
"Bangunlah.Jangan bercanda seperti ini, aku janji akan selalu bersama mu. Bangunlah." seru seseorang yang baru saja muncul dan langsung memeluk papan nisan.
"Bajing@n! Enyah kau dari sini, bodyguard singkirkan sampah itu! " teriak seorang pria yang tengah berduka menatap nyalang ke arah orang yang dengan berani nya memeluk nisan keluarga nya.
"Bangun, akan ku turuti semua keinginanmu sayang.Tapi kembali lah pada ku! Ku mohon." ucap orang itu tanpa mempedulikan teriakan orang yang sedari tadi menarik tangan nya dari nisan yang ada di pelukan nya.
Para bodyguard maju dan mencoba untuk melepaskan orang dengan penampilan acak-acakan itu dari nisan tapi kekuatan orang itu seperti tidak wajar, semakin di tarik bukan nya lepas malah semakin posesif nya pelukan itu.
Tentu saja kekuatan nya tidak wajar karena orang itu tengah di landa rasa patah hati dan masih memiliki harapan cinta nya akan mendengarkan rasa sakit dan permintaan nya, namun nisan yang di peluknya adalah bukti jika istri nya tidak akan pernah bisa bersama nya lagi.
"Hentikan pak Daniel, ayo pergi. Waktu nya sudah habis." ucap seorang pria dengan seragam polisi yang sedari tadi hanya diam menjadi penonton dan memberikan isyarat agar para bodyguard menyingkir.
Para bodyguard masih tak bergeming hingga tuan mereka memberikan isyarat untuk melepaskan pria yang enggan melepaskan nisan atas nama Sisi Hutomo, nama yang selama ini selalu menjadi debaran pak Daniel tanpa sepengetahuan siapa pun.
"Ayo pak, bekerjasama lah." ajak pak polisi dengan menepuk bahu pak Daniel dan membuat pria itu melihat nya sekilas.
Dengan berat hati Daniel melepaskan kedua tangan nya dari nisan dengan mengecup nisan itu beberapa kali dan berpamitan dengan Sisi untuk terakhir kalinya.
"Jika takdirku memang bersama mu dan Tuhan mengizinkan, aku akan menemanimu secepat nya. Aku mencintai mu istri ku Sisi Daniel Diningrat." ucap Daniel dengan tetesan air mata tulus nya dan sekali lagi mengecup nisan Sisi.
Setelah selesai melakukan keinginan nya, barulah Daniel bangkit dari posisi berantakan nya untuk bersikap kooperatif seperti janji nya, karena polisi masih memberikan kelonggaran pada nya untuk menghadiri pemakaman istri nya. Namun saat berbalik dan akan meninggalkan tempat berduka itu, satu wajah yang terlihat usia nya sama seperti dirinya sudah menahan sesuatu di dalam mata nya.
__ADS_1
"Ayu." gumam Daniel dengan perasaan yang semakin tidak menentu, di hati nya memang hanya ada cinta untuk Sisi Hutomo tapi bagaimana pun wanita di depan nya saat ini juga sudah menjadi istri nya selama beberapa tahun terakhir.
Tangan Daniel terulur untuk mengusap cairan bening di pipi wanita yang kini terlihat jelas menahan rasa sakit dan kecewa nya, tangan nya ditepis dan wanita itu memilih pergi meninggalkan tempat berduka.
"Urus itu istri mu! Pergi dari makam adikku, bajing@n." ucap sinis tuan Hutomo dan menatap punggung Daniel dengan nyalang.
"Urus juga putra mu agar tidak gila atau bunuh diri! Jangan lupa kita semua bersalah tuan Hutomo yang terhormat." jawab Daniel tanpa memandang pria yang mengusirnya.
"Apa kau bilang HAH! " seru tuan Hutomo dan hendak beranjak dari tempat nya namun tangan lembut seseorang menghentikan nya dengan memberikan usapan lembut pada punggung nya naik turun.
"Mari pak." ajak Daniel dengan menyerahkan kedua tangan nya agar kembali di borgol dan mengabaikan teriakan emosi dari arah belakang nya.
Tidak ada niat dirinya untuk melarikan diri karena tidak ada guna nya juga jika dirinya ingin bebas dari penjara, istri tercinta nya sudah meninggalkan dirinya untuk selama nya dan istri kedua nya sudah tentu akan lebih baik hidup tanpa nya setelah melihat dan mendengar sebuah kebenaran yang pasti meluluh lantakkan jiwa dan hati nya wanita itu.
"Ayo temui pengacara mu." ucap kepala polisi dengan membiarkan opsir lain membuka kan pintu sel tahanan.
Pengacara, siapa yang membawa pengacara jika bukan tuan Hutomo dan sudah pasti pria itu akan melakukan apapun demi membuat musuh nya terbakar tanpa api. Itulah pemikiran yang memenuhi otak nya, namun semua terbantahkan dengan melihat wajah yang terlihat diam dengan tatapan dalam penuh arti dari istri kedua nya.
"Waktu kalian tiga puluh menit." ucap kepala polisi dan meninggalkan tahanan bersama seorang pengacara dan istri tahanan nya.
