
Saat roller coasternya berhenti mereka semua turun sambil tertawa bahagia karena keseruan tadi sementara perawat itu turun belakangan dengan keadaan sempoyongan karena pusing sudah menaiki roller coaster yang muter-muter tadi, Ayiswa yang melihat perawat itu langsung menghampiri dan memapahnya karena dia hampir jatuh akibat rasa pusing yang dialaminya.
"Bu, Kenapa sempoyongan gitu, Apa ibu pusing?" tanya gadis berusia 20 tahun itu.
Perawat itu tidak menjawab karena tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Ayiswa, dia hanya terus memegangi kepalanya yang terasa pusing tujuh keliling, tiba-tiba perawat itu muntah-muntah karena mual sambil jongkok disemak-semak, Ayiswa langsung mijitin area pundak, leher dan kepala perawat yang terasa pening itu.
"Gimana keadaannya?" tanya Byun soo pada Ayiswa.
"Kayanya dia mabuk deh, gara-gara naik roller coaster itu, ini semu gara-gara bang Byun ngajakin kita naik roller coaster jadi kek gini kan" Ayiswa menyalahkan Byun soo.
"Ish! Ko malah nyalahin aku si?! Ajumanya aja yang udah berumur makannya fisinya gak kuat naik kek ginian" Byun soo membela diri.
"Teruuuss,,,!! Kita harus nyalahin umurnya ibu perawat ini gitu?" tanya Ayiswa.
Byun soo jadi garuk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum. Ayiswa lalu memapahnya untuk mencari tempat duduk, sementara Byun soo hanya ngelihat mereka hingga akhirnya Ayiswa menyuruhnya mencari air minum untuk sang perawat.Lalu dia membeli dan memberikan air minum itu pada Ayiswa.
"Ayo bu, minum dulu"
"Gamsahabnida (terimakasih)" ucap perawat itu.
Perawat itu kemudian meminum airnya, saat keadaannya sudah lebih baik mereka lalu melanjutkan jalan-jalan tapi kali ini mereka tidak naik wahana yang menegangkan lagi karena tak mau perawat itu mabuk lagi.
Saat merasa lelah Ayiswa dan perawat itu lalu duduk disebuah kursi, dengan meja bulat yang besar dan ditengah-tengahnya terdapat payung besar sebagai atap yang menutupi kursi itu agar terhindar dari paparan cahaya matahari.
Sementara Byun soo pergi mencari makanan dan minuman, tak lama dia pun kembali, dia segera menyimpannya dimeja kemudian menarik kursi untuknya duduk disebelah Ayiswa.
Tapi saat dia hendak duduk tanpa melihat kursinya karena dia terus berceloteh sambil menatap Ayiswa, perawat itu menggeser kursi tempat duduk Byun soo alhasil ketika Byun soo akan duduk dia terjengkang jatuh sampai duduk ditanah dia lalu meringis kesakitan.
"Aawww,,,!!"
Ayiswa yang kaget langsung bertanya "Bang kamu tidak apa-apa kan? Kenapa bisa jatuh gitu sih?"
"Nggak apa-apa" jawab Byun soo sambil menatap sinis pada perawat itu dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor karena tadi menyentuh tanah.
__ADS_1
"Anjeon geolileul yujihaeyahaeseo jeosonghabnida (Maaf anda harus jaga jarak aman)" ucap perawat itu dengan wajah datarnya tanpa melihat Byun soo.
Byun soo lalu bangun sambil menggerutuk kesal "Uh! Udah jatuh aja baru ngomong, memperingati sih memperingati tapi jangan ngerjain gue juga kali"
Byun soo lalu duduk ditempatnya tapi tiba-tiba perawat itu berdiri dan menyuruh Byun soo untuk geser karena dia akan duduk ditengah-tengah mereka. Meski begitu dia tidak bisa memarahinya karena perawat itu dibayar untuk mengawasi, mengikuti dan memperingatinya.Kemudian Byun soo membuka kantong plastik yang berisi makanan yang tadi dia beli.
"Tadi aku beli hweori gamja (tornado kentang) ,kimbab, gyeran ppang (roti telur) dan bubble tea, ayo coba" kata Byin soo sambil menyodorkan salah satu makanannya yaitu hweori gamja.
Ayiswa tak langsung memakannya karena dia tidak mau makan dari tangan Byun soo dan dia juga tidak mau membuka lebar-lebar cadar yang dikenakannya hanya untuk menerima suapan dari Byun soo.
"Aku bisa makan sendiri" ucap Ayiswa.
"Udah pokoknya kamu harus nyobain dulu hweori gamja ini, dijamin kamu bakal suka"
Byun soo ngotot pengen nyuapin Ayiswa seraya berdiri dengan agak sedikit membungkuk supaya dia yang duduk berhadapan dimeja bundar itu bisa menjangkau Ayiswa, tangannya masih menyodorkan Hweori gamja karena Ayiswa belum juga memakannya sang perawat yang terus mengawasi mereka tiba-tiba menarik tangan Byun soo yang sedang megangin hweori gamja kemudian dia melahap habis hweori gamjanya hingga yang tersisa hanya tusuknya saja.
