PRIA CANTIK ITU JODOHKU (Versi Baru)

PRIA CANTIK ITU JODOHKU (Versi Baru)
Bidadari dibalik cadar


__ADS_3


Pagi itu Byun soo baru keluar dari kamarnya, dia pergi keruang keluarga tapi disana keadaannya sudah sepi yang ada hanyalah Ayiswa yang sedang menyuapi sikembar Alisya dan Alika, bayi imut yang masih berusia 11 bulan. Byun soo lalu duduk kemudian dia mengambil mangkuk makannya Alika yang tersimpan dimeja makan Alika yang menyatu dengan tempat duduk bayi yang diduduki oleh Alika.


"Alikaaa, maem dulu yuk cantik, coba buka mulutnya aaaaa,,,, "ucap Byun soo sambil membuka mulutnya bulat-bulat.


Alika yang senang melihat Byun soo lalu membuka mulutnya dan Byun soo langsung menyuapi dia. Sedangkan Ayiswa hanya melirik melihat Byun soo membantu Ayiswa menyuapi sikembar.


"Yang lain pada kemana ko sepi banget?" tanya Byun soo.


"Mang Udin lagi nganter adek-adekku sekolah, Umi ikut kesekolah karena sekarang ada rapat orang tua murid, bi Idah dan bang Ryeon lagi bikin cup cake didapur" jawab Ayiswa.


"Kamu gak kerja?"


"Ngga, aku minta izin libur kerja karena aku anak paling tua disini jadi aku mau jagain Alika dan Alisya"


Byun soo lalu mengangguk paham. Dia lalu melihat Ayiswa yang begitu telaten menyuapi Alisya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu penyayang ya sama anak kecil, kamu udah cocok tuh! Jadi seorang ibu" ucap Byun soo tiba-tiba membuat Ayiswa menyernyitkan dahinya.


"Jadi seorang ibu, Bagaimana bisa? Suami aja gak punya"


"Ya nyari dong, kalau kamu diam aja ya gak akan dapat suami, lagian aku heran deh sama kamu, selama aku tinggal disini aku gak pernah lihat kamu dekat sama seorang pria atau kamu mengidolakan seseorang disaat gadis yang seumuran kamu lagi bucin-bucinnya"


"Ngapain harus kaya gitu nanti juga kalau udah ada jodohnya bakal datang sendiri, lagian sebesar apa pun, sedalam apa pun rasa cintaku terhadap seorang pria, rasa cinta itu tidak akan sedalam dan sebesar rasa cintaku terhadap tuhan yang sudah menciptakanku yaitu Allah SWT"


Mendengar kalimat Ayiswa, Byun soo lalu terdiam karena kalimatnya terdengar biasa saja tapi maknanya terasa amat mendalam.


"Emang seperti apa si tuhan kamu hingga kamu sangat mencintainya" tanya Byun soo yang penasaran karena notabenenya dia bukan penganut agam islam.


Ayiswa menengadah sambil tersenyum itu terlihat jelas dipancaran matanya yang sangat expresif.


"Dialah yang maha tinggi, yang nyata, yang maha esa yang telah memberikan segala nikmat kehidupan yang tiada taranya, dialah yang membuat hatiku tenang ketika mengingat namanya, dialah yang selalu ada ketika tak satu orang manusia pun berada disisiku, dialah yang selalu setia meski kadang aku pernah berpaling darinya, dialah yang maha pemaaf meski berkali-kali aku melakukan kesalahan, dialah Allah SWT yang sangat aku cintai" jawab Ayiswa dengan sepenuh hati dengan tatapan mata berbinar-binar karena rasa cintanya terhadap sang kholik.


Gambaran tuhannya Ayiswa membuat dia penasaran dan telah mengetuk pintu hati Byun soo yang tak pernah mengenal tuhannya Ayiswa.


Sebegitu cintanyakah dia terhadap tuhannya sampai-sampai dia hanya menyisakan sedikit hatinya untuk laki-laki yang kelak akan menjadi teman hidupnya, batin Byun soo sambil menatap Ayiswa dengan tatapan datar. Tiba-tiba Ryeon datang sambil membawa sepiring cup cake.

__ADS_1


"Cie,,,cie,,, Hyeong, lo udah pantes tuh punya seorang anak" kata Ryeon godain Byun soo.


