Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Gudang tua *Sandera*


__ADS_3

Wanita bergamis yang masih bersembunyi di balik salah satu pohon mengamati AK yang naik keatas motor dan tetap meneruskan perjalanan. Satu nada dering panggilan, membuat wanita itu segera menggeser icon hijau di layar. "Maaf, sepertinya kita gagal."


Suara pasrah dari seberang, membuat wanita bergamis ikut menghela nafas. Usaha yang diharapkan bisa mengubah keadaan, sepertinya tidak akan terjadi. Kini hanya bisa berdoa, agar hasil akhir tidak seburuk bayangan. "Pasrahkan semua pada Tuhan. Maaf aku hanya bisa membantu sedikit."


AK kembali melanjutkan perjalanan, meskipun telah mendapatkan peringatan dengan cara tak biasa. Sementara seseorang yang menjadi dalang dari pengirim peringatan masih menatap langit malam. Malam yang gelap tanpa bulan dan bintang. Semua dosa dan kesalahan masa lalu semakin menggerogoti hati.


Pluk!


"Sudah waktunya, pergilah!"


Satu tepukan di lengan, mengubah ekspresi orang itu dan berbalik ke arah sosok yang memberikan perintah. Wajah dengan topeng putih dan pakaian serba hitam. "Bagaimana dengan packet misinya?"


"Tugasmu hanya datang ke tempat itu dan bersenang-senang, packet misi sudah ku kirim. Lihatlah, bagaimana menurutmu?" jawab pria bertopeng putih dengan menunjukkan video singkat.


Tangan mengepal dan nafas tertahan, emosi yang siap meledak berakhir dengan pejaman mata. "Aku pergi dulu, jangan usik putra ku."


"Yun sudah kamu kirim ke tempat aman bukan? Aku tidak akan mengingkari janji, lagi pula yang harus kamu ragukan adalah Sam." jawab pria bertopeng putih.


Desi menatap mata tuan Enemy. Kenapa pria satu ini tiba-tiba berbicara melenceng, bukankah selama ini semua mengikuti perintah Sam. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


Hening…..


"Percuma juga bertanya, aku pergi. Sebelum itu, aku akan katakan satu hal. Sang penghakim hanya menegakkan keadilan, langkah yang diambil salah dan juga benar. Ketika itu menyangkut dirimu, dia hanya menjadi sasaran dari orang yang mengendalikanmu." ucap Desi dan berjalan meninggalkan tuan Enemy.


Ucapan Desi sangat jelas masuk ke telinga tuan Enemy. Tiba-tiba saja hatinya terasa ditusuk, keraguan menyusup memotong susunan rencana yang sudah siap dan final. Kenapa baru sekarang mengatakan itu? Banyak hal yang sudah terjadi, termasuk wajah yang berubah tanpa sepengetahuan siapapun dan kini Desi mengatakan sebuah kebenaran tanpa ragu.


Apa yang harus aku lakukan? Jika benar, bukankah semua yang kulakukan salah. Lalu bagaimana aku menyelesaikan semua ini sekarang? Kenapa jadi serumit ini, dan Sam seharusnya aku habisi dia. ~batin tuan Enemy dengan mengepalkan tangan.


Desi sudah menaiki mobil untuk menuju ke gudang kuno di pelabuhan dari perusahaan AK, setelah menemani tuan enemy melakukan pekerjaan terakhir. Mata yang tidak fokus dengan jalanan sekitar, dan pikiran melayang entah kemana. Sopir hanya diam dan tetap menyetir tanpa memperdulikan keadaan penumpang di belakang.


Sementara di dalam gudang tua, para sandera dalam keadaan mata tertutup dengan tangan terikat. Bryant dan Ashley terikat menjadi satu dan tergantung di tiang dengan beban diatas kepala berupa air mendidih di dalam tabung kaca. Tali tambang penghubung terikat dengan satu tuas di dinding sisi kanan dan dibawahnya ada papan penuh pecahan beling yang tajam menghadap ke atas.


Berbeda dengan sandera Mia yang terikat di kursi dengan lingkaran api yang berdiameter satu setengah meter, lingkaran api itu menyala dengan kobaran sedang. Mulut yang tertutup lakban, membuat Mia hanya bisa bergerak gelisah ditambah buliran keringat yang mengucur.


