
Ayiswa lalu masuk kekamarnya kemudian dia melemparkan tubuhnya ketempat tidur dengan perasaan yang tak karuan sambil menggerak-gerakan kaki dan tangannya dengan posisi terentang. Dia terus mengutuki dirinya karena merasa terjebak dengan keadaan atas nazar dan janji yang dibuatnya sendiri saat masih kecil.
"Bodoh,,, bodoh,,, bodoh,,,!! Kenapa aku harus buat janji dan nazar seperti itu si? Dan kenapa harus dia yang pertama kali melihat wajahku?" gerutu Ayiswa kesal.
Sejak saat itu Ayiswa selalu menghindari Byun soo, ketika mereka berpapasan atau saat Byun soo ingin berbicara dengannya karena Ayiswa yang tak mampu mengendalikan perasaannya yang selalu baper saat didekati oleh Byun soo jadi dia memilih untuk menghindarinya.
*****
Malam itu Byun soo sudah rebahan duluan ditempat tidurnya, pikirannya terus melayang-layang ntah ada dimana? Sesekali dia terlihat senyam senyum sendiri. Ryeon yang melihat tingkah Byun soo yang tak biasa lalu melemparkan tubuhnya kearah Byun soo yang tidur terentang sambil melamun dengan senyuman terkembang dikedua sudut bibirnya.
"Aakkhh,,,! Sakit bego" hardik Byun soo yang tubuh kecilnya ditindih oleh Ryeon.
Byun soo lalu menendang Ryeon hingga dia terjatuh kelantai.
"Hyeong, jahat lo, nendang-nendang gue, jadi gue jatuhkan" kata Ryeon sambil manyun.
"Ya elo, yang mulai duluan rasain aja tuh!" kata Byun soo merasa puas.
Ryoen lalu bangun kemudian dia tiduran lagi ditempat tidur yang sama dengan Byun soo.
"Habisnya lo aneh, senyam senyum sendiran aja, hayo lo lagi mikiran apa?" tanya Ryeon.
"Ngga, gue gak senyam senyum sendiri, udah ah! Anak bayi tidak boleh tidur terlalu malam, cepetan lo tidur" Byun soo mengalihkan pembicaraan.
"Gue tahu, lo lagi mikirin Ayiswa ya, udah cepetan sikat, lo jangan PHPin dia" Ryeon godain Byun soo.
"Ngomong apa si lo, gak jelas deh"
Byun soo lalu tidur membelakangi Ryeon. Esok paginya mang Udin membawa anak-anak panti untuk lari pagi disekitar area komplek Ryeon dan Byun soo juga ikut bersama mereka. Saat merasa lelah mereka beristirahat sejenak sambil duduk dipinggir trotoar jalan. Byun soo dan Ryeon lalu duduk disamping mang Udin.
"Mang, aku boleh nanya gak" tanya Byun soo tiba-tiba.
"Ya kalau mau nanya, nanya aja" kata mang Udin sambil minum air mineral.
"Mang, aku sering dengar Ayiswa membaca sebuah buku dan suaranya terdengar seperti sedang bernyanyi itu membuat hatiku tenang sebenarnya dia lagi baca buku apaan sih? Aku juga suka dengerin musik tapi gak pernah bikin hatiku sedamai dan setenang ini"
__ADS_1
Mang Udin lalu berpikir sejenak karena mengingat selama ini Ayiswa tidak suka bernyanyi, lalu buku apa yang dimaksud oleh Byun soo? Tiba-tiba ia teringat kalau Ayiswa suka membaca Al Quran, dia selalu membacanya dimana pun dia berada kalau punya waktu luang.
"Ah! Mungkin buku yang kamu maksud itu Al Quran, itu kitab suci agama islam" jawab mang Udin.
Karena Byun soo penasaran dengan tuhan yang amat dicintai oleh Ayiswa kemudian dia menanyakan seperti apa sih tuhannya Ayiswa? Hingga Ayiswa hanya menyisakan sedikit ruang dihatinya untuk seorang pria yang kelak akan menjadi teman hidupnya, mang Udin lalu tersenyum pada pria cantik yang sedang duduk disampinya itu sambil bertanya.