"Gimana mau punya anak, pacar atau istri aja gue gak punya" ucap Byun soo.


"Itu gampang, tuh! Ayiswa kan ada" tunjuk Ryeon pada Ayiswa.


"Eh! Aku gak ada urusannya sama kalian jadi kalian jangan bawa-bawa namaku ya" kata Ayiswa sinis.


"Ayiswa, emang kamu gak mau jadi istrinya Byun soo hyeong?" tanya Ryeon.


"Aku gak mau nikah sama laki-laki cantik kaya kalian, nanti berantemnya gara-gara rebutan alat-alat make up lagi" jawab Ayiswa.


"Yeeee,,, kita itu gak cantik cuma imut aja, lagian kita juga bisa jadi pria menly ko, iya kan hyeong" kata Ryeon minta dukungan dari Byun soo.


"Iya bener banget tuh, apa kamu mau lihat gaya menly kita?" tanya Byun soo.


Ayiswa yang malas berurusan dengan mereka lalu memberikan mangkuk makan Alisya pada Ryeon dan dia meminta Ryeon melanjutkan menyuapi Alisya sementara dia malah pergi.


"Ish! Ko malah jadi gue si yang nyuapin Alisya? Hyeong, istri lo marah tuh, ko malah gue yang kena batunya" gerutu Ryeon.


Esok paginya Ryeon sudah bangun karena pagi ini dia ingin ikut nganterin anak-anak kesekolah sama mang Udin. Sedangkan Byun soo lagi ngopi diruang tamu, tiba-tiba Umi datang dan menyuruh Byun soo untuk mengantarkan pesanan kue ulang tahun dan kue-kue basah lainnya kepelanggan yang minta dianterin pesanannya sekarang juga karena bi idah lagi pergi kepasar jadi Umi tidak bisa menyuruh bi Idah untuk pergi.


Tapi karena pesanannya sangat banyak hingga butuh dua orang untuk bisa nganterin pesanan itu ditambah Byun soo bukan orang Indonesia dan dia tidak hapal dengan alamat sipemesan jadi dia harus pergi dengan ditemani oleh seseorang tapi dirumah lagi tidak ada siapa-siapa jadi Umi bingung Byun soo harus nganterin pesanannya sama siapa?.


Saat Umi lagi bingung tak lama Ayiswa datang dan hendak pamitan karena mau berangkat kerja lalu Umi menyuruh Ayiswa untuk pergi bersama Byun soo nganterin pesanan kue ulang tahun sebelum dia datang ketempat kerjanya.


"Gimana Ayis, kamu mau kan anterin pesanan kue ulang tahun dulu sebelum kerja karena pemesannya mau dianter sekarang juga, dirumah gak ada siapa-siapa, sementara Umi tidak bisa pergi karena harus jagain Alisya dan Alika, nanti kamu berangkatnya naik angkot aja soalnya mobilnya kan lagi dipake mang Udin anterin adek-adek kamu sekolah" pinta Umi.


Ayiswa mengiyakan perintah Uminya kemudian dia meminta Izin untuk menelepon Upik dulu untuk mengabarkan kalau dia akan datang terlambat. Setelah selesai menelepon Ayiswa dan Byun soo lalu pergi mencari angkot untuk pergi mengantar pesanan. Sesampainya dekat gank alamat sipemesan, mereka lalu menghentikan angkotnya dan turun.


"Bener ini alamatnya?" tanya Byun soo sambil menjinjing dua gantung box makanan yang disusun meninggi.


"Iya benar, kita tinggal mencari nomor rumahnya aja" jawab Ayiswa.


Mereka lalu menelusuri gank yang panjang, sepi dan disetiap sisinya terdapat bangunan semi permanen para penghuni daerah itu sambil terus melihat dan menyamakan nomor rumah sipemesan, tapi ternyata rumah sipemesan cukup jauh dari jalan utama sehingga Byun soo dan Ayiswa harus terus berjalan sampai sejauh ini.


"Tahu gini kita naik ojek aja deh, biar jalannya gak terlalu jauh kaya gini" keluh Byun soo yang mulai merasa cape berjalan.

