Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Musim semi di hati kemarau


__ADS_3

"Kalian harus pergi!" ucap AK dan menarik tangan nya yang terluka, berdiri dan melangkah kan kaki nya meninggalkan kamar Mia dan Desi yang masih mengalami skot jantung diam membisu dengan keringat yang mengalir di pelipis nya.


Sedangkan AK memilih kembali ke kamar pribadi nya dan menenangkan hati nya yang terasa terbakar, ada perasaan yang mengalir kan amarah tapi satu garis mengalir kan rasa yang baru muncul. Rasa yang selama ini tidak pernah datang dalam hidup nya, sebagai seorang pria dewasa tentu dirinya tahu perasaan apa yang mulai memasuki hati nya.


"Perasaan ini datang di saat yang tidak tepat. " gumam AK dengan menarik rambut nya sendiri.


Rasa simpati yang sama kembali datang mengetuk pintu hati nya yang terkunci rapat, dan rasa itu perlahan berubah menjadi rasa musim semi di hati nya yang kemarau. Namun jelas ada perubahan yang seketika membuat hati nya memiliki rasa takut dengan kehadiran benih cinta di hati nya, tujuan hidup nya masih dalam kegelapan dan tidak mungkin untuk memberikan harapan palsu pada perasaan yang baru bersemi itu.


Tok.. Tok.. Tok...


Klik...


"Masuk! " perintah AK dengan suara berat nya tanpa menatap sosok yang mengetuk pintu nya.


"Maaf aku cuma mau tanya apa yang akan anda lakukan dengan bahan makanan di dapur? " tanya Desi yang enggan masuk ke kamar pribadi AK dan memilih berdiri di ambang pintu.


"Buat saja puding dengan beberapa cetakan berbeda atau buat saja kue jika kamu bisa." jawab AK dan enggan menatap wajah Desi dan memilih untuk menyibukkan diri dengan memainkan kertas di tangan nya.


"Apa anda marah pada ku? " tanya Desi yang merasa di abaikan oleh AK.


"Tidak.Pergilah sebelum Mia kembali sadar." ucap AK dengan memaksakan diri berbalik menatap wajah Desi yang terlihat tidak bersemangat.


Bukan nya pergi tapi justru langkah kaki Desi melangkah melewati ambang pintu dan masuk ke kamar AK dengan mengunci kamar, tatapan Desi masih terpaku pada AK boss nya. Sedangkan AK hanya memasang wajah datar nya seakan tidak memiliki emosi apapun di dalam jiwa nya, langkah Desi semakin mendekati AK dan berhenti tepat satu langkah dari depan AK dengan jarak sepuluh centimeter.


"Berapa banyak wajah yang anda punya? " tanya Desi dengan menatap AK sembari mengangkat tangan kanan nya.

__ADS_1


"What you want? (Apa mau mu?) " tanya balik AK dan membiarkan jemari Desi menelusuri wajah nya yang ntah kenapa rasa nya tidak rela untuk menyingkirkan jemari itu dari wajah nya.


"Anda seperti dewa di saat wajah ini masuk ke dalam mata ku, tapi topeng yang anda kenakan saat memanfaatkan ku membuat ku menganggap anda seorang penjahat. Dengan menculik Hyun, anda memberikan kesan pertama seorang pendosa, tapi Statment itu menjadi patah dengan kenyataan yang ku lihat. Siapa anda sebenarnya? Wajah manakah yang menjadi jati diri anda? " ucap Desi memejamkan mata nya seakan ingin mengingat wajah AK dalam relung hati nya.


Mendengar pernyataan Desi yang memang benar, tidak ada kemarahan ataupun merasa terancam tapi tetap saja tidak boleh ada yang masuk dalam permainan catur nya selain para pemain asli nya. Dengan tangan kanan yang tidak terluka, AK menarik pinggang Desi dan membuat wanita yang masih memejamkan mata itu tersentak dengan posisi nya yang sudah menempel di dada bidang AK dengan sempurna.


"Apa penting nya siapa diri ku? Apa kamu bisa membersihkan darah di tangan ku?" bisik AK dengan hembusan nafas hangat yang menerpa leher Desi membuat Desi menahan nafas nya karena perasaan aneh muncul dengan posisi nya di dalam pelukan AK.


"Aku bisa mencoba nya. " jawab Desi dengan sungguh-sungguh mendongakkan kepala nya menatap AK.


"Datanglah malam ini, sekarang pergilah buat makan siang." perintah AK dan melepaskan tangan kanan nya yang memeluk pinggang Desi.


"Jangan bertanya lagi! Tunggu lah nanti malam. " ucap AK yang melihat bibir Desi siap untuk mengajukan pertanyaan lagi.


Dengan berjalan terlebih dahulu, AK membukakan pintu kamar pribadi nya dan memberikan isyarat tangan nya agar Desi keluar dari kamar nya itu. Desi hanya bisa menuruti dengan melangkah kan kaki nya berjalan mendekati pintu kamar yang tidak jauh dari tempat nya berdiri, di saat langkah nya berhasil melewati ambang pintu dan niat hati ingin berbalik.


Braaak...


"Hhaaahh, kenapa menjadi seperti ini? Apa yang kamu sembunyikan dan kenapa aku tetap ingin di samping mu." gumam Desi dengan helaan nafas karena pintu di tutup kencang oleh AK setelah memberikan peringatan.


