
Setelah sekian lama Rayyan meninggalkan negara kelahirannya itu, kini kedua kakinya menginjakan lagi dibumi kelahirannya. Udara yang terasa saat itu amat dingin hingga menusuk ketulang rusuk mereka. Disekitar bandara incheon terlihat banyak butir putih yang terhampar dimana-mana.
Rupanya dikota itu sedang musim salju dan hamparan butir putih itu bekas turun salju tadi malam. Ayiswa yang sudah terbiasa dengan musim tropis kini harus beradaptasi dengan musim dingin dikota itu. Meski ini bukan pertama kalinya Ayiswa merasakan musim salju karena dulu dia juga pernah ke Korea diwaktu musim salju ketika ada orang yang menculiknya dan membawanya ke Korea, jadi dia tak terlalu kesulitan untuk beradaptasi.
Kediaman keluarga Park Jun Gyu
Setelah sampai dibandara internasional incheon, Rayyan segera mencari taxi karena akan pergi kerumah kedua orang tuanya. Sesampainya dirumah orang tua Rayyan. Ayiswa dibawa kedepan sebuah bangunan bak seperti istana, bangunan itu begitu luas,megah dan kokoh. Ayiswa tercengang melihat semua itu.
Kalau dibandingkan dengan ukuran panti asuhan yang selama ini ditinggalinya, mungkin luas bangunan ini bisa membuat beberapa panti. Saat Rayyan mengajaknya masuk kepelataran rumah megah itu Ayiswa hanya terdiam mematung ditempatnya.
"Kamu kenapa diam aja, ayo kita masuk" ajak Rayyan yang baru menyadari kalau istrinya itu hanya diam mematung ditempatnya.
"Ini rumah? Hotel atau apa?" tanya Ayiswa.
"Ini rumah orang tuaku" jawab Rayyan singkat.
Mendadak kedua kelopak mata indah Ayiswa mulai berkaca-kaca, ingin rasanya dia menjebol pertahanan bendungan air matanya karena terharu dan amat bersyukur sebab dia memiliki suami yang amat mencintainya, hingga begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan suaminya untuk bisa mendapatkannya.
Bahkan dia rela hidup susah hanya untuk memperjuangkan cintanya itu padahal dia tak perlu hidup susah kalau dia mau melepaskan cintanya tapi tidak dengan Rayyan cintanya pada Ayiswa terlalu tulus dan kuat hingga dia rela mengorbankan semuanya untuk gadis biasa yang tak punya apa-apa seperti Ayiswa.
"Ayiswa, Apa kamu menangis? Kenapa matamu berkaca-kaca?" tanya Rayyan
"Eh! Ngga bang, aku cuma kelilipan aja" alibi Ayiswa yang tak ingin Rayyan tahu kenapa dia ingin menangis.
"Apa perlu aku tiupin biar nggak pedih matamu?"
"Tidak perlu bang, sekarang aku baik-baik aja ko"
"Ya udah, kalau begitu ayo kita masuk kedalam" ajak Rayyan.
Mereka lalu melangkahkan kembali kakinya menuju kedalam rumah. Tapi mendadak rasa gugup dan tegang merayapi batin Ayiswa. Ini adalah pertama kalinya Ayiswa akan bertemu dengan Ibu dan Ayah mertuanya. Ayiswa sangat takut mereka tidak akan bisa menerima Ayiswa apa lagi mereka berbeda keyakinan.
Berkali-kali Ayiswa membuang nafasnya dengan kasar untuk meredakan rasa tegang dan gugup yang kini tengah melanda dirinya.Hingga sampailah didepan pintu, dia menghentikan langkahnya dan menatap ragu pada pintu itu. Ayiswa lalu membelakangi pintu dan mengatur nafasnya dalam-dalam, dia terus berusaha meredam ketegangan dan kegugupan yang kini masih melanda dirinya.
Hingga Rayyan yang tak menyadari kalau Ayiswa menghentikan langkahnya, dia masuk kedalam rumah sendirian dan langsung mencari penghuni rumah tersebut.
"Ayah! Ibu! Aku pulang! Kalian dimana?" teriak Rayyan sambil terus mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicari.
