
Aku menarik nafas dalam-dalam, "aku akan menghentikan seleksi sekarang juga."
"Maaf Yang Mulia, apakah Yang Mulia telah menemukan seseorang?" Kak Althea tampak penasaran.
"Benar," aku bangkit dan melangkahkan kakiku menuju tambatan hati yang kini masih bingung menatapku, aku menepuk pundaknya, mata kami bertemu dan berpandangan beberapa saat hingga akhirnya ia berdiri dan menggandeng tanganku, aku melangkah bersamanya ke tengah aula.
"Perkenalkan Varen Vijendra, Putra Mahkota Kekaisaran Perak," ucapku tanpa terbata, berdiri bersama Varen dengan tangan yang saling terkait memberiku keberanian luar biasa. "Aku memilihnya menjadi pendampingku," kataku seraya menatap Varen yang kini tersenyum lebar.
"Sebuah anugerah tak terkira bagi saya berdiri di tengah aula kekaisaran Matahari bersama orang yang teramat saya cintai," Varen menatap orang-orang di hadapannya, berusaha meminta restu dari semua yang hadir. "Saya tahu saya tidaklah sempurna, tapi saya ingin melakukan apa pun untuk bisa memantaskan diri bersanding bersama Yang Mulia Putri Mahkota, saya Varen Vijendra meminta restu dari semua yang hadir," Varen membungkuk ke segala arah, lalu ia melepas genggaman tangan kami dan bersimpuh di hadapan ayah dan bunda.
"Maafkan saya Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri, saya yang hanyalah orang biasa ini mungkin tidaklah pantas mencintai Yang Mulia Putri Mahkota yang teramat sempurna dan berharga, tapi saya berjanji akan membuatnya bahagia dan menghindarkannya dari marabahaya, saya berjanji akan mencintainya sampai mati dengan kesetiaan penuh tanpa ragu," Varen mengatakannya dengan sungguh-sungguh, suaranya bergetar wujud kesungguhan dari hatinya yang dalam. "Maka hamba memohon restu Yang Mulia Kaisar serta Yang Mulia Permaisuri," ucap Varen kemudian.
Aku pun ikut bersimpuh di samping Varen, "Ayahanda, Ibunda, kami telah lama terpisah dan Varen telah melakukan berbagai ujian yang berat hingga akhirnya kami dapat bertemu kembali, maka setidaknya dari semua yang terjadi kami telah belajar tentang apa itu cinta dan bagaimana caranya mencintai dengan tepat satu sama lain." Aku kembali meraih tangan Varen dan menggenggamnya, "Ayah, ibu kami memohon restu."
Mata ayah dan ibu tampak berkaca-berkaca, aku menguatkan Varen karena belajar dari sebelumnya, ayah telah memberikan banyak ujian pada Kak Aditya dan Kak Arya sebagai bentuk pembuktian.
"Aku memberikan restuku," suara ayah menggema di seluruh aula, membuat suasana gaduh, bahkan aku dan Varen menatap ayah tak percaya, ibu pun menatap ayah meminta penjelasan.
__ADS_1
"Ampun Yang Mulia, bukankah sebaiknya Yang Mulia menguji calon Putra Mahkota sebagai bentuk pembuktian?" Raja Kerajaan Api ikut ambil suara, pertanyaannya merupakan perwakilan dari banyak orang.
Ayah tersenyum, tangannya meraih pundak ibu dan merangkulnya berusaha menenangkan, "aku bersama tetua, guru dan banyak petinggi kerajaan telah memberi ujian yang bahkan mungkin belum pernah kulakukan sebelumnya kepada kedua menantuku, tapi lihatlah sekarang, calon menantuku tampak sehat dan berniat merebut putriku dengan gagah berani," ayah menatap Varen dengan tatapan yang kompleks, aku melihat rasa bangga bercampur kesedihan.
"Vamana, tolong perlihatkan pada semua yang hadir," ayah memberi perintah pada paman Varen.
Sebuah layar besar muncul di hadapan kami menampilkan Varen yang berhadapan dengan pamannya, terlihat bahwa ia teramat kesakitan ketika keabadiannya dicabut. Aku memeluk tangan Varen karena ngeri, tubuhku bergetar hebat membayangkan rasa sakit yang mungkin dirasakan Varen saat itu, aku menatapnya dengan perasaan sedih, air mataku telah menggenang di pelupuk mata tapi kutahan sekuat tenaga.
