Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Tragedi di hari bersejarah


__ADS_3

Ciiiiit.... Bruuuuk....


"Auuw." rintih pria itu yang merasakan pening akibat kepala nya membentur stir kemudi nya.


Dirinya baru sadar tidak memakai sabuk pengaman sedari awal, membuat nya menikmati benjolan di keningnya. Tanpa menunda waktu, dikemudikannya lagi mobil nya yang tidak mengalami mogok dan kali ini dengan kecepatan standar setelah memakai sabuk pengaman.


Mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis bercat putih dengan deretan pohon jeruk madu yang baru bulai berbuah, dengan perasaan yang masih kesal memasuki rumahnya. Keadaan di dalam rumah yang gelap membuat pria itu menekan saklar lampu di tembok sebelah kiri pintu dan seketika lampu gantung mini di atas plafon menyala, terlihat deretan penghargaan memenuhi sebuah lemari kaca dengan beberapa sertifikat penghargaan dalam dua tahun karirnya belakang ini.


"Putra Emas pertama dari keluarga Menteri Pertanian, Tuan muda Esha Diningrat." gumam pria itu dengan mengetikkan di sebuah laman pencarian.


Terlihat hasil dari laman pencariannya hanyalah seputar asal-usul keluarga menteri Pertanian itu secara sekilas dengan info dasar yang penting tidak penting, di scroll nya setiap hasil pencarian berharap ada sebuah info yang bisa menjadi sedikit titik terang. Hingga akhirnya menemukan sebuah agenda tentang acara tahunan yang akan di hadiri oleh Menteri Pertanian itu sendiri di sebuah acara seni di daerah yang cukup terpencil, dimana akan di adakan peresmian sebuah rumah kaca tanaman hidroponik yang cukup besar untuk mendukung perekonomian masyarakat desa setempat.


"Apa aku harus mendekati nya secara langsung, sepertinya cara ini yang lebih efektif." gumam pria itu dan mengirim sebuah pesan pada anak buah nya untuk melakukan sebuah pekerjaan darurat.


Rasa kesal, letih dengan segudang pertanyaan dan pencarian jawaban akhirnya membawa nya pergi ke alam mimpi dengan tumpuan mesin ketik di depannya. Berbeda dengan satu pria di sebuah kamar mewah yang tengah melihat hasil rekaman life show dengan botol wine di satu tangannya, bukan wine itu yang memabukkan tapi tayangan itu yang membuat darahnya mendidih.


Membiarkan gejolak panas di dalam tubuhnya mereda dengan mengalirnya wine didalam darahnya, ntah sudah berapa kali tayangan itu di ulang lagi dan lagi seakan tidak ada kata jenuh ataupun bosan. Meskipun di sudut hati nya merasakan goresan pisau tajam ketiga melihat wajah wanita yang sudah di permak olehnya tapi tayangan di depannya hanyalah secuil dari gambaran tragedi sesungguhnya, tragedi yang sangat mengerikan untuk dirinya.


Flasback


Didalam perjalanannya kembali dari bandara, mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi untuk menghampiri pujaan hati yang hampir satu minggu tidak di jumpai nya karena jarak yang memisahkan. Senyuman yang meningkatkan ketampanan seorang pembisnis muda dengan satu buket mawar merah dan satu bunga lili putih di tengah nya itu telah dipersiapkan secara khusus dengan pemesanan sebelum hari kepulangannya.


Mobilnya berhenti di sebuah jalan besar karena banyaknya mobil polisi dengan kumpulan warga yang seakan membludak, langkah kaki nya masih ringan memasuki sebuah permukiman yang masih jarang penghuni itu. Di genggamnya buket bunga dengan erat namun langkahnya semakin di percepatan ketika selentingan obrolan para warga merisaukan fikiran nya dengan hati yang terasa semakin gundah, hingga dari sela-sela kerumunan dapat di lihat garis polisi yang membentang di depan sana.

__ADS_1


Dirinya masih belum sadar dimana garis polisi itu terpasang hingga langkah nya seakan terhalangi para warga yang masih bergosip dengan nada yang bukan lagi bisikan, satu obrolan yang membuat pria tampan itu berlari membelah kerumunan dan melintasi garis polisi. Polisi yang masih berjaga berusaha menghalangi pria tampan itu namun nihil karena pria itu memiliki kekuatan fisik yang lebih besar, langkahnya terhenti ketika melihat satu sosok terpejam di atas sebuah tandu.


"Asmaaaa." teriak pria itu dengan buket bunga yang terlepas dari genggaman tangannya.


"Bangun sayang. Aku sudah kembali, apa yang terjadi? Ayolah jangan bercanda, lihat aku disini. Ayo buka mata mu." ucap pria itu sembari mengoyangkan tubuh lemah tak berdaya di depan nya.


"Maaf tuan, gadis ini sudah meninggal satu jam yang lalu." ucap seorang petugas kepolisian menepuk pundak pria tampan itu untuk bersabar.


Tidak ada lagi teriakan selain mata sendu dengan kepedihan mendalam, di pandangi nya tubuh putih yang terpejam di dalam pelukannya. Keadaan nya sangat memprihatinkan dengan banyak luka lebam, darah yang mengering di sudut bibir ntah luka apa lagi yang akan dilihatnya jika kain putih penutup sebagian tubuh gadis itu terbuka.


"Tuan kami akan membawa gadis ini ke rumah sakit untuk otopsi." tegus seorang petugas kepolisian dan memberikan isyarat pada petugas lainnya untuk mengangkat tandu.


