
Sekali lagi AK memeluk Icha dengan kelembutan, tanpa disadari AK. Seseorang tengah bersembunyi dengan senyuman penuh arti. Beberapa jepretan foto telah tersimpan dengan sangat baik di dalam ponsel pintarnya.
Sebuah pepatah yang mengatakan 'Ucapan adalah doa'. Itu benar adanya, aku menjadi apa sosok yang pasti di luar pemikiran siapapun. Siapa yang salah? Aku atau kamu? Jika hidupku hancur, maka kamu juga harus hancur!~ batin orang di balik satu sudut parkiran.
Dengan perlahan AK mengusap punggung Icha, hingga getaran tubuh Icha semakin mereda. "Sudah baikan? Boleh lepaskan pelukan? Aku ingin kamu minum dulu."
Icha melepaskan kedua tangannya dengan wajah menunduk, AK mengambil dan membukakan satu botol mineral yang ada didalam mobil. Dengan lembut AK membantu Icha meminum airnya dan menutup kembali botol. "Lebih baik kita pergi, kita cari makan di tempat lain."
"Apa kamu tidak melihat diaa….?" tanya Icha lirih.
AK menangkup wajah Icha agar menatap matanya. "Relax. Aku tidak tahu siapa yang kamu maksud, tapi percayalah. Aku akan melindungimu. Sekarang pejamkan mata mu dan fikirkan yang baik-baik saja. Okay!"
Icha mengangguk dan AK membantu Icha memakai sabuk pengaman, setelah memastikan Icha aman. AK kembali ke posisi yang benar, memutar kunci mobil dan menyalakan mesin, mundur perlahan dan meninggalkan parkiran cafe. Kepergian mobil AK, membuat seorang pria bertopeng keluar dari tempat persembunyian. "Tunggulah 24 jam lagi. Semua akan terungkap. Aku atau kamu yang akan menderita? Hanya waktu yang tahu. Selamat menikmati detik-detik terakhirmu Hero."
Meninggalkan cafe, didalam sebuah kamar seorang wanita tengah menatap ke arah ranjang. Dimana ada dua anak dengan usia berbeda, tatapan wanita itu jelas tengah kosong. Bahkan tidak menyadari ketika seseorang membuka pintu kamar. "Des? Ada apa? Dan dari mana saja? Kamu tahu putramu mencarimu sejak siang."
"Aku hanya menyelesaikan urusan di rumah sakit. Tiba-tiba ada yang menghubungi satu kasus yang telah berlalu, dimana tuan? Kenapa aku tidak lihat sejak kemarin malam." tanya Desi dan mengubah ekspresi wajahnya.
Lampu temaram kamar, menjadi sebuah keuntungan bagi Desi. Elsa hanya membenarkan selimut anak-anak. Dan mendekati Desi yang masih saja berdiri di depan jendela. "Aku rasa kamu tahu terlalu banyak. Lebih baik hentikan. Aku bukannya cemburu, tapi menjauh lebih baik. Kita bekerja untuk menjaga Mia. Jangan sampai karena keingintahuan kita menjadi makam kita. Aku akan istirahat, selamat malam."
__ADS_1
"Malam juga. Bisa jawab satu pertanyaan ku?" tanya Desi menghentikan pergerakan Elsa.
Elsa menatap Desi dengan serius, kedua tangannya bersedekap. Jelas sekali wajah Desi menyimpan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa di jelaskan. Desi membalas tatapan Elsa. "Apa kamu tahu, jika tuan AK memiliki kembaran?"
Hening…..
Elsa berjalan mendekati Desi. Semakin dekat dan berhenti dengan jarak sepuluh centimeter. Elsa mendekati telinga Desi, dan membisikkan sesuatu. "Jika aku tahu, apa itu menjadi masalah untukmu? Atau kamu ingin tahu, siapa aku?"
"Aku hanya bertanya. Tidak lebih. Lagipula, siapa kamu sebenarnya? Kita sama-sama hanya menjadi seorang pelayan." jawab Desi santai.