Langkah Desi meninggalkan kamar lantai atas dan menuruni tangga menuju dapur dimana bahan makan an telah di siap kan namun justru menjadi terbengkalai begitu saja, namun langkah nya terhenti ketika dari tempat nya berdiri terlihat Elsa sedang menyelesaikan masakan dan bahan-bahan masakan yang ada di meja sudah tak ada di tempat.


"Kemarilah! " ucap Elsa tanpa melihat Desi karena wanita satu itu selalu waspada meskipun di saat melakukan pekerjaan yang juga membutuhkan konsentrasi tinggi seperti memasak.


"Bagaimana... " tanya Desi setelah memasuki dapur dengan rasa penasaran nya.

__ADS_1


"Tidak perlu bertanya hal sederhana! Perhatikan dan pelajari, esok siapa tahu kamu hanya memiliki diri mu sendiri untuk bertahan hidup. " ucap Elsa memotong ucap an Desi yang pasti heran dengan cara kerja nya dengan fokus nya yang lumayan.


Sekali lagi pertanyaan memasuki fikiran Desi, pertama AK dan kini Elsa perawat Mia yang juga memiliki sisi misterius. Seperti nya orang-orang disekitar nya memiliki kehidupan yang jauh dari kata normal, membuat Desi terkadang ingin melangkah mundur dan kembali ke dalam kehidupan nya yang normal meskipun hanya bekerja dan merawat hyun seorang diri.


Pluk...


"Jangan terlalu sering melamun, atau nyawa mu melayang. " ucap Elsa setelah menepuk pipi Desi dengan pelan.


"Maaaf.Aku.. " ucap Desi yang sadar dari travelling nya.


"Maaf? Gunakan itu saat kamu membuat kesalahan, tapi ya pasti kan jangan mengalihkan perhatian dan fokus mu saat merawat Mia! Tidak peduli seberapa penting dirimu, tapi Mia adalah yang terpenting. " ucap Elsa dengan menekankan kalimat terakhir nya seperti sebuah line cross di tempat kejadian perkara.


"Boleh aku tanya? " ucap Desi setelah mendengar kan nasehat atu lebih baik di sebut peringatan Elsa yang seperti nya menjadi hobi baru wanita itu untuk memotong ucap an nya.


"Ya, katakan." jawab Elsa dan menaruh campuran susu murni dengan bahan-bahan yang menggiurkan didalam sebuah mangkok kaca berukuran sedang.


"Apa yang terjadi pada Mia? " tanya Desi dengan pertanyaan yang cukup ambigu karena tidak memiliki kejelasaan.


Seakan tahu apa yang sebenarnya ingin di tanya kan oleh Desi, Elsa menyelesaikan racikan ice cream buah kering nya dan memasukkan mangkok kaca berukuran sedang ke dalam freezer tempat penyimpanan berbagai jenis es. Tanpa melepaskan celemek di tubuh nya, kini Elsa menarik dua kursi yang ada di bawah meja, dengan isyarat tangan nya agar Desi duduk dan di ikuti oleh dirinya sendiri sembari melepaskan ikatan rambut yang membuat gerak nya tidak terganggu saat memasak.


"Mia itu hanya memiliki tuan, yah hanya tuan. Aku, pelayan lain ataupun kamu tidak lah masuk ke dalam dunia milik Mia. Bagi Mia, tuan itu segala nya jadi wajar jika tiba-tiba perasaan nona muda seketika bergejolak ketika melihat tuan sangat dekat dengan mu saat di dapur. Karena nona muda berlari untuk meninggalkan dapur dan menabrak salah satu kursi meja makan dan tidak sengaja tangan mungilnya itu menarik taplak meja yang ada di ujung meja dan berlari kembali tapi langkah nya langsung terhenti disaat kaki kiri nya tidak sengaja menginjak pecahan piring yang betebaran dimana-mana. Jika kamu tanya kenapa aku tidak bergegas menggendong Mia dan berfikir aku kejam, maka tak apa. Tapi ingatlah Mia hanya luluh dan tenang dengan sentuhan tuan, jika aku yang mendekati Mia dalam kekacauan itu maka bisa jadi Mia berlari lagi dan akan menambah luka yang membangkitkan jiwa iblis tuan. " ucap Desi dan mata nya hanya mengatakan kejujuran tanpa keraguan sedikit pun.


"Lalu kenapa kita pergi jika Mia hanya bisa di takhlukkan oleh tuan? " tanya Desi yang menimbang kemungkinan buruk yang terjadi jika luka dan obat tidak di satu tempat maka sudah pasti akan membuat luka itu semakin dalam dan parah.


"Karena tuan percaya pada mu." jawab Elsa dan bangkit dari duduk nya.

__ADS_1


Ucapan Elsa membuat Desi terpaku, percaya pada orang asing yang masih memiliki banyak keraguan di hati nya. Apa kah telinga nya tidak salah dengar dengan pernyataan dari Elsa, namun lamunan nya kembali buyar di saat ada yang menarik ujung baju nya. Tatapan mata Desi menatap siapa yang membuat dirinya bangun dari segala fikiran yang tak ada ujung nya, wajah yang dipenuhi banyak cemong akibat ice cream coklat sungguh membuat wajah di depan Desi semakin imut dan menggemaskan.


__ADS_2