
Semua terpesona dan tercengang saat kain cadar itu terlepas dari wajah cantik Ayiswa.Mereka tak mengedipkan mata sedikit pun saat melihat wajahnya.
"Ayiswa, kemarilah nak" ajak Jung Eun dengan senyuman mulai terukir dibibirnya.
Melihat ibu mertuanya mulai tersenyum padanya, Ayiswa pun tersenyum, dia lalu mendekati ibu mertuanya.
"Selamat datang dirumah kami Ayiswa, semoga kamu betah tinggal disini" ucap Jung eung sambil memeluk menantunya itu dengan penuh kasih sayang.
Kebahagiaan pun tersirat jelas diwajah Ayiswa dan Rayyan karena akhirnya dia diterima dikeluarga Rayyan meski mereka berbeda keyakinan. Dan ternyata benar apa yang dikatakan suaminya itu, ibu mertuanya tidak seburuk yang dia pikirkan, sikafnya sangat hangat dan ramah.
"Terimakasih ibu, ayah, kalian sudah mau menerimaku menjadi bagian dari keluarga ini" ucap Ayiswa.
Jung Eun dan Jun Gyu mengangguk sambil terseyum. Sementara Hyun bin dan istrinya hanya melihat sambil tersenyum. Mereka lalu duduk dengan posisi Jung eung dan Jun Gyu duduk diatas sofa sedangkan Rayyan dan Ayiswa duduk dibawah dekat mereka.
"Kapan kalian menikah?" tanya Jung Eun.
"Sudah sekitar satu tahun beberapa bulan bu" jawab Rayyan.
"Apa kalian belum punya momongan?"
Pertanyaan itu membuat Ayiswa dan Rayyan saling berpandangan karena bingung harus menjawab apa pasalnya memang mereka belum dikaruniai seorang anak padahal mereka tak menggunakan alat penghalang untuk menunda kehamilan seperti pil KB (keluarga berencana) dan lain-lainnya.
"Belum bu, mungkin tuhan belum memberi kepercayaan pada kami" jawab Rayyan.
Ayiswa jadi tertunduk sedih karena sampai detik ini dia belum bisa memberikan keturunan pada suaminya itu.
"Maafkan aku karena aku belum bisa memberikan keturunan" ucap Ayiswa penuh sesal.
Jung eung lalu menepuk bahu Ayiswa sambil berkata "Tidak apa-apa nak, kalian kan masih muda jadi masih banyak waktu untuk punya momongan. Dulu juga saat ibu dan ayah menikah kita tidak langsung punya Hyun bin, kami pun ada jarak beberapa tahun setelah menikah"
"Terimakasih bu karena ibu bisa memahami keadaanku"
"Iya sayang, tidak apa-apa ko"
"Bu terimakasih juga ya,,, " ucap Ayiswa menggantung kalimatnya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk apa?" tanya Jung Eun penasaran
"Terimakasih juga karena ibu sudah melahirkan putra setampan bang Rayyan" jawab Ayiswa.
"Rayyan?! Siapa?" tanya Jung Eung tak tahu.
"Eee,,, maksudku bang Byun soo"
"Ooo,,, ibu kira siapa"
Diam-diam Rayyan jadi tersipu malu saat istrinya memuji dirinya.
"Ayiswa, Kamu bisa aja deh! Muji aku" kata Rayyan sambil mencubit lembut pipi Ayiswa.
Ayiswa pun tersenyum sambil menunduk saat suaminya kege'eran. Rayyan lalu menyenderkan kepalanya dibahu Ayiswa dengan manja dengan keadaan tersipu.Tingkah mereka berdua terlihat seperti anak remaja yang baru merasakan cinta. Saling malu-malu kucing tapi dalam hati amat bahagia.
Ketika Rayyan masih menyenderkan kepalanya tiba-tiba Junno mendorong kepala Rayyan agar menjauh dari Ayiswa. Sontak itu membuatnya amat keheranan.
"Kenapa kamu mendorong kepalaku untuk menjauh darinya?" tanya Rayyan pada keponakannya itu.
"Paman tidak boleh mendekati bibi cantik ini" jawab Junno tegas sambil berkacak pinggang dengan mata yang menatap tajam pada Rayyan.
"Karena kalau aku sudah dewasa aku akan menikahi bibi cantik ini" jawab anak berusia 4 tahun itu yang membuat semua orang yang mendengarnya jadi tertawa geli.
Berbeda halnya dengan Rayyan, mendengar itu membuatnya jadi mendengus kesal karena siapa pun dia dan apa pun alasannya Rayyan tak bisa membiarkan ada seseorang yang mau merebut istrinya setelah begitu sulitnya dia untuk bisa memilikinya. Rayyan mendadak jadi posesif dia lalu menatap kakaknya dengan tatapan tajam dan sinis.
"Eh! Hyun bin, lo ajarin apa anak lo, bisa-bisanya anak umur 4 tahun ngomong kek gitu" tanya Rayyan dengan suara ngegas pada kakaknya.
"Gak tahu, gue nggak ngajarin yang aneh-aneh ko, paling itu ketularan oleh pamannya" sangkal Hyun bin sambil mengalihkan pandangannya kesegala arah.
