
Dingin, gelap dan terasa angin berhembus ringan, suara gemerisik rumput liar yang bergoyang sedikit menandakan adanya kehidupan. Aku mendongak menatap langit malam yang tampak lebih gelap, hanya berhias bulan penuh tanpa bintang gemintang.
Langkah kaki terdengar perlahan mendekat ke arahku, sementara aku enggan berbalik karena takut aura yang kukenali kali ini hanya imajinasi belaka. Aku terus memandang bulan dengan penuh harap, mengucap doa yang selama ini tak pernah putus kupanjatkan. Langkah kaki itu terus mendekat hingga akhirnya terdengar berhenti tepat di belakangku, aku masih mencoba tenang, hingga sepasang tangan kekar memelukku dari belakang. Aroma vanilla bercampur mint menyeruak memenuhi indera penciumanku, air mataku jatuh menetes tak tertahankan, aku berdoa jika ini bukanlah mimpi semata.
"Aira," suara berat yang kurindukan terdengar bagaikan lonceng yang menggetarkan hati. Sepasang tangan itu kini membalikkan tubuhku. "Syukurlah, akhirnya aku menemukanmu."
Aku menatap laki-laki yang selama ini kutunggu, mata hitamnya kini menampakkan kerinduan, aura dinginnya tampak terkontrol dengan baik, tubuhnya terlihat semakin menjulang.
"Aku merindukanmu, Aira."
"Varen," aku menangkupkan kedua tanganku ke wajahnya, karena aku takut ini hanyalah imajinasiku belaka. Varen meraih kedua tanganku dan menciumnya.
"Terimakasih telah menungguku," mata hitam Varen menatapku, ia meraih tubuhku ke dalam pelukannya, kurasakan ciuman ringan mendarat di pucuk kepalaku.
"Apakah begitu sulit untuk menemukanku?" protesku lirih sambil membalas pelukannya.
"Teramat sulit, tapi semuanya terbayarkan ketika melihatmu masih setia menungguku." Varen melepas pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya di pipiku, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku.
"Hangat," kataku pelan. Varen mengusap air mata yang masih basah di pipiku. "Apakah kau baik saja, Varen?"
Varen menampakkan senyum khasnya, "tidak, aku tidak akan pernah baik-baik saja tanpa dirimu di sisiku, Aira."
Aku mencubit lengan Varen dengan kekuatan penuh, "Aah!" Varen meringis sambil mengusap lengan berototnya, tampaknya ia berpura-pura kesakitan.
"Kenapa kau mencubitku? apa aku melakukan kesalahan?" Varen tampak bingung.
"Berapa banyak wanita yang kau goda dengan kata-kata manismu itu?" tanyaku sedikit sebal.
"Hanya satu Aira, yaitu dirimu seorang."
Aku menatap datar Varen, matanya menunjukkan kejujuran, tapi aku ragu, ia tampan dan berkharisma, auranya pun tampak sangat kuat sekarang, wanita mana yang tak tergoda olehnya?
__ADS_1
"Aku bersumpah atas nyawaku, hanya kau seorang di hatiku, sekarang dan selamanya."
Tepat saat Varen menyelesaikan sumpahnya, cincin safir biru pemberian ibu Varen mengeluarkan sinar biru keunguan yang teramat terang, bukan hanya cincin di jari manisku yang bersinar, tapi juga dada Varen.
"Apa yang terjadi?" tanyaku ketika sinar telah menghilang sepenuhnya.
Varen meraih tangan kananku dan menempelkannya di dadanya yang bidang. Kain sutera perak yang membungkus tubuhnya terasa lembut di jariku, detak jantungnya membuat tanganku bergetar hebat, aku mencoba menarik tanganku, tapi Varen menahannya.
"Aira, kau tak perlu mencemaskan hal-hal yang tak berguna." Varen kembali menatapku, tatapannya kali ini terlihat lembut. "Sejak cincin itu disematkan di jari manismu, hatikupun secara otomatis akan selalu terikat padamu, tidak ada orang lain dan pastinya aku takkan mengijinkan orang lain merusak ikatan kita."
"Tapi Vio tak bisa merasakan keberadaanmu, ia bahkan tak bisa merasakan keberadaan kekaisaran perak."
Varen menggandeng tanganku, ia membawaku ke sebuah kursi kayu yang tampak sudah tua. Kami duduk berdampingan di bawah sinar rembulan, aku mendongak menatap wajahnya di sampingku. Sungguh aku mengagumi ciptaan sempurna Yang Kuasa dalam diri Varen, "aku bahkan mencoba banyak hal untuk menemukanmu, tapi selalu gagal."
