
Rayyan terus berjalan menaiki setiap anak tangga seraya pandangannya diedarkan kesekeliling tempat ia berada, putih, putih dan putih sejauh matanya memandang hanya warna putih yang tertangkap oleh indra penglihatannya.
"Dimana ini, kenapa semuanya berwarna putih?" batin Rayyan seraya terus melangkahkan kakinya ditangga yang tak terlihat ujungnya itu ada dimana.
Masih dalam rasa kebingungannya dia lalu menghentikan langkah kakinya seraya bergumam.
"Kenapa tangga ini tak berujung? Sebenarnya tangga ini mengarah kemana? Aku ada dimana? Kenapa disini tak ada satu orang pun?"
Saat Rayyan tengah dilanda kebingungan tiba-tiba tangannya dipegang seseorang. dia terperanjat kaget dengan spontan Rayyan lalu melirik sosok itu. sosok anak laki-laki yang usianya kira-kira sekitar lima tahun, wajahnya terlihat amat lesu dan sedih.
"Siapa kamu?" tanya Rayyan
"Ayah, aku anakmu masa kau tidak ingat" jawab anak kecil itu dengan tatapan murung
Rayyan hanya bergeming mendengar jawaban anak kecil itu karena bingung, wajahnya begitu asing baginya hingga dia ragu kalau anak itu adalah anak kandungnya.
"Ayah, aku takut" lirih anak kecil itu dengan raut wajah yang menggambarkan rasa ketakutan yang begitu menggoncang jiwanya.
Tapi Rayyan terus bergeming tak merespon anak itu, dia tidak tahu harus berbuat apa padanya sebab dirinya pun tengah dilanda kebinguan tentang dimana dia berada? Dan kenapa semua terlihat putih seperti air susu.
Saat dirinya dilanda kebingungan tiba-tiba n'tah dari mana asalnya dari bawah tangga terlihat sosok berjubah hitam dengan wajah yang tertutupi cudung jubahnya, sosok itu semakin mendekati Rayyan dan anak kecil itu. Anak kecil itu melirik kesosok itu dia makin ketakutan saat sosok berjubah hitam semakin mendekatinya.
"Ayah, aku takut,,,Ayah, aku takut,,," rintih anak itu sambil memperat genggaman tangannya pada Rayyan karena ketakutan.
Tiba-tiba anak kecil itu ditarik paksa oleh sosok berjubah hitam untuk mengikutinya menuruni setiap anak tangga. seperti terkena sihir untuk tetap bergeming Rayyan hanya diam menyaksikan anak itu meronta-ronta ketakutan sambil menangis dan minta tolong pada Rayyan.
Saat kesadarannya sudah terkumpul sepenuhnya barulah Rayyan hendak menolong anak itu tapi mendadak kakinya seakan terpaku,dia tak bisa menggerakan sedikit pun kakinya itu meski sekuat tenaga dia mencoba melangkahkan kakinya namun tetap tidak bisa hingga akhirnya anak itu dan sosok berjubah hitam itu menghilang dari pandangan matanya.sontak Rayyan langsung berteriak karena tak bisa menolong anak itu.
Aaaaaaaa,,,!!
Rayyan terbangun dari mimpi anehnya itu,dia lalu duduk masih diatas tempat tidurnya, nafasnya saling berburu seolah dia habis melakukan lari maraton, mimpi aneh itu sudah membuat Peluh Rayyan bercucuran kemudian dia mengatur nafasnya.Diliriknya Baby Zayn yang masih terlelap tidur disampingnya dengan kedua tangan terentang.Rayyan lalu tersenyum melihat bayinya itu lalu dia mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
*****
Tak biasanya Pak haji Imron siang-siang datang ketoko buahnya. Rayyan yang melihat kedatangan bosnya itu lalu menyapa dia.
"Assalammualaikum pak, tumben datang ketoko ada apa ya pak?"
Pak haji Imron menjawab salam Rayyan.Tak lama Pak Marwa yang menggendong Baby Zayn pun yang diikuti oleh Ryeon lalu menyapa Pak haji Imron. Ryeon yang belum kenal dengan Pak haji Imron langsung berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya.Setelah kenalan dengan Ryeon dia melihat-lihat kondisi tokonya.
"Saya mau ngecek toko aja" kata Pak Imron ramah
"Oh! Kirain ada apa" ujar Rayyan
"Oh iya, Rayyan, teman saya kan seorang RT dia pesen buah buat acara bakti sosial pembangunan masjid warganya didaerah tempatnya tinggal tapi katanya dia mau pesanannya diantarkan kerumahnya.Apa kamu bisa mengantarkan buah-buahan itu"
"Tentu saja saya bisa pak, buah apa aja yang dipesannya?" tanya Rayyan.Pak haji Imron lalu menjawab.
