Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
31. Melepaskan


__ADS_3

Malam telah larut, bulan dewa masih bersinar dengan terangnya. Aku berjalan ke arah kamarku, rasanya bahagia tapi lelah lebih mendominasi. Pikiranku terpaku pada Varen, apakah kecerobohanku juga berefek pada Varen? Kata-kataku pada Vio menyatakan bahwa aku menerima Varen, artinya saat ini status Varen adalah tunanganku. Bagaimana kalau ia tidak mencintaiku? Bagaimana kalau aku telah menghalangi kebahagiaannya? Bagaimana kalau dia tidak bisa menikah dengan orang yang ia cintai gara-gara aku?


"Aduh! Sakit!" Aku setengah berteriak kesakitan, sambil mengusap dahi yang terasa perih. Akibat terlalu fokus berfikir, aku malah menabrak tiang di lorong depan kamarku.


"Oh ya ampun Yang Mulia, coba saya lihat Yang Mulia!" Ibu asuh Sarala berlari dari dalam kamarku, langsung mengecek dahi yang sedari tadi kupegang. Auranya terasa hangat saat ia mengusap tangan kanannya ke dahiku, ia menyembuhkan lukaku.


"Ibu asuh, aku sangat merindukanmu!" Aku memeluknya sangat erat, aroma mint menguar dari tubuh ibu Asuh Sarala, tercium menenangkan di hidungku. "Hu...hu...hu... ibu asuh.." aku menangis tersedu-sedu di pelukannya, aku teringat bagaimana Vivian dan Edward memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan suami ibu asuh Sarala mengorbankan nyawanya untukku.


"Yang Mulia kenapa menangis?" Ibu asuh Sarala menepuk-nepuk punggungku lama, mencoba menenangkan. "Yang Mulia, adakah yang mengganggu pikiran Yang Mulia?"


Aku melepaskan pelukanku, menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri, ibu asuh mengelap air mataku dengan sapu tangan bersulam bunga matahari emas. Aku mengambil sapu tangan itu darinya lalu mengelap seluruh mukaku, rasanya hatiku sedikit lega setelah menangis.


Ibu asuh menuntunku masuk ke dalam kamar, dua puluhan pelayan wanita memberi hormat padaku dan membukakan pintu saat aku lewat.


"Duduklah Yang Mulia," aku duduk di ruang tamu kamarku, sementara Ibu Asuh terlihat bergegas mengambil sebuah nampan yang berisi teko air minum dan beberapa kue camilan. Pelayan lain menutup pintu kamarku, berjaga di luar.


Ibu asuh menuangkan teh bunga teratai ke dalam cangkirku, lalu menyerahkannya padaku. Ia masih berdiri mengamatiku ketika aku menerima cangkir darinya, hangat tidak terlalu panas, aku meneguknya beberapa kali, dengan sigap ibu asuh mengambil cangkir dari tanganku dan meletakkannya kembali di nampan.

__ADS_1


"Kenapa ibu asuh masih berdiri? Duduklah ibu asuh, ibu asuh pasti terlalu lelah menungguku." Aku menepuk kursi kosong di sampingku, tanpa menjawab ibu asuh Sarala duduk di tempat yang ku tepuk. Ia lalu meraih kedua tanganku, mengusapnya perlahan.


"Selamat Yang Mulia, kini Yang Mulia telah resmi menjadi pewaris kekaisaran Matahari." Ibu Asuh menatap kedua mataku, matanya tampak berkaca-kaca.


"Terimakasih ibu asuh, terimakasih karena selalu ada di sampingku selama ini."


Ibu Asuh Sarala tampak mengernyit, "Yang Mulia, sudah menjadi kewajiban hamba untuk selalu mendampingi Yang Mulia, hamba telah memutuskan untuk mengabdikan diri hamba pada Yang Mulia sejak Yang Mulia lahir."


"Kalau begitu sekaranglah waktunya ibu asuh membebaskan diri," ucapku sambil menggenggam tangannya. "Ibu Asuh, selama ini aku selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang amat besar darimu, tapi kini ada orang-orang yang lebih membutuhkan kehadiranmu di samping mereka."


"Ampun Yang Mulia, apakah hamba telah melakukan kesalahan hingga Yang Mulia hendak mengusir hamba?" Ibu Asuh tampak gelisah.


"Ibu asuh, ini waktunya ibu asuh kembali pada Vivian dan Edward, mereka membutuhkan kehadiran seorang ibu saat ini, apalagi tentunya Vivian sedang mengandung, pastilah ia membutuhkan ibu asuh di sampingnya, ia pasti ingin belajar banyak dari ibu asuh, aku tahu Vivian tak pernah meminta tapi aku yakin ia menginginkanmu mendampinginya sampai ia melahirkan dan membesarkan cucu-cucumu, ia pasti bertambah bahagia jika ibu asuh ada di sampingnya. Anak mana yang tidak menginginkan kehadiran ibu di sampingnya ketika hamil?"


