Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
10. PUSAKA PENUH KEJUTAN


__ADS_3

Tubuhku terasa ringan, bukan terbaring melainkan terduduk di kursi kayu, tapi anehnya terasa hangat. Angin bertiup pelan menerbangkan rambut panjang hitamku, terasa menyegarkan, memberikan suntikan energi tersendiri. Aku mulai membuka mataku perlahan, sinar hijau dan emas terlihat jelas menerpa mataku, aku mencari sumber cahaya dan menemukan buku pusaka bersinar di pangkuanku, membuka sebuah halaman.


'Kelahiran ganda dari sepasang elf yang setia'


Ada kebahagiaan yang kurasakan, masalah kerajaan hutan hujan bukanlah masalah yang bisa disepelekan begitu saja. Elf memang terkenal susah memiliki keturunan, tapi jika sudah ribuan tahun pastilah meresahkan. Tulisan di salah satu buku pusaka adalah sebuah ramalan yang akan membawa kebahagiaan bila terbukti kebenarannya. Membayangkan akan adanya kelahiran penerus di hutan hujan membuatku tersenyum, betapa bahagianya.


Aku mengusap halus halaman buku pusaka dan tiba-tiba buku itu membalikkan halamannya. Tak ada tulisan, tapi sinar hijau emas yang keluar dari halaman itu semakin kuat, lama kelamaan berubah menebal dan menyedot seluruh tubuhku masuk, seperti portal tapi amat sangat tidak nyaman. Rasanya seperti dipelintir, pusing dan sedikit menyakitkan.


"Aah..!" teriakku lirih, aku jatuh terduduk di sebuah ruangan berlantai marmer. Lututku sedikit perih, tapi tak ada darah mungkin hanya sekedar memar biasa. Aku mencoba berdiri dengan berpegangan pada dinding yang berhias lukisan bunga peoni. Aku membetulkan setelan baju hitam polosku yang kusut.


"Sayang, bertahanlah! Aku mohon."


Aku kaget hingga hampir jatuh, suara teriakan itu amat familier, seperti suara ayah. Aku mencari sumber suara dan di tengah ruangan kutemukan 5 orang yang kukenal mengelilingi sebuah ranjang yang tertutup tirai merah matahari emas. Ayah, Kak Nala, Kak Prisa, Paman Ezio dan Ibu Asuh Sarala menyalurkan energi mereka ke arah ranjang, terdengar rintihan sakit ibunda dari ranjang yang tertutup tirai itu. Dinding pelindung terbentuk di sekeliling mereka, melindungi dari gangguan luar. Merekapun tak merasakan kehadiranku sama sekali. Energi yang mereka salurkan fokus mengalir menuju satu arah, ibunda.


"Yang Mulia bertahanlah, sedikit lagi! Yang Mulia pasti bisa!" kali ini terdengar suara dari balik tirai.


"Aaaaaa!!" teriakan ibunda terdengar memekakkan telinga, tak lama setelah itu cahaya pelangi yang teramat terang memenuhi seluruh ruangan bahkan menembus ke luar, aku mundur beberapa langkah menyenderkan tubuhku ke dinding, 'apa ini? kenapa begitu mirip dengan cahayaku?'

__ADS_1


Tak lama setelahnya tangisan bayi terdengar keras, mengalun ke setiap telinga yang bernyawa, terbawa angin dan cahaya ke seluruh negri, anehnya tak memekakkan telinga, tapi malah bagaikan lantunan lagu yang indah, membawa kebahagiaan bagi siapa saja yang mendengarnya. Sorak sorai terdengar riuh dari luar ruangan.


"Panjang umur Kaisar, Panjang umur Permaisuri, Panjang Umur Putri Ke Tiga! Panjang Umur Putri Ketiga! Panjang Umur Putri Ke Tiga!" sorak sorai ucapan selamat terdengar tanpa henti.


"Selamat Yang Mulia, putri ketiga lahir dengan selamat dan sempurna," seorang wanita paruh baya membuka tirai, mengaitkan tirai ke tiang ranjang. Terlihat ibu yang tampak lelah tapi kini senyuman bahagia terlihat di wajahnya, kedua tangannya menggendong seorang bayi yang masih merah.


'Tapi siapakah wanita itu?' batinku. Kepalaku mencoba memilah memori, tapi yang kutemukan hanyalah ingatan akan ucapan Vivian sewaktu di air terjun keabadian, "Yang Mulia, saat anda lahir semua entitas memberikan seluruh nyawa mereka untuk melindungi keselamatan Yang Mulia, karena enam orang terkuat berfokus mentransfer energi pada Yang Mulia Permaisuri Elina."


