PRIA CANTIK ITU JODOHKU (Versi Baru)

PRIA CANTIK ITU JODOHKU (Versi Baru)
Nemenin kuntilanak


__ADS_3

Rayyan tak mau Ayiswa digodain lagi sama Yusuf makannya dia pun kembali lagi ketempat tadi, tapi kali ini dia tak berani mendekati Ayiswa karena Ayiswa malah menyuruhnya untuk pulang. Kemudian dia hanya bisa memperhatikannya dihalaman rumah orang yang ada disebrang jalan yang berhadapan dengan tempat pembangunan masjid itu, sambil bersembunyi dibalik pohon besar yang ada dihalaman rumah orang.



Yusuf dan Ayiswa terlihat sedang ngobrol sambil bercanda. Itu bisa terlihat jelas diraut wajah Yusuf yang penuh kebahagian. Hal itu makin membuat Rayyan jadi kebakaran jenggot, saking gondoknya melihat keakraban mereka Rayyan lalu menedang beberapa pot bunga milik orang hingga terguling dan pecah,tak cukup sampai disitu tangannya tanpa ia sadari terus meremas, mencabut, memotong dan menghancurkan bunga serta tanaman lain milik orang dengan tatapan tajam yang terus mengawasi Yusuf dan Ayiswa.


Hingga disuatu ketika Rayyan melihat Ayiswa dan Yusuf saling menatap cukup lama, hatinya yang cemburu makin membuatnya tak terkendali namun dia tak mampu kembali pada Ayiswa karena gadis itu sudah menyuruhnya untuk pulang dan tidak mengganggu dia, seperti singa yang dijinakan oleh sang pawang, seperti itulah kata-kata Ayiswa yang membuat Rayyan tak bisa berkutik. hingga akhirnya Rayyan jadi uring-uringan tidak jelas.


Dia lalu membuka helmnya dan melemparkannya kejalan. Lalu Rayyan duduk dipojok taman itu sambil metikin bunga yang ada dihadapannya. tapi matanya tak bisa berhenti mengawasi Ayiswa dan Yusuf. Hingga pemilik rumah keluar dari dalam rumahnya dan melihat taman bunganya hancur tak bersisa,tentu saja itu membuatnya geram.


Siapa dibalik kerusakan taman bunganya ini?. Pemilik rumah lalu mengedarkan pandangannya ini berharap bisa menemukan jejak siperusak taman bunganya ini. Saat pandangannya tertuju pada sosok pria yang tengah duduk dipojok taman sambil metikin bunganya, pemilik rumah itu lalu menghampiri Rayyan dari belakang.


"Oh! Jadi dia biang keroknya" gerutu kesal wanita setengah baya itu.


Dia lalu menjewer telinga Rayyan dari belakang sontak Rayyan mengaduh kesakitan.


"Aaaaawwww,,,sakit tau" ringis Rayyan pada wanita itu.


"Dasar! Kurang ajar ya kamu, minta dijewer ya,kamu, beraninya ngerusak taman bunga saya" geram kesal wanita itu


"A-ampun, saya tidak merusak taman bunga ibu ko" kata Rayyan mengelak sambil berdiri dan terus megangi telinganya minta dilepaskan oleh wanita itu.


"Udah ketangkap basah masih mengelak kamu ya, kamu pikir saya buta. Saya lihat tadi kamu metikin bunga saya" bentak wanita itu tak mau melepaskan telinga Rayyan yang dijewer hingga terlihat memerah karena kulitnya yang putih.


"Wah! Kalau gini terus bisa-bisa telingaku copot dijewer terus, aku harus kabur ini" batin Rayyan


Lalu dia mencari cara untuk melepaskan diri dari wanita itu dengan terus berontak. Saat dia berhasil lepas Rayyan segera mengambil langkah seribu. Tak ingin perusak taman bunganya kabur begitu aja, wanita itu segera mengejarnya sambil melempari Rayyan dengan benda yang dipungutnya dari jalan. Rayyan terus berlari melewati orang-orang yang sedang melakukan kerja bakti.Suara teriakan siwanita itu mengalihkan perhatian orang-orang yang sedang kerja bakti.


