Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Si jago merah


__ADS_3

Tapi tanpa di sadari oleh kedua lawan jenis itu, di meja seberang dengan jarak satu kursi belakang mereka ada satu sosok yang tengah mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Sosok itu masih diam dan mendengarkan tanpa satu pergerakan sekali pun, membiarkan sebuah rahasia menghampiri kehidupan nya yang ternyata masih belum lengkap.


"Kalian juga bersalah, tidak seorang pun akan ku biarkan lolos. Karma berlaku untuk kalian." batin sosok itu dan meninggalkan cafe dengan sebuah rencana yang sudah menghampiri fikiran nya.


Hampir satu jam akhirnya kedua lawan jenis itu keluar dari cafe dan memasuki mobil taksi yang terparkir di depan cafe, taksi itu meninggalkan cafe dengan laju standard. Perjalanan selama dua puluh menit berakhir dengan memasuki sebuah lingkungan pemukiman yang cukup tenang dan tidak padat namun terlihat jelas itu pemukiman kalangan menengah ke atas.


Taksi hanya sampai depan rumah dan pergi setelah penumpang nya keluar dari dalam mobil itu, terlihat jelas rasa takut dan gelisah dari gerak gerik wanita yang menjatuhkan kunci rumah nya. Setelah melihat sekeliling, akhirnya wanita itu memasuki rumah dan langsung menutup pintu tanpa menunggu lama.


"Aku harus apa sekarang? Rasa nya seperti ada yang mengawasi ku." gumam wanita itu sembari membiarkan air shower mendinginkan panas tubuhnya.


Waktu berlalu hingga sore berganti malam membuat seseorang yang sedari awal mengintai di dalam mobil meregangkan kedua otot lengan nya dan membuka dashboard mobil yang berisi sebuah senjata dan sebuah topeng. Di balik kursi pengemudi terdapat sebuah mantel yang biasa menjadi pakaian cadangannya, setelah memastikan situasi aman.


Langkah kaki nya keluar dari mobil hitam nya dan mendekati rumah yang tetap gelap di bagian halaman nya, tampak nya pemilik rumah itu lupa atau sibuk dengan hal lain di dalam. Kali ini kedatangan nya tanpa rencana yang matang karena berita yang mengejutkan menghampiri telinga nya di saat bersantai membuat darah nya mendidih tanpa ampun.


Tok.. Tok.. Tok..


Tok.. Tok.. Tok..


"Ya sebentar." seru seseorang dari dalam.


Ceklek..


Terlihat wanita itu keluar dari dalam rumah dengan muka bantal dan celingak celinguk tapi tidak menemukan siapa pun, akhirnya wanita itu kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


Ceklek...


"Siapa sih malam-malam iseng banget, awas saja kalau ketemu." keluh wanita itu setelah keluar dan melihat siapa pun.


Kali ini wanita itu berbalik menghadap pintu tapi ada perasaan yang membuat jantung nya berdebar dengan kencang, niat hati ingin berbalik lagi untuk melihat apa yang ada di belakang nya. Tapi sebuah benda menempel tepat di belakang kepala nya dan sebuah suara yang bisa di anggap perintah membuat tubuh nya bergetar dan membeku hingga dorongan benda di kepala nya menyadarkan jiwa kosong nya.


"Jalan! Atau peluru ini menembus kepala mu." perintah seseorang di belakang nya.


Tanpa kata yang bisa terucap, wanita itu berjalan memasuki rumah nya kembali dan dengan cekatan orang di belakang nya langsung menutup pintu dan mengunci nya tanpa permisi.


Bruuug....


"Aauw." rintih wanita itu yang langsung di dorong mencium lantai keramik putih rumah nya.


"Sttt." ucap orang itu dengan menaruh terlunjuknya di depan topeng.


"Mari kita mulai perhitungan kejahatanmu, yah benar kesalahan yang kamu tanam." ucap orang bertopeng dengan menarik satu kursi kayu lagi ke hadapan wanita itu.


