
"Boleh aku tahu, Asma seperti apa? Jika separuh jantungku miliknya, maka jantung ini milikmu. Berikan aku jawaban, kenapa detakan jantungku terpacu bagaikan balapan liar." tukas Icha dengan nada lirih namun masih bisa AK dengar.
AK terdiam sejenak, dan melepaskan tangan Icha. Kepergian AK membuat wajah Icha sendu dan tertunduk. Namun sebuah buku muncul di depan Icha. Tangan gemetar Icha masih kuat menerima buku itu. "Bacalah! Aku masih memiliki pekerjaan."
Sejenak Icha melirik apa yang dilakukan AK. Buku di tangannya seakan menjadi daya pikat sendiri. Kembalinya kesadaran, membuat Icha memaksa tubuhnya duduk dan bersandar di tembok. Tidak peduli lagi dimana dirinya berada, perlahan tangan Icha mengusap sampul buku hitam di pangkuannya. "Hitam seakan kehidupannya adalah kegelapan."
Sampul terbuka, satu nama tertera dengan indahnya. Nama yang selalu menghantui ketenangan Icha selama beberapa tahun terakhir. Asma, yah hanya nama singkat namun tertera dengan tinta merah darah. Tangan Icha kembali membuka satu lembar kertas, berganti ke halaman berikutnya. Tanggal yang tertera adalah tahun yang telah berlalu.
Lembar demi lembar merasuki hati Icha, senyuman Icha menjelaskan betapa indahnya kisah Asma. Hingga lembar kebahagiaan itu berakhir, mata Icha membulat dengan alis bertautan. Satu judul dari halaman memulai kisah yang perlahan menguras emosi Icha. Lelehan air mata menerobos tanpa kata, Icha menggigit bibirnya sendiri menahan rasa sesak didada.
Tap… (Icha menutup buku dengan deru nafas tak beraturan, matanya tak sanggup menelisik kata demi kata menyayat semakin jauh)
Satu tangan bersarung menyodorkan air putih dan membuat Icha menatap sang pelaku. Tangan Icha menerima dengan gemetar, membuat AK membantu Icha meneguk air minumnya. "Untuk apa membuka masa lalu? Bahkan satu lembar sayatan, kamu tak sanggup menyelesaikannya."
__ADS_1
Mata Icha mengerjap, ucapan AK benar. Icha menunduk dengan memeluk buku hitam, hatinya sakit dengan sayatan kata dalam jiwa. Sesuatu yang menjadi alasan hidupnya tak tenang, menorehkan kisah kelam dalam tinta merah. "Katakan padaku, kenapa anda membiarkan aku membaca buku ini. Bukankah hal ini sama saja, seperti membuka rahasia anda sendiri?"
"Semua akan berakhir, sudah waktunya terungkap. Apa kamu berpikir aku takut dengan kematian?" AK mengenggam gelas dengan kuat.
Icha merasakan aura dingin menyentuh kulitnya. Emosi AK seakan terpancar begitu saja, membuat Icha tertekan. AK memilih melangkahkan kaki kembali ke papan skema pembunuhan miliknya. Keheningan Icha sudah cukup menjadi jawaban. Satu lembar foto terakhir, masih dalam proses cetak.
Triing… (suara mesin mengalihkan perhatian AK)
AK berjalan menghampiri skema papan baru, dengan menempatkan foto Sam di tengah. Perlahan satu demi satu foto target telah dipasang pada tempat dan waktu yang tepat, dari setiap garis penghubung. Masih ada yang terlewat, pasti masih ada yang bersembunyi.
Dokter yang melakukan operasi? Pemimpin pembunuhan ku? Pelaku penyerangan Sekkar? Pelaku penyerangan Ferro? Semua pertanyaan ini siapa yang bisa menjawab?~batin AK menelusuri setiap kemungkinan.
"Icha, apa kamu ingat dokter yang menangani operasi mu?" tanya AK setelah menemukan sedikit titik terang.
__ADS_1
Hening…
AK berbalik menatap ke arah Icha, wanita itu masih terpaku dengan memeluk buku hitamnya. Sesaat AK bergegas menghampiri Icha, ucapan Ashley menyadarkan AK. Jika Icha tidak bisa terkena shock terlalu besar. Tangan AK segera merengkuh tubuh gemetar Icha, mengusap kepala Icha dengan perlahan. "Tenanglah. Sorry."
AK tercekat, ntah dari mana ucapan minta maaf itu datang. Setelah kepergian Asma, sejak hari itu tak ada lagi kata maaf baginya. Dalam jalan AK hanya ada balas dendam dan rencana untuk menegakkan keadilan. Icha merasakan kehangatan menjalar, membuat emosinya menurun dengan kesadaran perlahan kembali. Bau keringat AK menyeruak masuk, hati Icha merasa tenang. Detak jantungnya semakin cepat.
Aku tidak tahu, kenapa jantungku berdetak kencang didekat tuan ini. Jika ini adalah permintaan terakhirmu, aku ikhlas. Aku akan menjadi cahaya untuk kekasihmu Asma. ~batin Icha semakin menenggelamkan tubuhnya didalam pelukan AK.
Pelukan itu menjadi moment pertama untuk keduanya. Seakan ada daya tarik yang mengikat kedua hatinya. AK dan Icha tenggelam dalam kehangatan dan kenyamanan. Sedangkan di tempat lain tengah terjadi pertemuan darurat, dimana tiga kursi berhadapan sudah ditempati oleh tiga orang berbeda.
Seorang wanita dengan pakaian sexy dan rambut terurai, sebatang rokok terselip dibibir merahnya. Wanita itu duduk dikursi yang menghadap ke jendela. Seorang pria dengan kumis dan pakaian jadul, duduk di sebelah sang wanita sembari memainkan gelas wine di meja. Sedangkan kursi terakhir masih kosong, hingga sepuluh menit berlalu. Suara hentakan sepatu berjalan mendekat ke arah pertemuan darurat itu.
Seorang pria dengan topeng, penampilan modern dan harum parfum bermerk berhenti tepat dibawah lampu gantung. "Ada apa?"
__ADS_1