
Rasa lelah menunggu dan kekuatan fisik yang terkuras habis membuat matanya meredup, ntah berapa kali bibirnya menguap tanpa henti. Perlahan kesadarannya berpindah ke alam mimpi. Mimpi yang membuat rasa kantuknya semakin kuat.
Bangunlah Icha. Lepaskan lah pencarianmu! Aku ikhlas mendonorkan jantung ku untukmu. Detakanku tetap hidup didunia fana dan aku tenang di alam jiwa.
Berjanjilah, temukan cinta ku yang padam. Nyalakan lilin di hatinya, aku mohon bantu Icha. Cintai Pangeran ku dengan jantungku.
"Siapa kamu? Jantung? Apa maksud mu? Dan dia! Dia itu siapa?" cecar Icha memijat pangkal hidungnya.
"Akulah pencarianmu. Akulah jawaban dari kegelisahan mu. Akulah karma bagi papamu. Akulah Asma."
Duuuuuuurrrr....
Suara ledakan dengan getaran hebat membuat tubuh Icha terguling dari atas tempat tidur dan membentur sudut lemari mini. "Astaga sakit."
Berulang kali Icha mengerjapkan mata. Tapi ruangan bawah tanah itu masih koko meskipun baru terguncang dengan getaran hebat. Sesuatu mengalir dari pelipis, membuat Icha menyentuh dan menyolek cairan hangat yang mengalir. "Darah."
Sreeet... (Icha merobek kaos didalam jacketnya)
Buug...
__ADS_1
Blum sempat Icha membalut luka di pelipis, sesuatu jatuh dari atas. Dengan waspada Icha mengambil satu balok kayu di belakang tempatnya duduk. Sosok yang terjatuh, perlahan bangun dari posisi telungkup. " Mau apa kamu?"
Gluudak... (balok kayu terlepas begitu saja)
"Bukan apa-apa!" sanggah Icha mengalihkan pandangan matanya.
"Apa ada yang salah?" tanya sosok itu dengan meraba wajah tampannya.
Icha tetap diam dan enggan memandang kearahnya. "Hey ayolah jangan acuhkan aku!"
"Bisakah cari sesuatu untuk menutupi itu mu!" cicit Icha hampir tak terdengar.
"Cepatlah!" perintah Icha dan menutup wajahnya dengan erat.
Lima menit berlalu...
"Ini harus segera diobati. Tahan sedikit ok." ucap Bryant mengambil kotak obat dan sebotol wine.
Jelas dua barang itu bertentangan, membuat Icha menahan pergerakan tangan Bryant. Lirikan tajam mata Icha, membuat Bryant paham isi kepala wanita didepannya itu. "Minumlah satu tutup saja! Ini akan mengurangi rasa sakit mu, maaf saja karena hanya ada peralatan obat seadanya."
__ADS_1
"Lukaku cukup dibersihkan dan obat merah! Untuk apa meminum wine segala!" tukas Icha dengan nada tak nyaman.
Bryan menggeser tubuh Icha tanpa permisi, hampir saja membuat Icha melompat dan menendangnya. Untung tangan Bryan kuat dan bisa menahan tubuh Icha agar tetap duduk. "Bukan untuk pelipis mu! Tapi untuk luka di kakimu."
Sejurus mata Icha menatap kakinya sendiri. Warna darah yang mengering, seketika rasa nyut-nyutan kembali datang. Padahal sebelumnya tidak ada rasa sakit yang berlebihan. "Apa kesadaran ku tetap terjaga?"
"Minumlah!" Bryan membuka wine dan menuangkan satu tutup botol untuk Icha.
Gleek..
Satu tegukan wine berhasil melewati kerongkongan Icha, sensasi panas dengan aroma menyengat. Perlahan ada kunang-kunang beterbangan di sekelilingnya, seakan para kunang tengah berpesta tanpa permisi. "Kepala ku ras..."
Bruuug.. Greeb...
"Tidurlah. Kamu terlalu jauh terjun kedalam jurang tanpa dasar. Hatimu tak akan siap untuk kebenaran yang hakiki." ucap Bryant dan menggendong Icha.
Langkah pasti Bryant menuju sudut ruangan bawah tanah, sebuah miniatur camera handycam diputar 36 derajat.
Kreeteek...
__ADS_1
Suara dinding bergeser, membuat Bryant melanjutkan perjalanannya dengan menggendong Icha ala karung beras. Hingga ujung terhenti dan seseorang duduk diam diatas mobil jeep. "Semua sama seperti yang kita rencanakan. Sekarang apa?"