
Malam itu, selepas Rayyan pulang dari masjid untuk shalat isya berjamaah, dia tak langsung masuk kedalam rumah. dia duduk diteras rumah pak ustad sambil menatap langit yang diterangi bulan purnama dengan dihiasi taburan gugus bintang dengan cahaya kecilnya yang berkerlap-kerlip.saat sedang menatap langit tiba-tiba dia ingat dimalam perpisahan dengan orang-orang panti ketika dia akan kembali pulang kekorea.
Malam itu dia duduk berdua dengan Asyiwa sambil menatap bintang, dan Ayiswa bilang kalau dia sangat menyukai bintang.menatap bintang dimalam ini membuatnya mengingat Ayiswa kembali setelah beberapa bulan ini dia tak lagi berhubungan dengan Ayiswa karena Rayyan sibuk belajar tentang islam.tiba-tiba rasa rindu pada gadis pujaannya itu pun menyelinap kedalam hatinya.
"Ayiswa apa kabarnya ya? Aku jadi kangen sama dia, sudah lama aku tidak menghubunginya" gumam Rayyan seraya membayangkan sosok gadis yang amat dicintainya itu.
******
Sementara itu ditempat yang berbeda, Ayiswa baru selesai membaca Al Quran, dia lalu menyimpan Al Qurannya dimeja kemudian melipat sajadah dan mukenanya. saat dia hendak menutup jendela kamarnya dia menatap langit yang terang karena diterangi bulan dan bintang.
Ayiswa tak langsung menutup jendela kamarnya dia malah asyik menatap ciptaan tuhan yang sangat indah itu sambil terus mengaguminya.dan ntah dari mana datangnya? tiba-tiba saja naluri Ayiswa seolah menangkap ada bisikan rindu menggema diudara yang membisikan ketelinganya hingga menggetarkan hatinya, membuat dia tiba-tiba saja merindukan sosok yang kini menghilang ntah kemana?
"Kenapa aku jadi kepikiran bang Byun ya? Aku jadi pengen ketemu sama dia, Sekarang dia gimana kabarnya ya?" batin Ayiswa jadi galau karena diam-diam dia merindukan sosok pria cantik yang sudah mewarnai hidupnya itu.
Akhirnya Rayyan dan Ayiswa terus menatap langit yang sama ditempat yang berbeda sambil mengungkapkan kerinduannya masing-masing dalam hati mereka.
******
Siang itu, Pak ustad dan istrinya sedang duduk diruang tamu sambil ngobrol dengan serius, raut wajahnya terlihat sangat bingung dan sedih. tak lama Rayyan baru pulang dari masjid setelah ikut membersihkan masjid dengan marbot masjid itu.pembicaraan pak ustad dan istrinya langsung dihentikan saat Rayyan datang.
"Assalammualiakum bu, pak" ucap salam Rayyan pada pak ustad dan istrinya
"Wa'alaikumusalam" serempak pak ustad dan istrinya menjawab salam Rayyan
Rayyan lalu duduk dan menanyakan prihal yang membuat mereka terlihat bingung dan sedih.tapi pak ustad dan istrinya enggan untuk bercerita karena tak mau melibatkan Rayyan dalam masalah mereka tapi Rayyan terus mendesaknya hingga akhirnya pak Ustad mau bercerita juga.
Mereka kini sedang kebingungan karena barusan anak mereka yang sedang kuliah dikairo itu menelepon, minta ditransferkan uang untuk bayar uang semesteran dan bayar uang untuk ujian kalau belum bisa bayar mungkin anaknya tidak akan bisa ikut ujian sedangkan pak ustad sedang tidak pegang uang banyak, kini mereka sedang bingung bagaimana mencari uang untuk transfer ke anaknya itu.
Padahal rumah mereka yang satunya lagi, yang biasa dikontrakan sekarang tidak ada yang ngontrak, mereka lalu berencana untuk menjualnya tapi calon pembelinya belum ada juga padahal mereka sudah menawarkan rumahnya kemana-mana tapi belum ada orang yang berniat membelinya. mendengar itu Rayyan langsung menanyakan harga jual rumah itu berapa? setelah dijawab dia lalu mengeluarkan handphonenya dan langsung mengecek jumlah tabungannya lewat m-banking.
"Harganya cocok dan kebetulan kalau segitu saya ada uangnya jadi bagaimana kalau rumahnya saya beli aja? Soalnya saya juga lagi cari rumah karena tak mungkin juga selamanya saya tinggal dirumah bapak dan ibu" ucap Rayyan
"Ngga usah, jangan!! Kami tidak keberatan ko kamu tinggal disini" ucap pak ustad sungkan
"Ngga apa-apa pak, biar saya yang beli rumah bapak soalnya saya takut uang tabungan saya akan habis sia-sia, jadi mumpung saya masih ada uang saya mau membeli rumah bapak" kata Rayyan
"Tapi rumahnya kecil cuma ada dua kamar, satu ruang tamu,ruang keluarag,dapur dan kamar mandi"
"Tidak apa-apa pak itu sudah cukup buat saya yang tinggal sendiri"
__ADS_1
Setelah mempertimbangkan semua itu akhirnya mereka menjual rumahnya pada Rayyan.dan kini dia sudah punya rumah sendiri.dari hari itu tak lama Rayyan langsung pindah kerumahnya sendiri karena letak rumahnya bersebelahan dengan pak ustad jadi Rayyan masih tetap bisa sering main kerumah pak ustad.
******
Menjelang waktu dzuhur, Ayiswa masih diperjalanan setelah mengantarkan pesanan catering tapi tiba-tiba dia mendengar suara adzan.
