Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Tuan F


__ADS_3

Dengan langkah tegap pak polisi mengikuti brangkar pasien yang akan di masukkan ke ambulance, dan ikut masuk ke dalam ambulance agar memastikan keamanan korban kecelakaan dalam perlindungan.


Aku tidak tahu apa masalahmu dan siapa musuhmu, tapi hati ku mengatakan aku harus menyelamatkanmu. ~ batin pak polisi menatap Ferro yang sudah diperban kepalanya.


Kepergian ambulance dari puskesmas membuat kepergiaan Ferro menghilang begitu saja, sedangkan AK mulai melakukan rencana terakhirnya dan mengabaikan firasat hatinya.


Kenapa hatiku terasa sesak, apa terjadi sesuatu dengan Ferro? Kuharap kamu baik-baik saja.~ batin AK.


Tiga jam kemudian...


"Akhirnya selesai, sebaiknya aku pulang." gumam AK setelah menyelesaikan pembuatan racun terbarunya dan beberapa senjata rakitannya.


Dengan mengendarai mobil lamanya, AK meninggalkan gedung tua dan melaju menuju ke rumah harapannya. Perjalanan selama tiga puluh menit itu, membuat AK sampai tujuan dengan cepat melalui jalan pintas dan karena jalan pintas itu maka AK tidak melihat mobil Ferro yang masih tertimpa tiang listrik di bahu jalan raya.


Rumah mewah di perum Sejahtera memiliki sensor deteksi wajah dan juga plat mobil, membuat AK bebas memasuki rumahnya kapanpun tanpa bantuan satpam sekalipun.


Langkah kaki AK mulai menyusuri halaman rumahnya dan membuka pintu rumah mewahnya dengan alat khusus yang terbenam di sarung tangannya. Semua terlihat remang-remang, hingga mata AK menangkap sosok wanita yang terlelap di deretan anak tangga.


Menyusahkan. ~ batin AK dan menggendong Desi yang sudah tertidur pulas.


Ceklek...


"Jangan pergi! Kenapa kamu membangkitkan cinta di hati ku, jika hanya untuk melukai ku." gumam Desi di dalam lelapnya mimpi.

__ADS_1


"Semua pendosa harus lenyap! Tenanglah, aku akan membuat pria itu menyesal." balas AK dan menidurkan Desi pelan agar tetap terlelap.


Ceklek...


"Kemana kamu? Kenapa mereka masih disini." gumam AK setelah mengecek semua kamar tamu.


Karena Desi masih dirumah mewahnya maka pertanyaan dan rasa khawatir di dalam hatinya kembali muncul, seharusnya Ferro sudah meninggalkan negara ini namun batang hidung adiknya masih belum nampak.


[Kalian cepat cari Tuan F! Satu jam harus ada hasilnya!]~ perintah AK dengan menelfon assistantnya agar mengerahkan seluruh anak buahnya menyebar di seluruh penjuru.


Terdengar suara langkah kaki mondar-mandir di dalam kamar gelap tanpa lampu, satu pun lampu tak ada yang menyala dan kegelapan itu menambah kesan misterius bagi penghuni kamar. Satu jam berlalu tapi tak ada kabar, dengan cepat di sambarnya jacket bertudung miliknya yang tergeletak di atas meja.


Meninggalkan kamar pribadinya dan mulai menuruni anak tangga namun suara anak kecil menghentikan langkah kakinya, suara yang selalu diamatinya dalam diam dalam kegelapan.


"Baiklah, ayo nak." jawab AK dengan menetralkan perasaan kacaunya dan membalikkan badan untuk menghampiri Mia yang memang kamarnya bersebelahan dengan kamar pribadinya.


"Papa mau kerja ya? Kenapa papa selalu memakai ini?" tanya Mia dan menerima uluran tangan AK yang selalu terbalut dengan sarung tangan.


"Untuk keselamatan nak, bagaimana jika ada jarum yang menusuk tangan papa? Pasti sakit bukan, jadi lebih baik sedia payung sebelum hujan." jawab AK dengan sekenanya yang membuat Mia ber-oh riya seakan memahami apa maksud ucapannya.


[Kalian pastikan Tuan F ditemukan]~ pesan AK dengan mengirimkan pesan singkat itu ke assistantnya disaat Mia pergi ke kamar mandi.


"Ayo nak, tidurlah." pinta AK dan menepuk sisi tengah kasur dan langsung disambut dengan lompatan kecil Mia dengan binar kebahagiaan nyata.

__ADS_1


Bukan hal sulit untuk membuat Mia menurut, karena kebiasaan Ferro sudah terekam di luar kepalanya. Dengan menepuk pelan perut Mia maka anak gadis itu sudah menguap berulang kali, hingga setengah jam akhirnya terdengar dengkuran halus.


"Apa yang harus ku lakukan? Kenapa jadi begini." gumam AK menarik nafas dalam.


Sungguh menghilangnya Ferro diluar rencananya, dan kini masih ada beberapa nyawa yang terancam selama permainan belum berakhir. Sedangkan di tempat lain tengah terjadi keributan, keributan luar biasa hingga membuat petugas polisi kewalahan menghadapi penyerangan dadakan di dalam rumah sakit.


Bukan hanya masuknya preman gadungan ke dalam rumah sakit, tapi aksi pembakaran dan juga kekerasan lainnya pun terjadi dalam hitungan menit.


"Pak, pasien mengalami luka bakar serius! Luka bakarnya harus segera di tangani." lapor seorang dokter pria dengan jas putih bercampur darah.


"Lakukan pengobatan yang terbaik untuknya! Soal biaya tidak perlu khawatir." perintah pak polisi dengan tegas meskipun sorot matanya meredup.


"Baik pak, akan kami usahakan yang terbaik." jawab dokter pria dan meninggalkan pak polisi yang sudah mengerahkan anak buahnya untuk menbereskan kekacauan dirumah sakit itu.


Kepergian dokter membuat pak polisi menghampiri para tawanan pembuat onar meskipun hanya tiga orang saja yang dapat dibekukan dengan timah panas di kaki mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian!" cecar pak polisi dengan tatapan tajam.


Tatapan yang siap menikam lawan bicaranya, namun ketiga preman gadungan itu justru tersenyum sinis tanpa rasa takut sedikitpun menghadapi polisi di depannya. Seakan tidak ingin membiarkan rasa puas dimata ketiga preman gadungan itu bertahan, pak polisi menarik pistol dari sarungnya dengan cekatan.


"Katakan!" perintah pak polisi dan menodongkan pistolnya ke satu preman gadungan di posisi tengah.


"Lakukan!" tantang preman gadungan di posisi tengah dengan senyuman sinis.

__ADS_1


Doorrr...


__ADS_2