"Jangan ada yang menyentuh gadisku! Aku sendiri yang akan membawa gadisku." jawab pria itu dengan suara yang teramat berat.


Hingga dalam hitungan jam dokter yang melakukan pemeriksaan keluar dari ruangan keramat, suara nya cukup terdengar jelas di telinga sang pria yang kini penampilan sudah acak-acakan dengan kemeja hitam yang tak lagi menunjukkan kesan rapi.


Kepergian polisi dengan membawa berkas hasil pemeriksaan di manfaatkan pria tampan itu untuk memasuki ruangan keramat, tubuh gadis nya yang hanya tertutup satu lembar kain putih. Dengan tangan yang sudah di pertahankan untuk tetap kuat, di singkirkan kain putih itu dan pemandangan pertama yang dapat di lihat nya sangatlah menghancurkan perasaan di dalam hati dan jiwanya.


Bukan hanya luka cakaran, goresan benda tajam saja yang bersarang di tubuh gadisnya tapi begitu banyak luka lebam lama dan baru yang memenuhi kulit putihnya, kedatangan dokter yang memberikan laporan membuat pria tampan itu menatap horror.


"Jelaskan apa yang terjadi!" perintah pria tampan itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Tapi.. " ucap dokter wanita yang terlihat ragu.

__ADS_1


"Lakukan atau aku ratakan rumah sakit ini." ancam pria tampan itu dengan mata tajam nya.


"Baiklah.Dengarkan baik-baik apa yang akan ku katakan tuan, gadis ini mengalami luka serius. Bukan hanya luka fisik tapi juga psikis, dari hasil pemeriksaan menjelaskan setiap luka nya di akibatnya oleh pelecehan beberapa orang yang di lakukan dalam waktu bukan hanya sekali dan itu bisa dilihat dari luka ini dan ini serta luka di sekujur tubuhnya. Tapi hal yang paling mengejutkan adalah org@n int!m gadis ini mengalami peradangan dan luka yang serius, dari luka nya saya tidak bisa mengambil kesimpulan sendiri tapi.. " ucap dokter itu menjelaskan berhenti sesaat.


"Tapi pelakunya bukan hanya satu orang, dan karena tertekan membuat gadis ini mengalami depresi yang membuat nya mengakhiri hidupnya dengan menelan obat tidur sepuluh butir hingga mengalami overdosis. Saya turut berduka tuan, permisi." ucap dokter itu lagi dan meninggalkan ruangan kerja nya.


Kepergian sang dokter meluruhkan tubuh kekar itu, seakan pria itu tidak memiliki tulang lagi dan lelehan air mata jatuh tanpa permisi. Hancur lebur hati dan jiwa nya, baru seminggu yang lalu sebelum kepergian nya dan keduanya baru mengikrarkan janji untuk saling melengkapi dan hidup bersama tapi kini semua janji dan impian nya tersapu ombak tanpa menyisakan belas kasihan.


Dengan kepergian gadis nya secara tidak wajar dan pengakuan sang dokter meluluh lantakkan dunia nya, hal sebesar itu tertutup dengan sangat apik dan gadis nya tidak mengeluh sedikit selama satu minggu terakhir.


Tanpa menunda lama pria itu memutuskan untuk melakukan pemakaman langsung tanpa menunggu hari berganti, langit gelap dengan guyuran hujan deras tak menyurutkan niat nya. Pemakaman yang hanya di hadiri segelintir orang namun persiapan singkat yang tidak menyulitkan siapapun membuat hari itu hari bersejarah dalam hidupnya, kepergian semua orang yang mengiringi pemakaman kekasih nya kini tinggal dirinya sendiri yang masih terpaku dengan sebuah nisan dengan tulisan tangannya.


Nisan yang bernama Asma Aditama itu masih kering tanpa tersiram hujan karena ada atap yang memayungi sekitar tempat nya di makamkan, sebuah buket yang sama tergenggam di tangan kekar yang masih mematung. Sekali lagi kekuatan nya ikut terkubur bersama sang kekasih, dengan wajah yang pucat dengan mata satu tubuhnya terduduk di sisi makam.


"Tidurlah yang tenang cintaku, setiap rasa sakit mu dengan darah yang kamu keluarkan, akan ku pastikan siapapun mereka mendapatkan balasan yang lebih. Tunggu aku di sana, aku akan bersamamu setelah semua ku balaskan." ucap pria itu dengan mengecup papan nisan dan meletakkan buket bunga di depan papa nisan.


Tidak terasa air mata membasahi pipi nya lagi mengenang hari itu, hari yang mengubah hidup seseorang dengan terjatuh di jurang terdalam. Waktu yang telah berganti menjadi pagi dengan jarum jam pendek di angka empat, di sambar nya benda pipih yang tergeletak di atas tempat tidurnya.


Ditulisnya sebuah pesan dengan nomer penerima yang sudah di berikan sebuah nama P.E Triple, setelah pesan terkirim di rapikan nya beberapa lembar kertas yang berserakan di depannya.


Sedangkan di kamar yang berantakan seorang pemuda dalam keadaan naked mendengar deringan ponsel untuk kesekian kalinya, dengan rasa tak karuan di sambar nya dengan kemalasan.


[Cafe Kejora stasiun lima 21:00 nanti malam]

__ADS_1


Sebuah pesan yang baru saja terbuka membuat kedua mata pria yang tengah mabuk itu tidak peduli dan melemparkan kembali ponselnya ke sembarang arah dan meletakkan kembali kepala nya yang masih berdenyut dengan musik berdendang.


__ADS_2