Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
64. Gembok


__ADS_3

Cahaya mentari menerobos masuk menyilaukan mata, aku mengerjap beberapa kali, lalu menguap lebar. Aku terbangun dari tidur yang lumayan panjang, hujan telah reda dan matahari terlihat berada di puncak.


"Yang Mulia makan siang telah siap, kami menunggu di ruang makan."


Suara Balin terdengar lewat telepati. Aku menggeliat lalu mendudukkan diri di ranjang, tanganku tanpa sadar meraba bibirku yang terasa kering akibat tidur di pagi hari.


"Baiklah Balin, aku akan segera datang."


Aku memaksakan diri menolak rasa malas yang menggelanyut, kupaksakan berdiri dan melangkah menuju ke depan cermin, aku menguncir kuda rambut perakku yang tampak berantakkan.


"Vio," panggilku tanpa sadar.


"Ya, Yang Mulia," suara Vio menggema dalam benakku. Sekilas aku teringat mimpi indah yang baru saja kulalui.


"Ah tak apa, kurasa aku hanya ingin memanggil namamu. Kembalilan beristirahat," ucapku yang tak sejalan dengan hati yang bergemuruh.


"Baik Yang Mulia."


Aku mengecek kembali lapisan pelindung transparan yang ternyata masih melekat dengan baik di seluruh tubuhku. Kutarik nafas panjang dan mulai melangkah menuju ke ruang makan yang berada di pojok lantai dua.


"Selamat siang Nona Rara," sapa Lia dan Liam bersamaan, keduanya tampak memakai celemek yang sama.


"Mereka bersikeras memasak untuk kita," ucap Aciel yang duduk di samping Balin, ia tampak menggeser bangku di sampingnya, mempersilahkanku duduk. Aku berdiri kebingungan, kata-kata Varen kembali terngiang di telingaku.


'Aku tidak akan pernah rela apabila laki-laki lain menyentuhmu, terlebih memeluk dan menggendongmu.'


Suara Varen menggema di benakku, dan aku tahu aku harus menjaga jarak dan memberi batas yang tegas, sekalipun itu Aciel. Aku telah memiliki Varen, maka akupun harus menjaga hati Varen, sama seperti Varen menjaga hatiku.


Aku berjalan memutari meja dan memilih duduk di seberang Balin, Aciel tampak terkejut dengan sikapku, keterkejutannya tampak jelas di matanya, tapi aku berpura-pura tak tahu.


Lia dan Liam membawa hidangan dari dapur dan meletakkannya di meja, dan tampaknya mereka cukup tanggap dengan posisi dudukku, Lia mendudukkan diri di sampingku, sementara Liam duduk di samping Aciel.


"Wah, kalian memang koki yang teramat hebat!"

__ADS_1


Aku melongo melihat makanan yang tersaji dengan indahnya di atas meja, masakan Aciel saja sudah terlihat sangat menggugah selera, tapi masakan Lia dan Liam tampak beberapa tingkat di atas Aciel, mereka bukan hanya menyajikan makanan yang menggugah selera, tapi mereka juga menambahkan sentuhan keindahan dalam penyajian, mereka menghias makanan dengan bunga asli, sayur yang di bentuk seperti bunga, bahkan mereka menyulap buah-buahan menjadi taman bunga di piring, dan semua mereka lakukan dengan manual tanpa sihir, aku yakin karena aku tak melihat satupun jejak sihir.


"Kau terlihat begitu bahagia karena bukan aku yang memasak siang ini kan?" kata Aciel dengan nada sedikit menyindir.


"Syukurlah kalau kau tahu," jawabku sambil nyengir kuda.


"Ehm," Aciel berdehm dan tampak sedikit kesal.


"Terimakasih telah bekerja keras memasak untuk kami," ucapku pada Lia dan Liam.


Mereka membalasku dengan senyuman, "kami yang seharusnya berterima kasih karena telah diberi kesempatan."


Aku meraih tangan Lia dan menggenggamnya, aku memanfaatkan kesempatan untuk menyalurkan aura pelangiku ke dalam tubuhnya, pelan tapi pasti. "Aciel tak pernah salah dalam memilih orang, aku yakin kali ini pun begitu."


Lia balik menggenggam tanganku, aku merasakan auraku menyentuh sesuatu yang tersegel erat di dalam tubuhnya. "Terimakasih Nona," ucapnya seraya melepas tanganku, aurakupun berbalik kembali masuk ke dalam tubuhku. Apakah Lia menyadari tindakanku? Tapi kenapa ia seolah enggan menerima bantuanku? Apa yang sebenarnya terjadi?