"Sisi Daniel Diningrat atau yang di kenal dengan Sisi Hutomo, nama yang indah dan marga yang kuat. Apa cinta membutakan mu? Apakah memang kamu memiliki hati? " ucap orang bertopeng dengan membaca sebuah laporan dari bawahan nya di dalam ponsel nya.


"Lalu demi siapa kamu merenggut nyawa gadis ku? Aland Hutomo keponakan mu atau demi suami satu malam mu?" ucap orang bertopeng lagi.


Hening....


"Hahaha aku lupa ini." kekeh orang bertopeng dan menarik lakban dengan seenaknya.

__ADS_1


Sreeet... Aaauw...


"Katakan! Demi siapa kamu merenggut nyawa gadis ku? " tanya orang bertopeng dengan men cengkram dagu Sisi sekuat tenaga.


Terlihat jelas wajah itu menjadi merah menahan rasa sakit akibat cengkraman orang bertopeng di depannya, ada bulir air garam yang mulai mengalir di sudut mata nya. Tapi sungguh dirinya tidak paham dengan arah pembicaraan orang di depannya dan dengan isyarat mata nya berharap orang bertopeng itu paham dirinya tidak bersalah ataupun tahu apa maksud dari orang bertopeng itu.


"Asma." ucap orang bertopeng dengan tegas namun mata tajam nya tertuju pada mata wanita di depannya.


Tepat mengenai sasaran, satu nama itu mampu membuat mata Sisi melotot dan meredup dalam hitungan detik. Terlihat jelas sebuah penyesalan dan juga ketakutan yang tidak bisa di pungkiri, membuat orang bertopeng melepaskan cengkraman tangannya dan kembali duduk di kursi dengan tatapan menantang.


"Akuu tiidak ber maksud untuk.. " ucap lirih Sisi dan menunduk kan kepala nya.


"Ulangi? " ucap orang bertopeng dengan menodongkan senjata api nya.


"Apa hati mu mati? Bangs@t! Wanita seperti mu tidak pantas hidup!" bentak orang bertopeng itu dengan menekan kan senjata api nya di leher Sisi.


"Aku ingin gadis itu pergi dari wilayah itu dan melupakan tuntutan nya tapi aku tidak menyangka gadis itu memilih mengakhiri hidup nya. " ucap Sisi dengan menutup mata nya.


Bayangan memori hari naas itu tidak akan pernah bisa di lupa kan oleh nya, tapi tentang pertemuan nya dengan Asma hanya di ketahui oleh tiga orang saja. Tapi siapa pun orang di balik topeng seperti tahu dengan pasti bagaimana hari naas itu bisa terjadi dan membela dirinya sendiri pun tidak akan mengubah kenyataan bahwa penyebab gadis itu mengakhiri hidup nya juga ada campur tangan dari seorang Sisi.


Doorr... Doorr...


"Nikmati sisa nafas mu! " bisik orang bertopeng dan pergi menuju dapur dengan mengambil apa yang di butuhkan.


Terlihat sebuah jerigen di tenteng tangan yang menggunakan sarung tangan, dengan santai nya menyiramkan isi jerigen ke segala penjuru dan memandang sekilas ke seluruh sudut ruangan. Setelah semua beres, langkah kaki nya pergi meninggalkan rumah dan mengunci nya dan satu korek api di lemparkan menembus ventilasi yang ada di atas pintu.

__ADS_1


Dalam hitungan detik terlihat asap hitam mulai keluar dari jendela yang tertutup dengan warna jingga yang mulai menyala, sedangkan sosok bertopeng itu kembali memasuki mobil nya dan menatap dengan senyuman ke arah rumah yang kini mulai terlalap si jago merah. Tanpa melepaskan topeng dan mantel nya, mobil nya melaju meninggalkan tempat kejadian perkara dan melanjutkan ke rencana selanjutnya.


Sedangkan di dalam rumah itu terlihat wajah pasrah dengan menahan perih di kedua kaki nya, tidak ada niat untuk memperjuangkan hidup nya kembali. Dan bayangan hari naas itu menjadi pelengkap hisapan udara berkabut yang semakin menyesakkan dada nya, seperti kobaran api yang mengelilingi nya menjadi panggung sandiwara.


__ADS_2