
Aku merasa bahagia, hembusan angin terasa menerpa tubuhku, sedikit kencang tapi menyegarkan. Tanganku berpegangan pada tubuh Ryu, warna peraknya berkilau mewah di mataku. Tubuh Ryu terbang di atas langit menuju ke tempat Kak Nala. Aku memeluk tubuh Ryu erat karena ingin menunduk melihat pemandangan di bawah sana. Aku melihat sebuah kota yang indah, di dominasi warna merah, bukan hanya bangunannya, tapi bendera kerajaan pun berwarna merah cerah, berlambang api emas. Asap mengepul di mana-mana, tapi berkat banyak pohon yang tumbuh, polusi terlihat amat terkendali. Menurut cerita Kak Nala, kerajaan api merupakan asal dari hampir 90% pengrajin di kekaisaran Matahari. Sebagian besar rakyatnya dikaruniai bakat untuk dapat menciptakan dan mengendalikan api. Banyak dari mereka memanfaatkan bakat itu untuk membuat berbagai benda dari tanah liat, mereka juga menciptakan senjata, dan tak kalah pentingnya, kerajaan api adalah pusat pembuatan emas dan perak yang merupakan mata uang kekaisaran.
Nanti, setelah menyelesaikan hukumanku, aku benar-benar ingin mengunjungi kerajaan api. Ada sesuatu yang membuatku ingin menginjakkan kaki ku di sana.
"Ryu, tolong bergegaslah!" ucapku yang langsung ditanggapi oleh Ryu. Aku mengeratkan pelukanku, Ryu menambah kecepatannya.
*-*-*-*-*
"Sebaiknya kita mendarat di taman belakang Ryu, hati-hati jangan sampai merusak kebun kak Nala, atau kita akan kena marah."
"Baik Yang Mulia," Ryu mulai memperlambat terbangnya, dan bersiap turun menuju arah yang telah kutunjukkan.
Kak Nala mempunyai hobi berkebun, ia lebih menyukai menanam sayur dan buah daripada menanam bunga. Alhasil seluruh halaman istana bintang dihiasi sayuran dan tanaman buah. Ketika panen kak Nala selalu mengirimnya untuk ayah, ibu dan Kak Prisa.
"Tunggu, siapa kau berani memasuki istana kekaisaran bintang!"
Ryu berhenti mendadak, aku mengintip dari balik tubuh besar Ryu.
"Jendral Go, ini aku!" teriakku keras sambil melambaikan tangan. Jendral Go adalah Jendral utama kekaisaran bintang, orang kepercayaan Kak Aditya, pemimpin ratusan ribu pasukan.
Jendral Go menyipitkan matanya dan melihat ke arahku, ia langsung bersimpuh. "Putri Aira?" Jendral Go terlihat terkejut, memandang Ryu dan aku bergantian, Ryu tampak tak sabar.
"Hmmm..." Ryu berdehm keras, secara tak langsung memberi teguran pada Jendral Go yang masih tercengang.
Jendral Go bersimpuh ke arahku, "Maafkan hamba Yang Mulia."
__ADS_1
"Jendral Go, apa yang terjadi?"
Aku tersenyum melihat Jendral Aro terbang mendatangi Jendral Go yang sedang bersimpuh. Sepertinya hukumanku akan berakhir lebih cepat, melihat dua jendral menghadang jalanku.
"Kenapa kau bersimpuh begitu?" tanya Jendral Aro yang masih tidak dipedulikan Jendral Go. Jendral Go masih bersimpuh ke arahku dengan menundukkan kepalanya.
Seperti menyadari sesuatu, Jendral Aro mengikuti arah bersimpuhnya Jendral Go. Ia terperanjat kaget. "Naga perak?"
"Halo Jendral Aro, senang bertemu kalian di sini," ucapku dengan tersenyum.
Tapi Jendral Aro masih ternganga melihat ke arah Ryu dan aku, hingga kulihat Jendral Go menarik Jendral Aro hingga bersimpuh di sampingnya, ia lalu memukul kepala Jendral Aro ringan. "Sadarlah!" ucap Jendral Go berbisik, tapi terdengar jelas di telingaku.
"Hamba mohon ampun Yang Mulia, hamba tidak bermaksud menghalangi jalan Yang Mulia," ucap Jendral Aro sungguh-sungguh.
"Tak apa, berdirilah. Bolehkah kalian mengantarkan aku menemui kakak-kakakku?" tanyaku sambil tersenyum, tapi aku malah melihat wajah panik keduanya.
