
"Bagaimana dengan Gio?" tanya AK dan membuat Desi menelan saliva susah payah.
"Aku sudah menjelaskan jika semua yang terjadi adalah perbuatan Sam, mungkin aku terlambat. Aku berharap dia menyadari, jika selama ini hanya menjadi bonekanya Sam. Aku ikut andil untuk masalah di hidupmu, aku siap menerima hukuman…."
AK menghentikan curahan hati Desi. "Sttt! Kenapa aku mencium aroma bensin? Terlalu pekat, dan ini berasal dari…"
"Luar." ucap Desi dan AK serempak.
Sementara di luar, Sam tersenyum puas dan menatap pekerjaan semua anak buahnya. Seluruh dinding disirami bensin, tidak ada celah dinding kering tanpa bensin. Untung saja di detik terakhir permainan, dirinya melihat tatapan mata Desi yang melemah. Sudah pasti wanita itu akan mengacaukan seluruh rencana dan menyelamatkan para sandera.
Tidak akan kubiarkan kalian lolos. Jika kalian binasa, sudah pasti semua berakhir tanpa jejak. Lagipula, aku tidak peduli dengan rencana Gio. Biarkan saja pria itu menunggu di perusahaan AK sampai sekarat dan aku akan terbang meninggalkan negara ini. Selamat tinggal semuanya. ~batin Sam.
"Tuan ini korek apinya," Satu preman memberikan sekotak korek api kayu pada Sam.
"Apa sudah semua?" tanya Sam.
"Sudah tuan, lihat semua anak buah anda sudah kembali ke tempat masing-masing." jawab preman pemberi korek.
Sam melambaikan tangan, dan semua anak buahnya mundur menjauhi gudang tua. Sementara kotak korek api masih dimainkan oleh Sam, mulut komat kamit seperti menghitung sesuatu. Seharusnya dari dalam sudah ada reaksi, akan tetapi kenapa masih hening? Bukankah itu aneh? Terlebih aroma bensin sangat menyengat, tidak mungkin di dalam sana tidak mencium aroma yang sama.
"Buka pintunya! Sam. Buka!" seru Desi dan membuat keraguan Sam menghilang.
Satu batang korek diambil dan di gesek kan ke pinggiran kotak korek api.
__ADS_1
Jrees
Fiuuuh
Wooosh
Korek api yang menabrak dinding, menyentuh bensin dan langsung menjadi kobaran api. Api tak lagi terbendung, berkobar dengan amarah yang tak tanggung-tanggung. Langkah kaki Sam mundur, dan berjalan menuju mobil yang sudah diputar balikan oleh anak buahnya. Satu pintu terbuka. "Silahkan tuan."
"Ayo kita pergi. Biarkan mereka terbakar tanpa sisa!" titah Sam dan masuk kedalam mobil.
"Kemana tujuan kita tuan? Langsung bandara atau balik ke rumah?" tanya pria yang membukakan pintu mobil.
"Bandara." jawab Sam.
Pria itu menutup pintu, dan memutari depan mobil. Setelah membuka pintu pengemudi, dengan tenang duduk dan menyalakan mesin mobil. Tanpa menengok ke arah gedung tua, Sam memakai kacamata dan melepaskan kumis palsunya. Senyuman penuh arti terbit menghiasi wajah Sam.
Kepergian mobil Sam, membuat sosok dibalik tumpukan bata muncul. Jelas sekali apa yang ucapan Sam masuk ke dalam telinga dan kini menyelamatkan pada penghuni gedung tua adalah tujuan utamanya. Sebelum menyelesaikan menumpas kejahatan, maka lebih baik para Sandera harus selamat dan menjadi saksi untuk menjebloskan Sam ke penjara. Meskipun rasa sesak dan hancur menggerogoti hatinya sebagai seorang putri penjahat.
"Maafkan aku pa, papa sudah melewati batas seorang manusia. Tanggung jawab Icha menunjukkan jalan yang benar, maka Icha pastikan papa akan mendekam di penjara." ucap Icha.
Langkah kaki Icha berjalan menuju bangunan dengan kobaran api yang sudah melahap seluruh bangunan, dinding terselimuti api tanpa celah sedikitpun. Sementara di sekitar bangunan tidak ada apapun untuk memadamkan api, Icha berpikir keras. Berlari kesana kemari dan mencari solusi, hingga matanya menangkap sebuah sekop dan tumpukan pasir.
