
"Drew, lindungi Varen dan Aira!" Kaisar memberi perintah dengan lantangnya. "Biar aku yang memegang komando melawan mereka," jelas Kaisar masih tetap memandang langit.
"Aku akan membantumu," permaisuri menggantungkan tangan kirinya di lengan kaisar.
"Tidak Yang Mulia, hamba akan membantu sekuat tenaga." Aku tak mau hanya diam sembunyi tanpa melakukan apapun, "hamba mohon."
"Kali ini aku setuju dengan Aira, ayah." Varen kini menggenggam tanganku, "ijinkan kami ikut membantu."
"Tapi ini sangat berbahaya, kekuatan inti kalian masih tersegel. Terlebih lagi kamu adalah target, Varen!" Permaisuri menatap Varen lekat-lekat. "Jangan bertindak bodoh, nyawa taruhannya!"
"Buum!"
Kami menatap lapisan pelindung yang kini mulai nampak berlubang! Aku menatap ngeri, puluhan pasukan sihir terlihat bersiap di langit, tapi tentu kalah jumlah. Prajurit lain menghadang di darat, aku merinding entah kenapa aku merasa pesimis.
"Kalian diamlah di sini!" Kaisar memerintahku dan Varen. "Jaga mereka Drew!" Perintah Kaisar lagi pada jendral Drew, ia menggandeng tangan permaisuri.
"Berlindunglah," ucap permaisuri sebelum mereka terbang menjauh ke langit, bergabung dengan pasukan sihir.
"Aku tidak mau diam di sini Varen," ucapku sewot. "Mereka tak cukup membendung ribuan makhluk-makhluk mengerikan itu, oh tolonglah Varen ijinkan aku."
"Tidak Aira, kamu baru bangun!" Varen memegang kedua pundakku, "aku akan membantu ayah dan ibu, kau diamlah disini bersama Drew."
Aku menatap Drew sekilas, tentu Drew juga tidak menyetujui usulan Varen, tapi ia tak bisa menolak. "Bawalah Jendral Drew, aku akan baik-baik saja di sini."
Varen menatap tak percaya padaku, "pergilah bersama Jendral Drew, atau aku yang akan pergi!"
__ADS_1
Suaraku meninggi seiring dentuman yang kembali terdengar tanda terbentuknya lubang lain pada lapisan pelindung. "Pergilah, cepat!"
Varen mengangguk, ia menatapku lama dalam diam lalu menyusul Kaisar dan Permaisuri bersama Jendral Drew. Perang tampak tak terelakkan lagi, tinggal menunggu waktu lapisan pelindung akan hancur.
Aku diam menatap langit, makhluk-makhluk itu tampak menyeramkan. Ada yang bertanduk, bertaring, ada yang berbentuk hewan yang menyeramkan, oh astaga mereka benar-benar monster. Apakah mereka makhluk yang sama, yang dihadapi oleh kakek dan nenek saat kelahiranku? Ya ampuun, kakek dan nenek bahkan sampai merelakan nyawa mereka, bagaimana aku bisa menyelamatkan kekaisaran perak?
Ribuan makhluk kegelapan masih terus berusaha meruntuhkan lapisan pelindung, aku mencoba menelisik, mencari sesuatu yang terlihat memberi perintah. Banyak dari mereka membenturkan diri, adapula yang menggunakan senjata, tapi ada pula yang menggunakan sihir hitam. Selain itu, ketemu! Ada seorang laki-laki yang diam di atas mereka dengan menunggangi ular raksasa berkepala tiga. Aku memicingkan mata, ia tampak seperti manusia hanya saja mata merahnya terlihat aneh, bersinar menguarkan kebencian.
"Minggir kalian semua, dasar tidak berguna!" Teriak laki-laki itu menggema, teriakannya terdengar lantang di telingaku. Gawat, ular raksasa yang dinaikinya bukan hewan sembarangan. Dulu ibu selalu memperingatkanku untuk menjauh dari hewan-hewan iblis, termasuk diantaranya adalah ular berkepala tiga. Ular ini memiliki bisa yang mematikan dan kepalanya bisa beregenerasi dengan cepat. Maka, laki-laki itu pastilah memiliki kemampuan luar biasa, mungkin dia bisa menghancurkan lapisan pelindung!
Aku mengarahkan tangan kananku ke langit, aura perak, putih dan emas yang kudapat bergabung menjadi satu membuat lapisan pelindung untuk pasukan sihir, permaisuri, kaisar, Varen dan Jendral Drew. Kini mereka tampak seperti berada di dalam sebuah gelembung raksasa, hanya itu pelindung yang bisa kubuat, karena aku harus menghemat energi.
Aku terbang cepat sambil menyerap energi mentari sebanyak yang kubisa.
"Duar.. Duar..Duar.." ledakan besar mengakibatkan lapisan pelindung hancur.
"Aira!" kudengar teriakan Varen dari dalam lapisan pelindung, tapi tak kuhiraukan. Aku membuat mereka tak bisa menembusnya, aku ingin mereka aman, bahkan jika aku mati.
"Kau mengataiku pengecut?" Laki-laki itu memicingkan matanya dari jauh, satu tangannya terangkat membuat semua makhluk kegelapan tak bergerak. Benar perkiraanku, dia yang memegang kendali. "Gadis kecil sepertimu berani menantangku? Hahaha!" Suara tawanya menggema memekakkan telinga, aku menahan rasa bergidik yang menjalar di tubuhku, auranya sangat gelap!
