Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
43. Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui


__ADS_3

"Yang Mulia Kaisar, kami setuju dengan usulan Yang Mulia Putri Mahkota," tetua Mahanta tampak menyuarakan hasil telepati. "Tapi kami membutuhkan bukti atas seleksi yang dilakukan."


Ayah mengangguk, sementara ibu terlihat tersenyum penuh makna. Kini mata ayah bertemu dengan mataku, "lakukanlah dengan bijaksana."


Aku mengangguk dan tersenyum, "terimakasih atas ketulusan tetua dan para petinggi kekaisaran yang hadir." Aku menyuruh Balin untuk mendekat lewat telepati, Balin yang tadinya berdiri di pojok balai pertemuan bersama pengawal pribadi lain, kini dalam sekejap berada di samping singgasanaku, siap sedia menerima perintah.


"Untuk berterimakasih atas kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan, aku mohon ijin untuk memulainya," aku berdiri dan mengeluarkan auraku dari telapak tangan kanan. Auraku mulai menyelimuti tubuhku dan Balin, "sampai berjumpa lagi." Tatapanku bertemu dengan ibu, ibu tersenyum sambil mengangguk, memberi dukungan tanpa suara.


Aku menjentikkan jari dan portalku aktif sempurna, memindahkan aku dan Balin ke dalam portal yang dipenuhi aura pelangi. "Kekaisaran perak," ucapku dalam hati, sambil menutup mata membayangkan wajah Varen. Selama beberapa bulan ini aku terus mencoba mencari keberadaannya, tapi nihil. Ratusan kali pula kugunakan portal tapi ujung-ujungnya, portalku tak merespon.


"Yang Mulia," suara Balin membuatku membuka mata.


Aku mengamati sekeliling, tak ada yang berubah, masih di dalam portal yang tak bergerak. Lagi-lagi tak berhasil! Rasanya ingin menangis tapi air mataku terasa telah mengering.


"Vio," ucapku lirih dengan suara sedikit bergetar akibat menahan tangis.


Seketika Vio muncul di hadapanku, ia menundukkan kepalanya memberi hormat, "adakah yang bisa saya bantu Yang Mulia?"


"Tolong bawa aku menemui Varen," ucapku tanpa basa-basi, selama ini bukannya aku enggan meminta tolong pada Vio, tapi aku benar-benar ingin berusaha menemukan Varen dengan kemampuanku sendiri. Tapi nyatanya, sampai saat ini aku tak berhasil, kalau tidak ada desakan untuk menikah mungkin aku masih akan berusaha mencari cara lain tanpa melibatkan Vio, tapi apa daya ekspektasiku tak sejalan dengan realita yang harus kuhadapi.


"Mohon ampun Yang Mulia, hamba tidak bisa melakukannya."


Mataku terbelalak kaget mendengar ucapan Vio, bagaimana tidak? Vio adalah hewan suci penjaga pewaris kekaisaran perak, maka dengan kata lain ia memiliki ikatan yang kuat dengan Varen, bahkan kekaisaran perak itu sendiri. Tapi barusan ia berkata tidak bisa?


"Apa aku salah dengar Vio?"


Vio tampak sedih, ia menatapku dalam. "Tidak Yang Mulia, sejak hamba mengikuti Yang Mulia ke kekaisaran Matahari, hamba tidak bisa merasakan kehadiran Yang Mulia Varen, bahkan.." Vio tampak ragu melanjutkan kata-katanya, ia menatapku sendu.

__ADS_1


"Katakanlah, Vio."


Tiba-tiba Vio menundukkan kepalanya, "bahkan hamba tidak bisa melacak keberadaan kekaisaran perak, Yang Mulia."


Deg! Kakiku lemas hingga rasanya tak lagi mampu menopang tubuhku, aku terhuyung hingga jatuh terduduk menghadap Vio. Aku meraihnya dan memeluknya, "maafkan aku, aku benar-benar tidak mengetahuinya. Pasti berat untukmu."


Aku menghapus air mata Vio dan mencium ringan pucuk kepalanya seraya mengalirkan auraku padanya, berharap bisa menenangkan Vio. Aku tersiksa karena merindukan Varen, tapi Vio pasti lebih tersiksa bagaikan kehilangan keluarga dan tempat tinggalnya hanya karena mengikutiku pulang, aku merasa amat bersalah pada Vio.


"Kembalilah dan istirahatlah Vio, aku akan berusaha menemukannya, aku berjanji." Mata Vio tampak sedikit berbinar mendengar janjiku, "tapi tolong percayalah padaku apapun yang kulakukan."


Vio menatapku, tanduk unicornya bercahaya terang. "Hamba akan selalu mempercayai Yang Mulia," kata Vio sesaat sebelum kembali menghilang.


Aku menghirup nafas panjang, hatiku sesak ingin menangis tapi aku tahu tangisanku takkan menyelesaikan masalah.


