
Triing...
sebuah notifikasi pesan masuk terdengar tapi benda pipih di tangan nya tidak ada pesan masuk, kini pandangan Leo beralih ke meja kerja nya. Yah benda pipih nya yang menerima pesan masuk dan layar nya masih menyala, tanpa mengembalikan ponsel Dito terlebih dahulu, di sambar nya ponsel di atas meja.
Nafas nya tertahan setelah melihat sebuah nomer baru, tapi ada perasaan berbeda kali ini. Biasa nya tidak ada rasa was-was yang berlebihan meskipun sang peneror memberikan clue nya tapi firasat nya mengatakan pesan yang masuk dari orang lain yang mungkin akan memberikan sebuah titik cahaya, dengan membuka pesan itu dan sesaat membaca pesan nya di dalam hati.
Triing....
Satu pesan masuk lagi tapi nomer yang berbeda lagi, percaya tidak percaya kini tanpa mempedulikan apapun di sambar nya jacket jeans denim milik nya yang tersampir di kursi dan kunci mobil di atas meja. Secepat kilat langkah kaki nya ingin segera menyelesaikan semua teka-teki yang kini sudah semakin rumit dan tersangka nya semakin tidak tentu, Dito memanggil pun tidak di dengar kan, selain langkah nya meninggalkan kantor itu secepatnya menggunakan mobil milik nya.
Mobil itu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata kali ini, dengan melewati beberapa pengendara lain dan memasuki kawasan yang sebenarnya kawasan terbengkalai. Seperti alamat yang di share location, mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan yang seperti nya gudang tua dengan kondisi yang memang tidak terawat.
Begitu keluar dari mobil dan langkah nya mendekati pintu yang tertutup rapat namun ada sedikit ventilasi akibat tembok yang berlubang, angin yang berhembus membuat hidung nya mencium aroma tidak sedap dari dalam. Tanpa sarung tangan yang membalut tangan nya, di dorong nya pintu yang tertutup rapat itu, dengan kekuatan yang cukup akhir nya pintu terbuka dan langsung menyajikan aroma busuk bangkai yang membuat perutnya merasa kan mual.
Dengan menggambil sapu tangan di saku celana nya, di buat lah masker dadakan oleh agen Leo. Dan langkah nya penuh kehati-hatian untuk menatapi satu langkah demi langkah memasuki gudang terbengkalai itu hingga langkah nya terhenti dengan sebuah pemandangan yang semakin membuat nya bergidik dan mual.
"Akhir nya aku menemukanmu, Pak ponsel saya mana? " seru seseorang yang ber jalan tanpa aturan memasuki gudang tua menyusul agen Leo.
"Astaga." ucap orang itu dan berlari keluar setelah melihat apa yang di lihat oleh agen Leo.
__ADS_1
Suara orang muntah samar-samar terdengar di luar gedung, membuat Leo memilih keluar gudang terlebih dahulu untuk memastikan keadaan bawahan nya. Dengan menggambil satu botol air minum di sodorkan nya ke bawahan nya yang masih memegangi perutnya dengan wajah pias, aroma di dalam gedung tua memang sangat lah memabukkan.
"Tunggu di sini! " perintah Leo dan kembali ber jalan memasuki gedung tua itu.
Bangkai manusia dengan keadaan mengerikan membuat jiwa nya merinding untuk sesaat, tapi tulisan darah di lantai yang sudah mengering membuat nya segera menggambil ponsel dan menggambil beberapa shot dari berbagai sisi agar tidak ada yang terlewatkan. Masih ada kayu yang tersisa dari pembakaran membuat agen Leo melepaskan sapu tangan nya dan menggambil satu kayu itu, dengan kasar tulisan di lantai itu di rusaknya dalam waktu sepuluh menit menahan mual dan pening di kepala nya.
"Telfon anggota lapangan lain nya dan lakukan visum pada korban." perintah Leo dan mengembalikan ponsel bawahan nya.
Keadaan nya sudah lebih baik meskipun masih pucat, dan percakapan singkat terjadi membuat Leo memilih berkeliling untuk melihat keadaan di sekitar gedung. Tidak ada petunjuk apapun selain mayat di dalam gedung tua dengan kondisi menggenaskan, terlebih kawasan terbengkalai itu memang menjadi sarang para penjahat jika di malam hari membuat fikiran nya masih belum menemukan titik garis yang saling berkaitan.
Triiing...
"Urus masalah mayat di dalam dan kabari aku hasil nya, aku harus pergi sekarang." ucap Leo dan memasuki mobilnya.
"Pak! Mau kemana? " seru Dito yang terlambat karena mobil itu langsung mundur dan berputar dengan laju yang cukup menengangkan.
Tak... tak... tak...
Setelah mobil itu hanya meninggalkan kepulan asap, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang Dito. Dengan sigap Dito berbalik ke arah gedung tua, dan seorang pria bertopeng kini ada di hadapan nya. Bukan nya takut tapi cukup waspada sebagai seorang polish, dirogohnya pinggang yang ternyata tidak ada senjata milik nya. Dirinya baru ingat senjata itu tertinggal di kantor atasannya, hanya bisa bersikap tenang dan juga mencoba tidak membuat kepercayaan diri pria bertopeng itu meningkat.
__ADS_1
"Apa kamu percaya dengan agen Leo? " tanya pria bertopeng dengan suara yang cukup bisa di dengar oleh Dito.
"Apa maksud mu? Dia agen terbaik, tentu kami percaya." jawab Dito dengan serius tapi ada pertanyaan yang membuat nya ragu.
"Topeng selalu menutupi identitas seseorang, lihat lah pesan di ponsel mu." ucap orang bertopeng itu.
Dengan sigap ponsel yang masih ada di tangan kiri nya di lirik, benar memang ada pesan masuk tapi itu seperti seseorang mengirimkan sebuah video. Rasa penasaran nya membuat perhatian nya teralihkan, dan dengan cepat membuka pesan itu. Bagaikan terkena pukulan telak saat video itu terputar, ada kepercayaan yang semakin menyusut hingga video berdurasi sepuluh menit lebih itu berakhir mampu membuat kepala Dito terasa berat.
"Apa maksud video ini? Apa mau mu? " tanya Dito dan menatap ke depan lagi.
"Gone? Lalu siapa yang harus ku percaya? " gumam Dito dengan lemas.
Tidak ada lagi orang bertopeng yang berdiri di depan gedung tua itu, kini suasana sepi dengan sebuah bukti di tangan nya membuat seorang polisi tingkah bawah itu hanya bisa berperang dengan segala kemungkinan yang ada. Hingga suara sirine mobil ambulance dan polisi mulai terdengar semakin mendekat, membuat wajah pucat dan bimbang itu harus tertutup dengan sandiwara kecil.
"Periksalah mayat di dalam, itu perintah agen Leo" ucap Dito setelah seorang dokter polisi menghampiri nya.
"Siap pak." jawab dokter itu dan bergegas memasuki gudang tua bersama team forensic lain nya.
Sedangkan di tempat lain kini, sebuah berkas usang sudah ada di tangan nya. Masih ada pertimbangan sebelum niat nya datang untuk membuka berkas itu, di lihat nya kembali beberapa gambar yang membuat nya mendapatkan titik terang meskipun hanya seperti satu lilin yang menyala.
__ADS_1
"Apa semua ini ada kaitan nya dengan uang yang ku terima? " gumam orang itu dengan mencengkram ponsel nya.