
Seorang dokter pria menghampiri salah satu anggota polisi. "Pasien yang menjadi tanggungjawab Komandan Sekkar, berhasil melewati masa kritis."
"Terimakasih dok. Saya akan sampaikan pada komandan. Mohon tetap pantau pasien itu dan akan kami berikan keamanan ketat pada rumah sakit Dirgantara." tutur seorang polisi yang memiliki wajah dewasa dengan jambang tipis.
Dokter mengangguk dan kembali melakukan tugas. Para polisi masih berjaga dan berharap semoga komandan Sekkar cepat menyelesaikan operasi pengangkatan peluru yang ternyata bersarang di tempat yang sangat rentan.
"Bagaimana aku masuk jika keamanan seketat itu?" gumam seseorang.
"Kalian pergilah menjaga keamanan pasien itu, dan sisanya biarkan tetap disini." tukas petugas polisi yang berbicara dengan dokter.
Polisi yang berjumlah hampir 30 orang itu terbagi menjadi dua, tanpa menyadari ada seorang pria yang mengawasi setiap pergerakan mereka.
Lima jam berlalu....
Para polisi mulai kelelahan dan kehilangan fokus. Kedatangan seorang suster pria dengan tentengan teko kopi susu panas dan gelas plastik, membuat mata lelah para polisi berbinar. "Silahkan diminum mumpung masih panas."
"Wah baik sekali."
"Nikmat ini."
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya satu anggota polisi yang menaruh curiga pada suster pria itu.
Dengan senyuman manis dan ketenangan polos, suster pria menuangkan kopi susu ke gelas plastik. Menyodorkan ke anggota polisi yang mencurigainya. "Saya hanya diminta dokter Affan. Beliau merasa bertanggungjawab atas insiden semalam."
"Ayolah bro. Ini takaran pas. Cobalah biar semangat lagi." tukas anggota polisi lain.
__ADS_1
Satu sruput diteguk dan benar memang nikmat. "Sekalian bagikan ke kamar Flamboyan 3."
"Baik Pak. Permisi." jawab suster pria dan meninggalkan para polisi, menghilang di balik lorong.
Seorang pria dengan pakaian rapi sudah menunggu suster itu di belakang rumah sakit. Pria yang pasti memiliki uang banyak dengan penampilan berada seperti pekerja kantoran. " Ini uangmu. Pergilah! Ingat ini rahasia dengan taruhan nyawamu."
"Terimakasih pak." pamit suster pria dan meninggalkan rumah sakit dengan menenteng teko kopi yang tersisa setengah.
Aku harus bersiap. Jangan sampai terlambat. ~ batin seorang pria dengan memasuki rumah sakit.
Semua terjadi seperti rencananya. Para polisi menjadi lemah tak berdaya, meskipun masih memiliki kesadaran. Tidak akan ada yang mengganggu rencananya. "Dok! Bantu para polisi. Mereka terkulai lemah tak berdaya."
Teriakan keras itu membuat beberapa suster dan dokter berlarian ke arah asal suara, dimana seorang pria tengah berusaha menyadarkan anggota polisi yang terkulai lemah.
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dan langsung memeriksa satu anggota polisi.
"Baiklah. Suster cepat bawa semua anggota polisi ke ruangan umum!" perintah seorang dokter dengan tag name Dr. Affan.
"Terimakasih sudah membantu." ucap dokter Affan beberapa menit setelah pengevaluasian para anggota polisi yang keracunan.
Itu bukan jenis racun biasa. Itu racun pelemah syaraf, dimana orang sadar tapi tidak bisa melakukan apapun. Seperti tak bertulang. "Saya permisi dok. Masih harus menemui kerabat."
"Sekali lagi terimakasih." ucap dokter Affan membiarkan pria asing itu meninggalkan lorong tempat para polisi terkapar.
Sepuluh menit kemudian....
__ADS_1
Ceklek...
Ruangan rawat dengan berbagai alat pernafasan terpasang pada tubuh seorang pasien. Mata yang terpejam dengan perban di dada, layar monitor masih menandakan kehidupan yang nyata. "Kenapa masih saja selamat?"
"Bagaimana rasanya tertembak?"
"Andai kamu mengatakan dimana kunci itu!"
"Sudahlah. Sebaiknya aku membantumu pergi dari dunia ini!"
Dengan santainya, sosok yang memasuki ruangan komandan Sekkar melepaskan satu persatu alat bantu nafas. Senyuman terkembang begitu sempurna, dengan mata menatap puas.
Tiiit... tiiit.. tiiit..
Suara layar monitor mengalami perubahan drastis, suara itu seperti alarm dan tersambung di satu aplikasi ponsel seorang dokter. Dokter yang tengah mengobati pasien keracunan.
"Selamat tinggal Tuan Sekkar terhormat." pamit sosok itu dan meninggalkan ruangan rawat komandan Sekkar dengan masker di wajahnya.
Dokter Affan yang menerima notif tak sedap, bergegas kembali ke ruangan rawat komandan Sekkar dan meninggalkan para anggota polisi lain untuk di obati dokter lain. Langkah kakinya sangat terburu-buru, seperti berpacu dengan waktu.
Braaak...
"Astaga! Bertahannlah." seru dokter Affan dan bergegas memasang kembali alat pernafasan.
Tangan dan kakinya bergerak dengan lincah, meskipun tanpa bantuan seorang suster satupun. Dokter Affan berusaha dengan keras untuk menyelamatkan komandan Sekkar. "Ayolah! Apa anda terlalu lemah? Komandan Sekkar yang ku kenal tidak selemah ini!"
__ADS_1
Perjuangan dokter Affan masih berlanjut dengan alat pengejut jantung, dimana hanya itu jalan terakhirnya. Berbeda dengan kemurkaan di wajah pria berkumis, kamar yang indah dengan nilai seni yang tinggi berubah menjadi kapal pecah. Barang antik terpecah belah, foto melayang tak tentu arah.
"Kenapa? Apa aku kurang memanjakanmu! Apa salahku, padamu!" teriak pria berkumis dengan kasar menjambak rambutnya sendiri.