
Nafas Ayiswa mulai tak beraturan karena ketakutan, dia terus mencoba berontak meski susah untuk bergerak karena ikatan yang mengikat tangan dan kakinya, dokter wanita itu semakin mendekat sambil menyeringai dia menodongkan pisau tajam pada pipi Ayiswa yang tak tertutup oleh cadar dengan perlahan dokter itu menarik pisaunya dari pipi Ayiswa kebawah tepat diatas jantung Ayiswa.
Kedua mata indah Ayiswa membelalak, lututnya bergetar hebat karena takut, dalam hati Ayiswa terus berdoa agar Allah menyelamatkannya dari maut yang tengah mengintai nyawanya. Ketika dokter itu mengangkat tinggi-tinggi pisaunya dan hendak menghunuskan tepat diatas jantung Ayiswa, sontak Ayiswa langsung menjerit sekuat tenaga sambil memejamkan mata.
Aaaaaaaa,,,,!!!
Setelah beberapa saat dia memejamkan mata, tak ada rasa sakit atau rasa apa pun yang dirasakannya. Ayiswa lalu bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah aku sudah mati? Tapi ko nggak kerasa sakit ya?"
Dia kemudian membuka matanya, Ayiswa masih berada ditempat yang sama, dia masih berbaring dan terikat dibangsalnya, tapi kali ini ia tak melihat dokter wanita itu, dengan perasaan tegang, was-was dan takut yang menyelimuti hatinya Ayiswa mulai mengedarkan pandangannya kesekitar tempat itu, rupanya dokter itu sedang menangani adiknya yang tiba-tiba mendapat serangan jantung mendadak.
Ayiswa akhirnya bisa sedikit bernafas lega karena setidaknya kali ini dia masih bisa lolos dari maut meski dia tahu maut masih mengintai nyawanya kalau dia berada ditempat ini, dengan perasaan takut Ayiswa tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia terus mencoba melepaskan ikatannya mumpung perhatian dokter wanita itu masih tertuju pada adiknya.
Akhirnya satu tangan Ayiswa berhasil dilepaskan dari ikatan yang mengikatnya, kemudian Ayiswa pura-pura diam ketika dokter itu melirik kearah Ayiswa untuk memastikan kalau dia tidak kabur, setelah perhatiannya teralih lagi Ayiswa segera membuka tali yang mengikat tangan sebelahnya dan membuka ikatan kakinya.
Setelah ikatanya lepas Ayiswa segera berlari keluar dari ruangan itu untuk mencari pintu,dokter wanita yang melihaynya kabur lalu mengejar Ayiswa sampai keluar ruangan tapi langkahnya terhenti ketika melihat adiknya sedang kesakitan karena serangan jantung, akhirnya dokter itu menelepon anak buahnya untuk mengejar Ayiswa setelah itu dokter itu segera menangani adiknya.
Ayiswa yang sudah berhasil keluar dari rumah terkutuk yang hampir saja merenggut nyawanya itu segera berlari ketika dua pria bertubuh kekar mengejarnya, saat dia mulai merasa lelah terus berlari Ayiswa kemudian bersembunyi ditempat yang menurutnya aman.Hingga dua pria itu melewati tempat persembunyian Ayiswa dan Ayiswa berhasil lolos dari kedua pria itu.
Ayiswa lalu keluar dari persembunyiannya dan terus berjalan meski dia sendiri tidak tahu akan pergi kemana karena tempat yang disepanjang jalannya ditumbuhi pohon sakura itu begitu asing bagi Ayiswa ditambah dia tidak tahu sekarang dia ada dimana.
__ADS_1
"Aku ada dimana? Kayanya pohon ini nggak pernah aku lihat diIndonesia deh" batin Ayiswa keheranan sambil terus memperhatikan sekitarnya.
Tiba-tiba butiran putih berjatuhan dari atas langit, Ayiswa lalu menjulurkan telapak tangannya yang tak berapa lama butir putih ini mendarat mulus ditelapak tangan Ayiswa.
"Apa ini salju?" tanya Ayiswa yang masih kebingungan lalu dia menengadahkan wajahnya keatas langit.
Dia melihat ribuan bahkan jutan salju itu turun dari langit, seketika hawa dingin langsung menusuk tulang rusuk Ayiswa yang dikala itu itu tidak mengenakan mantel tebal dan dengan posisi telanjang kaki, Ayiswa segera berlari untuk mencari tempat berteduh dari gempuran salju putih nan lembut itu. Kemudian dia duduk disebuah halte bersama beberapa orang yang memandangnya dengan penuh rasa aneh, melihat penampilan Ayiswa sebagai seorang muslimah sejati dan tanpa menggunakan mantel.
