
Aku menggeliat, rasanya tubuhku kembali bugar. Angin yang berhembus menerpa wajahku terasa sedikit dingin, tapi tubuhku terasa hangat, aku meraba dan menemukan selapis selimut menutupi tubuhku. Aku kembali merasakan sesuatu yang nyaman di bawah kepalaku, tunggu semalam aku tertidur di atap? Aku terkesiap langsung mendudukkan diri dan membuka mata.
"Selamat pagi, nona." Aku menengok ke samping dan menemukan Ken duduk menghadap ke arahku sambil tersenyum, kedua tangannya memegang cangkir dengan uap yang tampak jelas di tengah udara yang dingin. "Minumlah, udara sedikit lebih dingin di pagi hari."
Ken mengulurkan secangkir coklat panas, aku menerimanya dengan otak yang masih berpikir. "Terimakasih Pangeran," ucapku sambil meneguk pelan coklat hangat yang terasa pekat dan manis.
Aku mencoba mengingat kembali kejadian malam tadi, aku yakin kalau aku tertidur tanpa bantal dan selimut, tapi kenapa aku bangun dengan keduanya? Aku melirik ke arah Ken yang ternyata tengah mengamatiku. "Apakah Pangeran berada di sini semalaman?"
"Tentu, bagaimana bisa saya meninggalkan seorang gadis yang tertidur sendirian di ruang terbuka seperti ini?" dia masih menatapku. "Apakah anda mudah terlelap tak peduli di mana anda berada, nona?"
Aku sungguh malu, kurasa pipiku kini merona. Selama ini ketika lelah menghampiri, aku memang tak kuasa menahannya. Aku tak bisa memilih tempat untuk tidur, karena lelah yang tertahankan, dan satu yang membuatku merasa aman adalah Balin yang selalu berjaga di sisiku hingga aku terbangun. Selama ini Balin selalu ada di sisiku saat aku tidur di sembarang tempat, tapi di mana ia sekarang? Aku mencoba meneguk coklat panas sambil mengatur fokusku, kugunakan mata dewa dan ketemu! Aku menemukan Balin berjaga di sudut atap dan mengawasiku, ia bukan hanya menghilangkan hawa keberadaannya tapi ia juga mengunci semua auranya hingga tak dapat terdeteksi mata biasa, bahkan aku kesulitan merasakan kehadirannya.
Aku menghela nafas lega, jika Balin masih mengawasiku dengan tenang dan emosinya tak tersulut, maka itu tandanya aku baik-baik saja dan semalam tadi tak terjadi apa-apa. "Maaf, aku selalu tak dapat menahan kantuk! Tapi kenapa anda memilih tinggal Pangeran?"
"Ken," Ken menatapku dengan mata hitamnya, sementara aku memegang cangkir dengan kedua tanganku, rasa hangat dari cangkir menjalar ke tanganku. "Mulai sekarang panggil aku Ken," angin pagi yang dingin berhembus mencoba bermain dengan rambut panjangku yang tak beraturan.
"Bukankah aku pernah bercerita kalau aku punya adik perempuan?"
Aku mengangguk, tentu saja aku ingat. Wajah Lia terbayang di benakku, cantik tapi meredup.
__ADS_1
"Aku terbiasa menjaganya, hingga melihatmupun aku teringat padanya. Tampaknya waktu berjalan terlalu cepat, hingga kini ia telah memilih pendamping hidupnya sendiri dan mau tidak mau aku harus merelakannya, agar dia bahagia." Ada semburat kesedihan di mata hitam Ken. "Kini aku hanya bisa mengawasinya dari jauh, dan berdoa untuk kebahagiannya."
"Aku sungguh iri padanya," celotehku sambil menatap ke arah hutan yang masih berkabut. "Ia menemukan cintanya tanpa kesalahan, mantap memperjuangkan hingga akhirnya bisa bersatu bersama pujaan hatinya, terlebih lagi selalu ada keluarga yang menjaga dan mendoakannya, bukankah tampak sangat sempurna untuk menjadi sumber keirian?"
Ken menghela nafas panjang, "sayangnya sesuatu yang terlihat sempurna kadang tak sesempurna kelihatannya."
