Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Pertemuan di Makam


__ADS_3

"Jika bukan. Lalu dosa apa yang kamu bicarakan?" cecar pria dingin dan mengabaikan pertanyaan Bryant.


"Bryant!" panggil seseorang dari belakang dan membuat Bryant berbalik menatap sosok yang memanggilnya.


Seorang pria dengan wajah mirip Bryant berdiri di belakang dengan jarak 3 meter. Se bucket bunga mawar merah dengan setangkai lili putih tergenggam ditangan pria itu. "Ka Ashley."


"Bagaimana kabar anda tuan AK?" tanya Ashley menatap pria dingin disamping adik kembarnya.


AK tak menjawab. Tapi telinganya masih mendengar suara yang sama, seperti yang menelfon dirinya beberapa waktu lalu. Ashley paham sikap AK dan lebih baik mengalihkan pada Bryant. "Dimana Icha? Jangan bilang kamu membawa Icha kemari?"


"Aku disini!" jawab Icha membuat Ashley, Bryant bertukar pandang.


Langkah Icha semakin mendekati ketiga pria dengan jarak berbeda-beda, hingga langkahnya terhenti di tengah. Diantar ketiga pria, dua pria kembar menatapnya tanpa senyuman dan satu pria terakhir masih menghadap ke makam. "Bryant, bawa Icha kembali ke pondok!"


"Ka! Ini waktunya..." protes Bryant tak setuju.


"Kalian ini mau apa? Dan kamu, teganya ninggalin aku sendirian di dalam mobil! Bagaimana.." cecar Icha.


"Stop! Pergi kalian dari sini!" tegas AK merasa muak dengan perdebatan di depan makam istrinya.


"Maafkan kami. Bryant!" ucap Ashley dengan isyarat kedipan mata.


Posisi tubuh Bryant bergeser ketika langkah kakinya beranjak meninggalkan sisi AK, dan mata Icha menangkap tulisan nama yang indah. Nama yang menggetarkan hatinya, bahkan tarikan tangan Bryant terhempas dengan kasarnya. "Katakan padaku. Ini tidak benar kan? Ucapan mu hanya candaan kan Bryant!"

__ADS_1


Ashley menatap tajam Bryant. Bryant menghela nafas dan menganggukan kepala, Ashley langsung menghampiri Icha. Mengalihkan mata Icha dari makan Asma. Namun mata Icha enggan berpaling, hingga Icha memberontak.


"Tenanglah. Semua ini bukan salahmu." bisik Ashley dengan lembut, mengusap lengan Icha.


Tidak ada yang bisa masuk ke telinga Icha, semua menjadi jelas tapi hanya bayangan. Untuk apa papanya diam dan marah? Jika Asma sudah tiada, lalu kenapa dirinya tak boleh tahu. Jika benar ucapan Bryant, lalu siapa ketiga pria di makan Asma? Kenapa bukan papanya yang menziarahi makan pendonor jantung putrinya? Ada yang tidak beres, ini lebih rumit dari bayangannya selama ini. "Icha binti Samuel! Sadarlah."


Ucapan Ashley dengan penuh tekanan, sobtak membuat AK berbalik. Tatapan AK tajam, menatap Icha dan dua pria kembar didepannya. Satu nama belakang itu mampu menghapuskan ketenangan didalam hatinya, jiwa iblisnya bangkit. "Pergi!"


Seruan AK membuat Bryant, Ashley dan Icha mematung. Suara yang jauh lebih berat dengan nada ancaman. Ashley melepaskan tangan Icha, dan membalikkan badannya. Kini dirinya berhadapan dengan AK. "Aku minta maaf atas dia. Aku ingin kamu tahu tentang sebuah kebenaran. Tapi tenanglah, aku tidak akan menghalangi mu untuk balas dendam."


AK masih memilih diam, membiarkan Ashley berbicara. Ashley memberikan isyarat agar Bryant memegangi Icha. Tangan Ashley merogoh sesuatu dari balik jacket tudungnya dan mengulurkan satu lipatan kertas putih ke AK. "Ini peninggalan terakhir Asma. Tapi jangan hukum Icha, karena gadis ini juga menderita sama seperti mu."


Dengan cekatan AK membuka lipatan. Detik awal masih dingin, tapi detik berikutnya. Wajah dingin itu memerah, dengan cengkraman tangan yang erat. Kertas putih di tangannya menjadi tak berbentuk. Matanya menyala tajam, dengan gigi bertautan. Hatinya hancur sekali lagi, bagaimana bisa dirinya seceroboh itu. Dan baru hari ini, semua terbongkar.


