
Setelah selesai shalat subuh Ayiswa pergi kedapur untuk membantu Umi dan bi Idah masak. Tapi langkahnya terasa berat karena dia tidak ingin menghadapi hari ini, rasanya dia ingin menghentikan waktu agar tak ada yang pergi dan menghilang. Iya, Ayiswa sangat sedih karena hari ini kedua pria pembuat onar itu akan pulang kenegara asalnya. Dan n'tah kenapa rasa sedih itu terus merasuki hatinya? Namun dia tidak bisa menghentikan takdir yang sudah digariskan.
Disini bukanlah tempat mereka jadi sudah selayaknya jika mereka kembali pulang kerumahnya karena mungkin ditempat lain, ditempat yang berbeda ada seseorang yang menanti mereka dengan perasaan cemas dan khawatir. Jadi mau tak mau Ayiswa harus merelakan mereka pergi karena Ayiswa bukanlah seseorang yang berarti untuk mereka sehingga tak ada alasan untuk mereka harus tetap bertahan disini.
"Umi, Apa yang bisa aku bantu?" tanya Ayiswa tak semangat.
"Kamu bisa bantu potongin sayurnya tuh!" jawab Umi tanpa melihat Ayiswa karena sibuk masak.
Ayiswa mulai memotong sayurannya dengan pikiran yang melayang-layang n'tah ada dimana? Sekuat apa pun dia menyembunyikan perasaannya tapi tetap saja dia tak bisa membohongi hatinya yang sedih karena akan kehilangan kedua pria itu.
Mentari pagi kini sudah menampakan cahayanya diupuk timur, semua sudah bangun dan bersiap untuk sarapan pagi bersama.Setelah selesai sarapan Ayiswa membantu bi Idah membereskan bekas sarapan sedangkan Byun soo, Ryeon dan orang-orang korea itu bersiap-siap untuk segera pergi kebandara.
Setelah semuanya siap, semua berkumpul didepan rumah, disana sudah ada tiga mobil van yang akan membawa Ryeon, Byun soo, Kim Youri, member Super sun dan para kru kebandara. Sebelum pergi kebandara Ryeon dan Byun soo berpamitan pada Umi, mang Udin, bi Idah, Ayiswa dan anak-anak panti.
Tawa, canda mereka kini berubah menjadi tangisan kesedihan karena kedua pria yang sudah meramaikan panti itu akan segera kembali kenegara asalnya dikorea selatan.Mang Udin dan bi Idah yang sudah sangat akrab dengan Byun soo dan Ryeon menangis sedih saat mereka berpamitan.
Mang Udin yang sudah berjanji pada Byun soo akan memberikan Al Quran yang ada terjemahannya dan beberapa kitab lalu memberikan Al Quran pada Byun soo.
"Kamu kan ingin mengenal tuhannya Ayiswa, nanti kalau udah sampai dikorea jangan lupa kitab suci ini dibaca ya, tapi inget saat kamu membacanya keadaan kamu harus dalam keadaan suci" ucap mang Udin sambil menangis terisak-isak.
Byun soo lalu tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak mang Udin dan berkata.
"Iya, mang, aku janji akan membacanya, udah dong mamang jangan nangis terus, aku jadi merasa berat hati ninggalin mang Udin"
"Mamang bakal kangen banget sama kamu dan Ryeon" ucap mang Udin sedih.
Ryeon dan Byun soo lalu memeluk mang Udin membuat mang Udin makin sedih.
"Ya udah, kalian hati-hati ya dijalannya" kata mang Udin.
Ryeon dan Byun soo mengangguk kemudian Ryeon berpamitan pada bi Idah, Umi dan Ayiswa yang di ikuti oleh Byun soo. Saat Byun soo berpamitan pada Ayiswa, Ayiswa memberikan sebuah kotak kecil pada Byun soo.
"Apa ini?" tanya Byun soo pada Ayiswa.
"Didalam kotak ini ada memori card yang didalamnya ada mp3 murotal Qurannya, kalau bang Byun punya waktu luang coba dengarkanlah mp3 ini" jawab Ayiswa.
__ADS_1
Byun soo lalu tersenyum sambil mengangguk kemudian dia melepaskan cincin yang melingkar dijari kelingkingnya lalu memberikannya pada Ayiswa.
"Aku tidak punya apa-apa untuk dijadikan kenang-kenangan, aku cuma bisa memberikan cincin kesukaanku ini untukmu, aku selalu memakainya kemana pun aku pergi, ini memang cuma imitasi tapi meski begitu ini unlimited karena aku membuat sendiri ketukangnya, dicincin ini ada ukiran inisial namaku PBS, semoga kamu suka"
Ayiswa hanya menatap cincin itu cukup lama saat Byun soo mengasongkannya pada Ayiswa,para member Super sun yang gemas karena Ayiswa lama tidak mengambilnya juga lalu menyuruh Byun soo untuk memakaikan cincin itu pada jari tangan Ayiswa. Tapi Ayiswa malah menyembunyikan kedua tangannya dibalik tubuhnya.
