Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Itu mbaah


__ADS_3

"Lalu kenapa kita pergi jika Mia hanya bisa di takhlukkan oleh tuan? " tanya Desi yang menimbang kemungkinan buruk yang terjadi jika luka dan obat tidak di satu tempat maka sudah pasti akan membuat luka itu semakin dalam dan parah.


"Karena tuan percaya pada mu." jawab Elsa dan bangkit dari duduk nya.


Ucapan Elsa membuat Desi terpaku, percaya pada orang asing yang masih memiliki banyak keraguan di hati nya. Apa kah telinga nya tidak salah dengar dengan pernyataan dari Elsa, namun lamunan nya kembali buyar di saat ada yang menarik ujung baju nya. Tatapan mata Desi menatap siapa yang membuat dirinya bangun dari segala fikiran yang tak ada ujung nya, wajah yang dipenuhi banyak cemong akibat ice cream coklat sungguh membuat wajah di depan Desi semakin imut dan menggemaskan.


"Hyun, hehehe ini apa nak? " ucap Desi menatap putra nya dengan mengelus pipi yang ada sisa ice cream coklat nya.


"Mama boleh kita tinggal siini? Ada paaman baaik juga ma. " ucap Hyun dengan binar mata yang ceria.


"Benarkah? Dimana paman baik sekarang? " tanya Desi menanggapi cerita Hyun.


"Pelgii maa, naik ngeeeng. " jawab Hyun sembari menggunakan kedua tangan nya seakan tengah menaiki sebuah motor saja.


"Hehehe kamu ini nak. Ayo kita cari paman baik nya. " ajak Desi yang sedikit ingin tahu siapa paman baik itu karena fikiran nya tertuju pada pria paruh baya yang mengajak putra nya bermain.


Kedua langkah besar dan kecil itu beriringan sembari bergandengan tangan, dengan suara khas anak kecil yang tak ada henti nya berbicara dengan gaya cadel nya sedangkan Desi selalu memberikan respon yang cepat. Kedua nya keluar dari rumah dan menuju halaman dimana angin sejuk langsung menyambut kedua nya, dipandangi nya seluruh sisi halaman rumah namun tak menemukan siapapun.


"Maa paman baik pelgii naik ituu." seru Hyun yang melepaskan tangan Desi dan berlari ke sisi kanan rumah.

__ADS_1


"Hyuun jangan larii nak! " ucap Desi dan menyusul langkah kecil Hyun yang hanya menghilang di sebelah tembok kanan rumah.


Terlihat putra nya itu tengah meneliti sebuah mobil yang terparkir di bawah tanaman rambat, seperti mobil terbengkalai. Dengan mengedarkan seluruh pandangan di sekitar halaman samping kanan rumah dan posisi rumah sisi kanan yang hanya ada satu jendela besar gelap di belakang sana, Desi menangkap satu sosok yang di cari nya tengah jongkok menggunting rumput dengan gunting rumput di halaman paling ujung depan sebuah jendela yang cukup besar namun tertutup.


"Ayo Hyun kita temui paman baik." ajak Desi dengan menggandeng tangan Hyun yang langsung berjingkrak kesenangan layak nya anak kecil.


"Hooleee.. " seru Hyun dengan melompat-lompat kecil.


Hanya ada senyuman di wajah Desi ketika melihat keceriaan di wajah putra nya, jarak yang semakin dekat membuat Desi menghentikan langkah nya dengan jarak tiga meter. Bukan apa-apa, tapi pria paruh baya itu masih membawa gunting rumput dan putra nya termasuk anak yang aktif maka lebih baik jaga jarak demi keamanan putra nya.


"Manaa paman baik ma? " tanya Hyun dengan memandang sekitar nya namun di mata kecil nya tak menangkap sosok paman baik.


"Itu paman baik nya." jawab Desi dengan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Hyun sembari menunjuk ke arah pria paruh baya.


"Eeh non bunda nya anak ini ya? " tanya pria paruh baya yang menghentikan aktifitas nya karena mendengar suara di sekitar nya.


"Iya pak, maaf mengganggu pekerjaan bapak." jawab Desi dengan suara pelan dan sopan.


"Maaa ayoo calii paman baik. " rengek Hyun kembali menarik baju Desi dengan gemas.

__ADS_1


"Loh ini kan udah ketemu nak,... " ucap Desi yang masih berfikir pria paruh baya di depan nya adalah paman baik yang di maksud oleh Hyun.


"Ituu mbaah ma, bukan pamaan baik. " ucap Hyun dengan mengerucutkan bibir nya.


"Mbaah? " ucap Desi yang mengulang satu kata dari putra nya yang cukup menggelitik fikiran nya.


Jika di amati pria paruh baya di depan nya itu tidak setua itu untuk di panggil mbah, bahkan otot-otot yang menonjol di lengan nya itu terlihat sangat kuat. Tanpa disadari jika tatapan menyelidik Desi membuat pria paruh baya itu menahan tawa nya, demi apa di usia nya yang tidak muda lagi malah di tatap sefokus itu oleh wanita yang masih muda.


"Iya saya mbaah, paman baik ada urusan di luar nak. Jadi masuk lah ke rumah dan tidur siang dulu, Hyun anak baik kan." ucap pria paruh baya itu sedikit mengeraskan suara nya agar menyadarkan wanita di depan nya.


"Apa paman baik bawa ice cleaam mbaah? Hyuun mau ice cleaam." ucap Hyun dengan semangat.


"Hyun tidak baik makan banyak ice cream, ayo waktu nya istirahat. Maaf atas kesalahpahaman saya pak." ucap Desi menghentikan aksi putra nya secepat mungkin sebelum drama ice cream berlanjut jauh.


"It's ok. Tolong selamatkan dia dan tetap lah bersama nya." ucap pria paruh baya itu dengan penuh arti yang membuat Desi terdiam sesaat untuk mencerna ucapan nya.


"Maaa ayoo." ucap Hyun yang membuat Desi harus melangkahkan kaki nya meninggalkan pria paruh baya yang wajah nya berubah menjadi sendu.


"Sampai kapan api itu menyala, kuharap kamu menjadi air di dalam hidup nya." batin pria paruh baya itu dengan menghela nafas berat.

__ADS_1


Tok... Tok.. Tok...


Terdengar tiga ketukan dari dalam kaca membuat pria paruh baya itu menatap kaca besar yang ada di depan nya, kaca gelap yang hanya bisa melihat dari satu sisi. Tiba-tiba kaca gelap itu di buka setengah dan sebuah lambaian tangan muncul dari dalam membuat pria paruh baya itu meninggalkan gunting rumput di tempat dan melangkahkan kaki nya untuk mendekati jendela yang telah terbuka setengah di hadapan nya.


__ADS_2