"Ada apa sih? Ko ibu itu lari sambil teriak-teriak gitu?" tanya Ayiswa pada Yusuf karena dia tidak melihat siapa yang dikejar oleh wanita itu dan dia juga tidak tahu kenapa wanita itu mengejar seseorang itu.


"Aku juga tidak tahu. Ah! Udahlah jangan urusin mereka" jawab Yusuf


Mereka melanjutkan kembali pekerjaannya. Sementara Rayyan terus berlari karena wanita itu tak mau berhenti mengejarnya.


"Ih! Tuh! Ibu-ibu kaga ada menyerahnya masih aja ngejar aku. Aku harus sembunyi nih!" gumam Rayyan sambil sesekali melirik kebelakang.


Ketika wanita itu sudah agak jauh tertinggal dari Rayyan kemudian dia memutuskan untuk naik keatas pohon saja seraya berharap wanita itu tak melihat dan tak mengejarnya lagi. layaknya seperti spider man, Rayyan tiba-tiba saja seperti punya kekuatan laba-laba yang memanjat pohon dengan cepat padahal aslinya dia kurang pandai manjat pohon. Saat wanita itu lewat Rayyan lalu menyembunyikan wajahnya dibalik pohon berharap wanita itu tak melihatnya.


"Akhirnya lewat juga tuh! Orang, kayanya udah aman nih! Saatnya turun" gumam Rayyan senang


Tapi tiba-tiba senyum yang tadi mengembang disudut bibirnya kini berubah mengkerut.


"Aku turunnya giman ini? Aku kan bisa naik tapi gak bisa turun?" gumam Rayyan sambil mengerutkan dahinya.


Dia lalu menatap kebawah, seketika dia langsung bergidik ngeri karena ketinggiannya.


"Serius, Gimana caranya aku bisa turun nih?"


Rayyan mulai panik dan gelisah.Karena tak ada cara lain selain nungguin orang lewat akhirnya dia menunggu seseorang yang akan membantunya turun dari pohon itu.


*****

__ADS_1


Malam hari kemudian.Pak Marwa sedang duduk diteras rumah sambil terus berharap-harap cemas, tiba-tiba Ryeon datang dan duduk dikursi sebelah Pak Marwa.


"Pak lagi ngapain diluar terus? Ini kan udah malam" tanya Ryeon


"Bapak lagi cemas sama Rayyan, Ko dia belum pulang juga ya? Dari dia mengantar buah itu sampai sekarang masih juga belum pulang, Kira-kira dia kemana ya?" kata Pak Marwa dengan raut wajah yang amat khawatir pada Rayyan.


"Emang, hyung belum pulang juga ya pak?"


"Belum, makannya bapak khawatir sama dia"


"Ya udah, aku telepon dia dulu ya" kata Ryeon seraya mengeluarkan handphone dari saku celananya.


"Dia pasti ngga akan angkat teleponnya, kan handphonenya ketinggalan ditoko" kata Pak Marwa


Ryeon lalu menepuk jidatnya, dia lupa kalau handphone Rayyan ketinggalan ditoko jadi dia tetap tak akan bisa menghubunginya. Akhirnya mereka hanya bisa menunggu sambil ngobrol diteras rumah karena Baby Zayn juga sudah tidur dikamarnya.Ditengah pembicaraan mereka tiba-tiba Ryeon yang penasaran dengan asal usul Pak Marwa lalu menanyakan prihal keluarganya, tempat tinggalnya dulu dan bagai mana bisa dia menjadi bapak angkatnya Rayyan. Pak Marwa lalu mulai bercerita.


Flashback On


Pak Marwa tinggal disebuah rumah kecil hasil kerja kerasnya saat sang istri masih hidup. Dirumah kecil itu dia tinggal bersama anak laki-lakinya, menantu dan cucu. Kehidupan mereka terbilang amat susah bahkan saking susahnya mereka kadang cuma makan sehari dalam sekali itu pun kalau ada tetangga atau tukang warung yang berbaik hati memberi hutang atau meminjamkannya uang.


Karena penghasilannya yang amat minim cuma bisa untuk bayar hutang yang kemarin-kemarin dan jika hari ini ingin makan maka mereka harus berhutang lagi.Seperti itulah gambaran kehidupan Pak Marwa dan keluarganya itu. Disuatu hari, anak Pak Marwa memberi kabar gembira, kalau dirinya telah diterima kerja diluar kota sebagai mandor penambangan emas.