Ya, Vivian jelas-jelas menyebutkan 6 orang, bukan 5. Maka orang ke-6 adalah wanitu itu, tapi aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Wanita itu terlihat sudah berumur 50 an tahun, rambut silvernya tampak bergelombang, gelang berukir naga hijau tersemat di pergelangan tangan kirinya, ukiran naga yang sama dengan belati kecilku dan tongkat Tetua Mahanta. Selesai mengamati wanita paruh baya itu, kini pandanganku beralih ke arah lima orang yang amat kusayangi.


Ayah menghampiri ibunda, ia mencium kening ibunda lalu beralih ke bayi merah yang digendongnya. Bayi itu tampak tenang terbalut kain sutra yang lembut, tangisannya kini tak terdengar lagi, mata hitamnya seolah mengamati ayah dan ibu.


"Putri bungsuku yang cantik, kuberi nama Aira Airlangga, tumbuhlah sehat, bijaksana dan bisa melindungi orang-orang disekitarmu," ayah mengelus kepala bayi itu dan mencium keningnya. Bayi itu tersenyum dan mengerjap manja, pipi merahnya amat menggemaskan.


'Itu aku? Maka ini adalah masa lalu?' batinku terkejut dengan ucapan ayah, aku mencoba berjalan menembus lapisan pelindung, benar saja, tubuhku menembusnya dengan mudah. Semua orang di ruang ini benar-benar tak menyadari kehadiranku, kecuali wanita paruh baya yang tadi membantu ibu melahirkan. Wanita itu memandang tepat ke mataku, seolah tahu kehadiranku, tapi aku benar-benar tak mengenalnya.


"Tenanglah Yang Mulia, Putri Ketiga akan tumbuh cantik dan sehat, ia mewarisi segala kebaikan dari kelima permaisuri sebelumnya, semoga Yang Mulia Putri Ketiga diberi umur panjang," ucapannya tampak ditujukan pada ayahanda, tapi tubuh dan matanya benar-benar menatapku.

__ADS_1


"Benarkah Mahira? Syukurlah kalau begitu, katakan padanya untuk tidak membuat keributan seperti ini lagi, hahahaha...." ayah tertawa keras, terlihat benar-benar bahagia, ada kelegaan yang terlihat di wajahnya. Sedangkan wanita yang dipanggil Mahira, kini menatapku dengan tersenyum.


'Yang Mulia, trimakasih telah hidup dan tumbuh dengan begitu sempurna,' suara Mahira terdengar di kepalaku, padahal ia sama sekali tidak berbicara. Aku menatap Mahira, ia mengangguk, membenarkan bahwa yang ku dengar adalah telepati darinya. Dia benar-benar merasakan kehadiranku.


Di samping itu, Kak Nala dan Kak Prisa ikut mendekat, mereka bergantian mencium ibu dan aku yang masih bayi, aku terharu mataku terasa berkaca-kaca. Tak kusangka walaupun telah mendengarnya dari Edward, Vivian dan Tetua Mahanta, tapi aku tak menyangka kenyataannya aku menyusahkan banyak orang saat lahir.


"Duuarr!"


Semua orang dalam ruangan terkejut akan suara ledakan yang begitu keras, sebuah portal menembus seketika menghancurkan pelindung ruangan, terlihat seorang elf berlari ke ruangan dengan tergesa diikuti 10 orang lainnya, termasuk Tetua Mahanta.


"Bahaya, lindungi Kaisar dan keluarga utama!" seru Elf itu lantang, mereka berdiri menghadang di depan ranjang ibunda.


"Apa yang terjadi Alejandro?" Paman Ezio segera bergabung dengan Elf tadi yang ternyata bernama Alejandro.


"Gawat, mereka sudah merusak lapisan pelindung utama, tinggal lapisan akhir yang masih bertahan, tapi ada sebuah portal yang masuk tanpa merusak lapisan akhir, kami mengejarnya, portal itu sudah tiba disini." Alejandro memandang portal yang tampak seperti tornado berwarna biru pekat, berbeda dari biasanya, kekuatan portal adalah gambaran kekuatan pembuatnya, bisa tak terlihat bisa pula sengaja diperlihatkan. Tapi ini, portal ini bahkan bisa menembus lapisan pelindung?


"Tunggu, siapa tahu mereka bukan musuh," ibu asuh Sarala mendekat ke arah portal. "Mereka menembus pelindung, tapi pelindung utama kekaisaran sama sekali tak memberikan perlawanan, dan juga bukankah ini warna aura yang kita kenal?"

__ADS_1


__ADS_2