Semua akan terjadi seperti rencanaku, dan tidak ada lagi penghalang yang bisa menghentikan tujuanku. Selamat menikmati pertunjukan terbesar. Sempurna. Skakmat.~ batin Ferro dan mengubah ekspresi wajah, disaat pintu gudang bergerak.


Seorang pria dengan penampilan zaman dulu masuk tanpa permisi bersama beberapa orang berseragam hitam, terlihat jelas mata puas ketika mendapatkan semua sandera tersiksa seperti keinginannya. Tangan pria jaman dulu melambai dan membiarkan para preman keluar dari gudang untuk berjaga di luar.


"Kenapa masih belum datang? Jam berapa ini. Seharusnya sudah datang terlebih dahulu." gumam pria jaman dulu melihat jam di pergelangan tangan kiri.

__ADS_1


Ceklek


Tap!


Tap!


Tap!


"Sorry lama, jalanan cukup macet." ucap seorang wanita dengan pakaian sexy dan nafas ngos-ngosan memasuki gudang dan berhenti di samping pria jaman dulu.


Pria jaman dulu menatap dan menelisik penampilan sexy Jelita, bagaimana bisa wanita itu memakai pakaian terbuka di saat situasi menegangkan. Merasa diperhatikan, membuat Jelita (Desi) membalas tatapan Sam yang mengerutkan alis. "Aku tahu, aku cantik dan sexy. Tidak perlu menatap ku seperti itu, aku tidak tergoda denganmu."


Sam memutar mata malas, sikap Jelita tetap saja absurd dan tidak akan berubah. Jam di tangan kiri ditunjukkan Sam dan memberikan satu jari sebagai kode satu jam untuk Jelita melakukan semua keinginan tanpa gangguan. Jelita mengangguk dan memberikan senyuman terbaik, Sam berbalik dan berjalan meninggalkan gudang.


Mata Jelita masih menunggu hingga Sam benar-benar menutup pintu gudang dan meninggalkan dirinya dengan para sandera. Ekspresi centil dan juga manja, berubah menjadi ekspresi gelisah dan tegang. Jelita memperhatikan setiap sandera, setiap posisi sandera sangat tidak baik dan menguntungkan. Terlebih setiap sandera memiliki jalur terhubung yang sama, jika salah melakukan penyelamatan. Sudah pasti semua sandera akan tiada dalam saat bersamaan.


Tali tambang yang terikat dari tabung terhubung ke tuas. Sedangkan tuas jika ditarik dan posisi menghadap ke bawah, akan melepaskan seember besar bensin yang siap membasahi lantai gudang dan dapat dipastikan itu akan menyambar kobaran api yang membakar Mia. Terlebih jika jalan lain di ambil, kemungkinan kedua adalah Bryant dan Ashley akan terjun bebas jatuh di papan penuh pecahan beling.


Akan tetapi satu posisi sandera yang membuat Jelita bingung, dimana posisi kembaran AK cukup jauh dari ketiga sandera lainnya. Jelita mencoba mencari urutan dan juga jalan keluar untuk membebaskan semua para sandera. Hingga satu keanehan menyita perhatian Jelita.

__ADS_1


Kenapa tidak ada penutup mata? Posisinya juga terlalu jauh, dimana sambungan dari rangkaian yang Sam buat? Tidak mungkin jika Sam akan melepaskan satu sandera dengan begitu mudah, terlebih itu Ferro juga target utama. Apakah ada permainan di balik permainan? Jika iya, siapa yang bermain dan siapa yang dipermainkan. Kenapa menjadi serumit ini? Ayolah berpikir, waktumu sangatlah singkat Desi. Cepatlah berpikir.~batin Desi dengan menjambak rambutnya sendiri.


Disaat Desi sibuk berpikir dan mencari jalan keluar, di luar gudang sudah dimulai pengintaian. Tidak ada tindakan geganah, meskipun datang tanpa membawa senjata. Tetap saja harus memulai dengan cara yang benar. "Terlalu sedikit, sepertinya malam ini menjadi malam berdarah."


__ADS_2