"Tentu, karena bukan kau yang harus menemukanku, tapi akulah yang harus menemukanmu, Aira."
Tiba-tiba kata-kata nenek di padang lavender terngiang kembali di benakku, 'kalau dia benar mencintaimu dengan tulus sepenuh hati maka ia akan melakukan segala cara untuk menemukanmu.'
Varen menoleh ke arahku, tangannya meraih rambut panjangku yang tertiup angin malam dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Terimakasih telah menemukanku," ucapku sambil tersenyum tulus. Aku tahu pasti Varen telah melakukan segala cara untuk menemukanku, telapak tangannya yang kasar membuktikan kerja kerasnya. Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya, tapi kali ini aku lebih ingin menikmati kebersamaan dengannya, kebersamaan yang selama ini kunantikan.
Aku menyenderkan kepalaku di pundak Varen dan memejamkan mata, Varen meraih pundakku erat, dan menepuknya pelan, memberi ketenangan yang selama ini aku rindukan.
"Bagaimana dengan aura dinginmu?" tanyaku tanpa membuka mata.
"Semakin stabil, aku semakin bisa mengendalikannya. Persis seperti ucapanmu, aura dingin bukanlah kutukan, melainkan anugerah bulan dewa."
Aku tersenyum, ada perasaan lega di hatiku. Dulu aku merasa tersiksa setiap kali melihat Varen kesakitan dan kedinginan akibat aura dingin yang teramat menyiksa, tapi kini ada kehangatan dalam setiap sentuhannya, aku bersyukur karena ia berhasil mengendalikan aura dingin dan mengubahnya menjadi kekuatan yang hebat.
"Syukurlah, aku teramat senang mendengarnya."
__ADS_1
"Aira," Varen memanggil namaku dengan suara beratnya.
Aku membuka mata dan menatap wajahnya, "Ya?"
"Kenapa kau langsung pergi ketika menyembuhkanku? Kau memberikan air mata naga perak dan pergi begitu saja, benar-benar tampak mengenggapku seperti orang asing."
Senyumku mengembang, jelas saja aku menganggapnya seperti orang asing karena itu adalah pertemuan pertamaku dengannya. Bahkan itu adalah pertemuan awalku dengan Varen sebelum ia menemukanku di gua batu.
"Terlalu rumit untuk dijelaskan, dan aku terlalu malas untuk menjelaskan," sahutku sambil menghela nafas panjang.
"Lalu apakah kau bisa menjelaskan hal lain?" Varen menatapku menyelidik.
"hal lain? apa yang kau maksud Varen?"
"Aku mendeteksi cukup banyak aura laki-laki di sekitarmu, Aira."
Aku tidak dapat menutupi keterkejutanku, bagaimana bisa ia mendeteksi sesuatu seperti itu? tidak mungkin!
Varen menarikku hingga kami saling berhadapan, saking dekatnya aku bisa merasakan hembusan nafasnya.
"Aku tidak akan pernah rela apabila laki-laki lain menyentuhmu, terlebih memeluk dan menggendongmu."
Aku terhenyak, bagaimana dia bisa tahu kalau Aciel memeluk dan menggendongku? Rasa bersalah muncul di dalam hatiku.
"Kau milikku seorang, dan aku pun milikmu." Varen mencondongkan tubuhnya, "aku harus memberimu peringatan untuk tidak mengulanginya."
Varen terus mendekatkan wajahnya, hingga bibir kami bertemu, ia berhasil merenggut ciuman pertamaku. Aku memejamkan mata, terhanyut dalam ciuman Varen yang lembut dan hati-hati, tangan kiri Varen menangkup wajahku, sementara tangan kanannya memelukku.
Di bawah sinar bulan, disaksikan rumput liar dan angin malam, kami larut dalam cinta, cinta yang mengharuskan adanya penantian, membutuhkan kesetiaan serta menuntut kepercayaan hingga membuahkan pertemuan yang menghadiahkan keindahan dan kebahagiaan.
Varen menghentikan ciumannya, "aku mencintaimu Aira."
__ADS_1
Aku membuka mata, kali ini Varen memandangku dengan tatapan sendu. Tubuhnya perlahan menjadi transparan dan menghilang, menyisakan padang rumput yang penuh kehampaan di bawah sinar bulan.