
Icha memberikan laptop milik AK dan keluar terlebih dahulu. AK membiarkan Icha masuk ke dalam Cafe sendirian, dan sejenak tangan AK sibuk berselancar menjelajahi huruf dan angka. "Sepertinya, aku harus kesana. Tapi mau aku apakan wanita yang bersama ku? Aku tidak menjamin, dia bisa berpuasa bicara."
Meninggalkan AK yang masih sibuk memikirkan rencananya, Icha merasa gemetar ketika langkah kakinya dicegat beberapa orang dengan pakaian hitam. "Siapa kaaaliaan?"
"Ikut dengan kami secara baik, atau!" ancam salah satu pria dengan memperlihatkan senjata api di pinggangnya.
Icha menggelengkan kepala. Namun, keempat pria pakaian hitam semakin memojokkan dirinya di dalam kamar mandi. "Jangan mendekat! Atau aku teriak…"
"Apa kamu mau seperti dia?" tanya pria pertama dengan menunjuk ke salah satu bilik kamar mandi.
Mata Icha melotot, seorang wanita dengan kondisi kepala bocor bersimbah darah dengan bibir ter sumpal sepatu hak tinggi. Sudah pasti, wanita itu tak lagi bernyawa. Dan lihatlah tangan salah satu pria pakaian hitam, berlumuran darah yang masih menetes. Apa yang terjadi sebenarnya? Sungguh dirinya tak memahami apapun.
"Mari, jangan buat kami bertindak kasar!" Pria pertama mencoba menggenggam tangan Icha.
"Amppuuun.. Jangan dekati akuu…." cicit Icha menutupi wajahnya.
Wuuss.. Sleez.. Triing…
"Auuuw. Sial@n! Cari pelempar pisau itu!" perintah pria pertama dan memegangi telapak tangannya yang tergores cukup dalam dan panjang.
Seruan pria pertama, membuat Icha mengintip dibalik celah jarinya. Tetesan darah segar menodai lantai marmer yang berwarna putih susu dan satu pisau dengan darah jatuh didepan kaki Icha. Hatinya mendadak senang, siapapun yang melukai pria di depannya sudah pasti ada disekitarnya.
Belum sempat ketiga pria melakukan perintah pria pertama, suara seorang pria dari arah pintu masuk toilet terdengar memasuki gendang telinga semua penghuni kamar mandi berdarah. "Lepaskan wanita itu!"
"Ternyata pahlawan kesiangan. Apa dengan luka kecil seperti ini, kamu berfikir kuat?" sindir pria pertama dan mengibaskan tangannya yang terluka.
Seorang pria bertopeng dengan tudung hanya berdiri tegak tanpa menjawab sepatah katapun. Reaksi dingin itu, membuat pria pertama mengkode ketiga rekannya untuk maju menyerang. Satu pria terdekat maju dan menyerang pria bertopeng. Pukulan tangan yang terarah kewajah ditepis dengan serangan balik sebuah tendangan di perut. Tak berhenti disitu, pria bertopeng juga menarik tubuh pria yang menyerangnya dan memutar tubuh pria itu dengan kuncian tangan. "Maju!"
__ADS_1
"Kurang ajar! Habisi pahlawan kesiangan kita." perintah pria pertama, membuat dua pria berlari dan bersiap menyerang pria bertopeng.
Jarak terlalu dekat dan tanpa perhitungan, pria bertopeng melemparkan pria yang masih di tangannya ke arah dua pria yang menjadi rekannya.
Bruuug…….
"Bed3bah! Kalian tidak b3cus!" seru pria pertama dan menendang anak buahnya sendiri.
Wajah yang masih baik-baik saja, berakhir babak belur. Pria pertama sangatlah temperamen, tanpa disadarinya. Icha telah berpindah posisi dengan sangat hati-hati, kesibukan pria pertama melampiaskan amarah. Justru menjadi kesempatan Icha untuk kabur dan kini Icha memilih berdiri di belakang pria bertopeng. "Terimakasih telah menolong tuan."
"Pergilah.Biarkan ini jadi urusanku!" titah pria bertopeng dengan suara samar.
Suara itu berbeda dari tuan AK, tapi saat ini Icha harus kembali ke mobil. Dan menuruti permintaan pria bertopeng, percuma juga dirinya ditempat itu. Jika menjadi beban orang lain. "Thanks sekali lagi. Aku hutang budi."