"Apa mas tidak mau menjelaskan pada Ayu? " tanya Ayu dengan menggenggam erat pinggiran blazer putih yang menutupi pakaian berkabung nya.
__ADS_1
"Maafkan mas yu, semua terjadi begitu saja. Sisi Hutomo istri pertama mas dan kami menikah sudah lima belas tahun, dia mengizinkan mas menikahi mu setelah tahu jika kamu memiliki anak dari ku yang selama ini kamu sembunyikan. Sejak pernikahan kita sepuluh tahun lalu, mas lebih banyak bersama mu karena putra kita Esha tapi mas masih memberikan Sisi hak nya meskipun bisa di hitung jari. Tapi." ucap Daniel dengan memejamkan mata nya seakan menahan sesuatu yang berat di pundak nya.
Ayu yang merasa suami nya masih belum usai hanya diam dan bertahan menanti ucapan Daniel selanjutnya, dengan menahan rasa sakit sembilu di hati nya. Yah hanya diam agar bibir nya masih menjaga ucapan nya kepada imam keluarga nya yang selama ini selalu memberikan kehangatan dan juga perlindungan, siapa sangka di balik kesempurnaan itu ada bangkai yang di tutupi rapat.
"Tapi sejak kejadiaan dua tahun lalu yang membuat putra kita tertekan dan menjadi kehilangan akal seperti sekarang ini, sejak malam itu lah aku meninggalkan Sisi dalam kekalutan ku. Tapi baru kemarin aku meminta maaf pada nya atas sikap tidak adil ku dan menelantarkan nya sebagai seorang suami, Sisi masih mau me maafkan ku dan membantu ku untuk berbicara dengan Aland tapi pagi ini polisi melakukan pengeledahan di rumah saat aku istirahat di ruangan kedua. Hingga akhirnya polisi menemukan bukti valid jika aku lah pembunuh Sisi Hutomo, dengan begitu aku sekarang ada di tempat ini." ucap Daniel lagi dan membuka mata nya seakan beban nya sudah mereda.
"Apa artinya selama ini aku perebut suami orang? Bagaimana mas bisa bersikap sepihak, Ayu merasa pernikahan kita tidak lah sah. Tapi Ayu berterimakasih karena mas Daniel menikahi Ayu demi putra kita Esha, pengacara akan membantu kasus mas dan ini sebagai rasa terimakasih Ayu atas semua yang mas Daniel lalukan selama sepuluh tahun ini. Maaf mas, tapi Ayu akan mengajukan perceraian setelah ini." ucap Ayu dengan menahan air mata nya sekuat tenaga nya.
"Ayu pamit, jaga diri mas baik-baik. Ayu akan selalu mengabari kondisi terbaru putra kita karena hak sebagai ayah tidak akan pernah bisa di ambil dari mu." pamit Ayu dengan mendorong kursi nya ke belakang.
"Bolehkah... " cegah Daniel yang ikut berdiri saat Ayu berdiri.
Tanpa meneruskan ucapan nya, Ayu paham maksud dari suami nya itu dan dengan ikhlas menganggukkan kepala nya yang di sambut dengan sebuah pelukan erat. Pelukan yang selama sepuluh tahun ini sangat menghangatkan namun kehangatan itu di dapat dari merampas tanpa di sadari oleh Ayu, dengan hati nya yang menjadi beku dengan sayatan tajam sebuah pengkhianatan dari suami nya.
Meskipun secara garis besar nya justru dirinya lah yang merebut bukan di rebut, sungguh jika posisi nya di balik mungkin dirinya tidak akan pernah melakukan apa yang di lakukan Sisi. Meskipun tidak pernah mengenal seperti apa Sisi Hutomo, tapi penuturan suami nya sudah cukup membuat nya sadar jika wanita itu mencintai suami nya lebih besar dari dirinya.
"Jaga lah diri mu, maafkan aku tidak bisa melindungi kalian lagi." bisik Daniel dan melepaskan pelukan nya setelah rasa basah di bahu nya tidak lagi bertambah.
"Maafkan Ayu tidak bisa seikhlas Sisi." ucap Ayu dan langsung berlari meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang kembali luruh tanpa di minta.
"Mari pak Daniel, kita bicarakan kasus ini." ajak seorang pengacara yang sedari tadi diam menyimak dan membiarkan client nya menyelesaikan masalah internal nya terlebih dahulu.
__ADS_1
Dengan berat hati Daniel kembali ke tempat duduk nya dan berhadapan dengan pengacara yang diberikan Ayu untuk nya, kedua nya terlibat pembicaraan layaknya seorang pasien sedang berkonsultasi pada dokter. Sedang kan di sebuah cafe yang terlihat sangat ramai memiliki sebuah pemandangan yang cukup menarik minat para kaum hawa, seorang pria dengan pakaian casual nya tengah menyeruput kopi dengan angkuh nya.
Wajah nya dingin dengan mata yang selalu melirik jam di pergelangan tangan nya seakan tengah menunggu seseorang, hingga dari arah pintu masuk muncul orang dengan melambaikan tangan ke arah pria itu.