Saat memasuki ruang keluarga dia melihat Ayah, ibu, Hyun bin, Ayri dan Junno sedang berkumpul sambil duduk disofa dan menonton televisi. Melihat keluarganya yang sudah lama dia tinggalkan Rayyan lalu melepas tas dan koper yang dibawanya kemudian dengan lirih dia memanggil orang yang amat dirindukannya.
"Ibu, Ayah!!"
__ADS_1
Mereka lalu melirik kesumber suara itu dan betapa kagetnya mereka saat mengetahui siapa yang tadi memanggilnya dengan amat lirih.
"Byun soo!!" gumam serempak Jung eun dan Jun Gyu dengan amat terharu karena putra bungsu mereka kini telah kembali.
Rayyan lalu menghampiri mereka dia langsung bersujud dan meminta maaf sambil meneteskan butir bening.
"Ibu, Ayah, aku minta maaf karena sudah meninggalkan kalian, maaf kan aku yang sudah membuat Ibu dan Ayah terluka, aku minta maaf bu, yah" ucap Rayyan sambil terisak-isak.
"Tidak nak, yang seharusnya minta maaf itu ibu bukan kamu, maaf kan ibu karena sudah mengusirmu" ucap Jung eung yang juga menangis sambil memeluk putra bungsunya itu.
Seketika suasan ditempat itu menjadi amat terharu hingga berderailah butir bening dari kelopak mata mereka. Mereka lalu melepas rindu dan saling minta maaf atas semua yang terjadi dimasa lalu.
"Byun soo, maafin ayah juga ya karena tak mencegahmu untuk pergi" ucap Jun Gyu.
"Iya, Ayah, Ibu aku pun sudah memaafkan kalian, sekarang aku ingin hubungan kita kembali lagi seperti dulu karena aku sangat merindukan dan menyayangi kalian" ujar Rayyan.
"Iya,Byun soo,Ibu dan Ayah juga sangat merindukanmu. Ibu mohon kamu jangan pergi lagi, tinggallah disini bersama kami karena apa pun keputusanmu kami akan menerimanya" pinta sang ibu.
"Iya bu, aku tidak akan pergi lagi, aku akan tinggal disini bersama kalian"
"Paman, aku merindukanmu, aku ingin bermaim lagi bersamamu" ucap Junno tiba-tiba sambil mendekati Rayyan.
Rayyan lalu memeluk keponakannya itu dengan penuh kasih sayang.
Saat Rayyan, Junno dan kedua orang tuanya masih saling melepas rindu tiba-tiba Hyun bin menimpali pembicaraan mereka.
"Byun soo, Kenapa kami sendirian aja, Baby Zayn kemana?" tanya Hyun bin.
Sontak semua pandangan orang-orang yang ada disana tertuju pada Rayyan. Dia lalu menjelaskan semua yang terjadi pada hidupnya kalau selama ini dia difitnah dan Baby Zayn itu bukan anak kandungnya jadi sekarang setelah semua terungkap Baby Zayn diambil kembali oleh ayah kandungnya.
"Jadi itulah yang terjadi. Setelah aku melewati semua ini dan sekarang aku,,," Rayyan sengaja menggantung kalimatnya dan tak lama dia melanjutkan kalimatnya sambil megangin tangan ibu dan ayahnya.
"Ayah, ibu, aku sudah menikah. Maafkan aku tidak mengundang kalian karena setelah semua terungkap aku segera melamar gadis yang kusuka dan menikahinya sebab aku takut akan gagal lagi menikah dengannya"
"Oh, ya sudah, tidak apa-apa. Lalu sekarang istrimu mana?" tanya Jung eung.
"Ay,,,,,!! Dia kemana? Tadi ada dibelakangku" kata Rayyan tak melanjutkan menyebut nama Ayiswa saat sosok yang dicaranya tak ada dibelakangnya.
"Ayah, ibu, tunggu sebentar ya, aku akan cari dia tadi dia ada dibelakangku,mengikutiku tapi sekarang dia menghilang kemana ya?" kata Rayyan lalu dia beranjak bangun dari jongkoknya kemudian dia mencari Ayiswa.
******
__ADS_1
Diluar rumah, Ayiswa masih berdiri mematung sambil membelakangi pintu,kegugupan masih tergambar jelas diwajahnya hingga ada sebuah tangan yang menepuk bahunya, sontak Ayiswa menjadi kaget.
