Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
73. Pendongeng Yang Hebat


__ADS_3

Aku merasakan jiwaku keluar dari raga, sama seperti yang dulu pernah terjadi saat aku berada di kekaisaran perak. Aku melihat Varen memelukku erat, air matanya mengalir deras, baru kali ini aku melihatnya menangis seperti itu.


"Kenapa kau selalu membuatku khawatir? Bangunlah Aira!" Varen tampak menggoyang-goyangkan tubuhku beberapa kali, tapi tak ada gerakan. Varen tampak menatapku tanpa berkedip untuk sesaat, kemudian ia menghirup nafas panjang dan menyeka air mata di pipinya, ia mencium keningku lembut, lalu menggendong tubuhku.


Balin, Lia, Liam serta Aciel dan Joana yang baru muncul dari tangga, dan Ken yang baru tiba, tampak tak bergerak, aku menatap Varen penuh tanya, apakah ini karena Varen menghentikan waktu? Apakah ia juga seorang pengendali waktu?


"Aku pernah bilang bahwa kau bisa kehilangan nyawa, kenapa kau begitu keras kepala?" Varen tampak mengeluarkan kekesalannya. "Melihat Ryu, serta sepasang unicorn tak keluar dari jiwamu, kurasa kau lebih baik dari yang kupikirkan, syukurlah."


Varen melihat sekeliling, lalu ia melangkahkan kakinya dengan tubuhku berada dalam gendongan, kedua tangan kekarnya memeluk tubuhku dengan erat dan kokoh. Ia membawa tubuhku menuruni tangga, dan dengan yakin ia melangkah menuju kamarku yang tersembunyi di balik dinding.


Aku terus mengikuti Varen dari belakang, tapi aku terus dibuatnya terkejut, ia bahkan bisa membuka kamarku, dan ia langsung mengetahui letak ranjangku, dengan hati-hati ia menidurkan tubuhku di atas ranjang.


Varen duduk di samping ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh badanku hingga leher, ia lalu mengamati wajahku, dan mulai membelai kepalaku lembut, "Aira, kau harus cepat bangun, paman bilang kau harus bisa menyembuhkan dirimu sendiri, mentransfer energiku padamu akan lebih berbahaya karena dapat membuat tubuhmu semakin melemah dan syok, aku akan menemani dan menunggumu di sini, tapi berjanjilah untuk cepat pulih."


Varen kembali mendaratkan ciuman di keningku, "kenapa kau tega sekali, aku berjuang mati-matian agar bisa bertemu denganmu, tapi di saat aku menemukanmu, kau malah tak mau membuka mata!"


Aku tersenyum melihat Varen yang tampak menggemaskan, bagaimana bisa ia berubah menjadi sangat menggemaskan? Ia bahkan terus bicara sendiri dengan tubuhku yang jelas-jelas sedang tertidur. Aku ingin segera menghampiri dan memeluknya, tapi apa daya. aku benar-benar tak bisa.


Varen mengeluarkan tanganku dari dalam selimut lalu menggenggamnya, ia memandangi cincin biru safir yang masih terpasang di jari manisku. "Tahukah kau, pertama kali aku muncul dalam mimpimu, hal pertama yang membuatku lega adalah ketika aku melihat cincin ini masih bertengger di jari manismu."


Varen mencium tanganku, "saat itu aku sangat gelisah karena mendengar banyak upeti lamaran yang dikirimkan untukmu, hatiku tak tenang hingga membabi buta menyelesaikan ujian paman, tapi malah banyak kegagalan yang kudapatkan, hingga akhirnya aku menyadari pentingnya rasa kepercayaan."

__ADS_1


Varen menampakkan senyum hangatnya, ia mendekatkan tanganku ke pipinya. "Waktu itu aku sadar kepercayaan adalah hal penting dalam suatu hubungan, kita berdua mempunyai tanggung jawab yang besar kepada rakyat, maka kita pasti seringkali akan dipertemukan dengan banyak orang, tak memungkiri bahwa banyak dari mereka adalah lawan jenis, dan kecantikanmu pasti akan menarik hati banyak lelaki, upeti lamaran itu adalah salah satunya."


Varen menatap wajahku, "aku juga sedih ketika mendengarmu menyetujui untuk melakukan seleksi, dan kau sama sekali tak menyebutku, kau tak mengakui bahwa kau mempunyai tunangan, bagaimana bisa kau tak mengakuiku?"


Aku berjalan mendekati ranjang dan duduk bersebrangan dengan Varen, "aku minta maaf, aku bersalah tentang hal itu." Aku mengucapkannya walaupun aku tahu pasti Varen tak dapat mendengar ucapanku.


