Plan Of Masked Man

Plan Of Masked Man
Cafe Andala


__ADS_3

Bukan hanya lima menit Desi menunggu tapi hampir lima belas menit tapi Ferro tidak kunjung datang, membuatnya berfikir untuk menyusul namun belum juga tangan nya membuka pintu. Sosok Ferro sudah keluar dari dalam rumah dengan pakaian berbeda dan tidak lupa jacket ber tudung yang menjadi ciri khas pria itu, Desi menggurungkan niat nya dan duduk tenang di kursi penumpang.


Braak.. (pintu mobil di tutup dengan lebih keras membuat Desi sedikit terkejut)


"Kirim pesan pada detective itu, katakan pertemuan di Cafe Andala cabang Mataram." ucap Ferro dengan santai nya dan me masuk kan kunci mobil untuk memulai aksi nya.


"Baik." jawab Desi dan kembali menggambil HP nya untuk mengirimkan pesan seperti permintaan Ferro.


Tanpa di sadari Desi jika pria di sampingnya sudah menerbitkan senyuman iblisnya yang langsung menghilang dalam hitungan detik, dan mobil meninggalkan rumah yang kembali gelap gulita.


Mobil melaju dengan kecepatan normal menuju cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah si kembar, sedangkan di sebuah cafe seseorang sudah stand by di salah satu kursi pelanggan ditemani secangkir latte.


Kuharap rencana ku berhasil, aku ingin segera berlibur. ~ batin orang itu dengan menyeruput lattenya.


Akhirnya mobil si kembar telah memasuki tempat parkir cafe Andala setelah perjalanan selama lima belas menit kurang.


"Pergilah!" perintah Ferro yang masih stay di kursi pengemudi.


"Apa kamu tidak ikut?" tanya Desi dengan wajahnya cemas dan tegang.


"Kamu yang ingin bertemu kan?" sindir Ferro dengan sebuah senyuman smirknya.


"Eeh..em..baiklah." cicit Desi melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.


Pergilah, aku juga akan melakukan tugasku. ~ batin Ferro dengan mengotak-atik ponsel pintarnya.


Di dalam cafe dengan langkah lesu Desi menghampiri seorang pria yang melambaikan tangan ke arahnya, terlihat jelas pria itu sudah menunggunya.


"Mana dia?" selidik pria itu dengan melihat ke segala arah cafe.


"Parkiran. Katakan dimana mereka?" cecar Desi dengan tatapan dingin ke arah sahabatnya.


"Bawa barter yang ku inginkan baru ku lepaskan mereka. Ingat keamanan mereka ada di tanganku." ancam pria itu dengan menekankan ucapannya.

__ADS_1


"Sepertinya sahabat mu seorang pecundang!"


Sindiran itu bisa didengar oleh banyak orang dan membuat Desi meremang, suara yang dikenalinya ikut menghampiri sahabatnya yang sudah siap untuk menjalankan rencana terselubung.


"Kenapa keluar?" cicit Desi menatap pria yang dengan santainya duduk di tengah-tengah antara dirinya dan sahabatnya.


"Ouh, kamu mau melayani pecundang ini sendirian?" sindir Ferro dengan menaikkan satu alisnya.


"Itu.." balas Desi yang merasa terjebak padahal memang niat hatinya untuk membawa Ferro ke hadapan agen Leo.


"Pergilah temui mereka di jalan xxx." potong agen Leo yang tidak ingin melihat drama.


Rasa panas di dalam dadanya karena di sebut pecundang masih bisa di redam karena tujuannya jauh lebih besar, Ferro hanya mengangguk ketika mendapatkan tatapan pertanyaan dari Desi.


"Hhhaaah, ingat Leo! Jika kamu melukai mereka sedikit saja, aku sendiri yang akan melenyapkan mu." tegas Desi sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan meja tempat pertemuan.


Ada hal yang berbeda dari Desi disaat amarah wanita itu mendominasi, senyuman terbit di wajah Ferro tapi wajah Leo seperti tertegun.


"Begitulah." jawab Leo dengan suara anehnya.


"Sepertinya kamu lupa siapa dirimu." sindir Ferro dengan menggambil ponsel pintarnya dan meletakkannya di atas meja.


"Apa maksudmu?" tanya Leo dengan santainya.


"Bercerminlah!" perintah Ferro dengan mengetukkan jemarinya di atas ponsel pintarnya yang membuat Leo menggambil ponsel pintar itu.


Sedetik wajahnya langsung berubah memerah dengan mata melotot sesekali mengerjap dengan apa yang di lihatnya, wajah memerah namun bibir Leo memucat.


"Lain kali pastikan topengmu tetap tertutup!" sindir Ferro dengan senyuman smirknya.


Seperti permainan catur yang kalah telak dengan adanya Skakmat, kini tubuh Leo bergetar meskipun hanya getaran kecil. Ferro merasa puas dengan hasil kerjanya menatap ketakutan orang yang mempermainkannya, sedangkan Desi yang terpaksa menggunakan taksi online berkali-kali meremas jemarinya dengan harapan doa.


"Hey mau kemana kita? Ini bukan tujuanku!" bentak Desi dengan panik setelah melewati persimpangan yang seharusnya belok ke kiri justru mobil belok ke kanan.

__ADS_1


"Tenanglah, kita ke tempat tujuan yang benar." jawab sopir taksi online dengan santainya.


Suara itu, bukankah suara Ferro? Tapi ferro.~ batin Desi yang terhenyak dengan suara sopir taksi onlinenya.


"Benar aku Ferro." ucap Ferro dengan santainya sembari melepaskan topi dan masker di wajahnya.


"Lalu siapa..Astaga aku lupa kalian kembar." cicit Desi yang benar-benar seperti orang bodoh.


"Putar balik, mereka dalam keadaan bahaya!" seru Desi yang tersadar kembali akan tujuannya bermain api.


"Tenanglah, mereka sudah ada di tempat seharusnya." ucap Ferro dengan memasuki sebuah kawasan perumahan Sejahtera.


"Apa.." selidik Desi yang menyadari jika dirinya memanglah bodoh karena telah bermain dengan orang yang salah.


Hanya hening hingga mobil memasuki sebuah gerbang rumah mewah yang terbuka secara otomatis ketika mobil taksi itu mendekat.


"Ayo turun." ajak Ferro dengan membukakan pintu mobil di kursi belakang.


...~~~~...


Hay reader's


Happy Eid Mubarak, Allah's bless us all 🤲


Semoga semua dalam keadaan sehat dan bahagia di tambah lagi kumpul ma keluarga , 🤭


Kaya othoor yang sibuk ama keluarga, jadi perang ma pisau di dapur. Blum lagi signal sangat trouble di daerah tempat othoor ya, disini pegunungan jadi othoor pasti akan up telat.


Othoor akan dobel up kalau udah pulang ke rumah sendiri , untuk sementara othoor hanya bisa seadanya dan blum buat konflik yang serius.


Jujur othoor lagi ngeleg ama tugas rumah plus tugas dari kelas 🤦‍♀️🙏🤭


Tapi othoor berusaha agar bisa buat up sesuai dengan alurnya..

__ADS_1


__ADS_2