"Wah! Udah adzan aja nih! Aku shalat dimesjid itu aja dulu deh, mumpung ngelewatin mesjid, karena shalat yang baik itu diawal waktu" batin Ayiswa bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dia pun terus melangkahkan kakinya mendekati masjid seraya menghayati suara adzan yang tengah berkumandang itu.
"Siapa sipemilik suara yang mengumandangkan adzan ini? suaranya sangat merdu dan menenangkan hati" gumam Ayiswa
Dia lalu mencari tempat wudhu yang tak terlihat oleh kaum adam, saat hendak ketempat wudhu dia bisa melihat sudah banyak orang didalam masjid lewat jendela kacanya dan tak sengaja dia pun bisa melihat orang yang sedang mengumandangkan adzan itu,betapa terkejutnya Ayiswa saat melihat orang yang sedang adzan itu.
"Apa aku tidak salah lihat? Orang yang lagi adzan itu seperti bang Byun?" gumam Ayiswa penuh tanda tanya
Dia yang tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya lalu mengucek-ngucek kedua matanya agar terlihat lebih jelas lagi.
"Aku yakin dia emang bang Byun, Apa sekarang dia sudah masuk islam?" batin Ayiswa
Tak berapa lama si pemilik suara adzan tadi selesai berzikir dia lalu membereskan mesjid dengan mematiakan kipas angin, menggulung alas shalat dan membuka kain pembatas shaf dengan didorong kedinding masjid.sementara Ayiswa hanya terus menatap sosok itu dengan penuh kagum, hatinya bergetar, jantungnya berdetak lebih kencang, seumur hidupnya baru kali ini dia merasakan perasaan yang aneh dan tak karuan seperti ini.
"Masya Allah, kenapa kamu terlihat sangat tampan dengan pakaian muslim itu?" kata Ayiswa diam-diam memuji sosok ciptaan tuhan yang sangat indah itu seraya tersenyum bahagia dibalik cadarnya
"Assalammualaikum bang" sapa Ayiswa saat si pemilik suara adzan itu melewati Ayiswa
"Wa'alaikummusalam, Eh! Maaf kirain udah ngga ada orang" jawab Rayyan belum ngeh kalau yang memberi salam itu adalah Ayiswa
"Bang Byun, itu kamu kah?" tanya Ayiswa
Rayyan lalu menatap Ayiswa seraya bergumam
"Ayiswa,,,?!"
"Iya,bang ini aku"
"Bagaimana bisa kamu sampai kesini?" tanya Rayyan
__ADS_1
"Aku habis nganterin catering karena udah saatnya shalat dzuhur dan kebetulan aku lewat sini jadi aku mampir kesini, Apa bang Byun sudah masuk islam?"
"Alhamdulilah iya, Ayiswa"
"Syukurlah kalau begitu aku ikut senang mendengarnya"
"Kita lanjut ngobrol diluar ya, bisa kah kamu nungguin aku sebentar? aku mau beresin ini dulu"
"Iya bang, aku akan menunggumu"
Setelah itu Ayiswa menunggu Rayyan diteras masjid sedangkan Rayyan menyelesaikan pekerjaannya. tak lama dia pun menyusul Ayiswa keluar. dia langsung duduk deket Ayiswa tapi masih ada jarak diantara mereka.
"Apa kabarmu Ayiswa?" tanya Rayyan memulai pembicaraan
"Alhamdulilah baik bang, kamu sendiri gimana?" jawab Ayiswa
"Alhamdulilah, keadaanku pun jauh lebih baik setelah aku menjadi seorang mualaf"
Sejenak suasana menjadi hening karena mereka saling diam, hingga akhirnya Rayyan mulai bicara lagi untuk mencairkan suasana yang mulai terasa canggung diantara mereka.
"Ayiswa, aku masih tetap punya niat untuk melamarmu tapi aku belum siap menjadi imammu karena pengetahuanku tentang islam masih sedikit, sekarang aku masih terus belajar untuk memperdalam pengetahuanku tentang islam" tutur Rayyan
Sejenak Ayiswa menatap Rayyan kemudian dia menunduk lagi seraya berkata.
"Insya Allah niat baikmu akan diridhoi oleh Allah bang, ilmu agamaku pun masih dangkal, aku pun sama masih belajar sepertimu jadi tak perlu menunggu sempurna atau pun pintar dulu untuk melaksanakan niat baikmu itu"
Seperti mendapat pencerahan yang menyejukan hati Rayyan pun langsung tersenyum sumringah dan penuh semangat.
"Oke, baiklah kalau kamu ingin segera menikah denganku, aku akan segera minta izin pada Umi untuk melamarmu" ucap Rayyan
Perkataannya itu membuat Ayiswa tersipu malu dan amat canggung karena situasainya seakan menyudutkan,seolah yang mau cepat nikah itu Ayiswa duluan bukan Rayyan padahal kenyataannya tidak seperti itu juga.
"Eee,,,bu-bukan begitu maksud aku, A-aku hanya,,, " kalimatnya terpotong oleh Rayyan
"Iya kamu tidak usah berkata apa-apa lagi, aku mengerti, tenang aja ya, aku akan segera melamar kamu ko" ucap Rayyan sambil tersenyum
"Iiiihh!! Ko bang Byun malah mikirnya aku pengen cepet-cepet nikah sih, padahal ngga gitu juga" batin Ayiswa sambil mendengus agak kesal karena rasa gengsi untuk mengakui itu
"Ngga bang aku,,,"
"Sssttt,,,iya udah,cukup aku ngerti ko,kamu yang sabar ya, aku akan segera melamarmu" ucap Rayyan tak memberi kesempatan pada Ayiswa untuk membela dirinya
__ADS_1
Akhirnya Ayiswa hanya bisa terdiam sambil manyun dan merasa sangat malu, sementara Rayyan hanya menatap Ayiswa dengan puas dan bahagia.
Next,,,,