"Dan satu lagi. Aku menemukan dia milik anda. Saat ini dia ada bersama ku." ucap Ashley membuat AK beralih ekspresi tanda tanya dengan alis terangkat.


Ashley terdiam sejenak, mengatur kata yang tepat. AK bukanlah pria biasa, bahkan aura dan aksinya jauh lebih berbahaya darinya. "Ada ditempat khusus dan bersama seseorang yang menolongnya. Tapi wajahnya, tidak terselamatkan."


"Bawa aku kesana! Sekarang." tegas AK dan kembali menatap makan Asfa.


Sejenak AK bersimpuh, mengecup papan nisan Asma dengan kata-kata pamit. Kini Ashley mengikuti langkah AK, sedangkan Bryant dan Icha mematung ditempat. Langkah AK terhenti sebelum melewati gapura makam. "Bawa mereka! Aku tidak sud!, pria b@jingan itu menyentuh milikku."


Ashley kembali mendekati Bryant dan Icha, menepuk kedua insan tanpa kesadaran itu dengan pelan. "Cepat! Tuan AK membiarkan kalian ikut."

__ADS_1


Kini keempat insan sudah masuk ke dalam mobil van hitam dengan plat nomer luar kota. Ashley bertugas menjadi seorang supir, disampingnya ada AK dan dibelakang ada Bryant serta Icha. Tidak ada percakapan selama perjalanan, semua tenggelam dalam fikiran masing-masing.


"Bry, katakan sekali lagi. Apakah didalam sini jantung milik Asma?" bisik Icha.


Bryant melirik Icha dengan malas. Berbicara dengan gadis keras kepala ternyata membuat bosan. AK masih bisa mendengar bisikan Icha. Bisikan itu mencubit hatinya, jika benar laporan pendonoran jantung telah dilakukan Asma. Tapi bagaimana itu terjadi? Fikirannya kembali ke masa 2 tahun silam.


Ingatan AK kembali pada saat di rumah sakit. Dokter mengatakan bagaimana hasil visum Asma dan pernyataan dokter sungguh menenggelamkan dirinya dalam lautan emosi. Sejenak ingatannya terkumpul menjadi satu. Diantara proses selesai visum dan pemberian jasad Asma memiliki tenggat waktu sekitar 5 jam dan itu waktu yang lama. Dibukanya kembali remasan kertas digenggaman tangan AK. "Anda menyelamatkan jantung Asma, tapi menyiksa cintaku tanpa izinku! Maka hukuman anda akan ku perlambat."


Suara pelan AK masih menyusup ditelinga Ashley. Dari sudut pandangnya, AK tidak salah. Jujur saja, AK sosok yang membuat dirinya bangkit dari keterpurukan. Seorang pembisnis hebat yang rela terhapus dari dunia, dan memilih menjadi bayangan takdir. Banyak wanita yang pasti siap menjadi pasangan AK atau sekedar berbagi peluh dalam gelapnya malam. Tapi AK memilih setia dengan satu wanita yang tak mungkin lagi untuk diraih.


Perjalanan selama satu jam lebih. Mobil van hitam itu berhenti di sebuah rumah sederhana ditengah taman bunga. Ashley turun. "Bryant bawa Icha ke kamar mu! Mari tuan AK."


"Okay ka. Ayo ikut denganku." ajak Bryant menggandeng tangan Icha.


Icha mencoba melepaskan tangan Bryant, tapi Bryant tak mau mengalah. Suara Ashley sudah cukup menjadi peringatan, agar dirinya mengurung Icha dikamar. Sedangkan Ashley memberikan kode agar tuan AK berhenti sejenak. Membiarkan Bryant membawa Icha masuk kedalam rumah.


Ceklek...


"Ayo kita lewat sini." ajak Ashley memutar ke arah belakang rumah setelah Bryant dan Icha menghilang dibalik pintu.


Taman yang indah dengan berbagai jenis bunga. Ada satu pancuran mini, dengan aliran air yang jernih. Ashley mendekati pancuran air dan memutar ke arah berlawanan dari jarum jam memutar.


Tuuk.. tuuk.. tuuk.. (Suara terdengar dari taman di samping pancuran)

__ADS_1


Tangan Ashley melambai, dan memutari pancuran. AK memperhatikan setiap pergerakan Ashley, hingga tubuh Ashley semakin menghilang. Dengan langkah tegasnya, AK mengikuti kemana perginya Ashley. Tangga dengan batu pilihan menjorok ke dalam tanah, ada obor yang menyala di dinding dan menerangi setiap langkah AK.


"Bukankah itu dia?" tanya Ashley menunjuk ke satu kamar terbuka dengan banyaknya alat medis ditubuh satu insan lemah tak berdaya.


__ADS_2