Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
12. SUARA MEMINTA TOLONG


__ADS_3

"Apakah anda bisa melihatku?" tanyaku membatin tapi tatapanku tertuju pada sepasang mata hitam Mahira.


"Ya, Yang Mulia." Mahira tersenyum dan menjawabku dengan telepati. "Yang Mulia segeralah kembali, tidak baik melakukan perjalanan waktu terlalu lama," mata Mahira terlihat sedikit sendu. "Banyak yang menunggu Yang Mulia di sana."


Aku mengangguk, tapi aku tak tahu bagaimana caranya untuk kembali, buku pusaka yang membawaku ke sini, tapi bagaimana cara kembali?


"Hanya Yang Mulialah yang mengetahuinya, semoga kita bisa bertemu kembali di lain waktu, Yang Mulia," Mahira bersimpuh memberi hormat ke arahku, pandangan mata semua orang beralih ke Mahira, lalu mengikuti arah Mahira bersimpuh, mereka tampak menerka-nerka tapi masih terdiam, menunggu Mahira menyelesaikan hormatnya.


Aku pasrah, aku hanya ingin kembali, aku hanya ingin kembali, kuulangi kata-kata itu dalam hati, seketika cahaya pelangi menyelimutiku, melahapku dalam cahaya, kembali kurasakan tubuhku melawan ruang dan waktu, sesuatu yang belum bisa kunikmati.


"Tolong, tolong aku!"


Aku membuka mata di tengah-tengah gumpalan cahaya pelangi yang melahapku, aku menyipitkan mata dan menajamkan telingaku.


"Tolong aku, kumohon!"


Ketemu! Ada satu titik perak di salah satu sudut gumpalan cahaya pelangi. Suara laki-laki yang meminta tolong terdengar jelas, aku tahu Mahira memperingatkanku untuk lekas kembali, tapi suara itu benar-benar terdengar tak berdaya. Aku mengangkat tangan kananku, "Berhenti!" Cahaya yang tadi berusaha melahapku, kini tenang tak bergerak. Tubuhku yang tadinya tak berdaya kini berdiri tegap, cahaya pelangiku membentuk sebuah ruangan dengan dua pintu. Kini aku bisa melihat dengan lebih jelas, titik perak yang tadi kulihat kini tampak bagaikan sebuah pintu.


Aku berlari ke arah pintu perak itu sekuat tenaga, berharap bisa menghemat waktu. Sesampainya di depan pintu, aku raih gagang pintu itu. "Ah!" Teriakku kaget, gagang pintunya benar-benar dingin, sedingin es!


Tapi tak ada waktu lagi, kuberanikan diri membukanya dengan menahan hawa dingin yang mencoba masuk ke tubuhku. Berat, pintu ini terasa berat bagaikan pintu besi yang tebal. Aku memakai kekuatanku, cahaya merah dari pelangiku mendominasi membantu membuka pintu itu.


"Kreeek" pintu perak terbuka, mengejutkan seekor singa emas yang tampak bersiaga. Matanya menatapku menelisik, singa emas itu berukuran lebih besar dari orang dewasa, tampak berdiri gagah, auranya pun tak main-main, kalau aku tak memiliki cahaya pelangi maka mungkin kini aku sudah tertunduk akibat pengaruh auranya.


"Maaf, aku datang karena mendengar suara meminta tolong," tanyaku pada singa itu tanpa menggunakan telepati, entah kenapa aku hanya terpikir untuk langsung bicara.


Singa emas itu mengaum, ia terlihat mengeluarkan seluruh auranya dan hanya ditujukan ke arahku. Aku merasakan auranya menguat, tapi entah kenapa bukannya menyengat tapi malah terasa hangat. Perlahan mulai kulihat barrier pelindung terpasang di belakang singa itu, bagaikan mengelilingi sesuatu, mungkin sesuatu yang ia lindungi.


"Maafkan aku, jika memang aku mengganggumu, maka aku akan pergi, mungkin tadi aku hanya salah dengar." Aku bergerak mundur dan hendak berbalik.


"Tunggu Yang Mulia,"


Aku kembali menatap ke asal suara, singa itu kini bersimpuh memberi hormat padaku. "Yang Mulia ampuni hamba, hamba hanya ingin melindungi tuan hamba yang terluka."