"Ayiswa, aku cariin kamu, kenapa kamu masih ada disini? Kenapa ngga masuk kedalam?" tanya Rayyan.
"Aku malu, aku gugup dan aku takut orang tuamu tidak bisa menerimaku" jawab Ayiswa sambil menunduk.
"Kamu tidak usah khawatir mereka orangnya ramah dan hangat ko, ayo kita masuk kedalam. Sebelumnya kamu ucap basmallah biar dirimu lebih tenang" ajak Rayyan sambil memegangi kedua bahu Ayiswa dan membawanya masuk.
Ayiswa lalu melirik suaminya dengan ragu kemudian dia mengucap basmallah dalam lirihnya.
"Bismillaahirrahmaanirrahhiiim"
Sesampainya didalam semua mata memandang Ayiswa dengan tatapan datar. Sesuai yang sudah diajarkan oleh suaminya tentang adab menghormati kedua orang tua menurut kebiasaan orang korea. Ayiswa melakukannya dengan membungkukkan setengah badannya dengan sempurna. Dan untungnya dulu dia pernah diajarkan bahasa korea oleh suaminya jadi ucapan keluarga Rayyan yang bicara menggunakan bahasa korea bisa dipahami oleh Ayiswa.
(Ceritanya mereka ngobrol dalam bahasa korea tapi ini sudah diterjemahkan, Authornya malas ngomong pake bahasa korea😅)
"Bu, Ayah, kakak, inilah istriku namanya Ayiswa Nahla" ucap Rayyan memperkenalkan Ayiswa.
Ayiswa lalu membungkukkan badannya lagi pada keluarga Rayyan sebagai penghormatannya. Jung Eun lalu menatap menantunya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki semuanya tertutup dengan kain berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya hingga tak terlihat sedikit pun lekuk tubuhnya karena dia sengaja memakai pakaian longgar.
"Bagaimana caranya ibu bisa menerima dia sebagai menantu ibu, kalau ibu sendiri tidak tahu seperti apa wajahnya" kata Jung Eun dengan wajah tak bersahabat membuat Ayiswa makin menciut.
Seketika suasana tegang menyeruak diruangan yang cukup luas itu. Sikap Jung Eun yang belum bersahabat dengan Ayiswa seolah Ayiswa akan ditolak dalam keluarga ini. Rayyan yang melihat kegelisahan diwajah Ayiswa lalu berusaha untuk menguatkannya dan menenangkannya dengan mengelus lembut kedua bahu Ayiswa seraya tersenyum memberi semangat pada Ayiswa.
"Aku tahu, mungkin aku tidak akan diterima dalam keluarga ini karena akulah penyebab retaknya hubungan keluarga ini" batin Ayiswa sedih.
"Lalu bagaimana caranya supaya aku bisa diterima dalam keluarga ini?" tanya Ayiswa tak berani menatap wajah mertuanya itu.
"Buka cadarmu, Kami ingin melihat wajahmu" jawab tegas Jun Gyu.
"Ayiswa, kalau kamu ragu jangan pernah buka cadarmu, aku akan selalu mendukungmu atas semua keputusanmu" bisik Rayyan pada Ayiswa.
Ayiswa lalu menatap wajah suaminya lalu dia juga menatap satu persatu wajah keluarga Rayyan yang nampak penasaran dengan wajah Ayiswa yang tersembunyi dibalik cadar.Kemudian dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya hendak membuka tali cadarnya tapi Rayyan menarik tangan Ayiswa.
"Kalau kamu ragu jangan lakukan ini" ucap Rayyan melarang istrinya membuka cadar didepan keluarganya.
"Tidak apa-apa bang, Aku tidak ragu membuka cadarku dihadapan keluargamu. Merekakan orang tuamu dan kakakmu jadi otomatis mereka juga orang tuaku dan juga kakakku. Rasanya aneh kalau Ibu dan Ayah mertuaku beserta kakak iparku tidak mengetahui wajahku"
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Rayyan.
Ayiswa lalu mengangguk dengan penuh keyakinan. Setelah itu dia menunduk sambil membuka cadarnya dihadapan keluarga Rayyan. Seketika tabir kecantikan Ayiswa yang tersembunyi dibalik cadar terbuka juga.
__ADS_1
Next,,,