
Aku melangkah menuruni tangga dan menuju kasir, "Pelayan Tang berpakah yang harus saya bayar?"
"50 koin perak nona," jawab Pelayan Tang.
Aku terkejut, padahal aku makan berdua dengan Balin dan harganya hanya 50 koin perak? Bahkan tidak sampai 1 koin emas, apa-apaan ini?
"Apakah Pelayan Tang tidak salah hitung?" tanyaku lagi ingin memastikan.
"Tidak nona," Ken menyela dan mengulurkan 1 keping koin emas pada Pelayan Tang. "Untuk membayar makananku dan makanan nona ini, trimakasih Pelayan Tang."
Ken langsung berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu, dia berhenti dan berbalik menatapku. "Saya tidak memiliki banyak waktu, saya mohon nona bergegas."
Aku menghela nafas panjang, dan menatap pelayan Tang. "Terimakasih Pelayan Tang, aku rasa aku akan segera mengunjungimu."
"Terimakasih juga nona, saya menunggu kunjungan anda." Pelayan Tang mengangguk dan tersenyum tulus padaku.
Setelah selesai berpamitan aku menyusul Ken yang tampak tidak sabar menungguku di depan pintu. "Ini," aku mengulurkan satu koin emas pada Ken.
"Tidak nona, anggap saja saya berterimakasih karena nona memiliki solusi yang amat saya butuhkan."
"Terimakasih kalau begitu," ucapku seraya kembali memasukkan koin emas ke dalam cincin penyimpanan. Aku melangkah menjauh dari rumah makan dan mengikuti arah yang dikirim Balin melaui telepati. Tadi sewaktu berbincang dengan Ken sesaat setelah aku tersedak, Balin menghubungiku lewat telepati dan memberiku arah menuju ke tempat ia berada.
"Bagaimana bisa harga makanan sangat murah di rumah makan sebesar itu?" gumamku lirih.
"Karena pemiliknya teramat bijaksana," ucap Ken yang berjalan di sampingku.
"Siapa pemiliknya?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Pelayan Tang."
Aku melongo lagi, melihat ekspresi wajah Ken, ia sama sekali tak berbohong. "Ia bahkan memanggil dirinya sendiri sebagai pelayan, ia mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari menerima tamu, memasak, membersihkan meja, mencuci piring hingga menyapu lantai. Itu semua ia lakukan karena tak ingin mempekerjakan orang lain, lebih tepatnya ia tak sanggup melihat orang lain kelelahan bekerja untuk dirinya."
"Tapi ia pasti kelelahan, pelanggannya saja sebanyak itu, bagaimana ia bisa melewatinya?" aku merasa iba pada pelayan Tang.
"Itulah yang dipikirkan Pelayan Tang saat muda," Ken menghentikan langkahnya dan menatapku. "Pikiran itulah yang membuatnya menjadi salah satu pemilik aura terkuat di kerajaan Green sekarang, ia mampu melipat gandakan tubuhnya dengan sihir, karena kemampuannya, ia juga dapat mengelola energinya dengan baik sehingga terhindar dari kelelahan."
Tapi aku tak melihat aura Pelayan Tang, jika ia sehebat cerita Ken, ia pasti memiliki aura yang luar biasa. Tunggu, akankah dia menyembunyikan auranya, seperti yang kulakukan saat ini? Aku menatap sejenak rumah makan yang kini tampak lebih kecil dari kejauhan, ternyata benar kata ayah, semakin berilmu seseorang maka ia akan semakin bersahaja dan bijaksana.
"Terimakasih Pangeran, anda memberi saya pelajaran berharga hari ini." Aku tersenyum menatapnya, "bolehkah saya memakai portal agar lebih cepat?"
"Tentu, tidak ada larangan pemakaian portal di sini."
"Syukurlah," aku sempat khawatir karena belum melihat satupun orang memakai portal sedari tiba tadi. Aku menjentikkan jari dan portalku terbentuk, berbeda dengan Balin yang harus memakai ikat kepala saat memakai portal denganku, aku rasa Ken memiliki aura yang cukup kuat untuk bisa menyeimbangkan dirinya sendiri saat memakai portalku, sepertinya aku tak perlu khawatir.
Aku tersenyum dan menyusul masuk ke dalam portal, dalam hati aku mengucapkan tempat yang Balin temukan. "Terimakasih, saya masih dalam tahap belajar, Pangeran."
