Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
45. Sesuatu yang Tak Pantas Dilihat


__ADS_3

Aku melangkah masuk melewati pagar yang terbuka lebar, lalu mencari sumber asap. Tampaknya asap berasal dari belakang rumah, aku memilih menyusuri halaman dan memutari bangunan utama rumah itu. Rumah itu tampak megah berlantai tiga, dilapisi emas dan tampaknya dominan dengan ukiran emasnya. Halamannya pun cukup luas, tapi tak ada bunga, tampaknya pemilik rumah tak begitu menyukai tanaman, karena halamannya tampak kosong dan bersih tak ada satu pun tumbuhan atau bunga yang terlihat.


Aku terus berjalan hingga bau terbakar menyengat di hidungku, tampaknya aku telah sampai di tempat yang kutuju. Halaman belakang rumah ini tampak sebagai tempat pembuatan kerajinan tanah liat, tumpukan tanah liat menggunung di salah satu bagian, terdapat banyak piring, gelas, cangkir bahkan guci yang tampak berjejer di etalase, semuanya tampak indah dan mempesona.


Kembali kulangkahkan kaki perlahan masuk ke dalamnya, sisa asap tampaknya masih belum meninggalakan ruangan ini. Aku mengerjap beberapa kali menerobos kepulan asap yang menghalangi jarak pandangku. Semakin masuk, semakin aku melihat banyak kerajinan yang masih setengah jadi berjejer di rak kayu yang tampak lebih sederhana dari pada etalase yang kulihat tadi. Semakin masuk aku melihat tiga tungku besar dengan asap mengepul, tampaknya tungku-tungku itulah yang menjadi sumber suara ledakan beruntun yang tadi kudengar. Di depan masing-masing tungku terlihat sebuah guci berukuran sedang, ketiga guci itu tampak sedikit lebih gelap daripada guci lain yang kulihat di etalase, tapi corak hitam yang tak merata entah bagaimana menarik perhatianku, melihatnya tampak seperti sebuah karya seni yang tak bisa sembarang orang ciptakan. Mengingat bahwa ketiga guci itu merupakan hasil dari sebuah ledakan, yang merupakan kesalahan, membuatku semakin penasaran dengan orang yang membuatnya. Kegagalannya saja sangat amat menarik di mataku, membuatku penasaran dengan guci yang benar-benar ia buat dengan sepenuh hati tanpa kegagalan, akankah sangat cantik?


Saat hendak melangkah lebih dalam karna penasaran, aku menyadari sesuatu dan berhenti. Di lantai ruangan yang mungkin sengaja dibuat beralaskan tanah, aku melihat sepasang pria dan wanita saling memeluk satu sama lain, pakaian keduanya terlihat hitam mungkin akibat efek ledakan?


Tiba-tiba Balin berjalan ke depanku, ia memposisikan tubuhnya tepat di hadapanku. Aku sedikit kesal karena tubuhnya yang besar dan berotot sukses menghalangi pandangan mataku, "apa yang kau lakukan Balin? Kau menghalangi pandanganku!"


"Maaf Yang Mulia, tampaknya ini bukan sesuatu yang pantas untuk Yang Mulia lihat," wajah Balin yang menghadapku terlihat datar, tapi aku jelas melihat ada sedikit rona merah di wajahnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu Balin? Aku khawatir mereka terkena efek ledakan karena tak bergerak!" ucapku membantah Balin, apa yang ia maksud dengan 'sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat?'


Aku masih ingin memprotes tindakan Balin ketika ku dengar suara sesuatu yang bergerak, aku menggunakan mata dewaku, pandanganku menembus tubuh Balin dan melihat sang pria yang tadi tergeletak kini tampaknya mulai bergerak, ia melonggarkan pelukannya. Lama ia terdiam mengamati wajah seorang wanita yang masih tak sadarkan diri, tatapan yang ia berikan pada wanita itu, mengingatkanku pada tatapan Varen.


Oh ya ampun apa yang aku pikirkan barusan? Kenapa aku membandingkannya dengan Varen, sadarlah Aira! Aku merutuki diriku sendiri dalam hati. Aku mencoba kembali fokus dan menajamkan mata dewaku.