Ken meletakkan cangkirnya di meja kecil dekat kursi, lalu perlahan ia berdiri. Ia berjalan mendekatiku yang masih duduk di atas kursi dengan kedua tangan memegang cangkir cokelat panas, "aku pergi dulu, ada pekerjaan yang menunggu." Ia mengusap rambutku beberapa kali, lalu menjentikkan jarinya. Sebuah portal hijau muncul di hadapan kami, "aku akan menemuimu secepatnya," Ken berjalan ke arah portal tanpa berbalik hingga portal menutup sempurna.
"Oh untung aku tidak pernah melepas lapisan pelindung!" kataku keras, tidak bisa kubayangkan tangan Ken terbakar ketika menyentuh rambutku tadi! Aku sempat menahan nafas ketika Ken mengusap rambutku, aku hendak menjauh tapi kemudian teringat akan lapisan pelindung transparan yang masih kugunakan, "uh untungnya!"
"Balin, sampai kapan kau akan berdiri di situ?"
Aku tersenyum, "melihatmu mengendalikan emosi dengan baik, aku rasa jawabannya tidak masalah. Bukankah begitu Balin?"
Balin kembali membuka mulutnya, "tetap saja Yang Mulia harus waspada."
Aku mengangguk, "tentu saja. Sekarang istirahatlah Balin, aku juga perlu mandi. Ohya jika kau bertemu dengan Aciel, katakan padanya untuk menerima kedatangan gadis yang tadi malam." Balin menatapku bingung, "katakan saja padanya seperti itu, dia pasti akan paham."
Aku berdiri dan menggerakkan tanganku seketika, bantal dan selimut tertata rapi di atas kursi sementara dua cangkir coklat panas telah lenyap. "Sampai nanti Balin, terimakasih telah selalu menjagaku."
__ADS_1
Kulangkahkan kaki menuruni tangga dan berjalan ke dinding di pojok ruangan. Aku mendorong dinding itu hingga bergeser bagaikan pintu, lalu masuk ke dalamnya, tak lupa kugeser kembali dan menguncinya dari dalam. Sebuah kamar tersembunyi yang sengaja kubuat untuk diriku sendiri. Aku ingin sesuatu yang tersembunyi dan pribadi hanya untuk diriku sendiri.
Aku berbalik dan bahagia melihat dekorasi yang menenangkan, perpaduan warna putih dan coklat yang tampak bersih tapi elegan. Aku beranjak ke arah tempat mandi yang kubuat menyerupai kolam air panas milik kerajaan green versi lebih kecil. Kulepas semua lapisan pelindung dan pakaianku, lalu kuceburkan diriku ke dalamnya. Air hangat memberiku ketenangan, dan rasa nyaman yang ku idam-idamkan.
Entah kenapa bayangan adik Ken, Lia terus muncul di benakku. Saat melakukan perjalanan waktu ke kerajaan api, aku yakin melihat aura tembaganya meredup, seolah energinya tak banyak. Jika apa yang kulihat waktu itu kusambungkan dengan apa yang kudengar di rumah makan Pelayan Tang, maka jawabannya adalah Lia mengidap suatu penyakit. Penyakit apa yang bisa sampai menggerogoti aura tembaganya?
Dalam hati aku sungguh ingin bertemu dengan Lia dan melihatnya secara langsung, dia gadis yang cantik, teramat sayang kalau terus menderita akibat penyakitnya.
"Maaf mengganggu, saya datang untuk menjual tanaman obat." Suara gadis semalam tertangkap oleh indera pendengarku yang tajam, entah kenapa suara cerianya membuatku tersenyum dan ingin mendengar lebih banyak.
"Oh silahkan duduk, nona Rara telah memberi perintah pada saya untuk menyambut kedatangan anda, nona..." Aciel terdengar menggantung kata-katanya.
"Joana," jawab si gadis dengan suara yang terdengar bersemangat. "Tuan tahukah anda bahwa anda sekarang terlihat sangat tampan?"
"Hahahha...." aku tak bisa menahan tawaku, air kolam tampak beriak akibat tawa dan gerakanku yang tak terduga.
"Ehm, maaf nona Joana jadi tanaman obat apa saja yang anda bawa?" Aciel terdengar mengalihkan pembicaraan.
"Daripada menjualnya, bisakah tuan mempekerjakan saya agar saya bisa setiap hari bertemu dengan tuan tampan seperti anda?"
__ADS_1
Oh tidak, pipiku sampai sakit akibat terlalu banyak tertawa mendengar ucapan gadis yang ternyata bernama Joana itu. Kata-kata lugasnya pada Aciel berhasil membuatku tertawa tanpa henti, bukankah akan lebih menarik bila mempekerjakannya?