaimana caraku menyelamatkan mereka, apa ada celah untuk membalikkan keadaan?" gumam AK sembari merapikan alat-alat di atas meja.


Semua sudah rapi dalam hitungan beberapa menit, AK berpindah tempat dan memeriksa keadaan Icha yang terlelap. "Semoga hidupmu bisa bahagia, selamat tinggal," AK mengecup kening Icha dan berjalan menuju lemari mengambil satu set pakaian gelap ditambah jaket bertudung.


Persiapan dilakukan AK di dalam kamar mandi, pakaian santai berganti dengan celana jeans hitam, kemeja hitam dan jaket bertudung dan tak lupa AK mengambil satu topeng hitam di depannya. Kini penampilan AK sempurna dengan identitas yang selama ini menyembunyikan seluruh jati dirinya. "Aku siap bertempur. Do'akan aku sayang, semoga kamu tenang disana setelah ini. Aku mencintaimu Asma."


Langkah AK berjalan keluar kamar mandi, menatap Icha sekilas sebelum fokus kembali ke ruangan kerja. Semua yang ada di dalam rumah hanyalah barang-barang sederhana, dan dari luar terkesan rumah biasa. AK memakai sarung tangan yang termodifikasi dengan beberapa kecanggihan, semua siap dan tanpa membawa satu senjata apapun AK berjalan menuju pintu dan keluar meninggalkan rumah.

__ADS_1


Tanpa AK sadari, Icha sudah bangun dan ikut bersiap. Kepergian AK, membuat Icha bergegas mengambil pakaian seperti yang AK gunakan meskipun tanpa topeng dan sarung tangan. Sebelum meninggalkan rumah, Icha mencari sejarah pekerjaan AK dan melihat rencana yang AK buat di laptop. Kali ini ilmu hacker miliknya sangat berguna, karena AK ternyata menghapus banyak file.


Hampir setengah jam Icha hanya fokus melakukan pencarian data dan akhirnya tahu kemana tujuan AK. Niat hati ingin mematikan laptop, sebuah notifikasi email masuk menghentikan Icha. Satu klik membuka pesan masuk baru, sebuah email dengan identitas tak jelas. Namun, isi pesan itu sangatlah penting dan membuat Icha bergegas mengirim salinan ke ponsel yang ada atas meja.


Bukankah AK sangat aneh, memiliki banyak ponsel tetapi tidak membawa satupun. Sepertinya pria itu sengaja tak ingin dilacak. Icha memastikan semua informasi telah tersalin dan menghapus semua riwayat dan memberikan beberapa virus untuk merusak sistem di laptop milik AK. "Semua beres, aku harus bergegas pergi menyusul AK. Semoga tidak terlambat."


Langkah Icha berjalan meninggalkan rumah tempatnya melakukan pengobatan, meskipun tubuh dan fikiran masih tidak baik. Tetap saja keselamatan AK jauh lebih penting, terlebih ketika ingatan didalam otaknya sudah pulih. Kini tugas utama adalah membantu AK menyelesaikan misi, sebagai putri Sam yang melakukan tindak kejahatan. Maka tugas anak menunjukkan jalan yang benar.


Mata Icha menatap ke sekeliling, sungguh AK menambah PR dirinya. Bagaimana bisa pria itu membangun rumah di tempat terpencil dan tanpa ada penghuni lain. Lalu bagaimana cara untuk keluar dari lingkungan itu, sedangkan waktu tak bisa di ajak kompromi. Hingga mata Icha menangkap tumpukan daun yang cukup terlihat aneh, rasa penasaran membuat Icha mendekati tumpukan daun dan menyingkirkan daun.


Icha menyingkirkan semua daun di depan mobil dan mencoba membuka pintu mobil, ternyata tidak terkunci. Perjuangan Icha baru dimulai, sementara AK masih di atas motor dan melewati jalan pemukiman yang memiliki jajaran pohon jambu di kanan kiri jalan. Terlalu banyak pikiran di kepala AK, dan tanpa sadar seseorang menyebrang sembarangan.


Ciiiiit….


"Bu, anda tidak apa-apa?" tanya AK bergegas menurunkan standar dan turun dari motor untuk menghampiri wanita berpakaian gamis yang menutupi wajah dengan telapak tangan.

__ADS_1


Sebenarnya cukup aneh, kenapa wanita itu tidak teriak. Padahal motor hampir menabrak, jika tidak di rem dadakan. AK berdiri dan hendak menyentuh tangan wanita itu. Namun, langkah kaki wanita bergamis mundur dan menurunkan tangannya.


"Apa ada yang luka?" tanya AK.


Pertanyaan AK hanya dijawab gelengan kepala dan mata wanita itu kesana kemari dengan raut takut dan cemas. Melihat itu, AK merasa iba. ''Mau ku antar kemana? Biar anda tidak merasa cemas. Jangan khawatir, saya tidak akan menyakiti anda."


Wanita itu menatap AK dengan serius, sekali lagi tidak ada jawaban. Akan tetapi, tangannya terulur dan ada satu lipatan kertas. AK mengambil dan membuka lipatan hingga menjadi selembar kertas. Tulisan tangan dengan tinta merah, pesan yang cukup panjang. Wajah serius AK tersimpan di balik topeng, setelah membaca selama dua menit. "Siapa…."


"Hilang? Kemana wanita itu? Sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang mereka inginkan." gumam AK menghela nafas kasar.


Hilangnya wanita bergamis, membuat AK kembali menatap kertas di tangannya. Siapapun yang mengirim wanita itu, sudah pasti orang yang memberikan perintah mengetahui seluruh tindakannya. Pesan di dalam kertas terkesan memberikan peringatan dan perintah untuk melakukan keadilan, terlebih pesan itu datang dengan cara tak biasa.


Jika aku mundur, sudah pasti semua kembali bergulir di masa depan dan tidak tahu kapan akhirnya. Apapun yang terjadi, malam ini semua harus berakhir, aku tidak ingin ada korban lagi. Semua pasti terjadi sesuatu takdir. ~batin AK dan melipat kembali kertas, memasukkan kedalam saku jacket dan berjalan kembali ke motornya.


Wanita bergamis yang masih bersembunyi di balik salah satu pohon mengamati AK yang naik keatas motor dan tetap meneruskan perjalanan. Satu nada dering panggilan, membuat wanita itu segera menggeser icon hijau di layar. "Maaf, sepertinya kita gagal."

__ADS_1


Suara pasrah dari seberang, membuat wanita bergamis ikut menghela nafas. Usaha yang diharapkan bisa mengubah keadaan, sepertinya tidak akan terjadi. Kini hanya bisa berdoa, agar hasil akhir tidak seburuk bayangan. "Pasrahkan semua pada Tuhan. Maaf aku hanya bisa membantu sedikit."


__ADS_2