Byun soo lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyun karena dia baru ingat kalau Ayiswa tak pernah mau bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahromnya.
"Coba mana telapak tanganmu, aku akan memberikan cincin ini tanpa menyentuhmu"
Setelah Byun soo berkata seperti itu barulah Ayiswa mengambil cincinnya lalu mengucapkan terimakasih pada Byun soo.
"Jika suatu hari nanti aku kembali lagi ke Indonesia, aku berjanji akan memberimu cincin yang asli" kata Byun soo.
"Buat apa? Ini juga sudah cukup ko" tanya Ayiswa.
"Ya, buat tanda pengikat dong Ayiswa" Ryeon menimpali pembicaraan mereka.
Ayiswa hanya melongo tak mengerti dengan maksud Ryeon, sementara Byun soo tak berkata apa pun dia hanya tersenyum penuh misteri pada Ayiswa membuat Ayiswa makin tak mengerti dengan mereka.
"Woy,,,!! Buruan lama banget si pamitannya, kita bisa ketinggalan pesawat nih"
Semua mata lalu melirik kearah Youri yang terlihat sangat kesal karena mereka terlalu lama berpamitan.
"Ih! Gadis itu bisanya merusak suasana aja" gerutu Ryeon pelan.
Setelah itu mereka naik kemobil untuk segera berangkat kebandara. Saat mobil mulai melaju Byun soo mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil kemudian dia melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan yang kemudian dibalas oleh para penghuni panti sampai mobil yang ditumpangi Byun soo menghilang dari pandangan mata.
Sore hari kemudian, Ayiswa baru pulang kerja dia lalu duduk disofa ruang keluarga bersama mang Udin dan anak-anak panti dengan tak semangatnya. Tak lama Umi datang dan melihat semua sedang duduk seperti tak semangat hidup, Umi yang keheranan lalu bertanya.
"Kalian semua kenapa sih ko pada loyo gini?"
"Mamang kangen sama Byun soo dan Ryeon" jawa mang Udin sedih.
"Ya ampun mang, baru sehari mereka tak ada udah kangen aja, disinikan bukan tempat mereka lagian kita gak tahu mereka bakal balik lagi kesini apa nggak?"
__ADS_1
Perkataan Umi makin membuat sedih mang Udin dan Ayiswa karena harapan mereka seakan dipatahkan oleh Umi, seolah-olah Byun soo dan Ryeon tidak akan pernah menemui mereka lagi ke Indonesia.
Ditempat lain, dibelahan bumi lainnya, Byun soo dan Ryeon yang baru sampai langsung pulang kerumah orang tuanya masing-masing. Saat didepan pintu Byun soo lalu menekan bel rumahnya.
Ting,,, tong,,,
Ting,,, tong,,,
Tak lama dari dalam rumah terdengar derap langkah lari kecil yang kemudian membuka pintu. Betapa senangnya Junno saat pamannya sudah pulang.
"Ayaaah,,, paman pulaaang,,," teriak Junno kecil dengan tatapan jenakanya.
Byun soo lalu menyapa anak kecil yang berusia 2 tahun itu, kemudian memeluk dan menggendongnya karena rindu. Tak lama ayah dari anak itu menghampiri mereka.
"Byun soo ?!" sapa pria yang usianya cuma beda 3 tahun dengan Byun soo.
"Kakak"
Park Byun soo (29 tahun)
Park Hyun bin (32 tahun)
Pria yang dipanggil kakak oleh Byun soo itu lalu memeluk Byun soo yang sedang menggendong anaknya dengan penuh haru karena akhirnya adik kesayangannya kembali pulang setelah 3 bulan menghilang tanpa kabar apa pun.
"Ibu sama Ayah mana kak?" tanya Byun soo.
"Ayah belum pulang kerja, kalau ibu ada dikamarnya lagi istirahat. Semenjak kamu hilang ibu sering sakit-sakitan, dia sangat mengkhawatirkan kamu, kamu tahu sendirikan kalau kamu tinggal diasrama atau diapartemenmu saat bekerja, setiap hari ibu selalu neleponin kamu terus karena khawatir makannya ibu udah kaya pacar kamu yang posesif karena kamu harus selalu laporan keibu tentang kegiatanmu setiap hari meski kamu lagi sibuk, apa lagi sekarang kamu menghilang ibu sangat takut kamu tidak akan kembali pulang"
Byun soo hanya tersenyum menanggapi sikaf ibunya yang suka berlebihan karena terlalu sayangnya pada anak-anaknya. Meski begitu dia juga sangat menyayangi ibunya yang sudah merawat dan membesarkannya hingga kini dia sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa.
__ADS_1
Next,,,