Sebagi rasa syukur karena anaknya mendapat pekerjaan. Pak Marwa, menantu dan cucunya itu diajak pergi makan dilestoran yang terbilang mahal oleh anaknya.Dia bilang bosnya sudah memberi dia uang jadi tidak apa-apa kalau sekali-kali mereka makan enak sekalian untuk mengadakan syukuran karena sudah diterima kerja.


Kabar ini amat membuat Pak Marwa senang dia bahkan memakai baju terbagusnya hanya untuk pergi kelestoran itu. Dilestoran mereka makan dengan sepuasnya sambil terus bercengkrama penuh canda dan tawa. Hingga disuatu saat, sang menantu minta izin pergi ketoilet bersama anaknya itu.Karena begitu lama tak keluar-luar dari toilet, anaknya pun minta izin untuk mencari mereka.


"Pak, istri dan anakku ko belum kembali juga ya, aku jadi khawatir. Aku mau mencari mereka ketoilet dulu ya pak, bapak tunggu disini, aku tidak akan lama ko" ucap sang anak



"Pak, maaf, lestoran kami akan segera tutup.Apa bapak akan tetap disini?" tanya pelayan lestoran itu


"Bolehkah saya menunggu sebentar lagi, anak, menantu dan cucu saya belum kembali dari toilet, tadi mereka izinnya mau ketoilet sebentar" ujar Pak Marwa.


"Tapi bapak sudah lama duduk disini sendirian dan nyatanya tak ada orang yang datang lagi kesini" kata pelayan toko itu


"Tidak mungkin anak saya meninggalkan saya sendiri disini, mereka pasti kembali. jadi tolonglah beri saya waktu untuk menunggu mereka kembali sebentar lagi saja" Pak Marwa memelas.


"Percayalah mereka tidak akan kembali, ini sudah terlalu larut malam dan kami harus segera menutup lestorannya, kalau bapak masih mau menunggu, tunggulah diluar lestoran ini, karena kami akan segera menutup lestoran ini"


Akhirnya dengan terpaksa Pak Marwa keluar juga dari lestoran itu. Dia terus menunggu mereka didepan emperan lestoran berharap mereka akan menjemputnya, sampai-sampai dia hampir ketiduran diemperan lestoran itu tapi mereka masih tak kunjung menjempunya juga. Pak Marwa jadi teringat kembali akan ucapan pelayan lestoran itu, kalau dia telah ditinggalkan oleh anak, menantu dan cucunya dengan sengaja.


Wajah rentanya lalu menunduk sedih karena ternyata anak dan menantunya akan tega membuang dia ditempat yang amat asing baginya itu.Dengan tubuhnya yang sudah tak muda lagi, Pak Marwa lalu melangkahkan kakinya dengan gontai. niatnya akan kembali pulang kerumah meski dia tidak tahu jalan pulang tapi dia masih ingat alamat rumahnya jadi dia bisa bertanya pada orang-orang, jalan mana yang menuju alamat rumahnya itu.


Karena tak mempunyai uang untuk naik kendaran dia lalu berjalan kaki hingga pagi hari mulai menyambut penghuni bumi. Sesampainya dirumah,kenyataan pahit pun harus dia terima kembali. Rupanya rumah itu telah dijual oleh anaknya. Kini Pak Marwa sudah tak punya tempat tinggal lagi, dia juga tidak punya uang sepeser pun. hingga akhirnya dia memulung untuk menafkahi dirinya sendiri.


Fleshback Off


"Begitulah kisah hidup bapak, hingga akhirnya Allah mempertemukan bapak dengan seseorang yang berhati bagaikan malaikat, dia memberi bapak tempat tinggal, makan, minum bahkan dia juga membiayai operasi bapak padahal biayanya tidak sedikit, dia itu menyayangi bapak seperti orang tua kandungnya sendiri. Makannya bapak juga sangat sayang sama dia, dan bapak selalu mendoakannya agar kemalangan dan kesialan dalam hidupnya segera berakhir. Sudah cukup baginya terus memikirkan orang lain kini saatnya dia untuk bahagia" tutur Pak Marwa


"Maksud bapak orang itu adalah hyung?" tanya Ryeon

__ADS_1


Pak Marwa lalu menatap Rayyan sambil mengangguk.