Ketika salju berhenti turun orang-orang itu mulai pergi dari halte sedangkan Ayiswa masih termangu karena bingung dia harus pergi kemana? Ditempat yang begitu asing ini. Hari semakin larut dan hawa dingin yang dibawa oleh angin malam semakin menusuk tubuh Ayiswa yang dari tadi menggigil kedinginan.
"Aku harus mencari tempat yang lebih hangat disini terlalu dingin, aku juga harus mencari tempat untuk aku tidur malam ini" gumam Ayiswa.
Lalu dia pergi mencari tempat yang lebih hangat, namun hawa dingin dimalam itu membuat langkanya terseok-seok, apa lagi kakinya yang tanpa alas kaki sudah hampir membeku karena menginjak salju yang dingin, wajahnya yang berkulit kuning langsat sudah berubah pucat pasi dan bibinya sudah membiru karena kedinginan.
Dia masih kebingungan dan sedang mencari tahu keberadaannya kini ada dimana? Saat dia melewati sebuah gedung yang menjulang tinggi dan didindingnya terpasang papan bilboard disana dia melihat ada foto-foto member Super sun terpampang dibilboard tersebut.
"Bukannya itu bang Byun dan teman-temannya? Apa mungkin aku ada dikorea? Ah! Tidak mungkin. Bagaimana bisa aku sampai disini?" gumam Ayiswa sambil menepis pikirannya.
Lalu dia melanjutkan perjalanan hingga Ayiswa yang sudah tak kuat lagi kemudian duduk ditrotoar jalan dengan tubuh yang terus menggigil hebat. Saat ia tengah terduduk sambil melamun tiba-tiba tatapannya menangkap sosok pria yang baru saja keluar dari minimarket yang berada diseberang jalan.
"Itu kaya bang Byun" batin Ayiswa.
Lalu dia beranjak dari duduknya, kemudian mengikuti pria yang membawa dua kantong plastik belanjaan yang berjalan begitu cepat diantara gank perumahan diarea itu. Dengan terseok-seok dan susah payah Ayiswa terus mengejar pria itu sambil memanggi namanya tapi karena Ayiswa dengan keadaan tubuhnya yang lemas jadi tertinggal jauh dari pria itu hingga dia tidak bisa mendengar Ayiswa yang memanggilnya untuk berhenti.
__ADS_1
Ketika sampailah disebuah rumah, pria itu langsung masuk kedalam rumahnya sementara Ayiswa terus mengikuti pria itu sampai kerumahnya.
"Dia masuk kerumah ini. Apa ini rumahnya bang Byun? Apa pria tadi itu benar-benar bang Byun?" Ayiswa jadi mendadak ragu.
Untuk memastikan keraguannya lalu dia memencet bel rumah itu, agar penghuni rumah itu keluar. Sementara didalam pria yang tadi belanja langsung memasukan belanjaannya kedalam kulkas, tiba-tiba dia mendengar ada suara bel berbunyi.
"Siapa sih! Malam-malam gini yang datang kerumahku? Ini rumahkan baru aku beli jadi tak ada orang yang tahu rumah ini bahkan keluargaku sendiri pun tidak tahu alamat rumah ini. Apa mungkin yang datang kerumahku malam-malam gini tuh! Wartawan?" gumamnya dalam pertanyaan yang menerka-nerka.
"Ah! Sial aku ketahuan lagi, bodo amatlah aku tidak akan buka pintunya"
Dia lalu masuk kekamarnya kemudian tidur karena sekarang sudah sangat larut malam.Sementara diluar Ayiswa terus memencet belnya berharap penghuni rumah segera membukankan pintu, namun setelah lama ditunggu-tunggu tak ada tanda-tanda kalau penghuni rumah akan membukankan pintunya untuk Ayiswa.
Akhirnya Ayiswa yang sudah tak kuat lagi menahan tubuhnya yang lemas dengan terpaan angin malam dan cuaca dingin langsung terkulai lemah didepan pintu, tubuhnya yang sudah hampir membeku itu hanya bisa meringkuk lemas didepan pintu, Ayiswa yang sudah tak kuat lagi akhirnya hanya bisa pasrah sambil meringkuk didepan pintu sampai penghuni rumah ini keluar dan menolongnya.
Pagi hari kemudian, Byun soo yang sudah bangun meski kali ini dia lagi libur kerja tapi pagi-pagi dia sudah siap pergi karena hari ini ada acara keluarga yang harus dia hadiri, dia mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari rumah. Saat dia membuka pintu betapa terkejutnya dia ketika melihat didepan pintu rumahnya ada seseorang yang terbujur kaku dilantai.
"Siapa dia? Kenapa dia tidur didepan rumahku?" batin Byun soo.
Kemudian dia jongkok untuk melihat lebih jelas sosok itu, Byun soo terperanjat kaget hingga dia beringsut mundur dan terduduk dilantai ketika dia melihat sosok yang terbaring lemah didepan pintu rumahnya.
Next,,,,
__ADS_1