
"Ibu!" Aciel menjatuhkan dirinya hingga terduduk di lantai gazebo. Tangannya masih mengepal, matanya kini mulai berkaca-kaca.
"Oh tidak, Suri!" Ibunda mengeratkan gendongannya di tangan kiri, sementara tangan kanannya ia arahkan ke dalam air danau. Ia berkonsentrasi penuh, hingga air danau membentuk sebuah lubang yang dalam, dan tampaklah sang istri terbang terangkat ke permukaan, dengan cepat ibu mengarahkannya hingga sang istri mendarat di jembatan. Ibunda meletakkan bayi di gendongannya, dan memeriksa sang istri dengan kedua tangannya, ia menyalurkan energi pada tubuh wanita yang kini tampak pingsan.
"Uhuk..uhukk..." sang istri terbatuk-batuk mengeluarkan air yang tadi menghalangi jalan nafasnya. Ia mengerjap beberapa kali dengan lemah, "terimakasih Yang Mulia".
Ibu memeluknya erat dan menangis, "oh syukurlah.. syukurlah.."
Di saat ibu dan sang istri berpelukan, si bayi mulai berdiri dan berjalan dengan cepat ke arah sang suami. Bayi itu lolos dari perhatian ibunda, ia menampakkan senyuman polos khas anak-anak.
Mahes yang bersiap menyerang, mengurungkan niatnya ketika melihat bayi itu berhenti di hadapannya dan mengulurkan kedua tangan, meminta digendong.
"Hahaha, sepertinya putrimu lebih pintar dari yang kukira!" Mahes tertawa menggelegar.
"Oh tidak, Aira!" Ibu terkejut dan melepaskan pelukannya dari sang Istri, ia berdiri dan hendak berlari ke arah si bayi. Tunggu, bukankah tadi ibu memanggil namaku? Aira? Bayi itu aku?
"Jangan bergerak atau nyawanya akan melayang!" Mahes mengancam dengan tatapan tajam.
Ibu berhenti di tempatnya, ia menatap Mahes dan tampak merapalkan beberapa mantra, tapi gerakannya tertangkap mata Mahes.
"Jangan salahkan aku, aku jelas-jelas sudah memperingatkanmu!" Mahes menyerang dengan aura hitam berbentuk ratusan tombak yang melesat cepat tanpa henti. Ibu mencoba mengatasinya tapi agak kewalahan karena fokusnya terpecah pada si bayi.
"Permaisuri!" dari arah belakang aku melihat ayah dan Paman Ezio datang tergesa, Paman Ezio mengambil alih dan menahan serangan yang masih tak berhenti.
Langit menggelegar, angin menderu, alam tampak murka. Petir mulai menyambar.
"Oh tidak, Aira! Tolong selamatkan putri kita, aku mohon!" Ibu menangis dalam pelukan ayah, ia tampak tak berdaya.
Ayah menatap ke arahku yang masih berdiri dan mengulurkan kedua tanganku pada Mahes, aku sama sekali tak bersuara.
"Baiklah anak cantik, paman akan menggendongmu!" Mahes meraih si bayi dan menggendongnya, tepat saat petir suci mulai tampak dan menyambar tanpa ampun! Paman Ezio terlihat bersiap membuat lapisan pelindung. Cahaya yang amat terang disertai kilat menyambar tanpa henti membuat mataku mulai menyipit, tak tahan.
__ADS_1
"AAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!!"
Teriakan seorang wanita terdengar memekakkan telinga, asap hitam mengepul dari arah jembatan.
"SURI!!!!!" Ibu berteriak kecang, tubuhnya ditahan oleh ayah yang menguncinya dalam pelukan. Ayah mencegah ibu berlari ke arah sang istri yang kini tak bernyawa.
"Jadi ibu menyelamatkan ayah dari petir suci?" gumam Aciel lirih.
Aku menatap langit, kilat masih terlihat, gemuruh angin terdengar semakin keras, tanda bahwa petir suci akan kembali menyambar.
"Ah apa ini!"
Mataku beralih pada Mahes yang berteriak, tangannya yang menggendong si bayi kini tampak bagaikan terbakar, api menyala membakar tangannya.
"Aira! Aira!!" Ibu berteriak histeris, paman Ezio mengambil ancang-ancang.