Walaupun tak jelas karena asap dan wajah mereka yang tampak sedikit kotor akibat ledakan, tapi dari siluetnya aku merasa sang wanita pastilah berparas cantik. Rambut coklat pendek sebahu, dan hidung yang tampak mancung, tetapi entah kenapa aku melihat aura tembaga wanita itu sedikit meredup, berbeda dengan aura merah si pria yang tampak menguar kuat.


"Uhuk..uhuk..uhuk..!" wanita itu terbatuk dan tampaknya mulai sadar, sementara si pria tampak kaget dan langsung berdiri, ia tampak menjaga jarak dari tubuh si wanita yang masih tergeletak di tanah.


"Bukankah aku sudah berkali-kali mengingatkanmu bahwa kau tidak boleh menyentuh tungku sedikitpun, Lia?" si pria bersuara dengan nada ketus yang meninggi, tapi berbeda dari perkataannya aku melihat tatapan khawatir pada kedua matanya, kedua mata yang ia paksakan memandang ke arah tungku. Ia menghela nafas panjang, "aku kecewa padamu!"

__ADS_1


Aku menyadari pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang menembus aku dan Balin. Rambut hitam pendeknya kini tampak lebih berantakan dan kotor karena tanah, sekilas aku melihat matanyanya menyala merah, aku mengerjapkan mata dan melihatnya lagi, tapi kali ini cahaya itu tak terlihat, aku hanya melihat mata hitam yang tampak kecewa, mungkinkah tadi aku salah lihat? Aura merahnya terlihat terus menguar, mendominasi ruangan. Si pria jelas-jelas merupakan seorang pengendali api dilihat dari aura yang ia miliki, tapi kilatan cahaya merah yang tadi sempat kulihat di matanya, membuatku sedikit terusik, ada sesuatu pada diri pria itu yang tampak spesial? atau aneh? aku tidak tahu bagaimana menggambarkannya dengan kata yang tepat, yang jelas aku merasakan sesuatu dalam diri pria itu yang berbeda dari orang biasa.


"Apakah kau sengaja menghancurkan fokusku dalam turnamen? Untung aku memasang mantra pada tungku, hingga aku menyadari kau mencoba menggunakan tungku dan mungkin menyebabkan sesuatu yang berbahaya, hingga akhirnya aku berlari ke sini meninggalkan semuanya! Untungnya kau masih bisa selamat! Kalau tidak, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi!"


Si wanita yang bernama Lia, tak menjawab satupun kata-kata amarah si pria yang ditujukan padanya. Lia berdiri dan melangkah pelan mendekati si pria dari belakang, lalu ia memeluk pria itu. Lia memeluk punggung si pria dengan erat, "Maafkan aku Kak Liam."


"Aku hanya ingin membuatkanmu sebuah hadiah, tapi aku tak punya uang, maka hanya ini yang terpikir olehku." Lia melepas pelukannya, lalu ia memutar tubuh si pria hingga saling berhadapan, hampir tak ada jarak di antara keduanya. Lia menatap Liam dalam dan terlihat sedikit berjinjit, ia merengkuh leher Liam dan kemudian menciumnya!


Awalnya Liam menolak, tapi Lia kembali mencium Liam dengan lembut, dan aku melihat Liam membalas ciuman Lia sambil memeluk tubuhnya. Oh tidak, seketika aku menghentikan mata dewaku!


Aku menghirup nafas panjang, mencoba menenangkan jantungku yang berdegup kencang, kini aku menyadari kenapa Balin bersikukuh menghalangi pandanganku. Tapi darimana Balin tahu kalau ini akan terjadi? Apakah dia punya mata dewa sepertiku? Ataukah instingnya yang teramat tajam hingga bisa menebak apa yang akan terjadi? Tapi kenyataan bahwa aku melihat mereka berciuman membuatku malu sendiri! Ini pertama kalinya aku melihat orang lain melakukannya, oh bahkan aku belum pernah melakukannya! Aku telah menodai mataku sendiri, oh ya ampuuun aku sangat malu!

__ADS_1


"Yang Mulia, apakah anda baik saja? Wajah anda tampak merah, apakah Yang Mulia demam?" Balin menatapku dengan khawatir.


"Ehm! Mari kita pergi dari sini Balin, lebih cepat lebih baik!" Aku berbalik dan bergegas keluar dari rumah itu, dan seperti biasa Balin mengikutiku dari belakang.


__ADS_2