Byun soo dan Ayiswa hanya melongo heran menatap perawat itu, dengan tangan yang masih menyodorkan tusuk bekas hweori gamja Byun soo bertanya dengan wajah polosnya.
"Neo baegopeu ni? Geulae, geunyang dasi bad-a gwaenchanh-a (Ajuma lapar? Ya udah, ambil lagi aja, nggak apa-apa ko)"
Perawat dan Byun soo lalu duduk kembali, mereka bertiga lalu melanjutka maka, tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang dihandphone Ayiswa pertanda telah masuk waktunya shalat dzuhur.
"Bang, ini saatnya aku harus menunaikan shalat dzuhur, Dimana ya, tempat untukku bisa mengambil air wudhu?" tanya Ayiswa.
Byun soo lalu celingukan karena disini tidak ada masjid jadi dia mengajak Ayiswa pergi ketoilet umum untuk berwudhu.
"Apa kamu bisa berwudhu diwastafel yang ada ditoilet? Disini jarang ada masjid"
"Ya udah nggak apa-apa"
Mereka bertiga lalu pergi mencari toilet, ketika sudah selesai berwudhu Ayiswa mengajak Byun soo untuk mencari tempat agar dia bisa menunaikan shalat dzuhur.
"Ayo kita cari tempat shalat" ajak Ayiswa.
__ADS_1
"Kamu mau shalat dimana?" tanya Byun soo.
"Dimana aja boleh asal tempatnya bersih dan suci dari najis" jawab Ayiswa.
Ketika melihat ada sebuah pohon besar yang terlihat bersih dan tak banyak orang diarea itu, Ayiswa memutuskan untuk shalat disana, saat dia mengeluarkan sajadah dari tasnya tiba-tiba Byun soo berkata.
"Ayiswa, tunggu dulu ya, aku akan carikan tikar untuk alas shalatmu" kata Byun soo.
Ayiswa lalu mengangguk dan menunggu Byun soo yang akan membeli tikar untuk Ayiswa shalat. Setelah membeli tikar baru dia kembali dan menggelarkan tikarnya untuk Ayiswa, setelah itu barulah Ayiswa menunaikan shalat dzuhur sementara Byun sok dan perawat hanya duduk sambil nungguin Ayiswa selesai shalat.
"Dia sedang apa?" tanya perawat itu pada Byun soo secara tiba-tiba.
"Dia lagi beribadah pada tuhannya" jawab Byun soo sambil terus menatap Ayiswa dengan penuh kekaguman.
"Ajuma, lihatlah dia, bukankan dia seperti bidadari tanpa sayap" lirih Byun soo sambil tersenyum.
"Iya, sepertinya dia sangat cantik meski wajahnya tertutup cadar, dia memiliki sepasang mata yang indah. Apa hubungan ada dengan gadis itu?" tanya perawat itu dengan bahasa formalnya.
"Cuma teman, tapi aku berharap suatu hari hubungan itu akan berubah menjadi lebih spesial" jawab Byun Soo seraya tak berhenti mengalihkan perhatiannya pada Ayiswa yang masih menunaikan shalat dzuhur.
"Dia gadis yang baik, dia cocok dengan anda, Kenapa anda tidak menyatakan semua perasaan anda?"
"Waktunya belum tepat" jawab Byun soo.
Tak lama Ayiswa sudah selesai melaksanakan shalatnya kemudian mereka melanjutkan travelingnya keberbagai tempat hingga hari menjelang sore, mereka lalu pergi kepantai untuk menyaksikan sunset yang akan tenggelam.
Ayiswa lalu duduk dipasir sambil melihat hamparan laut yang luas, kakinya yang tanpa alas kaki perlahan tersapu oleh ombak air laut yang datang dengan pasang surut. Tak lama Byun soo pun ikut duduk disebelah Ayiswa.
"Ini adalah pertama kalinya aku lihat sunset, makasih ya bang Byun, kamu sudah mengajakku melihat sesuatu yang baru dalam hidupku, aku senang melihat ini semua" ujar Ayiswa saat dia mulai menyadari kehadiran Byun soo meski dia tak meliriknya karena pandangannya terus terarah pada lukisan alam disenja hari itu.
"Iya sama-sama, aku juga senang kalau lihat kamu senang"
__ADS_1
Tiba-tiba perawat itu datang dan duduk ditengah-tengah mereka, sebenarnya Byun soo sangat kesal karena perawat itu terus mengganggunya tapi kalau tidak ada dia mungkin Ayiswa tidak akan mau diajak jalan-jalan olehnya.
Next,,,