Aku bodoh bila menghadapinya sendirian, sebelum terbang ke langit, buku pusaka sempat muncul membuka halamannya dan menampakkan tulisan.
'Jika darah penguasa, perak murni dan topaz leluhur bersatu, keadilan akan bangkit.'
Aku mengingatnya dan segera menggigit jariku keras, rasanya sakit tapi aku tak berhenti hingga aku merasakan darah dibibirku. Aku mengelap kasar bibirku, kulihat ujung jari kananku telah meneteskan darah. Ku alirkan aura perak yang kudapat dari kaisar hingga ke ujung jari yang berdarah, lalu secara bersamaan meneteskan darahku pada cincin topaz yang diberikan oleh permaisuri. Aku membalut cincin itu dengan energi perak, berharap dalam hati agar energi perak yang tersisa padaku cukup untuk melakukannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan gadis kecil? Apa kau sedang asyik bermain dengan dirimu sendiri?" Ular berkepala tiga mulai mendekat. "Aku rasa ularku ini sudah tak lagi sabar untuk melahapmu! Haahaha..."
Aku meredam amarah, fokusku terpusat pada cincin itu dengan penuh harap. "Apa kau telah bersedia menjadi pendamping sehidup semati bagi pewaris terpilih Varen Vijendra?"
Suara itu muncul dari aura perak yang kini mulai membentuk sesosok unicorn! Suaranya menggema dan lantang, tak ada waktu untuk berpikir, aku mengingatkan diriku sendiri bahwa tujuanku adalah menyelamatkan kekaisaran perak.
"Ya, aku bersedia."
Kata-kataku mengalir dengan tegas, tak ada jalan lain sekarang. "Hormat hamba Yang Mulia," aura perak tampak menarik aura biru keunguan dari topaz, hingga akhirnya muncullah seekor unicorn perak raksasa, dengan mata biru sebiru langit dan rambut biru keperakan yang cantik dan sebuah mahkota perak bertengger di kepalanya. "Hamba Viorel, bersumpah mengabdi pada Yang Mulia," ia menundukkan kepala ke arahku.
"Terimakasih Viorel, aku menerima sumpahmu." Seketika tanduk viorel bercahaya biru, cahaya itu menyelimutiku dan seluruh tubuh Viorel, mengikat kami dalam sumpahnya.
"Naiklah Yang Mulia," aku mengikuti anjuran Viorel untuk menaiki tubuhnya. Masih di dalam cahaya biru Viorel, ia berdiri kokoh dengan aku di punggungnya. "Kelemahan ular itu adalah mata dan jantung, Yang Mulia."
"Terima kasih Viorel," ucapku seraya menyerap cahaya biru Viorel. Vio terbang dengan cepat ke arah ular itu, si ular terkaget dengan kemunculan Vio, ia mencoba menghindar tapi dengan cepat aku menyerang ketiga pasang matanya. Dua pasang berhasil terluka, tapi satu pasang meleset! Pemuda bermata merah itu tampak murka, ia membalikkan serangan padaku dengan aura hitamnya. Refleks aku membuat barrier, tapi anehnya barrierku berwarna hitam gelap! Aku menggunakan aura hitam yang sama dengan milik pemuda itu! Serangan pemuda itu memantul balik padanya, menyerangnya dan berhasil membuatnya jatuh dari atas tubuh si ular. Aura hitam masih menguar di tangan kananku, matahari mulai bergeser dari tempatnya, aku harus cepat! Jika aku bisa melawannya dengan aura hitam yang ada dalam diriku, mungkin ini bisa lebih cepat selesai!
"Siapa kau sebnarnya gadis kecil!" Dia melontarkan ratusan panah padaku, panah-panah itu melesat cepat.
Vio membawaku terbang menjauh, aku membuat barrier lagi dan berhasil membalikkan serangan, dengan cepat aku menyerap sinar matahari, mengumpulkannya dan meledakkannya ke arah mereka.
"Duaaar!!!"
Ledakan bukan hanya berefek pada ular dan pemuda itu, beberapa makhluk gelap terlihat tergeletak.
"Dasar gadis curang!" Pemuda itu mengumpulkan aura hitamnya, membuat bola hitam yang amat besar. Perasaanku tidak enak, aku mencoba meniru apa yang dilakukannya, tapi tiba-tiba ular kepala tiga menyerang ke arahku, membuatku terpental jatuh dari badan Vio. Vio menembakkan cahaya birunya mencoba menyerang si ular, aku mencoba menguasai diri dan ingin melemparkan serangan membantu Vio ketika teriakkan Varen memekakkan telingaku.
__ADS_1
"AIRA AWAS!" aku menengok ke arah Varen, entah apa yang kulihat, Varen membekukan lapisan pelindung yang tadi kubuat, lalu ia menghancurkannya. "DUAAAR!" lapisan pelindungku rusak berkeping- keping.
"AWAS!" Teriak Varen lagi, ia terbang ke arahku dengan cepat. Aku terkesiap dan kembali fokus ke arah pemuda itu, oh tidak! Bola hitamnya semakin besar, aku mencoba membuat barrier pelindung, tapi terlambat! Bola hitam itu telah ditembakkan ke arahku. Aku menutup mata, menghindarpun percuma!