Setelah menyiapkan pesanan, Rayyan lalu pergi mengantarkan pesanan dengan motor matic Pak haji Imron yang ternyata alamat rumahnya itu sama dengan komplek perumahan tempat tinggal Ayiswa.Sesampainya dikomplek perumahan teman Pak haji Imron,dia lalu mencari rumahnya.Tak butuh waktu lama untuk menemukan rumah Pak RT karena Rayyan sudah hapal area komplek perumahan itu.
__ADS_1
Ketika sudah ketemu dengan Pak RT, Pak RT malah meminta Rayyan untuk mengantarkan buah-buahannya langsung ketempat pembangunan masjid dekat lapangan bola dikomplek itu.Dia pun segera bergegas ketempat yang dimaksud. Setelah memarkir motor maticnya dekat tempat itu dia lalu segera mencari ibu-ibu bagian konsumsi untuk menyerahkan buah-buahannya.
Saat dia akan kembali tiba-tiba Rayyan melihat Ayiswa menuju tempatnya sambil membawa box makanan bersama seoarang pria tampan. Rayyan yang waktu itu masih menggunakan helm langsung menutup kaca helmnya agar wajahnya tak terlihat.Dia lalu memperhatikan gerak-gerik kedua insan itu.
"Ayiswa, sama siapa sih? Ko, kelihatannya mereka akrab banget" batin Rayyan jealous
Ayiswa lalu menyerahkan box makanan itu pada Ibu-ibu.
"Ayis, sekalian dong, bantuin bagiin ini pada para pekerjanya" titah seorang ibu
Ayiswa lalu mengiyahkan, tentu saja Yusuf yang waktu ikut datang kesana sama Ayiswa juga membantunya membagikan snack makanan pada para pekerja karena kalau masjidnya sudah jadi rencananya Yusuf akan mengajar ngaji anak-anak dikomplek itu.
"Ayis, apa semuanya udah kebagian?" tanya Yusuf
"Semuanya udah bang, aku mau bantuin ibu-ibu dulu ya, disebelah sana" kata Ayiswa sambil menunjuk pada ibu-ibu.
"Tunggu, aku mau bicara sebentar sama kamu" kata Yusuf
Rayyan yang penasaran dengan pembicaraan mereka lalu mendekat sambil berpura-pura so sibuk bantuin para pekerja yang belum istirahat.
"Mau bicara apa bang?" tanya Ayiswa
"Kamu tahu ngga alasanku berhenti mengajar dikairo? Dan memilih pulang keIndonesia?" tanya Yusuf sambil tersenyum menatap gadis bercadar itu
"Iya, Aku udah tahu ko" jawab Ayiswa so tahu
"Apa? Alasannya Apa?" tanya Yusuf
"Karena Indonesia itu negara kelahiran bang Yusuf jadi bang Yusuf pulang ke Indonesia" jawab Ayiswa dengan lantangnya
"Oh! Salah ya, terus apa dong jawabannya?" tanya Ayiswa sambil tertunduk malu karena dia sudah so tahu.
"Karena aku sedang mencari calon istri dan aku mau bertaaruf dengan seseorang" jawab Yusuf dengan senyuman yang masih terkembang disudut bibirnya
"Oh! Gitu ya, semoga taarufmu berhasil ya bang, semoga kamu segera mendapatkan calon istri yang solehah" tutur Ayiswa
"Ya, terimakasih atas doamu Ayiswa, tapi aku sudah punya calon buat taarufan" kata Yusuf
"Oh! Baguslah kalau begitu, jadi bang Yusuf akan segera menikah, jangan lupa undang aku ya keacara pernikahan bang Yusuf" tutur Ayiswa
"Aku tidak akan mengundang kamu,,, " kalimat Yusuf sengaja digantungnya agar Ayiswa penasaran.
"Lah! Ko, Kenapa aku tidak akan diundang?" tanya Ayiswa
"Karena aku ingin,,,, aku ingin kamu yang jadi calon pengantin perempuannya" jawab Yusuf sambil tersenyum.
Sontak itu membuat Ayiswa amat kaget, dia tak menyangka kalau Yusuf menginginkannya menjadi istrinya. Rayyan yang juga mendengar itu langsung dibakar api cemburu, dia mendengus kesal sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.mata tajamnya terus mendelik tanpa berkedip sedikit pun.
"Ini ngga bisa dibiarin, aku ngga rela kalau Ayiswa harus menikah dengan pria jelek itu" gerutu Rayyan kesal lalu dia menghampiri mereka.
"Jadi gimana Ayiswa, Apa kamu bersedia jadi calon istriku?" tanya Yusuf penuh harap
Belum sempat Ayiswa menjawab pertanyaan Yusuf tiba-tiba ada seseorang yang menggunakan helm menarik tangan Ayiswa untuk pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Eh! Eh! Kamu siapa? Jangan pegang-pegang tanganku" kata Ayiswa sambil meronta-ronta minta dilepaskan.
"Eh! Kamu siapa? Lepaskan Ayiswa" bentak Yusuf
Rayyan menghentikan langkahnya dia lalu berkata pada Yusuf dengan jari telunjuk yang mengarah tepat diwajah Yusuf.
