
"It's ok. Aku tidak akan membunuh orang tak bersalah. Mereka keluarga ku. Persiapkan diri kalian untuk langkah selanjutnya. Aku pergi bersama gadis itu." tukas AK melanjutkan perjalanan meninggalkan si kembar sang pembawa berita baru.
Sedangkan di tempat lain, satu tangan berlumuran darah masih saja menggenggam sebuah foto dengan eratnya. Foto terakhir yang menjadi titik balik kehidupannya. Ruangan gelap dengan satu cahaya lilin menambahkan kesan suram si penghuni kamar. "Apa salahku padamu? Apakah memilikimu suatu dosa? Aku hanya ingin kamu menjadi milikku! Hanya milikku."
Foto itu tak lagi berwarna indah, dengan lumuran darah yang menempel. Foto seorang wanita pemilik senyuman manis, yang terbujur kaku setelah operasi pendonoran jantung untuk putri tunggalnya. "Ku fikir dengan mengambil jantung mu, maka kamu aman bersama ku. Tapi ternyata tidak! Penolakan mu kembali datang meski berganti raga. Apa kamu bahagia setelah melihat kutukan mu terjadi padaku?"
"Bukankah seharusnya kamu takut. Aku berulang kali menyingkirkan kekasih sibukmu itu dengan tanganku! Kenapa kamu tetap, memilih pria tak punya waktu! Dibandingkan memilih ku. Aku yang siap menjadi pemuja mu." tangan Sam semakin gemetar dengan seluruh emosi miliknya.
Hancur, kekecewaan, kesedihan, dan penolakan seorang Asma. Membutakan hati Sam, dibalik kejadian naas Tuan AK setelah sebulan peristiwa ditemukannya Asma bunuh diri. Dan kejadian kecelakaan mobil yang Ferro alami, kini hatinya semakin gelap ketika putri tunggal pemilik separuh jantung Asma melakukan pemberontakan. Hati dan akal sehatnya tak terima.
Baiklah. Sekarang siapa yang menghalangi ku untuk bersamamu! Akan ku pastikan hancur ditangan ku.~ batin Sam melepaskan genggaman tangan, meletakkan foto Asma di atas meja dan mengambil ponsel pintarnya.
Jemari tanpa luka mulai mengetik sebuah nomer, dan mendial tanpa ragu. Nada panggilan tersambung. "Kabari semua, permainan berakhir. Waktunya pertunjukan besar!"
"...."
Tuut.. Tuut…
Panggilan berakhir setelah mendengar persetujuan dari seberang, senyuman iblis Sam terbit menghiasi wajah dengan kumis lebatnya. Kini hidupnya seperti sebuah belenggu hasrat memiliki cinta, namun cintanya tak sampai pada tujuan. Berbeda dengan tuan AK, dimana pria itu sudah menyandera Icha untuk ikut pergi bersamanya meninggalkan rumah Ashley dan Bryant.
__ADS_1
"Tuan. Sekali lagi aku bertanya, kemana kita akan pergi?" tanya Icha kesekian kalinya dengan mata berair.
Hening…..
Pria atau batu! Tidak lihatkah aku siap menangis? Kenapa dingin dan kaku seperti itu? Aku juga punya hati. Setelah main tarik, sekarang aku menjadi patung pajangaj. ~ batin Icha dengan memalingkan wajahnya memandang ke luar jendela.
AK hanya melirik dan kembali fokus menyetir. Tidak ada rasa khawatir ataupun peduli di wajah AK, yang ada hanyalah datar tanpa ekspresi. Hingga mobil berhenti di sebuah gudang tua yang terpencil. AK keluar dari mobil dan memutari depan, membukakan pintu samping tempat Icha berada. "Turun! Atau kubakar bersama mobilku."
"Bakar saja!" tukas Icha tanpa berfikir panjang.
AK melepaskan tangan dari pintu mobil, berjalan mendekati bagasi. Setelah satu menit, AK nampak mengguyur mobil dengan cairan berwarna biru. Bau menyengat menyeruak masuk ke hidung Icha. Spontan Icha keluar dari mobil, matanya membulat sempurna dengan tindakan AK. "Hey apa anda gila? Apa anda tidak sayang dengan mobilnya! Sungguh tidak waras."
AK melemparkan dirijen cairan biru kedalam kursi bagian belakang mobil. Mengambil sebuah korek di dalam saku celananya.
Fiuuuh… wooassshh…
Seketika api menjalar, dan melalap mobil dengan kobaran merah jingga menyala. Kegilaan AK perlahan membuat kesadaran Icha terkuras habis, bukan hanya skot jantung yang didapat Icha. Tapi sebuah ingatan masa lalu mulai menyergap. Mengetuk memori yang telah lama tersegel. Suara dengan bariton memenuhi kepala Icha. "Papa….. "
Flasback
__ADS_1
"Nak. Malam ini papa tidak akan pulang, jadi tidurlah bersama bibi." ucap Sam dengan mengusap kepala Icha.
Wajah cemberut dengan bibir manyun menjadi jawaban ketidaksukaan sang putri. "Icha sayang. Papa harus keluar kota. Izinkan papa ya nak, Icha anak baik kan?"
Greeeb…..
Pelukan dengan rasa rindu membuncah di hati Icha, setiap kali sang papa meminta izin untuk pergi bekerja keluar kota. "Baiklah pa. Cepatlah pulang. Icha sayang papa."
Cup…
"Papa sayang Icha juga. Istirahat ya nak. Bi, tolong jaga Icha." pamit Sam dengan wajah buru-buru.
Kepergian sang papa, membuat Icha murung dan meminta bermain hingga larut malam. Malam yang disirani lelehan lilin, menjadi tragedi mengerikan. Kebakaran akibat tirai menyambar lilin di lantai, membuat Icha mengalami luka dalam. Terlebih gadis itu hampir tidak mampu bertahan hidup, bukan hanya itu saja. Bibi yang menemani Icha malam itu juga meninggal, akibat melindungi nyawa Icha.
Perlahan memori Icha membawa serpihan-serpihan ingatan yang terlupakan. Memori dimana awal tragedi yang menimpa dirinya dan memori perdebatan sang papa dengan seorang dokter pribadinya. Dokter wanita dengan pakaian santai, yang selalu memeriksa keadaan Icha selama dirawat dirumah sakit. Perdebatan terakhir yang membuat kesadaran Icha perlahan kembali.
"Aiir…" gumam Icha dengan mata berkunang-kunang.
AK membantu Icha meminum air, dan kembali merebahkan tubuh wanita itu diatas meja. Setelah memastikan Icha terbaring, AK berbalik untuk mengurus pekerjaannya. Namun ada tangan yang menahan lengannya. "Ada apa?"
__ADS_1
"Boleh aku tahu, Asma seperti apa? Jika separuh jantungku miliknya, maka jantung ini milikmu. Berikan aku jawaban, kenapa detakan jantungku terpacu bagaikan balapan liar." tukas Icha dengan nada lirih namun masih bisa AK dengar.
AK terdiam sejenak, dan melepaskan tangan Icha. Kepergian AK membuat wajah Icha sendu dan tertunduk. Namun sebuah buku muncul di depan Icha. Tangan gemetar Icha masih kuat menerima buku itu. "Bacalah! Aku masih memiliki pekerjaan."