Langkah kaki Icha berjalan meninggalkan kamar mandi berdarah. Kepergian Icha, membuat wajah-wajah di dalam kamar mandii tersenyum. Pria bertopeng mengambil sesuatu dari balik jaketnya. Amplop coklat besar dengan santainya dilemparkan ke arah pria pertama. "Good job!"
Tanpa melepaskan topeng, pria bertopeng meninggalkan kamar mandi. Terserah mau diapakan mayat yang menjadi pelampiasannya itu. Lagipula para preman sewaannya harus menyelesaikan tugasnya seperti kesepakatan. Sedangkan Icha, tengah bimbang dan bingung.
Matanya masih normal, Icha melihat AK masih di dalam mobil dan tengah sibuk berselancar di atas keyboard. Lalu siapa yang memakai topeng dan menyelamatkan dirinya? Dengan langkah seribu, Icha berjalan menghampiri mobil dan masuk dengan tergesa-gesa.
Braaak….. (Pintu ditutup terlalu keras)
"Are you okay? Tidak bisakah lebih kalem!" cetus AK tanpa melihat Icha.
Belum sempat menjawab, mata Icha menangkap sosok pria bertopeng dari arah pojok parkiran. Mobil yang hanya dua dengan jarak 4 mobil parkiran, membuat Icha dengan jelas melihat pria bertopeng yang menyelamatkan dirinya. Semakin di tatap, tatapan mata keduanya terpaut.
Aku tahu dia menatapku. Apa aku tidak salah? Tapi kenapa? Siapa dia? ~ bagian Icha dengan fikiran penuh tanda tanya.
__ADS_1
Jemari pria itu terangkat, dan membentuk seperti sebuah pistol. Bergerak seperti sebuah tembakan dilepaskan. "Jangaan…"
AK terkejut dengan teriakan Icha. Dengan cekatan, laptop ditutup dan dipindahkan. Kini tatapan mata AK menelisik ekspresi wajah Icha. Arah pandangan Icha keluar dari mobil, AK mengikuti tapi tidak ada apapun selain satu mobil terparkir. "Hey? Ada apa? Kenapa wajahmu pucat sekali?''
"Ituuuu……" cicit Icha sembari menunjuk ke arah sudut parkiran.
AK kembali melihat ke tempat tangan Icha terarah, tapi nihil. Parkiran sangat sepi. "Aku akan keluar."
Tangan Icha menahan lengan AK dengan erat, dan menggelengkan kepala. Jelas sekali Icha tengah shock, tapi apa alasannya. Bahkan sejak Icha keluar dari mobil, baru tiga puluh menit. "Okay aku tetap disini. Tenanglah."
Sekali lagi AK memeluk Icha dengan kelembutan, tanpa disadari AK. Seseorang tengah bersembunyi dengan senyuman penuh arti. Beberapa jepretan foto telah tersimpan dengan sangat baik di dalam ponsel pintarnya.
Sebuah pepatah yang mengatakan 'Ucapan adalah doa'. Itu benar adanya, aku menjadi apa sosok yang pasti di luar pemikiran siapapun. Siapa yang salah? Aku atau kamu? Jika hidupku hancur, maka kamu juga harus hancur!~ batin orang di balik satu sudut parkiran.
...~🗡🗡~~...
Readers, othoor gak akan berhenti ingetin kalian.
*Stop boom like okay!*
Apa karya kami sangat buruk? Othoor cuma mau kalian paham, jika boom like menurunkan performa karya para penulis.
Para penulis menuangkan imaginasi mereka bukan hanya menyita waktu, tapi juga tenaga dan fikiran!
Skip aja kalau gak mau baca, itu lebih kami hargai!
Maaf ya reader's yang setia dan benar-benar membaca karyaku. Maybe, kalian ke ganggu dengan ungkapan hati ku. Tapi jujur saja, aku tidak tahu lagi gimana ingetin sesama penulis dan reader's.
__ADS_1
Semoga keluhan para penulis tersampaikan dengan cara ini, apakah kalian tahu? Buluku pun meremang setiap kali menulis novel, terlebih dengan hal sensitif lainnya.