"Balin," ucapku seraya berdiri. "Maukah kau membantuku?" aku berbalik dan menatap Balin yang sedari tadi diam mengamati.


Melihat Balin membuatku sedikit tenang, setidaknya aku memiliki orang yang bisa kupercaya. "Balin, sebenarnya aku mengambil alih kunjungan rahasia ayah."


Balin tampak sedikit terkejut, tapi dia berusaha mengatasinya. Ia diam mendengarkan, aku kembali melanjutkan kata-kataku. "Jadi, mulai hari ini kita berdua akan melakukan kunjungan rahasia sembari menyeleksi kandidat putra mahkota."


"Terimakasih Yang Mulia," Balin mengucapkannya tiba-tiba, matanya berbinar tampak sangat bersemangat.


"Kenapa kau berterimakasih padaku Balin?"


"Karena berkat Yang Mulia, hamba dapat menjalankan tugas penting yang biasanya dilakukan oleh Jendral Agung Ezio," jawab Balin dengan berseri-seri.


Benar juga, biasanya paman Eziolah yang selalu menemani ayah melakukan kunjungan rahasia. Ibu, Kak Nala dan Kak Prisa dulu sempat menemani ayah, tapi hanya sesekali.

__ADS_1


"Syukurlah kau tampak bersemangat, terimakasih berkatmu suasana hatiku sedikit membaik." Aku tersenyum dan menjentikkan jariku, sebuah ikat kepala berwarna merah emas kini otomatis terpasang di kepala Balin.


"Balin, perjalanan yang akan kita lakukan bukanlah perjalanan biasa, jadi pastikan kau tak pernah melepas ikat kepala yang kuberikan." Ikat kepala itu adalah wujud sedikit aura yang kuberikan, sama halnya kalung bunga yang dulu sempat kuberikan pada Aciel. Ikat kepala Balin tidak akan pernah bisa dilepas oleh orang lain, kecuali oleh Balin sendiri atau aku yang memusnahkannya.


"Baik Yang Mulia, hamba akan mengingatnya." Balin menegakkan tubuhnya, sikap khas seorang prajurit ketika menerima perintah.


"Coba cek daftar nama yang pastinya sudah dikirimkan oleh Keiko padamu," aku teringat gadis mungil dari sekretariat kekaisaran.


Balin menyatukan kedua telapak tangannya, lalu membuka keduanya, telapak tangan kiri Balin tampak berubah menyerupai layar, "terlalu banyak Yang Mulia."


"Kalau begitu, mari kita mulai dari Kerajaan api."


Balin mengetuk telapak tangan kirinya, daftar nama yang terlihat tampak hanya menyisakan tiga nama. "Yang Mulia, putra mahkota kerajaan api termasuk salah satu kandidat. Dua orang lainnya adalah seniman yang cukup terkenal."


Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan kandidat putra mahkota, aku lebih tertarik mencari bukti ketidakcocokan semua kandidat untuk mengemban tugas sebagai seorang putra mahkota, karena hanya dengan cara inilah aku bisa mengamankan posisi Varen.


Kali ini aku ingin melakukan sihir perubah rupa, aku mengibaskan tangan kananku, seketika Balin berubah menjadi pemuda yang rupawan, pakaiannya kusenadakan dengan ikat kepala yang tadi kuciptakan, merah emas. Ia tampak kaya dan tampan, aku tersenyum melihatnya. Sedangkan aku sendiri memilih pakaian yang lebih sederhana, pakaian khas pelayan wanita, dengan atasan putih polos dan rok panjang berwarna pink, rambutku kuubah coklat pendek sebahu, dengan wajah bulat yang menggemaskan.


"Balin, ayo beralih peran kali ini! Aku akan menjadi pelayan setiamu," ucapku bersemangat. Aku benar-benar ingin membalas kebaikan Balin yang selama ini menjaga dan mendampingiku dengan tulus, dan tiba-tiba cara ini terpikir olehku.


"Tapi Yang Mulia, hamba tidaklah pantas. Hamba mohon jangan seperti ini Yang Mulia," Balin memohon dengan tampang memelasnya.


"Ini perintah, jadi lakukanlah peranmu dengan baik! Anggap saja kita sedang bermain peran, apa kau mau membantah perintahku?" Kali ini aku menggunakan wewenangku sedikit untuk memaksa Balin, tidak terpuji memang, tapi kalau tidak begini maka Balin tak akan pernah mau melakukannya.


"Hamba tidak berani Yang Mulia," Balin bersimpuh memohon ampun, sedangkan aku tersenyum lebar melihatnya, semoga aku bisa membalas jasanya dengan cara ini, walaupun itu tak mungiin, setidaknya aku ingin Balin tahu kalau aku sangat berterima kasih atas semua yang telah ia lakukan selama ini.


"Baiklah, sekarang berdiri dan bersiaplah Balin," aku melihat Balin berdiri dengan membuka kakinya sedikit lebih lebar, tampaknya ia mengambil ancang-ancang agar tak jatuh.

__ADS_1


__ADS_2