__ADS_1


Kulihat seorang pria terbaring tak sadarkan diri di dalam barrier pelindung, mungkin dia tuan yang singa emas maksud. Singa emas ini bisa bicara tanpa telepati, berbeda dengan hewan suci milik kekaisaran matahari, maka mungkin aku sedang berada di luar kekaisaran matahari.


"Berdirilah, tapi maaf, aku hanyalah orang biasa, bukan seorang tabib. Apakah kau masih membutuhkan bantuanku?" tanyaku pada singa emas.


"Yang Mulia, tuan hamba terkena racun jika tidak segera ditolong, mungkin tidak ada harapan, hamba mohon Yang Mulia, tolong selamatkan tuan hamba." Singa emas masih tetap bersimpuh di hadapanku, matanya terlihat menahan kesedihan.


"Aku tidak yakin bisa menyembuhkannya, tapi bolehkah aku mencobanya?" tanyaku tulus.


Singa emas mengangguk dan membuka barrier pelindung, "Ah!" hawa dingin menyeruak menghantam tubuhku sesaat setelah barrier pelindung terbuka. Aku terkejut dan menatap singa emas yang juga sama terkejutnya. "Inikah racun yang kau maksud?"


Singa emas mengangguk lagi, terlihat jelas ia tak ingin menjelaskan lebih banyak. Racun apa yang bisa membuat hawa dingin menusuk seperti ini? Aku harus cepat, kalau tidak aku bisa ikut membeku dan tak bisa kembali. Aku memilih cahaya emas dan memancarkannya ke seluruh ruang agar sedikit menghangat, kukeluarkan selimut dari cincin penyimpanan dan menyelimuti singa emas yang kedinginan, masih dengan berhati-hati agar tidak menyentuhnya.


Aku beralih berjalan ke arah laki-laki itu, semakin mendekat aku menyadari kalau usianya mungkin beberapa tahun lebih tua dariku. Rambut perak, kulit pucat, ia tampak kesakitan. Jubah perang berlambang singa emas yang ia pakai kini tampak terselimuti es, ia mulai membeku. Yang kuingat, dari semua cahaya pelangi yang kumiliki, cahaya emaslah yang cukup hangat bagaikan sinar mentari pagi, berbeda dengan cahaya merah yang panas bagai api.Mungkin cahaya emas bisa menghangatkannya seperti aku menghangatkan ruangan ini, maka kusalurkan padanya, lama kucoba tapi tak bereaksi.


Kenapa tak bereaksi? Apa yang harus kulakukan? Aku mendudukkan diri disamping pemuda itu, berpikir apa yang bisa kulakukan. Apa mungkin aku butuh semua auraku?


Aku mengumpulkan semua pelangi dan menyalurkan cahayaku tanpa menyentuhnya, oh ya ampun aku hanya ingin menolongnya! Tolonglah!


"Uhuk..Uhuk.." Pemuda itu bereaksi tapi ia memuntahkan darah. Berbeda dengan darah hitam yang kumuntahkan di danau keabadian, darah yang dimuntahkan pemuda ini adalah darah segar! Aku menghentikan transfer aura pelangiku, lalu beralih memandang singa emas yang terlihat semakin cemas.


"Perak, Yang Mulia," jawab singa emas.


"Perak? Tidak ada warna perak dalam pelangiku, oh ya ampun apa yang bisa kulakukan?" Aku benar-benar bingung, rasanya aku ingin menjadi kak Prisa yang mengetahui penyembuhan berbagai penyakit. Oh ya ampun tapi aku bukan kak Prisa ! Rasanya ingin menangis.


"Yang Mulia memang tidak punya warna aura perak, tapi rambut Yang Mulia berwarna perak."


Seketika aku menatap mata singa emas, apa dia buta? Jelas-jelas rambut panjangku berwarna hitam, bagaimana bisa dia menyebutnya perak?


"Potonglah beberapa Yang Mulia, maka anda akan melihat kebenarannya."


Aku tak punya pilihan, aku mengeluarkan belati naga dari cincin penyimpanan dan memotong beberapa helai rambut hitamku. Aku mengamatinya, ajaib! Warnanya benar-benar berubah seperti rambut nenek permaisuri ke-5, apa yang terjadi?


"Waktu kita tidak banyak, tolong teteskan beberapa darah Yang Mulia ke atasnya."

__ADS_1


Aku kembali mendelik ke arah singa itu, aku yang sekarang mungkin hanya arwah, karena aku yakin tubuhku masih terbaring di ranjang istana hutan hujan, bagaimana bisa arwahku mengeluarkan darah? Tunggu, tadi aku juga bisa memotong rambutku, apa aku benar-benar bisa mengeluarkan darah?