"Siapa? Pamannya Junno? Kak Ayri kan nggak punya adik laki-laki? Minta dihajar tuh! Orang udah ngajarin Junno yang gak baik" tanya Rayyan kesal.
"Siapa lagi kalau bukan lo" kata Hyun bin yang saat itu sedang duduk disofa dengan santainya
"Enak aja lo, Kapan gue ngajarin Junno, kan gue baru ketemu lagi sama dia. Ini pasti lo yang udah ngajarin dia yang nggak bener iya kan" desak Rayyan pada kakaknya untuk ngaku.
__ADS_1
Tapi Hyun bin tetap bersikukuh tidak mau ngaku dan itu membuat Rayyan makin kesal lalu dia menggaet leher kakaknya agar ngaku.
"Hayo! Ngaku lo, awas! Aja kalau anak lo berani ngerebut istri gue, n'tar gue hajar dia" ancam Rayyan.
Mendadak Ayiswa jadi merasa malu dengan tingkah kekanak-kanakan suaminya itu. Rasanya Rayyan terlalu berlebihan menanggapi ucapan Junno padahal Ayiswa pun tidak mungkin menikah dengan anak berusia 4 tahun. Melihat kedua anaknya yang seperti Tom and Jerry saling jitak, saling gaet tak mau mengalah, Jung eung melerai mereka.
"Byun soo! Hyun bin! Kalian ini ya, masih saja suka berantem, Udah! Hentikan!" kata Jung Eung dengan nada suara meninggi.
"Ini, bu! Yang mulai duluan si Byun soo" adu Hyun bin pada ibunya.
"Ya anak lo yang mulai duluan" kata Rayyan masih menggaet leher kakaknya dengan sekuat tenaga.
Jung Eung lalu menarik Rayyan agar menjauh dari kakaknya sedangkan Hyun bin ditarik oleh Ayri. Meski begitu Rayyan masih berusaha untuk menghajar kakaknya, aksinya baru berhenti saat dia melihat Junno menatap Ayiswa dengan penuh kagum sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya dengan genit. Ayiswa yang melihat itu hanya tertawa kecil akan tingkah laku anak kecil itu.
"Ah! Kurang ajar! Beraninya dia main mata dihadapanku" gerutu Rayyan kesal.
Lalu dia menarik tubuh kecil itu agar berhenti menatap istrinya karena Rayyan tak rela kecantikan istrinya terus dipandangin oleh anak kecil itu.
"Beraninya ya, kamu main mata dengan istriku, Awas! Ya, kamu Junno, tidak akan kukasih ampun" ancam Rayyan sambil gelitikin tubuh anak kecil itu.
Sontak Junno yang merasa geli lalu tertawa dan berusaha untuk melepaskan diri namun kekuatannya tak sebanding dengan Rayyan yang sudah dewasa.
"Hahhaahaha,,, ampun paman ampun,,,lepaskan aku,,, hahahha,, " ucap Junno minta ampun.
Tapi Rayyan tak mau melepaskan Junno, dia malah tertawa puas melihat Junno kegelian. Dan kelakuan mereka mengundang gelak tawa semua orang yang ada disana apa lagi saat melihat ekpresi wajah Junno yang lucu saat minta ampun pada pamannya. Ayiswa hanya tersenyum menatap suaminya yang masih bercanda dengan keponakannya itu batinnya berkata.
~Ayiswa POV~
Tak pernah terbayang olehku, sesuatu yang tak aku suka malah menjadi yang terbaik untukku. Ya, dialah sosok yang menjadi jodohku, sosok pria cantik yang kini menjadi suamiku. Dulu aku selalu memakinya karena dia salah satu member grup boyband yang bagiku itu sangat aneh karena sudah membuat Upik, sahabatku tertawa sendiri seperti orang gila dan sampai Upik tergila-gila padanya.
Tapi tak disangka aku pun yang pernah berkata tidak akan pernah mencintai orang seperti itu,malah jatuh cinta padanya. N'tah dengan cara apa dia membuatku bisa memberikan sepenuh hatiku untuknya padahal dia tak sesuai ekpetasiku, dia bukanlah sosok pria idamanku. Seperti kebanyakan orang, naluriku pun yang juga menyukai pria yang berbadan tinggi, kekar dan tentunya juga tampan.
Itu sangat berbeda dengan suamiku. Dia tak sekekar mas Alif dia juga tak setinggi bang Ryeon, bahkan dia berbadan kurus dan berwajah cenderung cantik. Tapi itulah cinta, meski tak sesuai ekpetasiku dia mampu membuatku amat mencintainya bahkan cintanya kini sudah menjadi candu bagiku.
Aku tak ingin kehilangan sosok yang begitu amat mencintaiku sosok pria cantik yang sudah rela mengorbankan segalanya untukku, meski dulu dia sempat jalan-jalan kehati lain tapi aku bersyukur, pada akhirnya hatikulah yang menjadi pelabuhan terakhirnya.
__ADS_1
Dan setelah begitu banyak cobaan yang sudah kami lewati aku hanya ingin mengakhiri kisah cintaku dengan suamiku dengan amat bahagia. Dan semoga kedepannya tak ada lagi derita dan air mata karena aku hanya ingin melihat senyuman disudut bibir suamiku yang dulu amat menderita karena memperjuangkan cintanya padaku.
~Ayiswa POV end~