*****


Cahaya mentari pagi kini mulai terbit diupuk timur, cahaya terangnya menerobas disela-sela dedaunan yang rindang dan akan menyilaukan setiap orang yang terpapar oleh cahaya kilaunya. begitu pula dengan Rayyan yang dari kemarin sore hingga pagi ini masih nangkring diatas pohon. Dia mengucek-ngucek matanya lalu melihat kesekitar.


"Astagfirullahaladzim, aku kesiangan, yah! aku ngga shalat subuh deh! Ini gara-gara sikunti sialan itu.Gara-gara dia aku ngga bisa tidur" umpatnya kesal.


"Heran deh! ini para penduduk bumi pada kemana sih? Masa dari kemarin ngga ada satu pun yang lewat jadi aku ngga bisa turun nih! Dari ini pohon" gerutu Rayyan kesal.


Tak lama dari kejauhan dia melihat Ayiswa sedang bejalan kaki dan semakin mendekat ketempat itu.


"Ayiswa,,!! Ayiswa,,!! Ayiswa,,!!" teriak Rayyan dari atas pohon


Ayiswa yang mendengar namanya dipanggil lalu celingukan mencari sumber suara.


"Ayiswa,,!! Aku disini, diatas pohon,,!!" teriak Rayyan lagi sambil melambaikan kedua tangannya


Tak berapa lama Ayiswa pun bisa melihat Rayyan lagi nangkring diatas pohon. Kemudian dia mendekati Rayyan.


"Bang Rayyan lagi ngapain diatas pohon?" tanya Ayiswa setengah berteriak


"Aduh! Panjang ceritanya. Pokoknya sekarang aku ngga bisa turun jadi tolong bawain tangga ya, aku mohon" Sahut Rayyan sambil memohon.


"Udah tahu bisa naik pohon ngga bisa turun, masih aja naik pohon.Hulfff,,,!! Ya udah, tunggu disana aku akan segera kembali dengan membawa tangga" sahut Ayiswa lalu segera pergi untuk mencari tangga.


Sementara Rayyan masih menunggu diatas pohon sambil melihat kebawah dan ketinggiannya masih tetap sama kaya kemarin. Dia terlalu takut untuk turun tapi tiba-tiba dahan yang jadi pijakannya patah alhasil Rayyan langsung terpeleset dan nyungseb ketanah.


"Aaaawww,,,sakit banget" ringisnya sambil tengkurap ditanah.


Tak lama Ayiswa datang sambil membawa tangga. Dia tercengang saat melihat Rayyan sudah turun dari pohon.


"Kalau bang Rayyan udah bisa turun sendiri terus ngapain nyuruh aku nyari tangga? Ngerjain aku aja deh!" ketus Ayiswa


Dia lalu melempar tangga itu kedekat Rayyan sambil menggerutu kesal.


"Ambil nih! Tangganya kembaliin sendiri sama yang punya" setelah itu Ayiswa pergi.


"Kembaliin kesiapa?" tanya Rayyan setengah berteriak.


"Cari tahu aja sendiri" kata Ayiswa jutek


Seolah tak pernah berhenti kesialan yang selalu menimpanya, Rayyan lalu menendang pohon itu sambil mengumpat kesal.



(Seperti inilah gambaran sosok yang semalam nemenin Rayyan diatas pohon) πŸ˜œπŸ˜‚


"Pohon sialan! Kalau tahu gue turunnya mau jatuh-jatuh juga, bukannya dari kemarin malah sekarang jatuhnya. Kalau dari kemarin jatuhnya, gue kan ngga perlu nemenin kuntilanak semalaman diatas pohon"


"Ish! Bikin harga diri gue makin turun aja dihadapan Ayiswa, dasar pohon sialan!!" umpat Rayyan marah-marah sendirian pada pohon itu.

__ADS_1


Kemudian Rayyan mencari si pemilik tangga itu, untuk mengembalikannya.


Next,,,


__ADS_2