"Tidak apa-apa Yang Mulia, hanya mungkin kali ini sambutannya sedikit berbeda," Jendral Aro menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kewibawaannya seketika tampak hilang di mataku.
"Mari kami antar Yang Mulia," Jendral Go mengalihkan pembicaraan, mereka terbang menunjukkan jalan di depan Ryu. Ryu mengikuti kecepatan kedua jendral yang memakai pakaian perang dengan lambang berbeda itu. Keduanya adalah jendral yang hebat, berwibawa dan disegani di seluruh kekaisaran, terutama kekaisaran Matahari, Bintang dan Bulan. Sama dengan Balin, keduanya adalah murid Paman Ezio.
"Lindungi Kaisar dan Permaisuri!" Teriakan terdengar menggema di atas langit kekaisaran bintang, ini bukan suara satu dua orang tapi...
Aku membelalakkan mataku, ribuan pasukan memenuhi mataku, mereka mengenakan pakaian perang lengkap, warna pakaian mereka terlihat sama dengan Jendral Go dan Jendral Aro. Jendral Go memakai baju zirah besi dengan jubah panjang berwarna biru berlambang bulan perak, sementara jendral Aro mengenakan zirah dengan jubah panjang berwarna perak dengan lambang bulan emas.
Aku menatap keduanya dari belakang, mereka tampak berusaha menenangkan diri.
__ADS_1
"Beri Hormat, Yang Mulia Putri Aira memasuki Kekaisaran Bintang!" ucap kedua Jendral dengan amat keras hingga suara keduanya menggema. Ribuan pasukan terlatih menuruti jendral mereka dan langsung bersimpuh.
"Hormat Kami Yang Mulia Putri Aira!"
Aku mengusap telingaku yang sedikit sakit mendengar suara mereka yang amat keras menggema, hmm jadi mereka bersiaga karena mendeteksi kedatangan Ryu. Naga perak yang hanya ada dalam legenda, ternyata membuat mereka siaga sampai seperti ini.
"Berdirilah, terimakasih sambutannya," ucapku dengan tersenyum. "Kemenangan dan keselamatan selalu untuk kalian," serbuk emas turun menghujani ribuan pasukan itu.
*-*-*-*-*-*
"Terimakasih Ryu," usapku lembut dan mecium pucuk kepala Ryu, mahkotanya bersinar terang setelahnya.
Aku meloncat turun dari tubuh Ryu dan meregangkan kedua tanganku, mengibaskan tanganku. Seketika Ryu menghilang, aku memberinya kesempatan untuk beristirahat.
Pandanganku beralih menatap kebun Kak Nala yang hijau, rasanya menyegarkan. "Akhirnya sampai juga," rasanya lega karena sebentar lagi hukumanku selesai.
"Ya ampun dasar anak nakal!" Suara Kak Prisa terdengar sedikit meninggi.
Aku langsung membalikkan tubuhku ke asal suara, "Kakak!" Air mataku mengalir tak terbendung, ada rasa lega melihat keduanya berada di tempat yang sama.
Kak Nala dan Kak Prisa berhamburan memelukku, "Kakak, ayah gak sayang aku lagi!" ucapku di sela-sela isak tangis.
Kak Prisa melepaskan pelukannya dan menjitak kepalaku ringan, "mana ada yang kayak gitu? Gak tau apa tiap hari kita dihubungin ayah ibu, pasti pertanyaan pertamanya nanyain kamu! Masih bilang ayah gak sayang!"
"Sudah-sudah!" Kak Nala ikut melepas pelukannya dan mengusap kepalaku yang tadi dijitak kak Prisa. "Udah ayo masuk dulu, kita bicara di dalam." Kak Nala menuntun aku dan Kak Prisa memasuki istananya.
__ADS_1
Aku memang tidak pernah menunjukkan diriku di hadapan rakyat secara resmi, tidak pernah pula melakukan perjalanan panjang tanpa ayahanda dan ibunda. Sebelum hukuman ini, aku hanya diperbolehkan keluar dari istana kekaisaran matahari, jika tujuanku adalah istana kekaisaran bintang dan kekaisaran bulan, selama ini ayah ibu selalu mengajakku pergi menggunakan portal, jadi aku sama sekali tidak tahu jalan manual yang harus dilewati. Mereka hanya menceritakan padaku ketika aku bertanya.
Berbeda dengan kali ini, aku melalui perjalanan yang panjang, untung banyak orang baik yang membantuku. Istana Kekaisaran bintang berbeda dengan istana emas ayah, istana bintang didominasi warna perak dan biru.