Kini mata ibu asuh terlihat berkaca-kaca, "tapi bagaimana dengan Yang Mulia?"


Ya ampuun aku sungguh beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang selalu mengkhawatirkanku sebelum mereka mengkhawatirkan diri mereka sendiri. Aku kembali tersenyum, "tenanglah aku sudah besar, bahkan sudah punya tunangan." Tanpa sadar aku mengucapkannya seolah itu adalah sesuatu yang membanggakan, aku hanya ingin ibu asuh Sarala pergi meninggalkanku dengan perasaan tenang, tanpa perasaan bersalah.

__ADS_1


"Apa yang perlu dicemaskan lagi? Sekarang aku mempunyai bakat untuk melindungi diriku sendiri, jadi ibu asuh tak perlu khawatir. Lagi pula selalu ada Paman Ezio yang siap siaga kan?" ucapku sambil nyengir mengingat sedari tadi aku belum menyapa Paman Ezio, wajah kesalnya besok pagi pasti sangat menggemaskan, tiba-tiba aku ingin tertawa terbahak-bahak mengingat wajah Paman Ezio saat ngambek, walaupun ia seorang jendral agung tapi saat ngambek sifatnya lebih mirip anak kecil.


"Ehm.." aku berdehm mencoba kembali fokus. "Berkunjunglah kapanpun ibu asuh mau, istana selalu terbuka untukmu." Aku membuka lebar kedua tanganku, ibu asuh Sarala langsung memelukku erat, ia lalu mencium keningku.


"Suatu berkah yang teramat besar bagi hamba bisa mendampingi Yang Mulia hingga kini, semoga Yang Mulia panjang umur dan selalu dilimpahi kebahagiaan," ia kembali mencium dan memelukku.


Aku berdiri menggandeng ibu asuh, berjalan ke ujung ruangan dan membuat portal. "Ingatlah untuk berkunjung sesering mungkin," ucapku sambil melepas gandengan tanganku.


"Tentu, Yang Mulia. Jangan tidur terlalu malam, datanglah kapanpun Yang Mulia inginkan, hamba akan selalu menyambut Yang Mulia."


Aku mengangguk, tak bisa lagi berkata-kata rasanya jika aku mengeluarkan sepatah kata lagi, air mata yang kubendung akan meluncur dengan derasnya, tapi aku bertahan sekuat tenaga, aku ingin melepas kepergian ibu asuh dengan senyuman.


Ibu asuh memasuki portal, sebelum portal menelannya, ia sempat berbalik dan tersenyum ke arahku, aku pun membalas senyuman hangatnya itu. Berat melepaskan seseorang yang selalu ada di sampingku, apalagi setelah berpisah cukup lama dan baru hari ini bertemu kembali, tapi obrolan yang tidak sengaja kudengar di aula utama perjamuan agung, membuatku harus menguatkan diri untuk melepaskan ibu asuh.


Tadi setelah selesai makan bersama, aku sempat meninggalkan keluargaku sebentar untuk menghirup udara segar di luar aula utama sebelum pulang ke istana, tapi tak kusangka aku malah mendengar pembicaraan ibu asuh dan paman Ezio, kata-kata Paman Ezio masih kuingat jelas.


"Bukankah kau seharusnya kembali bersama Edward dan Vivian? Vivian sedang mengandung dan hari ini adalah hari yang teramat baik karena Bulan Dewa bersinar dengan terangnya, ia pasti membutuhkan kehadiran keluarganya untuk menyalurkan energi positif untuk anak-anak yang sedang ia kandung. Kau ibunya dan yang ia kandung adalah cucu-cucumu, sudah seharusnya kau mendampinginya, Sarala!"

__ADS_1


Ucapan Paman Ezio sempat membuat ibu asuh terdiam tapi kemudian ibu asuh tersenyum dan menjawab, "Putriku tahu dan memahami bahwa aku telah mengabdikan diriku pada Yang Mulia Putri Mahkota Aira, sudah pilihanku untuk tetap berada di sisi Yang Mulia."


Saat itulah aku memutuskan untuk melepaskan ibu asuh Sarala, selama ini aku telah egois mengambil seluruh kasih sayang ibu asuh untukku seorang, kini saatnya ia kembali pada keluarganya. Kembali pada orang-orang yang semestinya menjadi prioritas utama baginya, bukan aku. Akan banyak konsekuensi yang harus kuhadapi, aku menghela nafas panjang, apapun itu, tentu aku harus siap menghadapinya.


__ADS_2