Rasa penasaran mengalahkan segalanya, kulepas sarung tangan pemberian Vivian, lalu kembali menggunakan belati naga untuk melukai sedikit ujung jariku hingga mengeluarkan darah. Belatiku ternoda darah, aku mulai meneteskan darahku ke atas rambut perak yang telah kupotong. Tepat tiga tetes darahku jatuh, potongan rambutku meleleh bercampur dengan darahku, membuat sebuah gumpalan aneh berwarna perak bercampur merah. Gumpalan itu tampak bergerak dan tiba-tiba menyelimuti belati naga yang kupegang. Belati nagaku bergetar hebat, aku melepaskan peganganku.


Belati yang terselimuti gumpalan perak merah itu kini membesar, membentuk sesuatu yang amat besar, aku mengamati dan terkejut dengan sendirinya. Belati berukir naga hijau emas kini berubah menjadi seekor naga perak di hadapanku. Apa ini? Aku kembali menengok ke arah singa emas.


"Tolong selimuti naga itu dengan aura Yang Mulia, dan mintalah air mata naga perak padanya."


Aku kembali menuruti kata-kata singa emas, aura pelangiku menyelimuti naga perak. Naga perak yang tadinya tak bergerak kini mulai menggerakkan ekornya, perlahan matanya membuka, sepasang bola mata perak menatapku.


"Hormat hamba, Yang Mulia." Naga itu bersimpuh di hadapanku.


Sedikit terkejut, bagaimana mungkin beberapa helai rambutku ditambah 3 tetes darah bisa menjadi seekor hewan suci yang bahkan bisa bicara? Oh ya ampun!


"Maafkan aku, tapi apa boleh aku meminta air matamu? Aku ingin menyelamatkan nyawa pemuda ini, bolehkah?" tanyaku dengan sedikit takut, baru kali ini aku berhadapan dengan seekor naga perak yang amat besar, aku memang sempat melihat naga milik tetua Mahanta, tapi ukurannya tak sebesar naga perak ini.


"Tentu Yang Mulia," Naga itu lama memandangku dalam diam, dan ia mulai menangis. Aku mengibaskan tangan kananku, seketika aura pelangiku membentuk sebuah cawan dan menampung air mata naga perak.


"Cukup, trimakasih sekali," ucapku sambil tersenyum ke arah naga perak lalu kuterbangkan cawan itu ke arah pemuda yang terbaring, aku berjalan mendekat. Ia harus meminum air mata naga perak, aku mengambil mantel panjang tebal dari cincin penyimpanan, memakainya dan juga memakai kembali sarung tangan pemberian Vivian.


"Aku ingin menolongmu, jadi tolong bangunlah!" Aku mengangkat sedikit kepala pemuda itu, meraih cawan dan meminumkannya sampai habis. Pemuda itu tak sadarkan diri tapi gerakan refleks membantu air mata naga masuk kedalam tubuhnya. Perlahan suhu ruangan mulai menghangat, lapisan es di jubah pemuda itu kini mencair, tubuh yang tadinya putih pucat kini mulai kembali berwarna.


"Putriku tolong kembalilah sekarang!"


Aku terkejut, suara ayah terdengar amat keras di telingaku, ada isak tangis dalam suaranya.


"Sayang cepat kembali, ibu mohon!"


Kini berganti suara ibunda yang menangis. Oh tidak, waktuku untuk kembali hampir habis! Aku menatap pemuda itu, kini hawa dingin telah pergi, tangannya mulai bergerak. Apakah tidak apa-apa meninggalkannya?


"Banyak yang ingin kutanyakan padamu, tapi aku harus segera pergi. Apakah tugasku telah selesai?" tanyaku pada singa emas.


Singa emas mengangguk, "terimakasih Yang Mulia," singa emas bersimpuh memberi hormat padaku.

__ADS_1


"Yang Mulia, naiklah!" Naga perak kini berada di sampingku, "akan lebih cepat jika terbang bersama hamba".


Tanpa banyak kata-kata, aku naik ke punggung naga perak dan mengalungkan tanganku ke lehernya. Seketika naga perak terbang sangat cepat menembus pintu perak dan cahaya yang berlapis-lapis, aku menutup mataku dan mencoba menghilangkan sensasi yang membuatku sedikit mual.


__ADS_2