"Apakah kamu benar-benar ingin mengenal tuhannya Ayiswa?"
Byun soo lalu mengangguk dengan tatapan serius pertanda dia mengiyakan pertanyaan mang Udin. Kemudian mang Udin mengucap puji syukur karena berawal dari rasa penasaran akan tuhannya Ayiswa, berharap Byun soo akan mendalami islam untuk menjemput hidayahnya supaya dia bisa menjadi seorang mualaf.
Kemudian mang Udin menerangkan sedikit tentang Allah, tuhannya Ayiswa dengan membacakan surat al iklas ayat 1 sampai 4 beserta artinya.
"katakanlah (Muhamad),Dialah Allah, yang maha esa Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakan dan tidak ada sesuatu yang setara dengannya"
Setelah itu mang Udin berjanji pada Byun soo akan memberikan kitab suci Al Quran yang sudah ada terjemahannya supaya Byun soo membaca isinya dan memahami setiap ayat yang terdapat dalam Al Quran agar dia bisa mengenal lebih jauh tentang Allah dan agamanya yang benar dan lurus.
"Satu lagi pertanyaan aku, ko Ayiswa betah si pake cadar padahal menurut aku itu kelihatan ribet dan bikin gerah jadi apa alasan dia tetap mau menggunakan cadarnya?" tanya Byun soo lagi setelah mang Udin selesai menjelaskan.
Sebelum mang Udin menjawab pertanyaan Byun soo dia menjelaskan terlebih dahulu tentang aturan berpakain seorang wanita muslim dan batas auratnya, yang terdapat di hadist riwayat Abu daud nomor 3580 tentang batas aurat muka dan telapak tangan,tentang batasan menggunakan khimar (kerudung) yang harus dijulurkan hingga menutupi dada itu penjelasannya terdapat dalam surat An nur ayat 31,dan tentang orang Arab menyebutnya jilbab (baju kurung) kalau orang Indonesia menyebutnya baju gamis batasannya harus dijulurkan keseluruh tubuh hingga mendekati tanah penjelasannya terdapat dalam surat Al Ahzab ayat 59.
"Cadar itu hukumnya sunah, wanita muslim boleh menggunakannya boleh juga tidak tapi alangakah lebih baik dia menggunakannya karena itu juga bisa menjadi pelindung baginya" ucap mang Udin menghentikan sejenak kalimatnya.
Ayiswa kecil yang begitu mengagumi kakak iparnya Alif jadi ingin mendapatkan jodoh yang sama persis seperti kakakanya Zarra. Karena saat itu dia masih kecil dan polos, dia berpikir kalau mau mendapatkan jodoh seperti kakaknya harus menggunakan cadar.
"Lalu Ayiswa kecil membuat janji dan nazar bahwa dia akan menggunakan cadar agar laki-laki pertama yang melihat wajahnya itu kelak dialah yang akan menjadi calon suaminya dan janji serta nazarnya itu terus dia pegang sampai sekarang" ucap mang Udin.
Seketika Byun soo langsung menyernyitkan kedua alisnya sambil berkata "Mamang yakin sampai detik ini belum ada satu pria pun yang pernah melihat wajahnya Ayiswa?"
"Yakinlah karena dia selalu menjaganya dengan baik bahkan mamang sendiri yang udah puluhan tahun tinggal bersamanya gak tahu wajah Ayiswa sekarang seperti apa" jawab mang Udin meyakinkan Byun soo.
"Apakah aku ini pria pertama yang melihat wajahnya Ayiswa? Kalau benar pantasan aja Ayiswa sangat marah padaku saat insiden terlepasnya cadar Ayiswa itu" batin Byun soo sambil berpikir.
Ryeon yang melihat Byun soo mendadak terdiam dan melamun lalu membuyarkan lamunan Byun soo dengan berkata.
"Tuh! Denger gak apa yang dikatakan mang Udin? Lo jangan membebani Ayiswa karena merasa gagal mempertahankan cadarnya jadi lo harus bertanggung jawab sama Ayiswa"
__ADS_1
"Tanggung jawab apaan? Gue gak ngelakuin apa-apa sama dia" Byun soo jadi nyolot karena merasa tidak bersalah.
