
Kepergian dokter membuat pak polisi menghampiri para tawanan pembuat onar, meskipun hanya tiga orang saja yang dapat dibekukan dengan timah panas di kaki mereka.
"Siapa yang menyuruh kalian!" cecar pak polisi dengan tatapan tajam.
Tatapan yang siap menikam lawan bicaranya, namun ketiga preman gadungan itu justru tersenyum sinis, tanpa rasa takut sedikitpun menghadapi polisi di depannya. Seakan tidak ingin membiarkan rasa puas dimata ketiga preman gadungan itu bertahan, pak polisi menarik pistol dari sarungnya dengan cekatan.
"Katakan!" perintah pak polisi dan menodongkan pistolnya ke satu preman gadungan di posisi tengah.
"Lakukan!" tantang preman gadungan di posisi tengah dengan senyuman sinis.
Doorrr...
"Aaaarrrgghh." rintih pak polisi memegangi dadanya.
Suara tembakan terdengar namun peluru yang keluar bukan dari senjata pak polisi, seorang sniper handal di atas pohon telah membidik pak polisi dan melepaskan tembakan di detik terakhir. Pelurunya tepat mengenai dada pak polisi dan darah mengucur dengan deras, membuat anak buah pak polisi waspada dan melindungi pak polisi dengan nyawa mereka.
Kesempatan itu digunakan oleh para preman gadungan untuk melarikan diri, meskipun dengan langkah kaki pincang dan rasa perih menjalar di seluruh sendi. Kepergian tawanan pak polisi membuat sang sniper menghilang di balik gelapnya malam.
Suara bising motor terdengar dari dalam sebuah mansion mewah, banyak pengawal yang menunduk melihat sosok yang memasuki halaman utama mansion mewah itu. Seorang wanita dengan penampilan tomboy menggendong tas panjang di punggungnya, langkah kakinya terdengar berat karena memakai sepatu boots hitam yang menunjang kegiatan outdoornya.
"Dimana papa?" tanya wanita itu dengan melemparkan helm ke arah pengawal di samping pintu kiri mansion.
"Didalam non, silahkan masuk." jawab pengawal yang menangkap helm dan membukakan pintu untuk nona mudanya.
__ADS_1
"Thanks." Wanita itu melenggang kan kakinya untuk memasuki mansion yang terkesan suram dan gelap.
"Malam pa, tumben dirumah?" tegur wanita itu ketika menemukan sosok papanya di meja makan, pada jam makan malam yang sudah terlewat.
"Duduk!" titah pria dengan kumis tebal mendorong kursi di sampingnya, agar putrinya duduk bersamanya.
"Katakan!" tukas wanita itu tanpa melepaskan apa yang ada di gendongannya.
"Apa papa mengajari mu untuk bersikap tidak sopan?" tanya pria berkumis dan menatap putri semata wayangnya dengan mata meredup.
"Apa papa mau menjelaskan siapa itu Asma?" tanya balik wanita itu dengan nada penekanan.
"Percuma bicara dengan mu Icha! Sekali papa bilang tidak! Maka jawaban papa akan sama." tegas pria berkumis dan meninggalkan putrinya dengan amarah di dalam hatinya.
Icha terlahir tanpa seorang ibu, namun semua fasilitas selalu terpenuhi tanpa di minta. Papanya memang baik dengan memberikan kebahagiaan dunia tapi setiap kali satu nama di sebut, pasti membuat mata hitam kelam itu menghitam tanpa asap.
Asma siapapun kamu, pasti akan ku temukan! Pasti.~ batin Icha dengan tatapan kosong menembus cermin yang ada di depan sana.
Malam berganti pagi, dimana mansion mewah tempat Icha tinggal mendadak di penuhi keramaian, keramaian yang mengusik mimpi indah Icha.
"Eeeuumm. Kenapa berisik sekali?" gumam Icha dengan mengucek kedua matanya yang enggan terbuka.
Noted: Hari Pesta Serigala
__ADS_1
Itulah yang tertulis di layar ponsel Icha, membuat mata Icha enggan menutup lagi. Langkah kakinya bergegas menuju kamar mandi, noted yang tersimpan sejak setahun lalu itu mampu membuat semangatnya kembali berkobar.
Setengah jam kemudian...
"Lebih baik pake ini saja! Dan jangan lupa earphones tentunya." gumam Icha dengan menghempaskan handuk yang menutupi tubuhnya ke arah sembarangan.
Setelah berganti dengan pakaian santai, earphones telah terpasang di kedua telinganya dan tak lupa menyalakan laptop khusus miliknya. Jemari sudah siap bekerja, dengan melirik jarum jam yang masih menunjukkan pukul 8 kurang lima belas menit.
"Tiga, dua, mulai." ucap Icha berhitung mundur di detik terakhir menuju pukul 8 pagi.
Tik.. tik.. tik..
Jemari itu dengan lincahnya menekan satu huruf ke angka dan sebaliknya tanpa jeda, hingga suara ketukan pintu di depan kamarnya mengalihkan perhatiannya.
"Bodo amat." cetus Icha dan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah berhenti selama tiga detik.
Sedangkan di luar kamar Icha, pelayan wanita tengah harap-harap cemas dengan keterlambatan nona mudanya. Tidak seperti biasanya, bahkan semarah apapun nona mudanya pada tuan besar pastilah tetap menghargai masakan para koki dirumahnya.
"Biarkan dia istirahat bi, semalam Icha terlalu larut pulangnya." Pria berkumis baru saja keluar dari kamar pribadinya dan melihat bibi senior berdiri di depan kamar putrinya dengan wajah cemas.
"Baik tuan, saya permisi." pamit bibi dan undur diri.
"Seandainya aku jujur, kamu akan membenciku. Dan aku tidak sanggup di benci oleh putri ku sendiri." gumam pria berkumis menatap pintu kamar putrinya dengan sendu.
__ADS_1