"Aku tahu keadaan tak mendukungmu untuk menyatakan bahwa kau telah bertunangan karena kau tak dapat menemukanku, tapi bukankah setidaknya kau tetap harus mengakuinya?" Varen melepaskan tanganku, ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku bahkan melihat dua orang yang menatapmu penuh cinta, hingga aku ingin mencongkel mata mereka! Kalau kau mengakui bahwa kau telah bertunangan bukankah setidaknya ini takkan terjadi?"


Apa kau bilang menatapku penuh cinta? Ya ampun lagi-lagi dia berkhayal tentangku, aku bahkan tak secantik Lia, bagaimana bisa ada orang yang menatapku penuh cinta selain dirinya? Oh ya ampun, memiliki Varen yang mencintaiku saja sudahlah merupakan berkah yang luar biasa.


"Walaupun akhirnya aku berhasil menemuimu dalam mimpi karena aku sadar tentang artinya kepercayaan, tapi rasanya aku masih kesal."


Apakah aku mencintai Varen?


Apakah aku mencintainya?


Apakah aku bersedia hidup bersamanya di sisa hidupku?


Pertanyaan demi pertanyaan datang mengetuk pintu hatiku. Aku termangu dalam diam, mataku memandang ke arah Varen, tapi hatiku terasa berkecamuk.


"Tapi tak apa jika kau tak mencintaiku," Varen merapikan rambutku yang terlihat berantakan. "Biarkan aku mencintaimu, aku berjanji akan mencintaimu sepenuh hati sampai sisa hidupku."

__ADS_1


Aku terhenyak, jantungku terasa tertusuk. Tak apa jika aku tak mencintaimu? Aku rasa aku ingin menangis mendengarnya, bagaimana bisa Varen yang dingin menjadi laki-laki yang hangat dan romantis seperti ini?


"Ah, apa kau tahu? Saat menemui keponakan kembarmu, aku bahkan salut dengan cinta yang mereka berikan untukmu."


Varen tampak tersenyum, "Agler menyuruhku memetik buah, berburu dan menyalakan api unggun, itu tandanya ia mengetesku apakah aku bisa memberimu makanan yang layak dan sanggup untuk selalu memberimu kehangatan."


Ia kini tersenyum semakin lebar, "sedangkan si cerdas Agam meminta kristal auraku, ia bilang bahwa jika aku mencintaimu dengan tulus maka aku harus menyerahkan kristal auraku, saat itu aku langsung memberikannya tanpa pikir panjang, tapi lama setelahnya aku berpikir bahwa ia ingin menjamin bahwa ia memberikan restu pada orang yang tepat untuk bibinya, ia ingin aku mencintaimu hingga mampu untuk mengorbankan nyawaku untukmu."


Varen membelai pipiku, "Melihat mereka, khayalanku terbang jauh, aku berkhayal jika anak-anak kita nanti akan secerdas dan sehangat keduanya, penuh cinta dan mengutamakan keluarga, apakah kau setuju?"


Varen mengembangkan senyumnya, "untuk anak pertama kita nanti, kau menginginkan laki-laki atau perempuan?"


Aku mengerjapkan mata beberapa kali, tak menyangka jika pembicaraan Varen akan melompat terlalu jauh, bagaimana bisa ia berpikir anak? Aku menggeleng beberapa kali.


"Aku ingin keduanya, bukankah memiliki anak kembar laki-laki dan perempuan tampaknya menyenangkan?"


Aku melongo tak menduga, kembar laki-laki dan perempuan? Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri saat kak Nala mengandung Agam dan Agler, penuh perjuangan dan tidak mudah, bahkan sekarang pun Kak Nala masih sering tampak kewalahan, walaupun aku tahu di dalam hatinya ia sangat bahagia dan bersyukur memiliki keduanya, Kak Nala memberikan kami dua malaikat kecil yang meramaikan suasana keluarga dan tentunya disambut riang gembira dan penuh kasih sayang, tapi memiliki anak kembar masihlah tak terbayang di benakku.


"Yang laki-laki pasti akan setampan diriku, dan yang perempuan pastilah secantik dirimu, tapi aku ingin keduanya memiliki kecerdasanmu." Varen tampak nyengir kuda, "aku tak terlalu bisa berbangga diri akan kecerdasanku jika dibandingkan denganmu, jadi biarlah anak-anak menuruni kecerdasan ibu mereka."


Aku tersenyum mendengar celoteh Varen, dulu ketika aku pingsan, ia sangat gugup, khawatir dan diam tapi kini aku seperti melihat orang lain, ia bahkan teramat cerewet hingga menceritakan impiannya. Aku menggelengkan kepala, tapi satu yang kutahu pasti hari ini, kau pasti akan menjadi pendongeng yang hebat bagi anak-anak kita kelak, Varen.

__ADS_1


__ADS_2