Aku menurunkan kecepatan portal, aku takut Ken tidak nyaman. "Maaf tadi saya sempat mendengar pembicaraan anda, dan saya menangkap bahwa Kaisar memberikan restu pada anda. Kalo boleh saya tahu, Restu Kaisar untuk hal apakah Pangeran?"
Tepat setelah aku selesai mengucapkan pertanyaan, pintu portal terbuka lebar menampakkan sosok Balin yang menunggu dengan sikap tegap sempurna. Dia melihat Ken di sampingku, lalu berjalan menghampiriku.
"Selamat datang nona muda," kata Balin tiba-tiba. Tampaknya ia sengaja mengubah panggilan Yang Mulia karena melihat Ken bersamaku, "nona muda, saya berhasil membeli tanah dengan lokasi tepat seperti yang nona muda perintahkan."
"Lokasi seperti apa yang kau minta?" tanya Ken padaku.
"Jauh dari pemukiman tapi dekat dengan hutan," jawabku seketika. "Terimakasih Lin, ohya perkenalkan ini Pangeran Ken, dan Pengeran perkenalkan ini Lin."
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan anda," Ken mengulurkan tangan pada Balin, tapi Balin tak bergeming.
Aku sengaja berpura-pura batuk sambil menatap tajam Balin, aku rasa Balin menangkap isyaratku dengan baik hingga ia menerima uluran tangan Ken dan mereka saling berjabat tangan.
"Jadi Pangeran, mulai saat ini saya memerlukan bantuan anda."
"Bantuan apa yang anda perlukan nona?"
Aku melihat sekilas tanah yang dibeli Balin, tampaknya cukup memuaskan, tanahnya luas dipenuhi dengan rerumputan, berada jauh dari pemukiman warga tapi amat dekat dengan gerbang hutan.
"Tolong dengarkan baik-baik pangeran, karena saya tidak akan mengulanginya," ucapku sambil menunggu respon Ken. Ken tampak fokus menatapku dan mengangguk kecil, aku melanjutkan kata-kataku. "Bantuan yang saya butuhkan adalah: pertama, ijin mendirikan peternakan dan budidaya tanaman obat di lahan ini, kedua saya membutuhkan satu pasang dari setiap hewan yang dagingnya biasa dikonsumsi oleh rakyat, ketiga saya membutuhkan kuasa penuh atas peternakan dan budidaya tanaman obat yang dibangun di atas lahan ini."
Mata hitam Ken tampak membulat, ia menatapku dengan tajam, "kapan tenggat waktunya?"
"Secepatnya, sebisa mungkin sebelum matahari tenggelam."
Ken masih menatapku tajam, "hal pertama aku bisa memberikannya padamu saat ini juga karena kamu pemilik lahan yang sah, tapi aku perlu namamu."
"Rara," jawabku singkat.
Ken menjentikkan jari, seonggok kertas emas muncul dihadapan Ken beserta kuas emas yang bertuliskan "Kenzo", ia mengambil kuas itu dan menggoreskannya beberapa kali di atas kertas, setelah itu ia mengeluarkan sebuah cap emas yang berhias batu zamrud dari dalam cincin penyimapanannya. Ia ambil cap itu dan menekannya pada kertas emas di hadapannya, setelah selesai ia tampak menyimpan kembali cap dan kuasnya lalu menerbangkan kertas emas ke arahku. Aku menangkap dan membacanya, judulnya terbaca "Ijin Mendirikan Peternakan dan Budidaya Tanaman Obat" aku melihat dengan teliti, kertas yang Ken pakai adalah kertas resmi kerajaan Green dengan emboss simbol pohon beringin, ia menyebutkan memberikan ijin padaku, lengkap dengan cap kerajaan di bagian bawah.
"Apakah ini sah? Saya tahu bahwa anda adalah putra mahkota, tapi bukankah seharusnya ijin seperti ini disahkan oleh raja?" tanyaku menelisik.
"Sejak enam bulan yang lalu, Raja menyerahkan beberapa wewenang kepadaku, dan ini salah satunya."
Aku beralih menatap Balin, dan Balin mengangguk membenarkan kata-kata Ken. Aku menjentikkan jari, kertas emas itu menggulung dan masuk ke dalam cincin penyimpananku.
__ADS_1
"Terimakasih kalau begitu, lalu bagaimana dengan dua sisanya?"