"Ya udahlah, kamu gak usah bertanggung jawab pada Ayiswa lagian dia juga pasti gak mau nikah sama kamu karena kalian beda agama kecuali kalau kamu mau memeluk islam" kata mang Udin.
"Kalian ini kenapa si? Ko seolah-olah aku udah ngelakuin kesalahan besar sama Ayiswa jadi aku harus tanggung jawab sama dia padahalkan aku gak sengaja lihat wajahnya dia" gerutu Byun soo merasa dipojokkan.
"Ya bukannya gitu hyeong, maksud gue kasihan sama si Ayiswa, dia udah susah payah menjaga cadarnya tapi lo yang pertama kali lihat wajahnya, pasti Ayiswa sangat kecewa dengan semua itu"
"Gak tahu ah! Mending gue pulang aja" kata Byun soo berdiri lalu dia kembali pulang kepanti sendirian karena tak mau membahas soal itu lagi.
"Aku nanya soal Ayiswa kenapa ujung-ujungnya malah bahas soal pernikahan si" batin Byun soo.
Sesampainya dipanti dia mau masuk kedalam kamarnya tapi saat diruang tamu dia berpapasan dengan Ayiswa yang terus menundukan pandangannya dan tidak menyapa Byun soo saat mereka berpapasan.Tiba-tiba Byun soo menarik lengannya hingga Ayiswa beringsut mundur, Ayiswa yang kaget mendadak jantungnya berdetak lebih kencang.
Sebenarnya dia masih tak berani berbicara dengan Byun soo karena bingung dan takut dia mengetahui soal janji dan nazarnya itu. Ayiswa hanya bisa terdiam sambil terus menunduk saat Byun soo mulai bicara padanya dengan masih memegangi lengan Ayiswa, meski sebenarnya lutut Ayiswa bergetar hebat karena grogi dan canggung.
"Ayiswa, kenapa kamu selalu menghindariku?" tanya Byun soo sambil menatap gadis bercadar yang lebih pendek darinya.
Ayiswa tak menjawab dia masih terus terdiam kaku sambil berusaha menenangkan rasa grogi, malu dan canggungnya terhadap Byun soo.
"Apakah yang dikatakan semua orang itu benar, kalau kamu sangat kecewa karena pria pertama yang melihat wajahmu itu adalah aku?" tanya Byun soo lagi.
"Kenapa tiba-tiba dia bertanya seperti itu si? Apa dia udah tahu tentang janji dan nazarku?" batin Ayiswa.
"Apa karena janji dan nazarmu saat kamu masih kecil jadi kamu sangat kecewa,malu dan tak mau bicara denganku?"
Ayiswa kaget saat Byun soo sudah mengetahui janji dan nazarnya lalu dia mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Byun soo yang lebih tinggi darinya dengan posisi wajah cukup dekat dengannya. Ayiswa lalu mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan Byun soo sambil melepaskan tangan Byun soo yang memegangi lengannya.
"Kenapa aku harus kecewa dan malu padamu? Bukankan kamu ini seorang transgender yang tadinya perempuan pengen jadi laki-laki makannya kamu kelihatan cantik, dan bukanya kamu ini dan bang Ryeon itu seorang gay yang saling mencintai jadi aku tidak perlu memikirkan janji dan nazarku" kata Ayiswa agak nyolot untuk menyembunyikan rasa gugup dan canggungnya terhadap Byun soo.
Seketika Byun soo jadi melongo mendengar ucapan Ayiswa.
"Bisa-bisanya kamu ngatain aku transgender dan gay Uuhh,,,!! Aku jadi pengen ngebuktiin langsung sama kamu kalau aku ini benar-benar seorang pria tulen yang normal yang juga punya rasa ketertarikan pada seorang perempuan" kata Byun soo tanpa menyaring kalimatnya dan tanpa ada rasa malu sedikit pun sambil menghela nafas pendek.
Ayiswa langsung bergidik, melengos pergi meninggalkan Byun soo sambil menggerutu.
__ADS_1
"Aku gak ngerti deh, dia itu manusia jenis apaan sih? Ko gak punya rasa malu sedikit pun? Lama-lama aku bisa setres kalau terus dekat dan dengerin omonganya itu" batin Ayiswa.
Bersambung