"Kamu jangan ikut campur, Ayiswa dipanggil Pak RT, dan ini sangat penting jadi diamlah kau disini jangan ikuti kami" kilah Rayyan berbohong masih sambil memegang tangan Ayiswa.
"Bentar dulu ya bang, aku mau ke Pak RT dulu" kata Ayiswa yang mengira kalau dia benar-benar dipanggil oleh Pak RT padahal itu cuma alesan doang.
"Tapi Ayiswa, Kamu belum menjawab pertanyaanku" ucap Yusuf
"Itu ngga penting, jadi jangan jawab,ayo kita pergi Pak RT udah nungguin kamu tuh!" kata Rayyan pada Ayiswa sambil mengajaknya untuk segera pergi
"Itu orang siapa sih? Ko, aneh banget" gumam Yusuf sambil melihat kepergian mereka.
Sementara Rayyan terus membawa Ayiswa menjauh dari tempat itu tanpa melepaskan genggaman tangannya.hatinya yang terbakar api cemburu terus menggerutu kesal dan mengutuki Yusuf didalam hatinya. sedangkan Ayiswa yang tak bisa melepaskan tangannya kerena genggaman pria berhelm itu sangat kuat, akhirnya dia hanya bisa mengikuti dari belakang sosok aneh yang memakai helm itu hingga tak terlihat wajahnya karena kacanya berwarna hitam.
"Heh! Pak RTnya mana? Kamu mau bawa saya kemana? Kamu siapa sih! Beraninya kau pegang tangaku lepaskan!" hardik Ayiswa
Rayyan lalu menghentikan langkahnya,dia membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke Ayiswa. dia lalu membuka kaca helmnya.
"Bang Rayyan?!" seru Ayiswa kaget sambil membulatkan matanya dengan sempurna.
"Kamu ngapai sih! Dekat-dekat dengan pria itu, jelas-jelas dia bukan orang baik buktinya aja dia terus lihatin kamu sambil tersenyum genit, kalau dia orang baik pasti dia bisa menjaga pandangannya dari kamu" kata Rayyan jealous
Ayiswa bisa menangkap ada kecemburuan yang tersirat dimata Rayyan.
"Aku tahu kamu pasti cemburu melihat dan mendengar bang Yusuf melamarku, kalau kamu memang cemburu kenapa kamu tidak katakan padaku kalau kamu masih mencintaiku dan kamu ingin aku menjadi istrimu, Kenapa kamu tidak katakan itu bang? Karena aku tidak mungkin ngomong duluan" batin Ayiswa kesal dengan egonya yang amat tinggi.
"Kamu tuh! Baru lihat dia sekarang, Kenapa kamu berani menila dia tanpa tahu kepribadiannya? Aku jauh lebih mengenal dia karena dia adalah teman masa kecilku, dia itu keponakan Umi, dia juga Adik dari mas Alif, almarmum kakak iparku jadi aku tahu tentang kepribadainnya" tutur Ayiswa menjelaskan.
"Tapi dia itu tidak baik untukmu jadi kamu jangan deketin dia" larang Rayyan
"Siapa kamu berani memerintahku?"
"A,, a,, aku,, aku,," ucap Rayyan terbata-bata, dia tahu dia bukan siapa-siapa Ayiswa tapi hatinya tak rela kalau Ayiswa menikah dengan Yusuf.
"Ayo bang, katakan kalau kamu ingin menjadikan aku istrimu, ayo katakan bang, jangan diam aja, karena aku sangat menunggu kalimat itu keluar dari mulutmu" batin Ayiswa sambil menatap Rayyan yang terus menunduk bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat Rayyan terus diam membuat Ayiswa jadi kesal akhirnya dia berkata.
"Hulffh,,,!! Sudahlah lebih baik kamu pulang saja, aku mau bantin ibu-ibu itu lagi.Kamu jangan ganggu aku" Ayiswa mendengus kesal karena Rayyan masih terus diam seribu bahasa.
Akhirnya Ayiswa pergi meninggalkan Rayyan sendirian.
"Ayiswa,,,!!" Rayyan memanggil Ayiswa dengan setengah berteriak.
Tapi dia tak menggubrisnya karena Ayiswa kesal pada Rayyan yang tidak mampu mengungkapkan isi hatinya itu. Rayyan sendiri pun merasa kesal pada dirinya sendiri karena n'tah kenapa bibirnya amat kelu hingga dia tak mampu mengungkapkan keinginanya untuk kembali mempersunting Ayiswa. Rayyan hanya bisa memukuli kepalanya dengan kesal lalu dia mengacak-acak rambutnya.
"Bodoh! bodoh! Kenapa bibir ini terlalu kelu cuma bilang 'Ayiswa aku masih sangat mencintaimu, Aku menyayangimu dan aku ingin kamu jadi istriku' Kenapa susah banget sih! Cuma ngucapin kata itu doang.Kenapa aku mendadak jadi pengecut gini sih?" gerutu Rayyan kesal
__ADS_1
Next,,,