Tapi aku jelas melihat bahwa si bayi baik-baik saja, ia tampak tertawa geli dan bermain dengan api yang membakar tangan Mahes! Tapi ajaibnya ia sama sekali tak terbakar.
"PUTRIKUU!" kali ini ayah berteriak, Paman Ezio berlari cepat, tapi si bayi terlempar jauh ke danau.
Tiba-tiba air tampak bergelombang, seekor naga muncul, ia terbang dan menangkap si bayi dengan tubuhnya. Ekornya dilingkarkan sempurna hingga tampak menjadi sebuah cawan raksasa yang nyaman bagi si bayi.
Paman Ezio tampak lega, "syukurlah!"
Sementara itu Mahes yang sedari tadi berusaha memadamkan api di tubuhnya, kini tampak tak berdaya, ia jatuh terduduk di samping mayat sang istri. Api membakar seluruh tubuhnya tanpa ampun, langit kembali tampak marah.
"DUUUUAAAAAR!" Petir suci kembali menyambar, asap hitam mengepul tanpa ampun, bau terbakar amat menyengat. Angin dingin bertiup mengusir asap, meninggalkan sepasang suami isteri yang tergeletak tak bernyawa.
Kali ini aku benar-benar tak bisa berkata-kata, sementara Aciel menangis keras dan terus memukul lantai gazebo.
"Yang Mulia," suara berat terdengar dari arah danau, aku mencari sumber suara. Suara itu ternyata adalah suara naga yang menyelamatkan si bayi. Naga itu kini mendekat ke arah ibu dan ayah, mengantarkan si bayi dengan selamat.
__ADS_1
"Putriku! Oh syukurlah," ibu langsung meraih si bayi, menggendongnya dan menciuminya.
"Terimakasih Mahanta," ucap ayah pada sang naga.
Tunggu, bukankah ayah memanggilnya Mahanta? Entah kenapa aku jadi teringat tetua Mahanta.
"Sudah kewajiban hamba, Yang Mulia." Naga hijau emas itu menundukkan kepala memberi hormat, sisiknya tampak indah terkena pantulan sinar matahari yang kini telah muncul. Langit yang tadi tampak marah, kini kembali cerah.
"Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan pada keduanya?" Paman Ezio berdiri di dekat kedua mayat yang tampak menyedihkan, aku benar-benar tak sanggup melihatnya, tapi aku harus membuka mata lebar-lebar karena ingin mengetahui semua kebenaran yang ada.
"Mahanta, maukah kau menerima keduanya?" tanya ibu tampak memohon pada sang Naga.
"Mohon ampun Yang Mulia, hamba hanya mampu menerima Suri tapi tidak dengan Mahes. Alam pun akan menolaknya," sang Naga tampak sedih.
"Kalau alam menolak ayah, di mana aku harus memakamkannya?"
Semua orang menatap ke sumber suara, terlihat seorang gadis menggendong bayi laki-laki di tepi danau, ia tampak menangis.
"Althea!" Ibu menyerahkan bayi dalam gendongannya pada ayah, lalu ia berlari menghampiri Althea di tepi danau.
"Apa yang harus kulakukan Yang Mulia?" ucap Althea saat ibu telah tiba dihadapannya. Aku bersyukur, inderaku sangat tajam, aku bisa melihat dan mendengar dengan amat jelas dari jarak yang lumayan jauh.
Althea menangis keras, sedangkan bayi di gendongannya tampak bingung. Ibu memeluk keduanya, dan menepuk-nepuk punggung Althea, aku melihat air mata juga jatuh di pipi ibunda.
"Maafkan aku Althea, maafkan aku dan Aira."
Althea melepaskan pelukannya, "jangan berkata seperti itu Yang Mulia. Jika Yang Mulia meminta maaf, maka apa yang bisa hamba lakukan untuk menebus kesalahan ayah hamba?"
Ibu menghapus air mata di pipi gadis itu, "Suri dan Mahes sampai kapanpun akan menjadi sahabat terbaik yang kupunya, semua yang terjadi hari ini adalah ulah kegelapan, orangtuamu sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan."
Althea tiba-tiba menjatuhkan dirinya hingga terduduk di tanah, ia tampak bersimpuh pada Ibunda, masih dengan bayi di gendongannya dan air mata yang terus mengalir. "Ampuni hamba Yang Mulia, hamba memiliki satu permintaan."
__ADS_1