Layar kembali menampilkan Varen yang mati-matian melawan makhluk gelap tingkat tinggi berkali-kali, luka menghiasi seluruh tubuhnya dengan darah segar terlihat di mana-mana, aku tak sanggup melihatnya, air mataku mengalir deras tak bisa kubendung lagi.
"Putriku," suara ibu terdengar di benakku, tampaknya ibu menghubungiku lewat telepati. "Sesakit dan sesedih apapun, kuatkanlah dirimu untuk melihatnya dan masukkan semuanya dengan baik ke dalam ingatanmu."
Aku masih menangis tersedu di pendak Varen, hingga air mataku membasahi bajunya. "Putriku cobalah melakukannya, agar kelak ketika sesuatu membuatmu marah, kecewa atau mungkin meragukan suamimu, kau bisa meredamnya dengan mengingat perjuangan berat yang telah ia lakukan untukmu, untuk membuktikan cintanya, ia bahkan rela mengorbankan segalanya, maka tegarkanlah dirimu untuk melihatnya."
Aku mengatur nafasku dan melepaskan diri dari pelukan Varen. Varen menatapku, ia mengulurkan tangannya menghapus air mata di kedua pipiku, lalu mengulurkan sapu tangan padaku, aku menerimanya dan mengelap wajahku.
Seperti kata ibu, aku berusaha mengumpulkan keberanian, mataku menatap ke arah ibu sekilas, ibu memberiku anggukan seolah memberiku semangat untuk bertahan.
__ADS_1
"Apa kau baik saja?" tanya Varen dengan tatapan cemas.
Aku mengangguk, Varen merangkul pundakku erat, dan aku memilih menyenderkan kepalaku di pundaknya. Kami melihat layar masih dengan duduk bersimpuh, aku melihat Varen yang terluka parah menggantung di ujung jurang, tangannya hanya berpegangan pada ujung batu yang tajam, darah segar menetes tak henti-hentinya, kengerian menusukku. Varen tampaknya teramat peka terhadap perubahan emosiku, ia mulai menepuk-nepuk pundakku pelan, memberiku ketenangan.
Ia mencoba terus bertahan hingga akhirnya dapat memanjat kembali, tapi kali ini bukan makhluk gelap yang menghadangnya melainkan kedua kakak iparku dan paman Ezio.
Apa yang mereka lakukan? Mataku terbuka lebar, emosiku membara, auraku teraktifasi penuh secara tak sadar. Mereka menyerang Varen bersamaan, bukankah ini tak adil? Kenapa mereka main keroyokan?
"Aira," panggil Varen lembut, suaranya membuatku tenang kembali. "Semua yang mereka lakukan adalah bukti cinta kasih mereka padamu, jadi kendalikan emosimu atau mereka.akan terluka karena efek auramu yang teramat kuat itu."
Aku menatap ke arah orang-orang yang dimaksud Varen, betul saja mereka tampak tertekan oleh auraku yang teraktifasi penuh, bahkan ada yang tampak pucat pasi karena menahannya, aku segera menarik auraku. "Maaf," ucapku lirih membuat Varen tersenyum dan membelai rambutku.
Aku kembali melihat layar tapi tampaknya aku melewatkan adegan penting, karena kini di layar menampakkan Varen yang berdiri dengan aura es yang luar biasa, sedangkan paman Ezio dan kedua kakak iparku membeku bagaikan patung es, oh ya ampun pasti sangat dingin!
"Kerja bagus," ucapku sambil memberi Varen acungan jempol.
Layar terus menampilkan ujian Varen yang terus menarik perhatian seisi ruangan, hingga kemunculan Agam dan Agler. Semua yang hadir tak percaya ketika dengan sukarela Varen memberikan kristal auranya pada Agam, tapi berbeda dengan yang lain, aku penasaran dengan bagaimana keadaan Varen setelahnya. Varen memilih memakai restu yang telah ia dapat untuk bertahan, ia memiliki restu dari orang-orang yang hebat maka aura mereka pun tak main-main, Varen dengan cerdas mencampur semuanya dan menjadikannya aura pengganti. Aku menangkap senyuman puas di wajah ayah, dan ketenangan di wajah ibunda, aku memeluk Varen dan mentransfer auraku, diam-diam aku melakukan pemeriksaan, aku khawatir jika ternyata ada luka yang masih tersisa.
__ADS_1