Lia mengangkat piringku dan mengisinya penuh, "silahkan dicoba nona Rara."


"Terimakasih Lia, tapi aku mohon kalian cukup memanggil namaku saja," aku menatap Lia dan Liam bergantian.


"Saya pun begitu, nona." Liam mengikuti jawaban Lia, mereka sungguh pasangan yang kompak.


"Baiklah terserah kalian saja," ucapku sambil menghela nafas.


"Permisi, tuan tampan di manakah anda?"


Spontan aku tersenyum mendengar teriakan yang berasal dari lantai bawah, suara ceria yang teramat ku kenal kini kembali datang menceriakan suasana.


Balin terlihat hendak beranjak dari tempatnya. "Duduk Balin, biarkan tuan tampan yang menghampirinya," ucapku lewat telepati.


Balin berdehm dan kembali duduk dengan tenang, ia kembali melahap makanannya seolah tak mendengar apapun.


Aciel melirik ke arahku, "bukankah ia memanggil tuan tampan?" kataku seolah menjawab pertanyaan dari isyarat lirikan Aciel.

__ADS_1


Aciel menghirup nafas panjang, ia mengambil serbet dan mengelap bibirnya, lalu beranjak turun ke lantai bawah menghampiri seorang gadis yang memanggilnya.


Aku memasang inderaku yang setajam dewa, sambil terus memasukkan makanan lezat ke dalam mulutku.


"Oh rupanya anda, nona Joana."


"Wah terimakasih karena telah mengingat nama saya, tuan." Suara Joana terdengar bersemangat, "maaf tuan, di mana nona Rara?"


"Kenapa mencarinya?"


"Nona Rara menyuruh saya kemari selepas kerja untuk membicarakan masalah pekerjaan," kali ini suara Joana terdengar lebih rendah, mungkinkah Aciel menampakkan wajah ketus padanya?


"Ikutlah denganku," kata-kata Aciel terdengar tepat sebelum langkah kaki terdengar semakin lama semakin mendekat.


"Rara, nona Joana mencarimu."


Aciel terlihat kembali duduk di tempatnya memasang muka acuh tak acuh, sepertinya ia tampak sebal karena sesuatu.


"Oh selamat siang Joana, duduklah dan bergabung bersama kami." Lia menggeser tubuhnya hingga kini ia duduk berhadapan dengan Liam dan menyisakan satu tempat duduk di antara kami, aku tersenyum pada Lia yang teramat cepat tanggap.


"Silahkan duduk nona Joana," ucap Lia mempersilahkan Joana untuk duduk di seberang Aciel.


Joana menatap Aciel lalu menatapku seolah meminta persetujuan, aku heran kenapa ia melakukannya? Tapi alih-alih bertanya, aku memilih mengangguk.


Joana menampakkan senyum cerianya dan duduk di antara aku dan Lia, Lia mengisi penuh piring Joana seperti yang ia lakukan padaku.


"Makanlah Joana, kita bisa bicara nanti."


Joana mengangguk dan tampak bersemangat melihat piringnya yang terisi penuh, ia langsung melahap makanannya tanpa henti. Aku terkagum melihat Joana yang membabat habis semua makanan di piringnya, ia sungguh mempunyai nafsu makan yang perlu diacungi jempol, Lia pun tampak senang dan teris mengisi piring Joana yang kosong.


"Tenanglah, tidak ada yang akan merebut makananmu, Joana."


Aku menepuk-nepuk punggung Joana ringan, agar ia tak tersedak, kuulurkan segelas air putih padanya. Joana meraihnya dan meneguknya sampai habis.

__ADS_1


"Kalau masih kurang, saya dengan senang hati akan memasak lagi untuk nona," ucap Lia sambil tersenyum ke arah Joana, kecantikan Lia terpancar jelas ketika membicarakan soal memasak mungkinkah memasak adalah kegemarannya? Sesuatu yang bisa mengalihkannya dari rasa sakit yang teramat menyiksa hingga ia bisa tersenyum dengan bahagianya.


Aku menatap Lia dengan penuh tanda tanya, gembok yang masih tak bisa kutembus di dalam tubuhnya, membuat rasa penasaranku membuncah.


__ADS_2