Elsa tersenyum mendengar jawaban Desi, dengan menjauhkan wajahnya dan kembali melanjutkan niatnya untuk keluar kamar. Langkahnya berjalan menuju pintu kamar, tangan Elsa sudah memegang knop pintu. "Terkadang jawaban seseorang menjadi bukti."
Desi yang mendengar itu hanya membuang muka dengan menatap keluar jendela. Apapun yang Elsa katakan benar adanya. Elsa keluar dari kamar anak-anak dan berpindah ke kamar sebelah. Dengan cepat Elsa mengunci pintu kamarnya. Perasaan gelisah, dari firasatnya ada hal buruk yang akan terjadi.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kenapa jadi semakin rumit? Tuan, dimana anda? Apakah tidak bisa memberikan kabar?~ batin Elsa dan merebahkah tubuhnya yang lelah fisik dan fikiran.
Semakin lama menatap atap langit mata Elsa semakin terasa berat. Tapi kegelisahan hati, membuatnya tak ingin terlelap. Dengan enggan, Elsa bangun dan berniat membasuh wajahnya agar lebih segar. Niat hati ingin pergi ke kamar mandi, tapi suara langkah kaki di luar kamar cukup menarik perhatiannya. Elsa melirik jam di kamar, pukul satu dini hari.
Mungkin tuan kembali. Sebaiknya aku istirahat, biarkan tuan istirahat dulu. Setidaknya sekarang akan baik-baik saja.~ batin Elsa dan kembali merebahkah tubuhnya.
__ADS_1
Keesokan harinya…..
"Euuugghh.'' suara lenguhan bangun tidur terdengar dari balik selimut.
Dua tangan terangkat, rasa remuk redam seluruh tubuhnya. Perlahan mata mengerjap dan menyesuaikan pemandangan sekitarnya. Kamar dengan luas yang cukup, aroma terapi lavender tercium jelas. Matanya menyusuri setiap sudut, dan berhenti di satu sofa panjang depan jendela kaca yang tertutup tirai.
Sosok tanpa selimut dengan satu tangan sebagai penutup mata, pria itu terlelap dengan posisi yang pasti tidak nyaman. Melihat hal itu, ada rasa tidak enak. Dengan perlahan kakinya turun dari kasur, sembari membawa selimut yang digunakan dirinya semalaman.
"Terimakasih. Aku tidak tahu rasa sakit dan luka hati mu sebesar apa. Tapi, izinkan aku mengobati luka mu. Meskipun, aku tidak sebaik apalagi secantik Asma." bisik Icha setelah menyelimuti setengah tubuh AK.
Langkah kaki Icha menjauh dan berjalan memasuki kamar mandi, AK membuka mata. "Terimakasih kembali. Tapi, aku harus menjauhkan mu dari neraka ini."
AK kembali memejamkan mata, membiarkan dunia sibuk tanpa aksinya. Di tempat berbeda, gantungan lembar demi lembar foto yang baru di cuci. Sudah terlihat hasilnya, foto-foto dengan keharmonisan yang luar biasa. Dari arah lain, beberapa foto lama juga tergantung. Suasana ruangan yang temaram, membuat satu sosok berdiri di tengah.
Matanya menatap satu persatu foto dari deretan foto lama dan beralih ke deretan foto baru. Tidak ada senyuman atau mata berbinar, hanya ada kehampaan. Foto-foto tanpa kata itu, seakan berteriak memanggil namanya. Lihatlah betapa beruntungnya pria di dalam foto itu. Selalu ada seseorang yang disisinya, tapi lihatlah dirinya sendiri. Siapa yang ada disisinya? Tidak ada.
"Apa kamu melupakan aku? Aku yang selama ini mendukungmu. Lalu, dimana kamu saat aku membutuhkanmu? Apa aku tak berarti untukmu? Jika iya, untuk apa kamu selalu membawa bucket bunga ke makam kosong itu? Apa kamu ingin mempermainkan perasaanku?"
Tangan sosok itu mengepal, setiap kali pertanyaan akan jati dirinya dipertanyakan. Terlebih dirinya seperti tidak di anggap oleh seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya.
__ADS_1