Tanpa peduli dengan tubuh lemahnya, Icha menghampiri tumpukan pasir di samping gedung tua. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengangkut pasir, tapi tidak ada apapun selain sekop. Melihat kobaran api semakin besar, Icha memutuskan mengambil pasir dengan sekop. Menarik sekop yang memuat pasir cukup banyak, usahanya tak hanya sekali bahkan berkali-kali.
__ADS_1
Pandangan mata Icha semakin tak jelas, perlahan tapi pasti semua di depannya menjadi buram dan tubuh limbung terjatuh di atas pasir. Samar-samar mata Icha menangkap bayangan beberapa orang berjalan ke arahnya. Satu sosok yang Icha kenali, tangan terangkat dan menunjuk ke sosok itu. "AK…."
Pluk
Gelap sudah dan Icha tak sadarkan diri, membuat AK bergegas menghampiri dan memeluk tubuh lemah wanita yang berjuang untuk menyelamatkan semuanya. "Kalian lebih baik pergi, aku akan membawa Icha bersamaku."
"Tidak! Kita akan pergi bersama, sudah cukup permainan pria brengkes itu. Jika kita tidak tepat waktu, sudah pasti kita semua lenyap. Aku akan…."
"Stop! Tidak ada gunanya, kemungkinan besar pria itu sudah pergi dari daerah ini. Ayo kita tinggalkan tempat ini terlebih dulu, sisanya kita bicarakan di mobil. Icha pasti membawa mobil." tukas AK dan menggendong Icha.
AK berjalan menghampiri anggota yang lain dan berhenti di depan wanita sexy. "Desi antarkan Ashley, Bryant dan Mia ke jalan XXX. Jangan khawatir, disana aman dan jaga mereka untukku. Aku memaafkanmu."
"Terimakasih." Desi tersenyum lega dan AK mengangguk.
Kini anggota itu terbagi menjadi dua kelompok, dimana AK, Icha dan Ferro menggunakan mobil yang dibawa Icha. Sedangkan Desi, Ashley, Bryant dan Mia harus menggunakan mobil van hitam yang terparkir di dekat gudang. Tidak peduli siapa yang punya, Desi melakukan pencurian mobil. Lagipula, mobil itu sepertinya sudah tidak diharapkan.
"Untuk sementara kalian tidak akan bisa berbicara, obat itu bekerja selama dua puluh empat jam. Masuk! Mia sayang…."
Mia menepis tangan Desi dan berlari ke belakang Ashley. Mata Mia jelas menunjukkan ketakutan, helaan nafas Desi terdengar jelas. "Maafkan tante, sekarang masuk ya. Tante janji tidak akan melakukan hal buruk lagi."
Ashley hanya bisa menggendong Mia dan masuk ke dalam mobil, apapun yang terjadi dan semua isi hati serta pikirannya hanya bisa disimpan. Bibir bisa bergerak, tetapi suara tidak bisa terdengar. Bukankah rencana Sam sangat sempurna. Bukan hanya menyiapkan rencana kematian satu, tapi dua rencana kematian sekaligus dan itu dalam waktu singkat. Bahkan Ashley dan Bryant hanya bisa diam, ketika banyak rahasia yang harus diungkap justru bibir tak bisa berkata apapun.
Tuhan, apakah permainan tidak bisa berhenti? Lihatlah, satu permainan terlihat berakhir. Akan tetapi kenyataannya masih bergulir. Bukan hanya pencurian saksi, wajah pun memiliki banyak topeng dan tidak lagi dapat dipahami. ~batin Ashley.
__ADS_1
Tangan Bryant menggenggam tangan Ashley, saudara kembarnya itu memberikan kekuatan dengan senyuman tulus. Meskipun bibir pucat dan mata sendu. Malam ini menjadi malam tak terlupakan, seakan maut menantang untuk berlari di jembatan kehidupan. Tubuh Mia meringkuk memeluk Ashley dengan gemetar yang bisa Ashley rasakan. Hanya usapan lembut di kepala Mia dan itu sedikit mengurangi getaran tubuh Mia.
Desi yang melihat ke kursi belakang, tersenyum dan juga bersyukur. Andaikan malam ini semua menjadi korban, sudah pasti tidak ada kata ampunan untuk semua dosanya. Rasa lega Desi terpancar di mata wanita itu. Sementara Ferro menyetir mobil dan membiarkan AK mencoba membangunkan Icha yang masih tidak sadarkan diri.