__ADS_1


"Udah gak usah ngeluh, itung-itung olah raga jalan kaki aja, ini kan masih pagi"


Byun soo lalu melirik Ayiswa yang jalan beriringan dengannya sambil mencibir, peluh mulai bercucuran karena perjalanannya cukup jauh dan Byun soo harus membawa banyak kue yang cukup terasa berat ditambah cuaca pagi ini cukup terik dan itu membuat Ayiswa keringetan. Keringet yang menetes dari jidat kematanya segera diseka oleh Ayiswa dengan lengannya karena dia tidak bisa mengelap langsung dengan tanganya sebab tangannya memegangi box besar berisi kue ulang tahun.


Tiba-tiba hembusan angin cukup kencang menerpa mereka. Byun soo malah senang karena merasa dikipasi disaat dia lagi kegerahan, sedangkan Ayiswa yang memakai pakain gamis, kerudung panjang dan cadar agak kesulitan menahan hembusan angin yang terus menyingkap pakaiannya.


"Aaaaahhh,,,, segernya" lirih Byun soo yang sesekali melirik Ayiswa yang mulai melambatkan jalannya hingga Byun soo berjalan duluan didepannya.


Ketika Byun soo melirik kearah Ayiswa, tiba-tiba ikatan cadar Ayiswa yang tidak terlalu kuat terlepas karena beberapa kali tertarik oleh Ayiswa saat dia menyeka keringatnya ditambah hembusan angin kencang yang seolah-olah menjambret cadar Ayiswa akhirnya cadarnya terlepas dan terbawa angin dengan spontan Byun soo menyimpan box makanannya lalu menangkap cadar Ayiswa yang tebawa angin.


Seketika Ayiswa langsung menghentikan langkahnya dan mematung ditempatnya sambil melongo kaget karena tiba-tiba cadarnya terlepas hingga terlihatlah tabir kecantikan Ayiswa yang tersembunyi dibalik cadarnya.



Pesona Ayiswa yang mempunyai mata besar dengan bulu mata yang lentik, hidungnya kecil, tidak pesek juga tidak terlalu mancung dan bibirnya yang kecil dan tipis membuat Byun soo membelalakkan matanya saat melihat dia yang tak menyangka ternyata gadis bercadar yang selama ini dikenalnya begitu cantik seperti Bidadari.


Menyadari Byun soo terus menatapnya dengan penuh kegaguman, Ayiswa lalu menundukan pandangannya karena malu dan canggung sebab seumur hidupnya dia tidak pernah memperlihatkan wajahnya didepan pria yang bukan mahromnya. Byun soo lalu mengedarkan pandangannya kesekeliling untuk memastikan kalau tak ada orang lain selain mereka ditempat itu yang melihat wajah Ayiswa. Lalu Byun soo memberikan cadarnya pada Ayiswa.


"Ini cepat pakai cadarnya lagi mumpung gak ada orang yang lihat dan lewat sini" kata Byun soo sambil menunduk tak berani lagi menatap Ayiswa karena menghormatinya sebagai wanita muslim yang menggunakan cadar.


Tapi Ayiswa terus terdiam mematung sambil menunduk dan memejamkan matanya karena malu.


"Oh iya, aku lupa kamu kan bawa box jadi susah ya pake cadarnya, kalau gitu biar aku yang pakein cadarnya ya" kata Byun soo lalu mendekati Ayiswa.


"Maaf ya, ini sebentar ko" ucap Byun soo.


Lagi-lagi Ayiswa tak merespon dia masih terdiam kaku, tanpa pikir panjang lagi Byun soo lalu memakaikan cadar pada Ayiswa yang wajahnya mulai memerah karena grogi dan malu ketika Byun soo begitu dekat dengannya hingga hembusan nafas Byun soo yang harum dan sejuk terasa dikulit wajah Ayiswa. Seketika itu pula jantung Ayiswa berdetak begitu kencang tak karuan.


"Sekarang udah selesai, kamu bisa membuka matamu" ucap Byun soo.


Ayiswa lalu membuka matanya sambil berkata dengan ketus "Makasih"


Lalu Ayiswa pergi meninggalkan Byun soo, itu membuat dia melongo kebingungan karena tiba-tiba Ayiswa ketus dan marah padanya.


"Dia kenapa si? Apa salahku hingga dia ketus dan marah secara tiba-tiba seperti itu" batin Byun soo.


Next,,,,,

__ADS_1


__ADS_2